Perjalanan: Ekspektasi dan Realita

Saya tercenung cukup lama membaca artikel yang ditulis Kanika Saxena di Travel Triangle. Berulang kali menggerakkan scrollΒ mouse naik-turun.

Artikel yang diterbitkan 15 Februari 2016 lalu ini berisikan tentang ekspektasi dan realita dalam traveling. Ia menampilkan 16 foto lokasi wisata terkenal dunia. Mulai dari Tembok Besar China hingga Stonehege. Foto-fotonya mungkin sudah ramai di berbagai jejaring media sosial. Sebagian malah dikemas menjadi meme yang lucu sekaligus menggetarkan. Membandingkan harapan (ekspektasi) dan kenyataan (realita).

Kemudian saya tersenyum membaca dua komentar dari pengguna Facebook di bawah artikel tersebut.

Pertama, pembaca bernama Monica Tamics, yang sepertinya berasal dari Budapest, Hungaria. Komentarnya sedikit menceritakan pengalamannya mengunjungi Tembok Besar China tiga tahun lalu. Dia dan pasangannya berkunjung saat musim dingin dengan suhu minus 20 derajat. Dan mereka adalah satu-satunya pengunjung di sana. Admin Travel Triangle pun membalasnya dengan komentar bahwa mereka telah mendapat pengalaman yang menakjubkan.

Lalu saya membaca komentar kedua. Dari Ana Verronica Serrano, seorang perempuan Brazil yang berkomentar dalam bahasa Portugis. Ketika saya terjemahkan dengan bantuan Google Translate, saya terkikik. Terhibur. Mengangguk-angguk. Kurang lebih artinya seperti ini:

Aku tidak tahu tempat-tempat ini tapi setidaknya Anda tidak merasa sendirian! Banyak kehangatan!

Betul juga.

* * *

Pantai Klayar Pacitan
Pantai Klayar di Pacitan saat musim liburan. Sekitar 4-5 tahun yang lalu, pantai yang terkenal dengan seruling samudranya ini masih sangat sepi.

Melihat perbandingan foto-foto dalam artikel tersebut begitu menggelitik. Sekaligus menyentil. Situs online Bored Panda bahkan dengan ekstrim menyebut Instagram dan fitur filter di dalamnya sebagai biang hancurnya bayangan pelancong akan eksotisme yang mereka lihat di foto, ketika mereka berkunjung ke tempat aslinya.

Saya belum pernah bepergian ke tempat-tempat populer tersebut. Saya hanya pernah melihatnya di buku-buku, majalah, dan internet. Bahkan saya belum ada niat dan rencana satu pun untuk berkunjung ke sana.

Pertama kali mengetahui Tembok Besar China adalah dari Buku Pintar karya Iwan Gayo. Dari situ saya tahu kalau Tembok Besar China termasuk salah satu keajaiban dunia. Kini mungkin menjadi sebuah keajaiban apabila berkunjung ke sana dalam keadaan sepi seperti yang dialami Monica Tamics dalam komentarnya.

Di Buku Pintar itu juga disebutkan keajaiban dunia lainnya. Menara Eiffel di Paris, Prancis. Menara yang dirancang Gustave Eiffel itu sudah kondang dijadikan tempat romantis bersama pasangan. Berlibur bersama, piknik bersama, atau bercengkerama di atas taman sembari memandang Eiffel bersama. Kini mungkin menjadi sebuah keajaiban berkunjung ke sana seperti yang diimpikan. Jika kurang beruntung, jadinya akan seperti acara bagi takjil dan buka puasa bersama.

Atau kita bisa lihat banyak contoh di dalam negeri.

Gunung-gunung mendadak ramai seperti pasar. Esensi pendakian menjadi memudar.

Kita sudah saksikan banyak coban-coban (air terjun) di Malang-Lumajang mendadak tenar. Kapas Biru, Kabut Pelangi, Coban/Tumpak Sewu dan lainnya. Seolah-olah baru ditemukan. Pelancong pun berdatangan.

Sebenarnya geliat wisata demikian punya sisi positif. Kian banyak potensi wisata lokal yang belum banyak dijamah. Juga membangkitkan denyut perekonomian warga setempat.

Tapi layaknya cahaya dan bayangan yang beriringan, tak ketinggalan pula sisi negatif.

Sisi negatif tak hanya dari segi soal dampak kepada kurangnya kesadaran akan kebersihan lingkungan. Tapi juga menyangkut nyawa.

Kita tentu masih ingat. Seorang mahasiswa salah satu universitas negeri di Malang, tewas terpeleset jatuh ke jurang dalam setelah selfie dari tubir tebing Coban Sewu. Masih membekas di ingatan, tewasnya seorang pendaki karena jatuh dari puncak tertinggi Gunung Merapi.

