Kalimati

Kalimati kembali bergeliat. Saya terbangun. Kedua mata terasa bagaikan habis menangis. Kurang tidur. Tapi karena suhu di dalam tenda mulai gerah –arloji menunjukkan pukul 8 pagi- saya memilih keluar tenda.

Membawa kamera, saya berjalan menjauhi area perkemahan. Ke utara, ke arah Jambangan. Tak jauh dari gerombolan edelweiss dan cantigi. Subhan yang baru menunaikan hajat di ‘peturasan’ alami, dan Anggrek (yang juga baru bangun)  menyusul.

Di atas rerumputan, kami berjemur. Memandang tubuh raksasa berlumur bebatuan dan pasir bergurat itu.

Untuk yang kesekian kalinya, asap beracun itu keluar dari kawah Jonggring Saloka. Dari gelembung-gelembung pekat pucat, menebarkan buih-buih debu, melekat di baju. Pakaian saya yang serba hitam bak berlumur ketombe.

Saya menelisik, memicingkan mata ke arah pendakian ke puncak Mahameru. Tampak debu-debu yang beterbangan, tanda dilewati orang yang turun. Dan lenyap selepas melintasi Kelik, perbatasan vegetasi. Pasti di wajah mereka terlukis rona gembira, lelah, dan lapar yang menjadi satu.

Kalimati menjadi tempat kembali.

* * *

Siluet burung sejenis sepah gunung bertengger di antara ranting pohon cemara gunung di Kalimati
Siluet burung sejenis sepah gunung bertengger di antara ranting pohon cemara gunung di Kalimati

Langkah kaki Anggrek yang terseok kembali terhenti. Saya yang jalan di belakangnya ikut berhenti. Berturut-turut, Tanti, Gunawan, dan Dicky yang berada di depan kami ikut berhenti. Jarak kami dengan mereka sekitar lima langkah.

Kami duduk berbalik membelakangi jalur pendakian. Menghadap ke arah Kalimati. Duduk di atas pasir-pasir rapat dan batu-batu berserakan berbagai ukuran. Debu beterbangan ke segala penjuru.

Yang menerbangkan debu itu memang angin. Tapi pemicunya adalah derap kaki yang kepayahan saat menanjak. Dari para pendaki, termasuk kami. Jalur ke puncak Mahameru kala itu, layaknya begini: jalan raya di kota metropolitan saat jam sibuk, dengan kendaraan yang terjebak dalam perempatan, lengkap dengan matinya lampu lalu lintas. Semua berlomba demi meraih titik 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl).

Melihat itu, saya hanya berharap dalam hati, sungguh tak ingin melanjutkan pendakian ini. Saya hanya ingin turun ke Kalimati dan tidur.

Baru saja mematikan lampu kepala, seorang pendaki laki-laki dengan tongkat pendakian berjalan mendekati kami yang sedang beristirahat. Di tengah napasnya yang memburu, ia bertanya, “Mas, kira-kira bisa dapat sunrise tidak, ya, di puncak?”

Saya mengecek arloji. Sudah pukul tiga dini hari. Kami saja sudah berjalan hampir dua jam dari Kelik, belum mencapai separuh perjalanan di jalur berpasir ini. Saya kembali menatap wajah pendaki itu, “Sepertinya tidak terkejar, Mas.” Ia terdiam. Saya bertanya lagi dari mana asalnya. ”Jakarta,” katanya. Dia tidak sendiri. Dia termasuk dalam 30 orang dalam rombongannya, dan semuanya baru pertama kali mendaki gunung tertinggi di Jawa ini.

“Ya sudah, makasih ya, Mas,” ia pamit melanjutkan perjalanan. Diikuti teman-temannya. Saya hanya menjawab dengan pesan, “Hati-hati, Mas.” Debu kembali beterbangan.

