#SaveOrangUtan: Jeritan Hati Dari Kalimantan

Sorot mata bulat itu tampak berbinar. Bukan pancaran bahagia, bahkan seakan menangis. Lengannya mencengkeram dan mulutnya mengigit erat selembar daun hijau. Seakan menyiratkan raut sedih dan khawatir dalam pembaringannya. Tampak ada sirat pasrah yang terpancar di wajahnya.

Seperti itukah orangutan menunjukkan rasa kehilangan?

* * *

Nasib Orangutan Di Ujung Jurang
Asoka, adalah nama yang diberikan pada bayi orangutan Borneo (Kalimantan) yang tampak sedih itu. Di tahun 2015, ia diselamatkan seorang pria lokal yang di tengah rimba hutan hujan bumi Borneo. Saat itu usianya berkisar 4-5 bulan, berbobot hanya sekitar 2 kilogram.

Merasa kasihan, pria tersebut dan istrinya merawatnya di rumah. Selama empat minggu, Asoka diberi susu kental empat kali sehari. Kemudian, lewat laporan ke Departemen Kehutanan setempat, Asoka dirawat di pusat rehabilitasi International Animal Rescue (IAR) di Ketapang, Kalimantan Barat.

Asoka tak sendiri. Orangutan-orangutan lain, khususnya di Kalimantan, juga tak sedikit yang memberikan kabar getir.

Mungkin jantung orangutan kini semakin berdebar. Berdegup kencang, seakan malaikat pencabut nyawa membayangi di segala penjuru. Bagaikan Dementor yang tak henti meneror para tawanan penjara Azkaban.

Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah (Foto oleh Indra Setiawan-Backpacker Borneo)
Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. [Foto oleh Indra Setiawan- Backpacker Borneo]
Saya pun ikut berdebar. Alasannya adalah pada 8 Februari 2016, ketika The International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengeluarkan sebuah laporan penilaian terhadap orangutan Borneo (Pongo pygmaeus) dalam daftar merah spesies yang terancam. IUCN yang diasesori oleh M. Ancrenaz, M. Gumal, AJ. Marshall, E. Meijaard, SA. Which, dan S. Husson itu menetapkan bahwa orangutan Borneo naik status menjadi Critically Endangered (CR) atau terancam punah. Sebelumnya, orangutan Borneo berstatus Endangered atau langka sejak 1986 (kecuali periode 1996-2000 yang berstatus Vulnerable atau rentan).

Ketetapan tersebut membuat orangutan Borneo menyusul saudaranya, orangutan Sumatra (Pongo abelii) yang sudah berstatus terancam punah sejak tahun 2000. Peningkatan status ini adalah berita duka tak hanya bagi satwa endemik tersebut, tetapi juga bagi kita, seharusnya. Meresahkan. Pasalnya, status tersebut adalah tahap terakhir sebelum status tertinggi, punah di alam liar (Extinct in The Wild) dan punah total (Extinct). 

Peningkatan status tersebut didasari oleh banyak faktor. Seolah orangutan diterjang perang dari segala penjuru.

Selain perubahan iklim secara global, ada lima alasan utama lainnya yang menyebabkan populasi orangutan Borneo mengalami penurunan tajam.

Pertama, hilangnya habitat. Selama kurun waktu antara tahun 2000 dan 2010, tingkat tahunan rata-rata deforestasi di Kalimantan adalah 3.234 km² per tahun. Dengan asumsi tingkat deforestasi yang sama di masa depan, 32.000 km² hutan bisa hilang pada tahun 2020; 129.000 km² pada tahun 2050; dan 226.000 km² pada tahun 2080. Sekitar sepertiga dari populasi orangutan Borneo berada di hutan cadangan komersial yang dimanfaatkan untuk kayu. Kemudian sekitar 45% dari sepertiga populasi tersebut, berada di kawasan hutan yang dialokasikan untuk konversi lahan pertanian atau lainnya.

Kedua, perburuan liar. IUCN mengungkapkan bahwa beberapa ribu individu dibunuh setiap tahun untuk konsumsi daging, sebagai cara untuk mengurangi konflik, atau karena alasan lain. Populasi orangutan Borneo telah berkurang sejak tahun 1970-an, dan selanjutnya akan menurun menjadi sekitar 47.000 orangutan pada tahun 2025. Ini akan mewakili penurunan lebih dari 86 persen dalam 75 tahun. Di sisi lain, Rhett Butler dari Mongabay menyebutkan, dengan lambatnya reproduksi orangutan (orangutan betina jarang melahirkan lebih dari 3 ekor anak selama hidupnya), berkurangnya orangutan mempunyai dampak yang signifikan terhadap keberagaman populasi dan genetis dari spesies tersebut.