Apakah semata-mata karena masifnya pertumbuhan media sosial? Atau keberadaan travel blog semacam ini juga ikut berperan?

Bisa jadi. Tapi tidak mutlak.

* * *

Penanjakan Gunung Bromo
Pengunjung asyik berfoto selfie di Seruni Point, titik pandang sunrise dan Bromo yang lebih dekat dengan gerbang Cemoro Lawang, Sukapura, Probolinggo. Saat itu kabut dengan cepat menghalangi pandangan setelah sunrise sempat muncul sepintas.

Ekspektasi dan realita adalah gap. Tentang yang diharapkan terjadi dengan yang sebenarnya terjadi. Gap ini bisa jadi masalah, jika kita melihatnya dengan sebelah mata.

Saya sering menjumpai pendaki yang kecewa berat karena gagal ke puncak. Atau sudah susah payah ke puncak, tapi yang didapat hanya kabut dan hujan sepanjang hari. Bukan sunrise atau lautan awan.

Saya sendiri kerap terjebak dimanjakan ekspektasi. Juga sering pergi ke suatu tempat karena terpengaruh oleh foto atau cerita yang saya baca di internet.

Pertama kali mengenal dunia pendakian, saya dan teman-teman langsung berambisi ke puncak Mahameru. Saya sudah membayangkan akan foto seperti apa di puncak nantinya. Tapi ambisi itu terbentur dengan kenyataan.

Tanpa persiapan fisik yang maksimal dan wawasan pendakian yang dangkal, 10 jam harus kami lahap dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo. Kami tiba tepat tengah malam. Padahal sejatinya hanya 4-6 jam saja normalnya. Esoknya, fisik langsung drop. Persendian ngilu semua. Ambisi berdiri di Mahameru pun dikubur dalam-dalam. Memilih menghabiskan waktu di Ranu Kumbolo selama tiga malam. Begitulah Semeru menegur kami.

Karenanya, banyak perdebatan muncul.

Ada sebagian yang usul. Tidak usah berbagi foto-foto destinasi wisata di internet. Nanti akan dikunjungi orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Yang kontra, tetap berbagi cerita dan foto. Memberi gambaran potensi wisata negeri ini yang layak digali.

Kedua usulan yang saya yakin berangkat dari niat dan persepsi yang baik. Setidaknya, tak sedikit orang-orang yang peduli dengan potensi di sekitarnya. Yang paling penting adalah bagaimana cara kita mengemas dan menyuarakannya.

Kita boleh berbagi pengalaman mendaki gunung hingga puncaknya. Tapi kebanggaan akan pencapaian puncak tak boleh menutupi esensi utamanya.

Kita harus sekaligus mengabarkan berita gembira bahwa kita bertanggung jawab dengan sampah yang dibawa. Juga berita gembira bahwa kita telah pulang dengan selamat. Kita juga menceritakan kendala fisik, mental, cuaca, dan rintangan lainnya yang dihadapi selama pendakian. Juga sakit dan dingin yang dirasakan. Berbagi yang seperti ini berarti memberikan pesan. Pesan yang diharapkan memberi wawasan dan edukasi bagi pembacanya.

Setelahnya, adalah ranah bagi yang melihat dan membacanya. Setiap pejalan selalu punya alasan di balik proses perjalanannya. Hanya Tuhan pemilik semesta, yang berhak menilai kebenaran maupun keburukan dari niat yang dikandungnya.

* * *

Karenanya, ekspektasi dan realita akan tetap ada di benak kita masing-masing. Bertolak belakang, tapi beriringan. Keberuntungan hanyalah bonus.

Yang perlu kita lakukan adalah: menghargai proses dan menikmati perjalanan. Siap mengerem ekspektasi, siap menerima realita. Seperti pesan yang tertera pada judul artikel Travel Triangle tersebut: Travel Expectations and Realities: Brace Yourselves!

Saya jadi teringat saat batal ke puncak Mahameru di akhir Mei 2014. Pas long weekend karena tanggal merah. Satu-satunya jalur dari Kalimati ke puncak sangat padat. Macet. Merayap. Saya langsung ilfeel, kehilangan minat dan ambisi tentang puncak. Sementara fisik seorang teman di depan saya sangat drop. Klop. Ada alasan meyakinkan bagi kami untuk memilih turun kembali ke Kalimati.