Beberapa saat kemudian, kami melanjutkan pendakian. Tapi tak sampai sepuluh langkah, Anggrek kembali meminta berhenti. Posisinya merangkak, kepala menunduk nyaris menempel pasir. tanda yang jelas bahwa ia sangat kelelahan. “Mas, aku sudah gak kuat lagi.” Harapan saya tadi seakan terkabul. “Kita turun saja sekarang?” Anggrek mengangguk.

* * *

Suara alarm dari gawai saya berdering kencang. Bangun! Bangun! Mungkin begitu pekik si alarm dalam nyaringnya. Saya agak malas-malasan bangun. Maklum, saya hanya tidur sejam saja selepas makan malam berakhir pukul 22.00. Terlalu larut untuk tidur bagi yang ingin melanjutkan pendakian ke puncak.

Saya membangunkan yang lain. Sebagian sudah terbangun oleh alarmnya sendiri, sebagian harus dibangunkan secara paksa. Terkecuali Subhan. Bukannya malas, tapi kakinya terasa nyeri jika dipaksakan berjalan. Melanjutkan tidur adalah pilihan terbaik. Ia tahu batasannya.

Malam itu, Kalimati kembali bergeliat. Akhir bulan Mei tahun 2014 adalah musim ramai pendaki, padahal baru sebulan dibuka untuk pendakian. Kalimati bagaikan kawasan permukiman yang tiba-tiba seluruh warganya terbangun karena ada yang kemalingan. Suara ricik cemara gunung kalah dengan sahutan-sahutan pendaki. Ada yang baru dalam tahap membangunkan temannya, ada yang sudah berjalan duluan ke puncak.

Sebelum fase pulang, ada 1 kilometer vertikal yang harus ditempuh menuju Mahameru. Jarak yang secara angka cukup dekat, tapi tak sedekat seperti yang diperkirakan.

Dengan pertimbangan medan pendakian yang ekstrim, maka tujuan puncak harus ditempuh sebisanya lalu turun dengan sesegera mungkin. Para pendaki menyebutnya summit attack. Muncak dengan membawa perlengkapan secukupnya dan tidak membebani tubuh, yang meringankan langkah kaki.

Adagium harus turun dari puncak sebelum pukul 9 pagi sudah lama berlaku di Gunung Semeru. Umumnya, kondisi arah angin berubah arah ke puncak di atas jam 9 pagi. Asap beracun dari kawah bisa menyapu dataran puncak.

Tapi, cuaca adalah penguasa di gunung ini. Ia bisa semena-mena mengubah tatanan. Tewasnya Soe Hok Gie dan Idhan Lubis pada 16 Desember 1969 bisa menjadi pelajaran.

Selepas Kelik, perbatasan vegetasi di atas Arcopodo, jalur siratal mustaqim lalu menjadi penghubung menuju hamparan lereng berpasir dan berbatu. Menanjak, seakan tak berujung. Naik tiga langkah, turun dua langkah; pendaki Semeru pasti tahu ‘ketentuan’ ini.

Di antara Kelik dan Mahameru, adalah hamparan tanpa naungan. Di atas kepala langsung menghadap langit. Igir-igir jurang tanpa dasar di tepian jalur yang siap menelan. Ancaman bahaya mengintai tidak hanya berupa longsoran batu, tapi juga hujan badai hingga asap beracun yang terbawa angin yang berubah arah.

* * *

Igir 'siratal mustaqim' yang menjembatani Kelik, batas vegetasi dengan jalur berpasir menuju puncak Mahameru
Igir ‘siratal mustaqim’ yang menjembatani Kelik, batas vegetasi dengan jalur berpasir menuju puncak Mahameru

“Ky, gantian kamu yang di depan,” pinta saya agar Rizky memimpin rombongan summit attack. Jalur barunya cukup jelas. Saya sudah melintasinya saat pendakian ke Semeru dua pekan sebelum pendakian ini. Jalur baru dibuat para ranger dan sukarelawan taman nasional persis di belakang pos Kalimati. Menggantikan jalur lama Arcopodo yang rusak karena longsor.