Ketiga, kebakaran. Sekitar 90% dari Taman Nasional Kutai hilang akibat kebakaran besar pada tahun 1983 dan 1998. Kebakaran pada tahun tersebut menyebabkan populasi orangutan Borneo berkurang dari sekitar 4.000 di tahun 1970 menjadi hanya 600. Lebih dari 4.000 km² hutan lahan gambut di Kalimantan Selatan dibakar menjadi abu dalam enam bulan tahun 1997-1998, yang mengakibatkan kerugian pada sekitar 8.000 orangutan. Pada Oktober 2015, tahun kebakaran terburuk, luasan kawasan yang terbakar di Taman Nasional Tanjung Puting mencapai 91.000 hektar dari 400.000 hektar total luas kawasan konservasi tersebut. Sekitar 7.000 hektar di antaranya merupakan kawasan berhutan yang kaya akan keanekaragaman hayati.

Orangutan dan kebakaran hutan (Foto oleh Borneo Orangutan Survival Foundation)
Orangutan dan kebakaran hutan. [Foto oleh Borneo Orangutan Survival Foundation]

Keempat, fragmentasi habitat. Hanya sebagian kecil dari habitat orangutan saat ini akan tetap tidak terganggu oleh pembangunan infrastruktur pada tahun 2030. Data IUCN menunjukkan bahwa populasi kurang dari 50 individu orangutan Borneo tidak layak dalam jangka panjang. Banyak populasi kecil akan punah kecuali mereka secara aktif dirawat dan direhabilitasi.

Kelima, kurangnya kesadaran. Sebuah studi menunjukkan bahwa 27% dari orang-orang di Kalimantan tidak tahu bahwa orangutan dilindungi oleh hukum. Oleh karena itu, kampanye efektif yang memberikan informasi kepada masyarakat, mendorong masyarakat pedesaan untuk mendukung prinsip-prinsip pelestarian lingkungan, dan secara aktif bertanggung jawab atas pengelolaan sumber daya mereka; merupakan persyaratan penting untuk kesuksesan konservasi orangutan.

Nasib orangutan kian di ujung jurang. Sebenar-benarnya jurang, tanpa pepohonan tempatnya biasa bergelantungan dan bertahan hidup. Mereka bisa terempas dan jatuh dengan cepat, atau perlahan, tapi menyakitkan. Cerita perjalanan sang primata endemik di bumi terancam berakhir tragis. Hanya meninggalkan sisa-sisa yang cepat melebur jadi abu.

* * *

Meskipun semua perawatan telah disediakan, kita tidak harus mengubah mereka menjadi manusia. (Foto oleh Mihai Vasile-FOUR PAWS)
Meskipun semua perawatan telah disediakan, kita tidak harus mengubah mereka menjadi manusia. [Foto oleh Mihai Vasile-FOUR PAWS]
Ada Harapan-Harapan
Saya tak membayangkan, akan terjadi peristiwa menyayat hati yang mungkin dapat digambarkan seperti ini:

Di tengah hutan Kalimantan yang sedang menanti gosong. Lembabnya rimba tak sanggup menghadang api yang terus melalap beringas.

“Tolong, rumah kami kebakaran!” teriak salah satu orangutan dengan suara parau. Diikuti pekik orangutan lain yang terjebak si jago merah. Mereka saling berlarian. Sayang, tak ada yang mendengar. Orangutan belum tahu, kalau di dunia manusia tak ada sekolah khusus agar bisa berbicara langsung dengan satwa. Tak ada Nabi Sulaiman di sini.

“Tolong….” teriak mereka lagi. Melolong. Suaranya kian parau. Api-api membara terus menggerus pepohonan.

Seperti apakah rasanya terusir dari rumah yang diberikan Sang Pencipta secara cuma-cuma?

Sementara di kejauhan, tak tampak di pelupuk mata, sekelompok orang hanya mengawasi dengan sorot mata berselaput pundi-pundi uang jutaan rupiah. Tak adakah yang lebih mengerikan dari: oknum itu dibayar bukan dari seberapa banyak pohon yang tumbang, melainkan dari seberapa banyak orangutan yang musnah?

Tapi, di balik derasnya ancaman-ancaman bagi kelestarian orangutan, masih ada harapan-harapan cerah.

Pusat-pusat rehabilitasi orangutan kian bertambah, melengkapi kawasan konservasi yang sudah ada seperti Samboja, Nyaru Menteng, dan Taman Nasional Tanjung Puting. Tiga tahun lalu, 50 hektar disiapkan oleh Centre for Orangutan Protection untuk pusat rehabilitasi di Sepaku, Kalimantan Timur.

Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) telah melakukan perbaikan lahan hutan pasca kebakaran di Pusat Reintroduksi Orangutan Samboja Lestari, Kalimantan Timur, pada November 2015. Lalu pada 10 Agustus 2016, BOSF dan BKSDA Kalimantan Tengah melepasliarkan 10 orangutan dari Nyaru Menteng ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBR). Dan berita-berita gembira lainnya.

Secercah harapan itu harus diiringi dengan kemauan kuat untuk terus bertindak. Tak ada alasan yang lebih kuat dalam melindungi orangutan, selain alasan bahwa kita (manusia) sangat membutuhkan mereka.

Orangutan memiliki peran yang sangat penting dalam ekosistem hutan, sehingga dikenal sebagai ‘umbrella species’. Artinya, melindungi orangutan berarti juga akan melindungi flora dan fauna lain dalam kawasan hutan tersebut. Chaerul Saleh, Koordinator Flagship Spesies WWF-Indonesia, menjelaskan jika fungsi ekologis orangutan adalah sebagai pemancar biji-bijian di hutan tropis. Penyebaran biji ribuan tanaman buah dan tanaman lain yang merupakan komponen penting di hutan hujan, sangat bergantung pada keberadaan orangutan.

Dengan keterkaitan tersebut, maka menjaga kelestarian orangutan akan ikut menjaga kelangsungan keanekaragaman hayati di hutan tropis itu sendiri. Jika rantai tersebut putus, kita akan kehilangan sumber daya alam yang memenuhi sebagian besar kebutuhan hidup kita. Jika populasi orangutan dan luasan hutan terus menurun, patutkah kita mengutuk dan bersumpah serapah pada kelaparan, kekeringan, dan segala kebencanaan karena perbuatan kita sendiri?

* * *

 Orangutan Borneo (Pongo pygmaeus) menyentuh alas kaki seorang ranger dengan ujung jari di Taman Nasional Tanjung Puting
Orangutan Borneo (Pongo pygmaeus) menyentuh alas kaki seorang ranger dengan ujung jari di Taman Nasional Tanjung Puting. [Foto oleh Suzi Eszterhas]
Inilah Saatnya!
Bumi Borneo lebih dari sekadar menawarkan tempat-tempat yang unik dan indah kepada pejalan. Tak cukup hanya Pulau Derawan, Pasar Terapung, atau titik tertinggi di Kalimantan (Indonesia), Bukit Raya. Kalimantan juga memiliki luka perih menganga di balik rimbanya yang katanya paru-paru dunia. Kalimantan juga menawarkan ajakan untuk menyelamatkan hutan tropis dan satwanya, termasuk orangutan.

Menyelamatkan orangutan, berarti menyelamatkan keseimbangan ekosistem. Memusnahkan orangutan, berarti menabuh genderang perang pada pemilik jagad raya.

Ibanya hati, baiknya diikuti aksi. Hari Orangutan Internasional tak hanya diperingati setiap 19 Agustus. Hari Orangutan Internasional adalah setiap hari. Memulai dari hal-hal yang kecil jauh lebih baik, daripada tahu dan mendiamkan. Ada banyak pintu yang menjadi pengharapan demi terlindungnya orangutan.  Cerita perjalanan mereka di bumi harus terus berlanjut dan tak boleh putus.

Tak ada pilihan kedua untuk orangutan. Inilah saatnya. Lihatlah polah yang lugu dan sorot mata itu. Ada pesan Tuhan di sana. Menyelamatkan sekaligus melestarikannya adalah satu-satunya pilihan. Mutlak.

Tapi, tak cukup hanya sekadar menyelamatkan. Tak cukup berencana jangka pendek seperti mengelola pusat rehabilitasi. Memulihkan kembali hutan yang telah terdeforestasi adalah solusi jangka panjang, sekaligus menjadi pekerjaan rumah yang mahaberat. Hutan di Sumatra dan Kalimantan adalah rumah permanen bagi orangutan yang seharusnya dihijaukan kembali dan dijaga sampai akhir hayat.

Tak salah jika Alan Knight, kepala eksekutif IAR, ketika diwawancarai oleh Daily Mail, berkata, “Pusat penyelamatan seperti kita dipenuhi dengan binatang yang menjalani rehabilitasi, sebagai persiapan mereka untuk kembali ke alam liar. Tetapi pada saat Asoka kecil siap rilis, akankah ada hutan yang tersisa baginya untuk kembali?” (*)