Saat turun, saya masih keheranan dan geleng-geleng kepala dengan kenyataan di depan mata tersebut. Tapi, mungkin seharusnya saya harus lebih bersabar dan mengambil hikmah, menghibur diri dengan berkata senada dengan potongan komentar Ana Verronica Serrano di atas:

“Tapi setidaknya kami tidak merasa sendirian! Banyak kehangatan!” (*)


Foto sampul:
Wisatawan berdesakan di
sunrise point, gardu pandang Pananjakan 1 Cemoro Lawang, Probolinggo. Di sini adalah salah satu spot terbaik menyaksikan sunrise Gunung Bromo dan lautan pasirnya dari atas bukit.

94 thoughts on “Perjalanan: Ekspektasi dan Realita

  1. Yeahhh udah bisa komen dengan mudah lagi, begitulah…saya pun sering kali terkecoh dengan foto-foto dan cerita. Yang terakhir malah saat berkunjung ke curug yang lumayan masih sepi, diluar dugaan. Curug tersebut mengering sama sekali, padahal lihat difoto begitu cantik. Tapi sekali lagi begitulah kenyataannya kadang kala

    Like

  2. ironi yang tiada henti saat setiap manusia berupaya menjadi ke ke-akuan yang begitu tinggi..

    aku lo punya follower banyak

    aku lo foto-foto ku ke tempat travelling banyak..

    sampai lupa pesan yang ingin disampaikan 😦

    Like

  3. Dulu, sebelum meluncur ke dunia travel blogging, sempat terpikir hal ini, apalagi sewaktu ada kejadian taman bunga di Jogja itu. Tapi setelah dipikir2 lebih banyak sisi positifnya sih, sekarang untuk mengurangi sisi negatifnya ya cantumkan saja nasihat atau tips2 traveling agar tidak merusak πŸ™‚

    Like

  4. memang menjadi sebuah momok yang cukup serius akan menyerang pariwisata kita mas, aku lagi berusaha buat bikin tulisan yang seperti ini, melihat dari dua sisi bukan hanya indahnya saja namun keberlanjutan sebuah pariwisata akan seperti apa, nice share anw mas πŸ™‚

    Like

  5. Sudah hampir 7 th an ini gw ngak pernah berexpetasi macem2 kalo travelling, kalo dulu mungkin berharap banyak, tp sekarang tidak dan sebodoh amat.

    Banyak cara untuk menikmati setiap perjalanan, salah satu nya bersyukur atas apa yg Tuhan beri, bersyukur bahwa ternyata gw bisa sampai disini yg selama ini cuman gw mimpiin, bersyukur bisa jalan sama temen2 sahabat dan keluarga, bersyukur diberi sehat dan bisa jalan2 dll.

    Jadi kalo tempat yg kita datengi ngak sesuai expetasi mah gw sebodoh amat, its about journey not destination #Halah

    Yang pasti perjalanan gw hanya untuk belajar mensyukuri kebesaran Tuhan, belajar berproses

    Like

  6. Sudah sekitar 7 tahunan, gw dah ngak perna mikir ttg destinasi alias tanpa expetasi. Kalo dulu mungkin iyaaa ngejar destinasi.

    Gw menikmati setiap langkah perjalanan, mau itu bagus jelek jorok cakep sebodoh amat.

    Perjalanan gw bukan mencari keindahan sebuah tempat tp gw mau belajar bersyukur dari setiap perjalanan. Belajar bersyukur di beri sehat dan rejeki untuk bisa sampai ketempat itu, bersyukur di beri teman sahabat keluarga yg menemani setiap perjalanan, bersyukur untuk terus mensyukuri nikmat Nya

    Its about journey, not destination

    Like

  7. Kalau dari data tahun 2013, populasi penduduk dunia itu 7,125 milyar jiwa. Dan setiap tahunnya ada pertambahan 1.2%. Kesimpulannya, setiap tahun, tempat-tempat di dunia bakal tambah ramai, nggak hanya di tempat wisata.

    Itu realitanya. πŸ˜€
    Jadi, mari sesuaikan ekspektasi. πŸ™‚

    Like

  8. Esensi sebuah perjalanan tidak hanya tentang sebuah keindahan. Terkadang banyak orang mau hanya yang enak-enak saja, nah, ketika kenyataan yang dihadapi berbeda dengan ekspektasinya malah ikut-ikutan latah mengikuti yang salah. Contoh kecilnya membuang sampah, banyak yang seenaknya membuang karena melihat yang lainya juga melakuan.

    Lead by example. Setidaknya kita bisa melakukan satu hal kecil agar orang lain bisa mengikuti.

    Like

  9. Aha, saya suka sekali artikel ini. Semacam menerjemahkan apa yang ada dalam benak saya. Saya juga baca artikel yang ditulis di Travel Triangle itu.

