[Photo Story] Dhanyavad, Mahameru!

Wahai yang tercinta dan tersayang,

Terserah kamu menganggapku apa ketika menulis ini. Karena sebenarnya, jujur, tak ada kata bosan jika membahas gunung yang satu ini. Semenjak pertama kali diberi kesempatan mendaki, hingga kali kelima, aku merasakan banyak perubahan. Selain perubahan dalam diri pribadi, juga perubahan Semeru itu sendiri. Yang sangat mencolok, mungkin, dari yang sepi pendaki hingga kini bagaikan taman bermain.

Ketika bulan dua lalu bermalam di Ranu Pani yang sunyi, rasa rindu menyeruak. Semacam ada ajakan halus, “Ayo, bertamulah kembali ke rumahku.”

Kira-kira seperti itu para dewa berbisik. Sebuah undangan yang langsung menancap di relung hati. Pikiran pendakian Semeru melayang, keluar dari sarang kenangan. Mulai saat pertama kali menahbiskan diri sebagai pendaki pendatang baru di Semeru. Lalu ku pupus rasa penasaran tentang tanah tertingginya di pendakian kedua. Kemudian betapa cerianya saat mendaki bersama Gamananta untuk kali ketiga.

Gunung Semeru dilihat dari Desa Argosari, Lumajang
Gunung Semeru dilihat dari Desa Argosari, Lumajang

Tetapi, ketiga pendakian tersebut, ada yang dirasa kurang. Benar, tentang dokumentasi perjalanan. Kamera-kamera digital yang ku pinjam dalam ketiga pendakian itu ternyata tak cukup mumpuni. Tak cukup tangguh merekam fenomena alam yang tersaji.

Nah, dalam dua pendakian berikutnya, kesempatan itu ada. Aku merasa cukup berhasil. Dengan kemampuan seadanya, demikianlah Semeru yang dapat ku bekukan dalam memori. Inilah alasan-alasan mengapa Semeru begitu dicari-cari, dinanti-nanti, dan dipuja-puja.

Tulisan ini mungkin dirasa panjang. Namanya saja juga nostalgia. Biarlah aku menggiringmu sesaat. Luangkanlah waktu dan tinggalkanlah rutinitasmu sejenak. Biarlah jika, kamu sudah atau bahkan belum pernah ke sana.

Aku merasa, kamu perlu tahu. Dan nanti ketika tulisan ini berakhir, kamu akan tahu mengapa aku menggiringmu.

 

Jemplang – Bantengan

Rasanya capek sekali setelah menyusuri jalan cor menanjak selepas Coban Pelangi. Tetapi, selain hamparan kesejukan hutan dan panorama yang memukau khas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, kamu akan menemukan sebuah bukit. Setelah berganti aspal ketika memasuki Desa Ngadas, tanjakan melelahkan akan berhenti di persimpangan. Bukit teletubbies yang hijau akan memanjakan matamu dan menyegarkan ulang pikiranmu.

Pemandangan yang terhampar sepanjang Jemplang-Bantengan
Pemandangan yang terhampar sepanjang Jemplang-Bantengan

Sepanjang ruas jalan Jemplang-Bantengan, aku yakin kepalamu tak akan berhenti menoleh. Sorot mata dan mulut menganga tanda terpesona akan kau rasakan. Bukit hijau itu baru akan menghilang ketika kamu sudah menuruni jalan masuk ke desa Ranu Pani.

Ranu Pani

Inilah desa terakhir. Desa di mana laju kendaraan roda berapapun, tak boleh melangkah lebih jauh di atas ketinggian 2.200 mdpl. Desa di mana calon pendaki akan melakukan persiapan terakhir. Mulai dari mengurus perizinan hingga repacking.

Jika aku boleh menyarankan, menginaplah di sekitar pondok pendaki semalam. Selain beristirahat mengumpulkan tenaga sebelum mendaki, kamu akan mendapatkan tambahan penyemangat. Setelah Subuh, berjalanlah ke ladang yang terletak di atas pondok pendaki.

Matahari terbit di balik Ranu Pani
Matahari terbit di balik Ranu Pani

Kamu akan melihat perubahan warna langit yang perlahan meninggalkan sepertiga malam terakhir. Ketika mulai agak terang, alihkan kepalamu ke arah selatan. Jika beruntung, maka Semeru akan nampak seperti memancarkan spektrum jingga berselaput awan tipis.