Jalur awal berupa jalan setapak yang cukup lebar beralas kerikil. Tanaman edelweiss tumbuh di kanan-kiri. Awalnya cenderung datar, perlahan menanjak, lalu pindah persneling ke gigi 1 untuk meniti tanjakan terjal yang tembus di atas Arcopodo. Kami berjalan dalam waktu tempuh yang normal, sekitar satu jam untuk tiba di Kelik.

Kami sempat istirahat cukup lama di Kelik. Menunggu giliran menyeberangi igir selebar sepasang kaki di pintu keluar hutan.

Selepas Kelik, tim kami mulai tercecer. Dari sini, pendakian yang sesungguhnya dimulai. Yang fisiknya kuat, berjalan lebih cepat.

Sejam perjalanan dari Kelik, lima orang semakin tertinggal di belakang. Termasuk saya, yang berperan sebagai sweeper.  Sepuluh anggota tim yang lain, termasuk Rizky, melesat jauh di depan.

Anggrek mulai menunjukkan tanda-tanda lelah. Tak sampai lima langkah, ia berhenti. Saya mengikutinya. Terlepas itu, jalur pendakian ke puncak pada waktu itu memang tak memungkinkan untuk berjalan lebih cepat.

Melihat hal tersebut, di sisi lain dari kesadaran saya, seolah terasa ada tarikan dari Kalimati yang mengganjal langkah. Kehangatan sarung tidur dari tenda melambai-lambai di angan. Seakan memanggil kami untuk turun dan tidak usah melanjutkan perjalanan.

* * *

Saya berteriak ke arah Tanti, “Hei! Anggrek gak kuat, kami akan turun. Kalian mau ikut atau lanjut ke puncak?” Mereka bertiga kompak untuk meneruskan pendakian. Di antara mereka, hanya Tanti yang agak payah fisiknya. Tapi tak seperti Anggrek, dia memilih bertekad meneruskan perjalanan.

“Gun! Aku minta tolong, titip konsumsi buat teman-teman,” Saya memanggil Gunawan. Saya menyerahkan sebagian besar konsumsi dari tas ransel saya ke ranselnya. Konsumsinya mencakup roti tawar, susu coklat, biskuit, dan satu botol air mineral 1,5 liter. Juga menitipkan tripod saya kepadanya, siapa tahu berguna untuk dokumentasi di puncak.

“Hati-hati, tetap bareng-bareng. Sebelum jam 9 pagi harus sudah turun ke Kalimati,” begitu pesan saya ke mereka bertiga. Saya berharap mereka tidak memaksakan diri. Saya berharap mereka tahu batas fisik dan mental mereka sendiri.

Saya hanya membawa tas kamera, yang memang berisi kamera. Anggrek sudah siap untuk berjalan turun. “Ayo turun.” Saya jalan duluan. Kami berjalan perlahan, menapaki jalur berpasir, dan kembali melintasi hutan di atas Arcopodo yang gelap.

Kami mengalami apa yang Rizky dan Tomi rasakan saat pendakian ke Semeru pada 2013. Keduanya harus menemani Lia yang fisiknya drop untuk kembali ke Kalimati. Melintasi hutan cemara gunung Arcopodo yang, membuat mereka mendapatkan cerita-cerita di luar nalar.

Rupanya Semeru kembali menghadirkan kejutan, lewat pendaki lain. Baru saja kami keluar kawasan Arcopodo, tiba-tiba ada sejumlah pendaki yang baru akan naik ke puncak. Salah satu dari mereka bertanya, “Permisi, Mas, Kelik masih jauh gak, ya?”

Kelik sudah berada 5 menit di belakang. Saya menjawab, “Mungkin sekitar 10 menit lagi, Mas.” Begitu saja. Dan kami berpisah dengan cepat.

Saya dan Anggrek kembali berjalan. Setelah berada di jalur baru di bawah Arcopodo, langit terlihat mulai terang. Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Sebentar lagi akan masuk waktu Subuh. Setengah berteriak, saya berkata kepada para pendaki yang baru naik ke puncak itu, “Mending turun saja, Mas!” Tapi saya tak sampai membubuhi umpatan kekinian seperti di linimasa dunia maya: kzl.

