Seorang pria Tengger berbalut sarung dan mengenakan peci menikmati panorama Bromo
Cerita Foto, Cerita Perjalanan

(Kumpulan Foto) Puncak B29 Lumajang

Hari Buruh, tiga tahun lalu. Mengawali bulan Mei di tahun 2014, saya bersama tiga orang teman ‘mendadak’ bersepeda motor ke Bukit B29, Desa Argosari, Senduro, Lumajang. Saat itu, punggungan bukit yang termasuk bagian dari tebing kaldera Bromo itu belum lama dibuka untuk wisata.

Dalam pos ini, saya menampilkan foto-foto selama kami berkemah di sana. Foto-foto yang dapat menjadi alasan, bahwa kami ingin kembali ke sana lain waktu. Menikmati alam, menikmati suasana hangat dan ramah di antara masyarakat suku Tengger Argosari. Menikmati Bromo dari sisi timur.

Continue reading

Standard
Sentra Blangkon Desa Wisata Bejiharjo
Cerita Perjalanan, Events

Erna, Blangkon Yogyakarta, dan Filosofinya

Wawancara terhenti sesaat. Sejenak, Erna menghentikan kegiatan menjahit sebuah blangkon. “Sebentar ya, Mas.” Ia bilang begitu ketika terdengar seperti suara air yang meluber. Bergemericik. Kemudian ia setengah berteriak, “Mas, tolong matikan pompa airku!”

Yang ia mintai tolong adalah Arif dan kawan-kawan pemandu offroad yang menunggu kami di luar rumah. Saya yang duduk persis di depan Erna bergegas bangkit dan berjalan keluar.

Tapi Arif lebih sigap. Ia berjalan cepat ke arah saklar pompa air yang dimaksud Erna. Letaknya ada di dinding bangunan sederhana di luar rumah. Seketika, suara raungan mesin pompa air berhenti. Gemericik air di tendon juga perlahan berhenti mengalir. Arif kembali bergabung dengan Fian dan Taufiq, ngobrol-ngobrol di atas jip.

Saya kembali duduk di posisi semula. Teman bloger #EksplorDeswitaJogja yang lain kembali antusias mendengarkan cerita Erna, yang melanjutkan kegiatan menjahit blangkon. Dengan duduk bersandar tembok putih rumahnya, dia bertutur mengenai suka dukanya membuat blangkon.

Continue reading

Standard
Cerita Foto, Cerita Perjalanan

[Photo Story] Dhanyavad, Mahameru!

Wahai yang tercinta dan tersayang,

Terserah kamu menganggapku apa ketika menulis ini. Karena sebenarnya, jujur, tak ada kata bosan jika membahas gunung yang satu ini. Semenjak pertama kali diberi kesempatan mendaki, hingga kali kelima, aku merasakan banyak perubahan. Selain perubahan dalam diri pribadi, juga perubahan Semeru itu sendiri. Yang sangat mencolok, mungkin, dari yang sepi pendaki hingga kini bagaikan taman bermain.

Ketika bulan dua lalu bermalam di Ranu Pani yang sunyi, rasa rindu menyeruak. Semacam ada ajakan halus, “Ayo, bertamulah kembali ke rumahku.”

Continue reading

Standard
Wisata Offroad Gunungkidul
Cerita Perjalanan, Events

Wisata Offroad Gunungkidul Bersama Dewa Bejo

Stop! Stop! Stop!

Raungan mesin ketiga jip berjenis 4 wheel drive atau berpenggerak empat roda itu berhenti. Itu seiring ketika Arif dan Taufiq, yang masing-masing mengemudikan jip putih dan merah, saling bersahutan memberi aba-aba berhenti. Ketika, ban kanan depan jip hijau yang berada di antara keduanya tersangkut di antara batu-batu penyangga di tepi Kali Oyo.

Fian, pengemudi jip hijau yang saya dan Rizka tumpangi, dengan sigap memindahkan kedua tuas persneling ke gigi satu dan mematikan mesin. Kami pun turun. Hujan semalam sedikit membuat batu-batu penyangga jalur jip yang akan turun ke sungai sedikit renggang.

Tanpa banyak menunggu, dengan gesit mereka bertiga menerapkan langkah darurat.

Continue reading

Standard
Shelter Kalimati di ketinggian 2.700 mdpl. Areal kemah terakhir dan teraman sebelum puncak Mahameru
Cerita Perjalanan

Kalimati

Kalimati kembali bergeliat. Saya terbangun. Kedua mata terasa bagaikan habis menangis. Kurang tidur. Tapi karena suhu di dalam tenda mulai gerah –arloji menunjukkan pukul 8 pagi- saya memilih keluar tenda.

Membawa kamera, saya berjalan menjauhi area perkemahan. Ke utara, ke arah Jambangan. Tak jauh dari gerombolan edelweiss dan cantigi. Subhan yang baru menunaikan hajat di ‘peturasan’ alami, dan Anggrek (yang juga baru bangun)  menyusul.

Di atas rerumputan, kami berjemur. Memandang tubuh raksasa berlumur bebatuan dan pasir bergurat itu.

Untuk yang kesekian kalinya, asap beracun itu keluar dari kawah Jonggring Saloka. Dari gelembung-gelembung pekat pucat, menebarkan buih-buih debu, melekat di baju. Pakaian saya yang serba hitam bak berlumur ketombe.

Saya menelisik, memicingkan mata ke arah pendakian ke puncak Mahameru. Tampak debu-debu yang beterbangan, tanda dilewati orang yang turun. Dan lenyap selepas melintasi Kelik, perbatasan vegetasi. Pasti di wajah mereka terlukis rona gembira, lelah, dan lapar yang menjadi satu.

Kalimati menjadi tempat kembali.

Continue reading

Standard