    Tapi dari pengalaman akhirnya saya belajar bahwa esensi dari sebuah perjalanan bukanlah destinasi, tapi bagaimana soal kita memaknai dan berproses. Bagi saya perjalanan itu proses memperkaya jiwa, bukan semata check point dan hati merah di instagram hihihi.

    Like

    1. Terima kasih Mbak. Saya ingin menggarisbawahi “pengalaman”, betul, jika ada keinginan kuat untuk belajar sebuah esensi, maka akan memperluas sudut pandang kita. Memaknai dan berproses. Seperti Agustinus Wibowo kerap bilang, perjalanan itu baginya adalah refleksi dan membuang ego πŸ™‚

      Hehehe, demi followers kalau itu πŸ˜€

      Like

  10. Saya lebih menyoroti pada ekspektasi keindahan karena media sosial, khususnya Instagram. Menurut saya ada setidaknya tiga jenis tempat di Indonesia.
    1. Bagus di foto, lebih bagus di kenyataan: seperti Pulau Padar di Flores, Raja Ampat, dan Gunung Bromo
    2. Bagus di foto, bagus di kenyataan: seperti Gili Lawa, pantai-pantai di selatan Lombok, dan beberapa pantai di Bali
    3. Bagus di foto dan biasa saja di kenyataan: Ramang-ramang di Maros dan Kintamani di Bali masuk kategori ini menurut saya.

    Hati-hati jika menjadikan foto-foto di media sosial sebagai referensi. Apalagi sekarang banyak tone tone yang dapat memperindah tampilan foto. Tidak ada yang lebih baik daripada melihat dengan mata sendiri.

    Like

    1. Wah penggolongan yang menarik Mas πŸ™‚

      Saya cenderung sepakat bahwa sejatinya bentang alam itu yang merupakan ciptaan Tuhan tidak ada yang tidak indah. Persepsi dari kita, manusialah, yang menjadikan sebuah tempat alam itu dirasa bagus atau biasa menurut penilaian kita sendiri. Dan bisa jadi karena keberadaan kita atau apa yang telah kita lakukan di lingkungan alam sekitarnya menjadikan yang mulanya alami/indah menjadi sedikit tercemar.

      Betul, saya kira itu juga menjadi sebuah ajakan supaya tidak terlalu menggantungkan ekspektasi hanya karena sebuah foto, tapi menyaksikannya sendiri secara langsung, karena bagi saya mata manusia tak akan bisa ditandingi dengan mata lensa πŸ™‚

      Like

  11. Artikel yg sangat bagus!
    Setuju ama kamu, papanpelangi, emang bakal jadi dilema.

    Kalo kita post sebuah disetinasi di social media, sisi positifnya adalah biar tempat itu rame, otomatis warga lokal dapet penghasilan dari tourism.

    Nah, tapi kalo ramenya sama kawula muda narsis stadium 4 ya mo gimana lagi…
    Terkadang kelompok ini tidak tahu sama sekali yg namanya etika berwisata.

    Contoh: dulu yg mendaki Semeru ya paling pecinta alam, tapi sejak kemunculan “film itu tuh..”, tiba-tiba BLAAARRR

    Pengunjung makin banyak, beberapa dari mereka orang-orang kota yg berpendidikan, namun entah mengapa pas mendaki malah menjadi sekumpulan orang yg ga tau adat n ga peduli lingkungan.

    Percuma lah pake kaos “My Trip My Adventure” or “National Geographic Traveler”

    ——————————–

    Cerita artikel ini mirip kayak pengalaman ku di sini:
    http://makanangin-travel.blogspot.com/2014/04/sulitnya-mencari-ketenangan-di-pantai.html

    “It’s not just about the destination, but the journey”

    Like

  12. Hahaha, ada ya istilah narsis stadium 4 πŸ˜€

    Hmm, mereka hanya perlu dipoles dan diedukasi, asal mereka mau. Setidaknya dari tulisan-tulisan atau postingan kita di internet bisa diselipkan pesan-pesan tersebut πŸ™‚

    Ya, memang banyak yang menyudutkan semua bermula gara-gara “film itu”, tapi bagi siapapun yang peduli dengan Semeru atau alam atau lingkungan atau wisata yang baik, tak bisa diam terus, harus ada gerakan yang bisa mengembalikan citra wisata yang positif πŸ™‚