#SaveOrangUtan Blog Competition Phinemo dan Be Borneo Tour


Referensi:
Borneo Orangutan Survival Foundation: Perbaikan Lahan di Samboja Lestari Pasca Kebakaran
Borneo Orangutan Survival Foundation: Penggalangan Dana untuk Orangutan
Centre for Orangutan Protection: Dampak Kebakaran Hutan di Taman Nasional Tanjung Puting
Daily Mail Online: Orphaned baby orangutan found crying and alone in a rainforest in Borneo is rescued and spoonfed back to health
Kompas: Pusat Rehabilitasi Orangutan Bertambah
Mongabay: Menyelamatkan Orangutan di Borneo
The IUCN Red List of Threatened Species: Pongo pygmaeus, Bornean Orangutan
The World Wide Fund for Nature: 'Sang Pemelihara Hutan', Sebarkan pesan penyadartahuan pentingnya orangutan

Foto sampul:
Asoka, bayi orangutan Borneo yang ditemukan warga lokal di hutan hujan Ketapang. Kini dalam perlindungan International Animal Rescue (IAR) di pusat rehabilitasi di Ketapang, Kalimantan Barat (Foto oleh International Animal Rescue, dimuat di Daily Mail pada 19 Agustus 2015).

42 thoughts on “#SaveOrangUtan: Jeritan Hati Dari Kalimantan

  1. Kebakaran hutan di Kalimantan, dan semakin banyaknya manusia yang membuka lahan di tengah hutan membuat orangutan harus menghilang, berpindah tempat dari satu titik ke titik lain dengan bayang-bayang pemburu liar. Bisa jadi beberapa tahun ke depan, mereka hanya tingal nama dan foto saja. *Semoga tidak terjadi.

    Liked by 1 person

    1. Itulah. Seperti foto di atas yang dijepret oleh Mihai Vasile. Kita tak akan bisa merubah orangutan menjadi manusia, kita harus membentuk orangutan seperti orangutan yang biasanya hidup di hutan. Sementara, hutannya sedang berkurang…

      Like

  2. Miris banget nasib orang utan saat ini. Baru kemarin, liat berita, orang utan yang mati terbakar. Lupa karena apa, klau gak salah inget karena kebakaran hutan *kalau gak salah ingat.

    Semoga asoka dkk mendapat kembali tempat mereka kmbali d hutan, dan kabar menyedihkan itu bisa berubah… dari terancam punah.

    Like

    1. Iya Mas, memang kebakaran karena gabungan faktor alam dan ulah oknum pembuka lahan. Ditemuinya mereka di dekat permukiman menandakan hutan yang asli telah berkurang, habitat asli telah perlahan hilang.

      Amin, semoga kembalinya mereka menjadi kabar gembira, sebelum status itu meningkat.

      Like

  3. Jujur, ya mas, awalnya saya sama sekali tak mengerti mengapa kita harus melindungi mereka dari kepunahan. Selain dari kewajiban kita sebagai manusia.

    ternyata, mereka punah, kitapun akan punah.. SUbhanallah.. Sungguh, Tuhan tidak sia sia dalam menciptakan segala sesuatu!

    Liked by 1 person

  4. Dan mayoritas penyebab menyusutnya populasi orangutan adalah karena manusia. Entah ya, tapi susah banget kayaknya buat manusia-manusia itu untuk hidup berdampingan dengan satwa. Ya padahal orangutan kayaknya lebih dulu ada gitu, jadi kan sebetulnya manusia yang menumpang di habitat mereka. Dasar manusia ini tidak tahu berterima kasih. Haduh kaumku.
    Mudah-mudahan tulisan ini dibaca oleh yang berwenang, kemudian disebarluaskan, sehingga banyak yang sadar. Amin.

    Liked by 1 person

    1. Kita punya sifat dan nafsu untuk menguasai, menjajah, Mas. Kita tidak punya pola pikir jangka panjang yang jernih. Betapa tidak geregetan ketika kita menyakiti satwa, orangutan, yang masuk permukiman mencari makan, padahal mereka mungkin merasa di permukiman itu dulunya hutan tempat mereka mencari makan. Kini hutan hilang, mereka harus bertahan hidup.

      Amin Mas. Terima kasih ya 🙂

      Like

  5. kebakaran demi perluasan lahan, cuaca, tingkat kesadaran.
    memang sangat sedikit di antara kita, banyak dari kita yang rakus dan membakari tempat/rumah orang utan dan banyak juga kita yang membunuh..
    semoga dengan adanya artikel ini dapat menumbuhkan rasa kesadaran yang tinggi..

    Like

  6. Orangutan memiliki peran yang sangat penting dalam ekosistem hutan, sehingga dikenal sebagai ‘umbrella species’. Artinya, melindungi orangutan berarti juga akan melindungi flora dan fauna lain dalam kawasan hutan tersebut. ini betul banget.

    Konservasi, penambangan dan pembukaan lahan baru untuk sawit, begitu komplek. Ibarat benang ruwet. Seharusnya nggak ruwet dan bahkan bisa saling meluruskan diantara ketiganya. Bahkan saling support dengan ogram CSR yang ada. tapi ……. ya begitulah.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s