Spektrum jingga di langit Mahameru, terlihat dari Ranu Pani
Spektrum jingga di langit Mahameru, terlihat dari Ranu Pani

Ditambah dengan kepulan asap dari kawah Jonggring Saloka, aku percaya semangatmu untuk mendaki semakin bertambah. Karena itulah yang ku rasakan saat melihatnya dari atas ladang.

Jalur Pendakian Watu Rejeng

Setelah melewati gapura selamat datang, bersiaplah meninggalkan segala kenyamanan yang layak di peradaban. Aspal berganti dengan tanah. Trek landai akan menguji lututmu, hitung-hitung untuk pemanasan awal. Lalu trek cenderung datar dan berputar-putar. Namun, tenanglah. Banyak vegetasi yang akan menaungimu dan memberikan keteduhan. Selain bangunan-bangunan semi permanen di keempat posnya.

Gugusan tebing Watu Rejeng yang berwarna seperti putih tulang diselingi gurat kehitaman
Gugusan tebing Watu Rejeng yang berwarna seperti putih tulang diselingi gurat kehitaman

Berjalan 3 km, kamu akan menemui Landengan Dowo. Belum capek? Maka teruslah berjalan. Pos 1 berada di seberang jalan setelah berputar balik. Bahkan aku menyarankan janganlah istirahat di Pos 2, nanggung. Istirahatlah di bawah Watu Rejeng. Oh iya, ku beritahu. Usahakan jangan lewat sini jika malam hari, baik berangkat atau pulang. Selain gelap, juga banyak mitos angker yang menyelimuti. Lagian, lebih enak berjalan saat terang bukan?

Tanjakan setan di atas Pos 3
Tanjakan setan di atas Pos 3

Dari Watu Rejeng, trek kembali menanjak hingga Pos 3. Ketika kali keempat mendaki, bangunannya sudah berdiri tegak kembali. Setelah sebelumnya atapnya setia rubuh dan menyisakan sedikit ruang di dalamnya. Di atas Pos 3, ada trek menanjak yang ku sebut tanjakan setan. Mengapa disebut begitu? Berjalanlah, rasakan sendiri.

Ranu Kumbolo sudah mulai terlihat dekat dari Pos 4
Ranu Kumbolo sudah mulai terlihat dekat dari Pos 4

Setelah mengatur napas di ujung tanjakan setan, trek kemudian cenderung datar. Sesekali naik turun. Trek yang sangat khas di gunung ini. Mungkin kamu mulai merasa jenuh dengan jalur yang seolah tak berujung. Tunggu, bersabarlah. Karena jelang Pos 4, kamu akan melihat surganya Semeru. Sudah melihatnya? Maka kamu boleh bernapas lega sejenak di Pos 4.

Ranu Kumbolo

Selamat datang, sayang...
Selamat datang, sayang…

Jika boleh menyebut, Ranu Kumbolo ini adalah singgasananya Gunung Semeru. Serupa dengan Danau Segara Anak di Gunung Rinjani. Cerukan berair dan dikelilingi bukit yang penuh vegetasi menjadikannya cocok sebagai tempat berkemah. Terlebih mencari inspirasi kehidupan. Kemolekannya bisa mengalahkan pamor Mahameru itu sendiri.

Sajikan kopi panas lalu duduk memandang sang gemintang
Sajikan kopi panas lalu duduk memandang sang gemintang

Menurutku, ada dua hal pokok yang dinanti-nanti pendaki di Ranu Kumbolo. Pertama adalah panorama matahari terbit (sunrise) dan yang kedua adalah menyaksikan ribuan gemintang saat malam.

Bukankah sesuatu yang tak ternilai menyambut hari baru di tempat yang cantik?
Bukankah sesuatu yang tak ternilai menyambut hari baru di tempat yang cantik?

Dua momen tersebut menawarkan kedamaian. Walau mungkin, kedamaian yang terasa tak seperti kala Mpu Kameswara menemukan air suci ini. Bahkan, ia mungkin sedang menangis jika melihat kondisi Ranu Kumbolo terkini. Harga dirinya bisa jadi diinjak-injak. Ini renungan bagi yang sadar. Semoga kamu kelak bisa berbagi tentang damai dan lestari, demi Ranu Kumbolo seperti seharusnya.

Tanjakan Cinta

Tanjakan Cinta, penampakannya bisa menipu. Apa coba?