* * *

Subhan (berdiri) dan Anggrek sesaat termangu memandangi tubuh Gunung Semeru
Subhan (berdiri) dan Anggrek sesaat termangu memandangi tubuh Gunung Semeru

Wajah kami bertiga: saya, Subhan, dan Anggrek masih segar. Bahkan saat nanti kembali ke Ranu Kumbolo, pasti kamilah yang berjalan paling cepat. Yang lainnya pasti akan sedikit lebih lambat. Ada tenaga yang masih tersimpan karena urung mendaki ke puncak.

Setidaknya, itu hikmah dari mengetahui batas diri. Anggrek tahu batas fisiknya tak akan mampu dipaksakan lagi. Subhan, sejak tiba di Kalimati, dialah yang pertama kali menyatakan tak akan ikut ke puncak. Kakinya cedera.

Di ketinggian 2.700 mdpl, Kalimati adalah tempat kembali. Kembali dari pencapaian bagi yang merasakan gegap euforia di puncak tertinggi. Juga kembali memahami batas diri bagi yang tertahan langkahnya.

Ini adalah pendakian yang pertama bagi Subhan, dan belum berkesempatan ke Mahameru. Bagi Anggrek, ini kali kedua ke Semeru, tapi kembali belum beruntung menggapai puncak.

“Semeru gak akan ke mana, Mas,” katanya. Membesarkan hati kami.

Kalimati selalu tentang batasan-batasan. Di sinilah titik tolak berpikir, meneruskan atau menghentikan perjalanan. Kita mungkin terlalu terkesima, atau tergoda dengan kebanggaan yang terasa saat berdiri di atas tanah tandus yang penuh batu berabu. Tapi mungkin kita lupa, gunung sejatinya adalah tempat kita becermin.

Dan kami tahu, saat ini batas kami hanya sampai di Kalimati. (*)


Foto sampul:
Shelter Kalimati di ketinggian 2.700 mdpl. Areal kemah terakhir dan teraman sebelum puncak Mahameru

87 thoughts on “Kalimati

  1. Kira-kira misal Mas Rifqy nggak ikut turun ke kalimati mbak anggreknya juga tetap turun nggak mas?

    “Semeru gak akan ke mana, Mas,” kutipannya mbak anggrek

    Ah tulisan ini penuh makna tersirat

    “Jodoh gak akan ke mana Mas,”
    kataku :)))

    Liked by 2 people

    1. Seperti yang saya ceritakan, saya berposisi sebagai sweeper, sebagai penyapu. yang artinya berada paling belakang. Kalau ada teman di depan tidak kuat melanjutkan perjalanan, maka saya sudah siap harus menemaninya turun. Berbahaya kalau turun sendirian di jalur Kalimati-Mahameru, kelengahan fokus karena lelah bisa membawa langkah ke jalur yang salah. Saya memang sengaja meminta posisi di belakang karena saya siaga kalau-kalau ada teman yang terpaksa turun dan harus ditemani 🙂

      Ah, jodoh :)))

      Like

  2. Emang ada, tapi setahuku nggak banyak pendaki yang berbodi semok. Benar begitu Qy? 😀 aku sesungguhnya penasaran banget bisa daki gunung beneran kayak gini. Cuma sadar dengan kemampuan diri sendiri >.<

    Liked by 1 person

    1. Om, saya punya teman dari Sumbawa, yang kuliah di Malang, perempuan. Tubuhnya jauh lebih gemuk daripada Om, sungguh. Tapi karena dia rutin latihan karate, olahraga (meski tidak membuatnya kurus), membuatnya sanggup menjaga fisik saat mendaki Gunung Arjuno, yang meski tidak setinggi Semeru, tapi level pendakiannya sama beratnya. Dia menangis saat ternyata mampu sampai ke puncak, jalannya pelan tapi pasti, dia tahu kalau terlalu sering berhenti, akan mudah capek.