    Terima kasih sharingnya ya πŸ™‚

    Like

  13. Kini banyak yang terpengaruh budaya pamer kekinian, dikit-dikit dishare di media sosial tanpa tahu tujuannya berbagi, yang penting ngeksis begitu hahaha.
    Oh iya Qy, congrats udah ganti hosting, tapi ada sedikit saran mengenai theme. Mungkin bisa dipilih yang lebih nyaman dan lebih enak discroll ajah. πŸ˜‰

    Like

    1. Hahaha, demi eksistensi lah Mas hehehe.

      Terima kasih sarannya Mas. Saya sudah mencoba puluhan tema Mas, dan sebagai penganut one-column blog, saya merasa tema ini adalah salah satu yang paling sesuai. Simpel. Akan memberikan tantangan baru bagi saya gimana caranya membuat pembaca fokus dengan tulisan saya, baik itu cara menulisnyakah, diksi, struktur, gimana caranya supaya nyaman sehingga tak terburu-buru menghabiskan bacaan dan berburu tulisan lain. Itulah mengapa tidak ada sidebar atau footer, yang konten widgetnya sengaja saya taruh agak tersembunyi (di atas).

      Tapi, kalau nanti ketemu dengan tema yang sesuai aliran saya (hehe) dan lebih nyaman dari ini, insya Allah akan saya terapkan. Sekali lagi makasih ya Mas πŸ™‚

      Like

  14. Aku juga beberapa kali mengalami bahwa ekspetasiku berbeda dari realita. Mungkin akibat proses edit yang semakin canggih foto yg diambil dari lokasi yang bisa saja jadinya cetar membahana saat tambil di IG atau di blog. Lagi pula saya sering lupa bahwa foto hanya mewakili fragmen kecil saja dari suatu tempat. Kalau diambil dari sudut tertentu memang cakep tempatnya. Tapi kalau sudah dilihat seluruhnya ya biasa saja..

    Like

  15. Terkadang banyak sebagian orang belum bisa memaknai apa artinya perjalanan. Yang terjadi yaitu kurang bisa menjaga lingkungannya, sopan santun sama warga dan sebagainya. suka sedih jadinya 😦 -Lidia

    Like

  16. Emang benar kata beberapa org, jd lah smart traveler. Gak dapat sunrise, sunset pun jd. Yah kata lainnya, dengan tidak sesuai harapan dari awal. Coba aja cari sisi lain dari tempat itu, apa itu org2 lokalnya dll. Pasti perjalanan itu sendiri tetap punya story yg bisa dibawa pulang. Hehe

    Like

  17. Pertama-tama selamat ya Mas sudah di hosting yang baru, semoga makin sukses dan rajin ngeblognya, dapat banyak manfaat juga (baik yang tampak maupun tidak :hehe) dari hostingan baru ini :hore :hore.
    Nama pun tempat wisata mainstream pasti pengunjungnya buanyak banget ya. Kalau di Bali macam Pantai Kuta (dan beberapa pantai lainnya :hehe). Kalau saya sih ketika jalan ke suatu tempat biasanya tanpa ekspektasi apa-apa, terus selalu mencoba memandang semuanya dari sisi yang (sedikit) positif. Yah Tuhan pasti sudah menyiapkan cerita perjalanan yang berbeda bagi setiap orang kendati tujuan jalannya adalah sama :hehe.
    Tapi syukurlah saya tidak begitu terpengaruh ketika melihat foto di media sosial tentang suatu tempat. Paling penasaran diambilnya dari sisi sebelah mana, setelah itu yo wis, berlalu :hehe.

    Like

    1. Hehehe, terima kasih banyak mas πŸ˜€

      Iya Mas, setiap sisi pasti memiliki hikmahnya. Sebaik-baiknya kita berencana, Tuhan memiliki rencana dan kehendak yang lebih baik πŸ™‚

      Hahaha, kita melihat di media sosial sebagai refreshing, apalagi itu sesuatu yang baru, unik, tapi tidak menelan mentah-mentah selama kita belum memastikannya sendiri πŸ™‚

      Like

  18. Tak hanya destinasi wisata sih yang memiliki gap, segala sendi kehidupan nampaknya seperti itu. Semakin tinggi ekspektasi, makin sakit pula kalau terjatuh. Karena kenyataan tidak melulu indah… πŸ˜€

    betewe, sejak ganti domain kok postingan ini udah ndak muncul di reader ya mas?