Ini dia tanjakan yang fenomenal. Penuh dengan desus mitos yang rupanya banyak pendaki percaya. Kamu belum tahu? Itu lho, mitos tidak boleh menengok ke belakang saat berjalan menanjak. Dan bahkan kalau bisa jangan berhenti. Itu dilakukan sambil memikirkan seseorang yang kamu cintai. Kamu percaya? Aku saja tidak.

Kembalilah menengok ke belakang kala tiba di ujung tanjakan

Mengapa? Karena akan rugi bagimu jika berjalan tanpa istirahat dan menyempatkan menengok ke belakang. Justru Ranu Kumbolo seolah akan menyemangatimu dari belakang. Sehingga jalanmu akan laju dan lututmu tiba-tiba menjadi kuat.

Gemintang di atas Tanjakan Cinta

Oh iya, jangan lewatkan berbalik badan jika tengah bermalam di Ranu Kumbolo. Di sebelah barat, gemintang di atas Tanjakan Cinta seperti semarak. Patut diabadikan sebagai pengantarmu tidur.

Oro-oro Ombo

Oro-oro Ombo. “Ombo” itu dalam bahasa Jawa berarti luas. Memang faktanya luas bukan?

Kamu bukan sedang berada di Afrika. Ini masih di Indonesia. Di tengah savana Gunung Semeru. Waktu terbaik mungkin di periode April-Juni. Kamu akan menemukan bunga berwarna ungu di atas ilalang. Mereka semacam gulma, tetapi cantik sekali. Sesekali bolehlah kamu berlarian ke sana kemari layaknya Kajol atau Rani Mukherjee di film Kuch-kuch Hota Hai.

Berlarilah, aku akan mengejarmu bak film India

Padang rumput ini akan berubah rupa kala kemarau tiba. Raut mukanya murung karena mengering dan sebagian menghitam bekas kebakaran.

Cemoro Kandang

Pintu masuk Cemoro Kandang

Setelah menyusuri Oro-oro Ombo yang bisa jadi menyengat kala berjalan di siang yang terik, kamu akan kembali tiba di pintu hutan. Dari pintu hutan, trek yang berdebu kala kemarau perlahan landai dan agak menanjak. Janganlah berjalan terburu-buru. Nikmati saja semilir angin yang bertiup di sela-sela pohon cemara gunung.

Jambangan

Impianmu akan Mahameru bisa jadi kembali membuncah ketika tiba di tempat ini

Kamu mulai menggos-menggos? Tenang, Jambangan sudah di depan mata. Di sinilah ujung tanjakan Cemoro Kandang berakhir. Di sinilah kamu bisa mulai melihat banyak bunga abadi itu, edelweiss. Ingat, biarlah bunga itu berdiam di tempatnya dan jangan kau usik. Ah iya, di sini pula kamu sudah bisa melihat wujud sang legenda, Mahameru. Ia terasa semakin dekat. Jika kamu peka, bulu kudukmu akan merinding melihat guratan-guratan di sekujur tubuhnya.

Kalimati

Mahameru kian dekat

Tak sampai setengah jam dari Jambangan, kamu akan tiba di Kalimati. Di sinilah titik teraman untuk berkemah. Di sinilah kamu harus memutuskan apakah siap segalanya untuk menuju puncak. Jangan paksakan diri jika kondisi tidak memungkinkan.

Anaphalis javanica, bunga abadi yang semoga tetap lestari selamanya

Sekitar 1 jam pulang-pergi dari sini ada mata air terakhir, Sumber Mani. Airnya mengucur tak terlalu deras, namun sangat menyegarkan. Ambillah air secukupnya bahkan lebih sebagai bekal selanjutnya. Dan tentu kamu tak ingin terlalu sore apalagi malam berada di sana, jika tak ingin berbagi dengan sang macan kumbang.

Salah satu satwa yang sering terlihat di Kalimati

Jika tekadmu kuat untuk pergi ke puncak, maka kamu harus melakukan rutinitas wajib berikut. Makan malam dan istirahat yang cukup. Lalu sediakan bekal yang cukup hingga turun kembali. Dan terakhir persiapkan perlengkapan tempur pelindung tubuh. Kamu sudah siap?

Mahameru

Jalur baru menuju Mahameru

Semua sudah kamu siapkan? Aku ingatkan sekali lagi. Inilah pendakian yang sesungguhnya setelah kamu dimanjakan banyak bonus sepanjang Ranu Pani – Kalimati. Selanjutnya, di atas hutan Arcapadha dan batas Kelik, hanya dirimu dan Tuhan yang tahu seberapa jauh dirimu mampu melangkah.