      Pokoknya kuncinya menikmati pendakiannya, lama-lama kan sampai juga 🙂

      Liked by 1 person

  3. wah tulisanmu menarik mas, meskipun aku belum pernah naik gunung tinggi, misal capek, ya memang baiknya tidak memaksakan diri. apalagi kalau alam sedang tak bersahabat, tidak baik memaksakan diri. semoga aku bisa punya pengalaman naik gunung, biar bisa cerita kaya gini.
    Tulisanmu wow! kece. ayo ke gunung tunggak, haha

    Liked by 1 person

    1. Hahaha, iya, apalagi kalau ada agenda langsung turun ke Ranu Pani. Kalau nginep semalam lagi di Ranu Kumbolo kan bisa agak santai tidur-tiduran dulu terus jalan agak sore hehehe.

      Semeru ngangeni sih, pas sepi 😀

      Like

  4. Iya nggak apa-apa, Semeru akan tetap ada di sana, jadi bagian dari penopang Jawa yang memberi hidup bagi berjuta manusia yang bernaung dari belas kasihan vulkanismenya. Semangat buat Subhan dan Anggrek, pasti bisa sampai ke puncak. Semeru akan memanggil jika sudah tepat saatnya, dan ia pasti menyiapkan penyambutan yang tepat.
    Oke, sekarang kita bahas hal teknis. Mas, berarti kalau mendaki via Jalur Arcopodo itu akan lewat dua patung itukah, Mas? Saya baru tahu kalau jalur itu kini sudah ditutup karena longsor. Tapi keselamatan adalah yang utama, jadi pengelola di sana tentu tahu apa yang terbaik bagi pengunjung.
    Cuma kalau soal naik Semeru… saya tahu batasan diri, Mas. Lebih baik jangan berpikir ke sana dulu, haha. Cari yang lebih memungkinkan dulu untuk ukuran tubuh ini, haha.

    Liked by 1 person

    1. Semeru memang berbahaya, tapi ada hikmah kesuburan di kaki-kaki gunungnya. Lumajang, Malang, subur banget karena adanya Semeru. Untuk Anggrek, dia berhasil ke puncak pada 2015 🙂

      Oh tidak Mas, jalur ke Arcopodo beda lagi, lebih sulit dan ekstrim. Nyempal dari jalur pendakian ke puncak. Dan harus bersama orang yang paham lokasi sana, tapi tidak semua pendaki boleh mengunjunginya, bergantung niatnya untuk apa. Tapi lebih cenderung dilarang sih untuk menjaga kesakralan dan melindungi dari ancaman maling hehe.

      Setelah pendakian pertama dulu 2012, saya banyak dapat pelajaran, kalau mau mendaki gunung yang lebih tinggi, belajar dulu di gunung yang lebih rendah, bertahap sih memang 🙂

      Like

      1. Hoo demikian… iya setuju, arca itu memang sakral banget, hehe.
        Betul… jangan diforsir untuk langsung mendaki gunung yang tinggi. Yang lebih rendah dulu, nanti kalau sudah pengalaman baru lanjut ke yang lebih tinggi, haha. Terima kasih jawabannya, Mas.

        Like

  5. Dari dulu saya kebelet banget untuk bisa menapak ke Puncak Mahameru, tapi itu kini menjadi keinginan yang dipendam.

    Mendengar cerita beberapa rekan yang “memaksakan” untuk menapaki pasirnya, saya memjadi ragu untuk mengikuti langkah mereka.

    paling 1 atau 2 tahun lagi baru bisa mewujudkan keinginan untuk berkunjung ke Kalimati, untuk sekarang masih belum ada hasrat dan kesempatan untuk bertandang ke walaupun Ranupani sekalipun.