    Like

    1. Ya Mas, seperti yang saya cantumkan dalam judul tulisan ini, ekspektasi dan realita dalam perjalanan. Traveling. Di luar itu, tentu juga menyusup di setiap sendi kehidupan πŸ˜€

      Iya Mas, saya ganti domain tapi sekaligus pindah ke self-hosting Mas, jadi yang blog lama di wordpress.com saya sembunyikan/private. Jadi kalau berkenan, bisa masukkan alamat blog ini ke menu ‘manage site’ di following site, atau subscribe via email. Terima kasih πŸ™‚

      Like

  19. pernah ngerasain wisata jaman istilahnya kekinian medsos dan di jaman sekarang, beda benget rasanya..
    Selain nyari info lokasi wisata sulit, dulu mungkin orang berwisata tidak punya ekspetasi berlebih karena niatnya berlibur, menghilangkan penat, foto pun hanya sekedar foto formalitas (foto bareng2). mungkin yang punya ekspetasi berlebih adalah si hobi foto karena berharap moment yang di dapat bisa sesuai atau lebih dari bayangan dia πŸ˜€

    postingan sipp bener,, saya pun pernah berekspetasi tinggi belum lama ini dan hasilnya begitulah πŸ˜€

    Like

  20. Sering berulangkali berpikir sulitnya mengedukasi pengunjung terkait kebersihan..

    Padahal mudah kok, nggak asal lempar bungkus makanan dsb, tapi kok susah banget kayaknya buat kebanyakan orang..

    Kalo masalah esensi traveling, mungkin kita para travel blogger juga perlu ambil bagian mengedukasi para traveler lainnya .. πŸ˜€

    Like

    1. Karena malas Mas. Pola pikir yang masih beranggapan bahwa sampah (anorganik) bakal mudah diurai, atau yang menyebalkan: “Kan sudah ada petugas kebersihannya!” πŸ˜€

      Sebisanya Mas, supaya ada rasa kontribusi baik sekecil apapun πŸ™‚

      Like

  21. Suka tampilan rumah barunya, apik & bersih! πŸ™‚

    Trims opininya kak Rifqy, memang ekspektasi dan realita kadang berbanding terbalik (kadang lho ya). Intinya jangan terlalu berekspektasi ketinggian, di sisi lain jika menghadapi realita yang berbeda dari harapan ya tinggal bagaimana kita menyingkapinya. Misal kalau ke suatu lokasi trus ternyata cuacanya mendung, maka disiasati foto2nya dibikin b&w atau monochrome. Sementara itu aja opini saya, terima kasih πŸ˜‰

    Like

    1. Halo Mas Gio! Makasih sudah mampir πŸ˜€
      Mas, menyingkapi sama menyikapi beda loh hahaha. *peace guyon* πŸ˜€

      Iya Mas, bagi orang yang punya hasrat di fotografi mungkin akan lebih mudah menyiasatinya. Kalau kita belum memahami dan berteman dengan cuaca, mungkin perlu sedikit waktu. Thanks opininya Mas e πŸ™‚

      Like

  22. umat manusia semakin banyak …. medsos sih ga salah .. yang salah sih orangnya … apalagi banyak oknum2 yang suka menyampah .. ga tua ga muda … ga kaya ga miskin … kumaha deui atuh … reality bites

    Like

  23. Stelah saya membaca artikel ini ternyata dengan berekspresi dlm sebuah travelling atau journey akan banyak memberikan manfaat terutama kita bs banyak menemukan jalan nya syukur atas nikmat, thank gan

    Like

  24. hahaha, suka tulisan ini. Bisa memandang dengan bijak dari berbagai sudur pandang. Aku sendiri orang yang gampang2 aja dalam melakukan perjalanan, pakai kalimat sakti aja, harapkan yang terbaik dan persiapkan untuk kemungkinan terburuk, termasuk kalau ternyata ekspektasi kita tak sesuai dengan realita, nikmati saja hal lain yang bisa dinikmati. Secangkir teh panas dengan pisang goreng misalnya… Sruput

    Like

  25. saya sering lihat foto yang lokasinya bagus minta ampun tapi pada saat kesana kebingungan nyari lokasi foto tersebut ada disebelah mana hahahaha

    kebetulan sukanya lokasi untourism place biar ngga ketemu pengunjung alay yang ngerusak citarasa alaminya

    udah ngalamin kejadian di copet, di jambret dan dirampok juga tapi masih ngga bosan jalan-jalan :p

    Like

    1. Hahahaha, kadang saya pun juga begitu πŸ˜€

      Sama Mas, kadang saya pun demikian, tapi juga melihat kebutuhan juga πŸ™‚

      Jangan bosan dan jangan kapok Mas! Sejelek-jeleknya nasib kita, jalan-jalan selalu nagih! *kalau ada duit* πŸ˜€

      Like

  26. Saya tak pernah punya ekspektasi ketika jalan-jalan, no plan, no itinerary. Tanpa mengharap apapun, apa yang saya temui adalah kejutan. So, selama ini tidak pernah kecewa dengan perjalanan. Mau rame mau sepi.