Kelik, batas vegetasi

Sekarang sudah ada jalur baru ke puncak. Langsung lewat belakang shelter, menapaki jalan berkerikil yang landai. Dan sebenarnya tak terlampau sulit hingga batas vegetasi. Asalkan kamu paham cara berjalan di tanjakan. Dan yang paling penting adalah fokus. Teruslah bergerak walaupun perlahan di atas lautan pasir dan bebatuan. Angin kencang, suhu dingin, longsor dan badai bisa kamu jadikan ancaman teratas. Selain tentu waspada terhadap kepulan asap dari kawah Jonggring Saloka yang bisa menyerbu setiap saat.

Saat malam, tempat ini akan gelap. Menuju Mahameru menuntutmu untuk selalu fokus dan jangan sampai lengah.

Naik tiga langkah, turun dua langkah. Dalamnya pasir yang kamu pijak bisa membuatmu frustasi. Kamu kelak akan menyadari sebuah momen, ketika merasa sudah tinggi tapi tak kunjung sampai, dan ingin turun tapi sudah jauh berjalan. Kantuk juga bisa menerpamu setiap saat. Mengajak ngobrol dengan sesama rekan pendakian atau istirahat untuk menyempatkan makan camilan akan membuatmu tetap terjaga. Tapi sekali lagi, jangan berhenti terlalu lama.

Dulu aku dan ketiga rekan pernah tiba di puncak sekitar pukul 03.30. Maka kami harus bersabar menahan dingin demi matahari terbit.

Jika langkahmu normal alias santai tapi stabil, dalam waktu 5-6 jam kamu akan tiba di puncak Mahameru. Tanah tertinggi di Pulau Jawa yang jadi idaman banyak pendaki. Sebuah lapangan berdebu nan luas yang menjanjikanmu gengsi tinggi sebagai pendaki. Tapi, jika boleh aku menyarankan, berangkatlah dari Kalimati sekitar pukul 22.00-22.30. Karena peluangmu untuk menyambut matahari terbit dari puncak abadi para dewa akan sangat terbuka.

Bergegaslah! Sang fajar telah tiba!

Bersabarlah. Jika kamu muslim, tunaikanlah salat Subuh terlebih dahulu. Jadikanlah serpihan debu di sana menjadi media tayammum. Kamu akan menggigil kedinginan, tetapi nikmatnya menghadap Tuhan di ketinggian… Ah! Kamu akan tahu rasanya kelak.

Asap beracun dari Jonggring Saloka. Berbahaya namun dinanti banyak orang.

Usai salat Subuh, bersiaplah terpana. Mungkin sediakan juga tisu atau kain untuk mengelap air matamu yang penuh haru. Ya, aku akan menjabat tanganmu sembari mengucapkan: Selamat datang di Mahameru!

Sang Pemberi Kehangatan telah muncul dengan gembira

Biasanya, jika euforia begitu kentara, dingin akan terasa hilang. Tetapi, tahanlah euforia berlebihan itu. Bersikaplah sewajarnya. Karena kamu di atas tanah ini atas kuasa-Nya juga. Dan selain mengucap lafal menyebut asma Tuhan, bukankah kamu selalu mengingat wajah kedua orang tuamu saat berjalan kepayahan ke puncak?

Lautan awan itu, tidakkah kamu ingin bergulung-gulung di atasnya?

Kelak kamu akan tahu mengapa Mahameru menjadi dambaan. Aku langsung saja memberikan jawaban. Yang pasti, kamu berdiri lebih tinggi dari segalanya di Pulau Jawa. Gunung Agropuro dan Raung di timur, Gunung Bromo di utara, Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuno-Welirang di barat laut, Pegunungan Kawi di barat, dan laut selatan Malang-Lumajang. Mereka berada jauh dari pijakan kakimu saat ini.

Ini yang akan kau lihat jika memandang ke arah barat laut

Tapi, dengan menyadari bahwa tiada yang lebih tinggi dari kepala saat kamu berdiri, kamu akan tahu betapa kesombongan dan gengsi harus dihilangkan jauh-jauh. Yang boleh dan harus ada ialah rasa syukur atas kesempatan yang telah kamu gapai. Juga, rasa bangga terhadap ibu pertiwi tempatmu berdiri hingga kini.

Turun lebih cepat tetapi lebih berbahaya. Tetaplah fokus hingga kamu memastikan diri telah tiba di tenda kembali.