    Liked by 1 person

    1. Saya sejatinya dulu pertama mengenal pendakian gunung juga langsung ke Semeru, dan saya tahu ini salah, karena tahapnya harusnya adalah ke gunung yang lebih rendah dulu untuk pemanasan, bukan langsung ambisius ke gunung yang lebih tinggi. Kadar fisik orang beda-beda, di luar faktor keberuntungan juga. Apapun alasannya, persiapannya harus matang, terutama menata mental dan ego apabila gagal ke puncak 🙂

      Saya sebenarnya sudah malas kalau ke Mahameru lagi, jalur pasirnya benar-benar bikin ekstra sabar hahaha, tapi kalau hanya sampai ke Kalimati saja saya sudah sangat senang mengobati kangen 🙂

      Liked by 1 person

      1. Sekarang saya malah kalau di ajak naik ke puncak sering cari alasan buat gak ikut, tapi kalau ada ajakan camping ceria lha itu baru tertarik…

        Entah mengapa, lama kelamaan semakin sadar betapa egois sekali saya ini, memaksakan tubuh yang kelelahan untuk bisa sampai ke puncak.

        Mungkin itulah prosesnya, dan sekarang saya mulai menikmatinya…

        Mungkin nanti kalau saya sudah ketahuan kapan ke Kalimati, saya kabari mas Rifqy, siapa tahu bisa bisa berjodoh untuk hiking ke situ 🙂

        Liked by 1 person

  6. Menyengangkan untuk ngga berbesar hati di gunung. Menyenangkan untuk belajar ngendaliin nafsu dan emosi di gunung. Naik gunung memang jadi salah satu cara yang seru buat belajar mengenal batas-batas diri. Setuju, gunung sejatinya adalah tempat kita bercermin. Cinta banget sama tulisan ini. Semoga banyak yang baca, Mas.

    Liked by 1 person

  7. Belum kesampaian lagi nih ke Semeru. Seru juga mengalami kelelahan saat naik gunung, membakar semangat buat sampai ke puncak, dan foto-foto tentunya. Sekarang, berhubung lagi menggeluti trail run, ke gunung gak lagi bawa-bawa gembolan. Soalnya harus tek dung aja, begitu sampe puncak langsung turun lagi. Yang penting bawa persediaan air yang cukup sama duit buat jajan di atas gunung. Gile, zaman berubah. Di atas gunung pun bisa beli nasi sekarang 😥

    Liked by 1 person

  8. Bertahun-tahun absen dari naik “gunung betulan” membuat saya pesimis masih kuat nanjak nggak ya?

    Tapi Semeru tetap dalam bucket list. Nggak harus sampe puncak. Menikmati kabut Ranu Kumbolo pun sepertinya saya akan bahagia 🙂

    Liked by 1 person

  9. “…tubuh raksasa berlumur bebatuan dan pasir bergurat itu..” I loved this phrase mas Rifqy, keceee (y)

    imo, memutuskan utk ga muncak krn kondisi tubuh menurut saya salah satu bentuk kedewasaan pendaki sih. bentuk dipergunakannya akal sehat, karena meski perjalanan sudah begitu panjang, tak lupa ongkos transport yang sudah dikeluarkan, tapi masih mengikuti kapasitas diri dan mengesampingkan ego itu rasa-rasanya tak semua orang bisa melakukannya ketika ‘ngegunung’. 😀 😀

    Liked by 1 person

    1. Hahaha, terima kasih, tapi memang tubuhnya kan bergurat begitu 😀

      Iya Mbak Leni, lagipula saya sudah mengambil tanggung jawab sebagai penyapu, berada di paling belakang. Jadi, sudah menjadi kewajiban saya kalau ada teman yang tidak bisa melanjutkan perjalanan harus saya temani turun. Di sisi lain, kondisi jalur pendakian saat itu bikin ilfeel, malas buat ke puncak 🙂

      Tapi secara umum memang kita harus benar-benar menekan ego itu 🙂

      Liked by 1 person

      1. saya agak sentimentil soal batal muncak sih, soalnya terhitung 3x gagal muncak. makanya pas ada postingan ini langsung antusias inii, hehe

        btw, saya seumur2 belum minat ke Semeru juga karena padatnyaaaa, huhu. masih cari-cari tanggal strategis biar bisa ngerasain alam Semeru tapi dengan kondisi tentram gitu.

