Sentra Blangkon Desa Wisata Bejiharjo
Cerita Perjalanan, Events

Erna, Blangkon Yogyakarta, dan Filosofinya

Wawancara terhenti sesaat. Sejenak, Erna menghentikan kegiatan menjahit sebuah blangkon. “Sebentar ya, Mas.” Ia bilang begitu ketika terdengar seperti suara air yang meluber. Bergemericik. Kemudian ia setengah berteriak, “Mas, tolong matikan pompa airku!”

Yang ia mintai tolong adalah Arif dan kawan-kawan pemandu offroad yang menunggu kami di luar rumah. Saya yang duduk persis di depan Erna bergegas bangkit dan berjalan keluar.

Tapi Arif lebih sigap. Ia berjalan cepat ke arah saklar pompa air yang dimaksud Erna. Letaknya ada di dinding bangunan sederhana di luar rumah. Seketika, suara raungan mesin pompa air berhenti. Gemericik air di tendon juga perlahan berhenti mengalir. Arif kembali bergabung dengan Fian dan Taufiq, ngobrol-ngobrol di atas jip.

Saya kembali duduk di posisi semula. Teman bloger #EksplorDeswitaJogja yang lain kembali antusias mendengarkan cerita Erna, yang melanjutkan kegiatan menjahit blangkon. Dengan duduk bersandar tembok putih rumahnya, dia bertutur mengenai suka dukanya membuat blangkon.

Continue reading

Standard
Events

Visit Tidore Island – To Ado Re, Sultan…

Saya terkesan saat membaca lembar demi lembar disertasi berbahasa Inggris –yang juga dibukukan– karya almarhum Muridan Satriyo Widjojo. Tesis doktoral peneliti LIPI yang diuji pada 2007 di hadapan para promotor Universitas Leiden, Belanda itu, begitu sangat-sangat (saya sengaja menekankan) membuka relung wawasan baru –selain tebal, tentu saja (lebih dari 300 halaman). Karya ilmiah setebal itu berisi riset yang menampilkan satu sosok utama, Sultan Nuku, yang mana terlibat dalam kebangkitan Kesultanan Tidore.

Ada atribusi khusus yang membuat Sultan Nuku begitu dikenal dan dikenang, yaitu jejak Revolusi Tidore. Ada di bagian keempat dalam disertasi tersebut.

Sultan Nuku bukanlah yang pertama dalam tahta Kesultanan Tidore. Tapi lewat Revolusi Tidore-lah, namanya melambung. Ia seakan ditakdirkan Tuhan untuk membuka mata dunia, bahwa Tidore tak bisa dipandang sebelah mata.

Tidore, olehnya dibuat seakan mengabarkan adagium. Boleh kita terbuai dengan kekayaan alam dan budayanya, tapi harus diiringi penghormatan sejarah pada para pendahulu. Pada jasa-jasa atas kemerdekaan Tidore dari Belanda, hingga kemudian secara administratif bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950.

Continue reading

Standard
Wisata Offroad Gunungkidul
Cerita Perjalanan, Events

Wisata Offroad Gunungkidul Bersama Dewa Bejo

Stop! Stop! Stop!

Raungan mesin ketiga jip berjenis 4 wheel drive atau berpenggerak empat roda itu berhenti. Itu seiring ketika Arif dan Taufiq, yang masing-masing mengemudikan jip putih dan merah, saling bersahutan memberi aba-aba berhenti. Ketika, ban kanan depan jip hijau yang berada di antara keduanya tersangkut di antara batu-batu penyangga di tepi Kali Oyo.

Fian, pengemudi jip hijau yang saya dan Rizka tumpangi, dengan sigap memindahkan kedua tuas persneling ke gigi satu dan mematikan mesin. Kami pun turun. Hujan semalam sedikit membuat batu-batu penyangga jalur jip yang akan turun ke sungai sedikit renggang.

Tanpa banyak menunggu, dengan gesit mereka bertiga menerapkan langkah darurat.

Continue reading

Standard
Asoka, bayi orangutan yang ditemukan warga lokal di hutan hujan Ketapang. Kini dalam perlindungan International Animal Rescue (IAR) di pusat rehabilitasi di Ketapang, Kalimantan Barat
Events, Opini

#SaveOrangUtan: Jeritan Hati Dari Kalimantan

Sorot mata bulat itu tampak berbinar. Bukan pancaran bahagia, bahkan seakan menangis. Lengannya mencengkeram dan mulutnya mengigit erat selembar daun hijau. Seakan menyiratkan raut sedih dan khawatir dalam pembaringannya. Tampak ada sirat pasrah yang terpancar di wajahnya.

Seperti itukah orangutan menunjukkan rasa kehilangan?

Continue reading

Standard
Warga dusun melintas di jalan kampung dengan latar belakang Gunung Slamet
Cerita Perjalanan, Events

Mendaki Gunung Slamet, Atap Tertinggi Jawa Tengah

Mendaki Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah itu, adalah persoalan bercampurnya rasa penasaran dan pemenuhan tantangan. Seperti apa sih rasanya mendaki gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru itu?

Perlahan tapi pasti, rasa penasaran tersebut mulai terpupus saat hari keberangkatan. Panjang dan lelahnya perjalanan dari Malang ke stasiun Surabaya Gubeng, lalu dilanjut dengan kereta api Logawa ke stasiun Purwokerto luruh seketika setibanya saya dan teman-teman setim di basecamp Bambangan. Kami disambut tuan rumah pemilik basecamp dengan suguhan makan malam nasi, mi goreng, kering tempe, telur mata sapi dan mendoan. Sangat mengenyangkan dan saya pun makan dengan kalap. “Sambutan” yang sangat hangat, bukti keramahan warga di kaki gunung.

Angin malam berembus menusuk, memasuki celah jendela dan langit basecamp. Sementara yang lain merasakan kehangatan lelap dalam sleeping bag, saya memilih tidur dengan berselimut sarung. Tak sabar untuk segera meniti jejak di hutan rimba Gunung Slamet esok pagi.

Continue reading

Standard