Oh iya, jangan berlama-lama di Mahameru. Satu jam di sana rasanya sudah lebih dari cukup. Kamu pasti akan berat hati meninggalkan tanah para dewa. Tapi, aku harap kamu mau berpikir logis. Kehidupan selanjutnya terbentang jauh di depan matamu. Ada banyak yang harus kamu lakukan sepulang dari sini.

Ceritaku telah usai

Sayang sekali, ceritaku tentang Semeru harus usai. Padahal tak akan pernah habis waktu jika membahas tentang sebuah petualangan. Seperti Semeru ini. Ya, aku pernah dengar slogan para pecinta alam kawakan. Mereka tak jemu-jemu menyeru, “Bring nothing, but health; Take nothing, but pictures; Kill nothing, but times; Leave nothing, but footprint.”

Apa maknanya? Cari tahu sendiri, ya, agar kamu mengerti. Yang jelas, aku sangat percaya persiapan dan perencanaan yang matang, ditambah soliditas tim, akan membawa rasio keberhasilan sebuah pendakian hingga pulang di atas 90%. Sisanya pasrahkan kepada kehendak alam dan Sang Pencipta.

Eh, satu lagi. Jika sempat, sisakan waktu untuk bermalam di sini lagi setelah turun dari puncak. Mengapa? Kelak silakan cari tahu sendiri jawabannya.
Apakah kamu merasa teracuni mendengarkan ceritaku? Adakah hasrat berkunjung ke sana setelah ini? Jika iya, aku harus ikut bertanggung jawab. Jika kelak kamu datang ke sana hanya untuk kesenangan belaka dan merusak harmoninya, aku tak akan segan melarang keras dirimu pergi.
Tetapi, jika kamu benar-benar sudah siap bertamu ke Semeru, jangan lupa untuk berterima kasih kepadanya dan kepada-Nya. Dhanyavad, Mahameru!

55 thoughts on “[Photo Story] Dhanyavad, Mahameru!

  1. ini benar-benar… indah! betul, semeru tidak pernah bikin bosan. saya dua kali ke sana dan, astaga, saya tidak pernah tidak kagum baik oleh keindahan alamnya ataupun pelajaran yang ia berikan pada saya.

    sayang kondisinya semakin menyedihkan. saya beneran kaget waktu terakhir nyampe kalimati dan tissue basah dan sampah plastik berserakan di sana-sini. 😦

    Like

    1. Semeru memang tak ternilai keindahannya. Sayang, demikianlah mas, mari kita yang sadar turut berbagi tentang wawasan mencintai lingkungan 🙂

      Like

    1. Makasiiih, ayo ke semeru! 😀
      ah ini sebenarnya ya standarnya Canon EOS 600D sama lensa kit biasa 18-55mm, cuma beruntung saja dapat cuaca gitu. Makanya saya tidak terlalu puas. Kalau effort dengan lensa yang lebih bagus pasti akan sepadan kok 🙂

      Like

      1. Ajak suami tapi belum acc teruuss… terakhir muncak malah Ciremai.. tapi golden sunrisenya tidak kalah keren.. Hwaaa 😀
        Ini udah keren kali, mas! Kapten biasanya nagkap cahaya pakai canon d500, saya sih kalau traveller suka kebagian gendong tripod. Hihihi
        Sekali lagi, kereeen. dan bikin mupeng semupeng-mupengnya

        Like

      2. Wah, suami suka ndaki juga ya kak, yaudah sodorin artikel saya ke beliau dan salam lestari buat kalian berdua 🙂

        Alhamdulillah, saya harus menggendong kedua benda itu, repot tetapi sangat membantu 😀

        Semoga kesampaian ke puncak abadi para dewa 🙂

        Like

  2. gila. tulisan ini membuatku merinding dan meneteskan air mata. begitu indah indonesia ku ciptaan-Nya. semoga diberi kesempatan untuk menengok dan berkunjung kesana 🙂

    Like

    1. Pertanyaan itu sama dengan yang sering ditanyakan sahabat-sahabat saya sebelum naik gunung. Lalu saya jawab, “itu tergantung pada dirimu sendiri. Yang bisa memotivasi adalah diri kamu sendiri. Sisanya, terjunlah dengan niat yang baik dan tekad yang kuat, serta berkompromi dalam tim”. Begitulah mbak, mental itu vital. Fisik juga vital tapi bisa dilatih, bukan? 🙂

      Like

  3. “Naik tiga langkah, turun dua langkah. Dalamnya pasir yang kamu pijak bisa membuatmu frustasi. Kamu kelak akan menyadari sebuah momen, ketika merasa sudah tinggi tapi tak kunjung sampai, dan ingin turun tapi sudah jauh berjalan. Kantuk juga bisa menerpamu setiap saat.”