    Like

  27. Bener nih mas, pernah juga ngalamin. di foto pantainya bagusnya masya allah, eh pas sampek di lokasi penuh dengan sampah.. kalau nggak salah lokasinya di tulungagung..

    Like

  28. Quote yang sudah ratusan kali didengar/dibaca: “It’s about the journey, not the destination”.
    Bener banget memang. Dengan perkembangan tren travelling yang makin menjadi seperti sekarang, kita dipaksa untuk tak lagi heran sama pemandangan lautan manusia. Tapi kalau kita bisa lihat dan rasakan esensi perjalanan dari sudut pandang berbeda, pasti ekspetasi yang diterima bakal worth it juga (menurut versi kita). Karena jadi pejalan yang tak sekadar gemar mengabadikan gambar itu juga menyenangkan, kok! πŸ˜‰
    Nice share anyway, mas! Aku belum bisa nulis artikel macam begini hihi

    -Reza

    Like

    1. Benar Mbak Reza, bagi saya, seru banget loh kalau kita melihat sisi yang lain yang bikin penasaran. Mencari-cari sudut pandang yang siapa tahu bisa menambah wawasan bahkan mengubah pola pikir kita, itu seni menurut saya.

      Hahaha, terima kasih Mbak, masih susah payah nulis opini begini πŸ˜€

      Like

  29. Yes, terkadang demi menikmati perjalanan, ekspektasi harus kita turunkan, biar ga sakit ati sendiri kalau sampai ditujuan

    Btw, epic bener yg selfian di bromo pake DSLR kah itu πŸ˜€

    Like

  30. Setuju sekali dengan opinimu Mas. Makanya dari dulu aku bukan “destination minded”. Jalan ya jalan aja. Ngerti bangetlah ya kita dengan realita tidak sesuai dengan ekspektasi karena foto-foto social media uapik tenan. Tapi semua perjalananku selalu menyenangkan sih Mas Ki :p Jadi, kapan kita jalan bareng?

    Like

  31. saya sudah pernah ke tembok cina, dan saat itu akhir minggu, ramai sekali, ambil foto susah tanpa terganggu orang2, tapi ada teman kesana pas sepi, lihat musim dan hari juga sih

    soal semeru, memang katanya sudah sangat crowded, saya terakhir kesana 2009, konon katanya karna film apa itu yg soal naik gunung, 5 cm?

    aplikasi yg bisa edit2 foto jg kadang bikin kitya jadi terkecoh sih dengan foto2 di socmed

    Like

    1. Iya Mbak, kudu ngepasin waktunya supaya pas πŸ™‚

      Itu juga salah satu yang dianggap penyebab, karena tak adanya edukasi yang disampaikan, hanya berkisah tentang persahabatan yang dirayakan di gunung. Semua terpana dengan keindahan Semeru dari layar kaca, padahal faktanya, Semeru kini bak bank sampah dan pasar.

      Iya sih, karenanya kita tidak boleh terlalu mudah percaya hehehe.

      Like

  32. menurut saya tidak masalah memperkenalkan ataupun uplod foto wisata, malah itu bagus untuk perkembangan wisata tersbut, selain itu warga di sekitar objek wisata juga merasa mendapat lapangan pekerjaan baru. masalah nanti di rusak atau gemana, itu tergantung orangnya saja.

    Contohnya saja di bali, di bali sekarang ini ada banyak tempat wisata baru. banyak foto2 wisata baru yang di upload di medsos, tapi saat saya ke lokasi, tempat wisata tetap masih terjaga walaupun sedikit ada sampah yang berserakan. Jadi tergantung orang yang berwisata saja, Tapi menurut saya, berikan papan peringatan jika ada yang berbahaya, selain itu tetapkan peraturan dan sangsi bagi yang melakukan hal yang buruk, agar pengunnjung lebih berpikir melakukan suatu tindakan.

    Like

    1. Terima kasih atas tanggapannya Mbak, menarik sekali. Benar, selama disepakati, maka suatu tempat perlu disuarakan ke khalayak untuk diketahui, dengan tujuan utama mensejahterakan masyarakat di sekitarnya. Yang terpenting, ada rambu-rambu yang dibuat untuk menjaga dan mencegah dari kejadian yang tidak diinginkan. πŸ™‚

      Like

  33. ah jadi inget ke bromo ekspektasi sunrise an, minimal lihat gunungnya eh ndilalah kok ya pas kabut tebal.. belum rejeki..
    pantai klayar jadi inget 4 taun lalu.. masih sepi.. bisa ngecamp dengan tenang.. foto-foto tanpa bocor juga gampang.. lha balik lagi 2 taun lalu kok ramenya rakalap mas.. niat pengen foto nostalgia pun gagal.. :mrgreen:

    Like

    1. Daya pikat Bromo memang masih lekat dengan wisata sunrise-nya, tapi kalau cuaca kurang bersahabat, seringnya ya kabut tebal hehehe. Ah iya, Klayar 4 tahun lalu bener banget masih sepi, belum “terkenal”, istilahnya bebas lari-larian semaunya πŸ˜€

      Like

  34. Ah bener banget deh. Kadang pengen datang ke suatu tempat karena pengaruh gambar instagram atau media lainnya. Sejak ada fenomena ini, aku jadi sering patah hati. Soalnya, ekspektasi terlalu tinggi.

    Like

  35. Bagiku sebuah perjalanan adalah pembelajaran mendalami makna atas berkah yang selama ini sudah didapatkan selama hidup πŸ™‚

    Aku pun tidak pernah berekspektasi dalam perjalanan. Let the universe suprise me πŸ˜‰ Dan aku malah bisa lebih enjoy dalam proses perjalanan tsb πŸ˜‰

    Like

  36. Kalau aku mungkin lagi pake istilah piknik atau dolan saja mas, soalnya juga pergiku enggak pernah jauh-jauh :’D
    dan bagiku sih paling penting adalah pelajaran dari perjalanan.
    Setiap perjalanan mesti punya hikmah,
    entah dari manapun, termasuk dari cerita penjaga parkir, simbah-simbah yang lagi cari rumput, dan lainnya.
    Pelajaran, hikmah ituu yang lebih penting dari sekadar sekotak gambar foto *macak motivator*

    Tapi ya memang, semua berproses… menjadi penikmat perjalanan juga berproses dari alay, terus dewasa, terus bijak. haaa… aamiin.
    Semangat menulis buat menebar nilai-nilai kebaikan kaya begini mas πŸ™‚

    Like

    1. Hehehe, perjalanan itu kan tidak harus selalu jauh. Memetik hikmah itu, benar seperti katamu Mbak, bisa dari cerita-cerita dan realita di sekitar kita. Salam super ya Mbak hehe πŸ˜€

      Hahaha, amin amin, makasih yaaa πŸ™‚

      Like

  37. Hahaha iyaaa banyak tempat wisata yang aslinya jauh dari pada kenyataannya. Makannya saya kalo berkunjung ke tempat wisata selalu ambil yang sepi dan bukan musim liburan hehehe walaupun tetap ramai, setidaknya bisa enjoy πŸ˜€

    Like

    1. Hai Mas, maaf banget baru sempat balas ya, beberapa waktu lalu sedang disibukkan tugas akhir hehe.

      Nah relatif sama dengan saya Mas, sebisa mungkin saat bukan musim liburan. Hehe. Tapi bagi yang bekerja rutin, mungkin sedikit susah mencari jadwal luang di saat bukan musim liburan kan πŸ™‚

      Like

  38. nice post.
    kalo aku perhatikan foto2 di Travel Triangle itu, banyak yg foto indahnya diambil ketika malam/sudah gelap, sehingga sampah2nya gak keliatan, dan lokasi sudah sepi. yaeyalahhh jadinya terlihat lebih bagus. kalo mau bandingin apple to apple, sama2 foto yg malam hari dan di musim yg sama (misal sama2 musim dingin). jadi ya miriplah dengan poin mbak Monica Tamics itu.

    tapi di luar itu, memang banyak juga pejalan yg sengaja menampilkan framing yg bagus/sepinya doang. mungkin aku pun pernah begitu *guilty. kadang maksudnya bukan buat pencitraan, tapi kita pun senang melihat imej yg bagus. memang sih makin ke sini, makin banyak orang yg cari info (dan terinspirasi) dari sosmed, pengunggah makin perlu berpikir panjang akan efek yg mungkin ditimbulkan ya. *anjir berat juga ya :))

    Liked by 1 person

    1. Iya Mbak, pengunjung sebelumnya mengambil foto dengan komposisi yang pas dan momen/waktu yang pas saat berada di sini. Bisa jadi dia beruntung, atau hasil dari riset kapan waktu yang tepat ke sana. Sementara, tidak semua orang seberuntung waktunya berlibur datang di saat yang pas untuk mendapatkan momen liburan dan foto yang keren.

      Saya pun kadang demikian, tapi perlu juga memotret sisi yang lebih realita, demi memberikan kejujuran informasi.

      Terima kasih sudah mampir ya Mbak Vira πŸ™‚

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s