        Like

  10. Memahami batas diri memang merupakan sikap dewasa dan rendah hati saat mendaki gunung ya, Ky. Daripada menyusahkan diri dan orang lain nantinya, kadang berjalan mundur adalah opsi yang lebih baik.

    Btw, igir-nya serem banget! Aku takut licin + ketinggian hahahaha

    Liked by 1 person

  11. Iya Mas Nug, ibarat jihad, ego itu masuk hawa nafsu, harus diperangi, harus ditahan, dan memang cukup sulit kalau kita tidak berpikir jernih. Saya sendiri berusaha tidak sampai menyusahkan yang lain, kalau gak kuat ya bilang, gak boleh ada kata gengsi 🙂

    Wwkwkwkwk, memang begitulah, kalau lewat pas tengah malam gak terlalu kelihatan jurangnya, tapi kalau pas turun waduh serem 😀 😛

    Like

    1. Gagah mas, gunung abadi para dewa kok wkwkwkwk.

      Kalau normalnya, asumsi cuaca stabil, arah angin akan berubah menyapu dataran puncak di atas jam 9 pagi. Sehingga kalau ada asap beracun keluar dari kawah jam segitu, kemungkinan dibawa angin ke arah puncak sehingga berbahaya.

      Like

    1. Salam kenal Kak Yosef (atau Om?) WKwkwkwk.

      Wah saya belum pernah ke Lawu via Cetho, cuma lewat Cemoro Sewu/Kandang. Sebenarnya bukan perkara selisih waktu, tapi medan pendakian kedua gunung tersebut berbeda jauh 😀

      Like

  12. Jadi kangen ke Semeru terakhir SMA kelas 3 kyknya aku juga lupa haha, sekarang kalo diajak ke Semeru masih mikir-mikir, blm lagi ada meme ranu kumbolo ada speed boatnya haha
    kayaknya efek perfilman ini bener-bener deh buat semeru berubah, jadi akhir-akhir ini cuma dgerin cerita Jun aja haha

    Emang ngomongin soal puncak, puncak bukan apa-apa cuma bonus.

    ayo mas ke semeru kapan-kapan agendakan sama mbak imama, mas inggit 😀

    -Lidia

    Liked by 1 person

    1. Waaah, udah ke Semeru duluan berarti? Lha saya baru akhir-akhir kuliah 2012 dulu, haha, masih cupu mendadak jadi pendaki hahaha.

      Setelah dua tahun vakum mendaki Semeru, itu saya sambil mengamati. Ternyata ada bulan-bulan yang mana pendakian tidak terlalu ramai, jadi ada polanya kapan sepi, kapan rame haha.

      Apaa??? Jun berubah??? 😀 😀

      Insya Allah, semoga bisa yaaa. Pokoknya keep contact aja, 🙂

      Like

    1. Wah, Sabana 1 udah lumayan loh Mas. Saya dulu jalur Selo cuma buat turun, dan malas kalau lewat sana buat jalur naik hahaha. Sampai Ranu Kumbolo aja kalau ke Semeru udah cukup kok, gak terlalu berat amat 🙂

      Like

  13. Aku lelah baca tulisannya…
    Lelah ikut merasakan deg-deg an kisah Anggrek dan Subhan. Dan aku yakin mereka suatu saat akan mencoba lagi..

    Tulisanmu kok bisa ciamik gini, ajarin aku nulis begini hihi

    Liked by 1 person

    1. Hahaha, saya juga lelah menulis ini berhari-hari gak nemu-nemu pesan yang mau disampaikan dan akhirnya nemu! Hahaha.

      Makasih ya Om, sudah mampir, semua bisa menulis dengan karakter dan kekhasannya masing-masing kok 😉

      Like

    1. Hahaha, kalau menatap lebih langsung bakal lebih merinding lagi hahaha. Saya selalu mengatakan berulang-ulang ke teman yang mengatakan hal yang sama seperti Mbak Fanny, bahwa pada dasarnya fisik bisa dilatih. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s