    Ini betul banget mas. Aku nda kapok. Lihat matahari terbit, lautan awan yang menawan sudah kutengok. Menjejakkan kaki dipuncaknya yg menjadi impianku. Aku nda kapok mas, selalu ada alasan untuk kembali

    Like

    1. Mari menata niat kembali, kumpulkan tekad, semangat, latih fisik setiap saat dan terpenting menyiapkan mental. Kalau sudah siap, ayo kelak kita berangkat. Gunung seharusnya tidak akan bikin kapok dan patah hati meskipun setinggi apapun. Benar, gunung pasti memberikan banyak alasan agar kita bisa kembali 🙂

      Like

  4. Ah mas rifqy post Tentang Gunung Semeru lagi. 😢

    Mudah”an kalau masih dkasih sehat bisa berkunjung ke salah satu Gunung Tertinggi di Jawa Timur ini mas..

    Liked by 1 person

  5. baru pertama berkunjung kesini dan…..WOW, saya tersihir dengan kata-katamu mas bro, keren. walaupun saya bukan pendaki (pernah sih ndaki 1 kali, itupun cuma ke gunung andong ^^), rasanya ingin sekali segera kesana…ke rumahnya para dewa, mahameru.

    sepanjang jalan Jemplang-Bantengan, viewnya cantik banget!

    Liked by 1 person

    1. Haloo, makasih sudah berkunjung yaaa.

      Ini postingan lama tapi saya update lagi. Ah, lumayan sudah pemanasan di Gunung Andong. Iyaa, kalau udah sampai Jemplang-Bantengan wajib berhenti sejenak, lihat view Bukit Teletubbies dan savananya Bromo 🙂

      Like

  6. aku merinding mocone wkwkwkw.
    terutama pas bagian salat subuh di ketinggian, ketika merasa kedinginan tapi..
    ahh sensanine emang yes abis.
    pertama muncak ke lawu, pas sampe puncak aku sampek nggumun, Ya Allah tibak e aku iso yo sampek puncak ngelewati dalan sing gak gampang. Langsung cuma lungguh tok dan iso merenung.

    Liked by 1 person

    1. Merinding maneh, nek membacakan iki saat melamar kekasih hati hahahahaha.

      Duh, memang adem banget soale pas angine kuenceng, gak isok tatag solate. Gemeter, ingus mbeler hahaha.

      Nah, perenungan iku, Lan, penting, bahwa prinsipnya bisa kalau kita mau.

      Liked by 1 person

  7. Gak aneh ya kalau banyak banget yang terobsesi untuk bisa mengunjungi tempat ini. Dan gak aneh pula kalau kemudian tempat ini seringkali penuh sesak di puncak-puncak musim liburan. Sebagai orang yang belum ‘dapat rejeki’ untuk mengunjungi Semeru, aku berharap semoga keindahannya tetap terjaga.

    Foto-foto dan deskripsi ceritamu benar-benar ‘mengenin’ Qy!
    Keren!

    Liked by 1 person

    1. Kunjungan terakhir saya ke gunung ini, tertahan ke puncak. Ilfeel, macet, kesal karena banyak pendaki yang tak tahu manajemen waktunya di kawasan ekstrim kayak gitu. Akhirnya terbitlah tulisan Kalimati itu hahaha.

      Ah! Makasih Mas! 🙂

      Liked by 1 person

      1. Nah itu Qy, aku sering merasa trenyuh mendengar tren naik gunung jaman sekarang. Motivasi naik gunung itu sudah agak bergeser, terlebih sejak kemunculan ‘buku yang difilmkan’ satu itu. Suka gimanaaa gitu.

        Dan akhirnya aku malah banyak nahan naik gunung di Indonesia -untuk sementara waktu-, soalnya malah gak nyaman kalau terlalu ramai. Tapi ini preferensiku pribadi ya.

        Liked by 1 person

  8. Memang demikian, sih, dan lumrah saja preferensi setiap orang. Kan seyogyanya ke gunung kan cari sepi, cari tenang, cari kedamaian hehehe. Kalau bicara lokasi, makanya saya lebih suka ke Arjuno/Welirang atau Butak daripada Semeru. karena ya itu, di sana peluang sudut sepinya lebih besar daripada di gunung yang lebih populer. Medan pendakian juga jadi pertimbangan 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s