Ayo, ke Taman Nasional Sekarang Juga!

Dalam tulisan sebelumnya, saya menyebut bahwa saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat beranjangsana ke Labuan Bajo, dan khususnya Taman Nasional Komodo. Walau cuma trekking melihat Komodo, tanpa menyelami bawah lautnya. Walau saya hanya sampai di “pintu”-nya Nusa Tenggara Timur saja. Begitulah impresi pertama tentang Indonesia bagian timur.

Tapi sebenarnya itu bukanlah kali pertama saya jatuh cinta. Khususnya jatuh cinta dengan taman nasional. Saya tidak sedang berhiperbola. Tapi perasaan jatuh cinta itu tidak cukup dideskripsikan lewat kata-kata.

Dengan segala kekurangannya, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) berhasil membuat saya jatuh cinta. Dari sunrise dan lanskap kaldera purba Gunung Bromo, syahdunya desa Ranu Pani di ketinggian 2.200 meter dpl (dari permukaan laut), gemericik danau vulkanis Ranu Kumbolo, sabana Oro-oro Ombo, hingga puncak berdebu Mahameru.

TNBTS adalah taman nasional di Indonesia pertama yang saya kunjungi dalam hidup. Saya berkunjung saat pertengahan kuliah. Cukup telat. Kini ada sedikit rasa sesal. Mengapa tidak sejak dulu -setidaknya sejak awal kuliah- saya memberanikan diri bertualang?  Mengapa baru-baru ini saja saya peduli bahwa taman nasional itu penting?

Sekilas Tentang Taman Nasional di Indonesia
Menurut data dari situs Kementerian Kehutanan, tercatat ada 50 taman nasional yang ada di Indonesia. Ditambah satu lagi yang belum tercantum di halaman tersebut. Taman Nasional Gunung Tambora, yang baru ditunjuk dan ditetapkan bertepatan peringatan dua abad meletusnya Tambora. Berarti ada 51 taman nasional. Tersebar hampir merata di seluruh pulau besar di Indonesia.

Sebelum ekspansi penetapan besar-besaran dalam kurun waktu satu dekade terakhir, sudah ada lima taman nasional pertama yang didirikan di Indonesia pada 6 Maret 1980. Kelimanya adalah Taman Nasional (TN) Gunung Leuser, Sumatra Utara; Ujung Kulon, Banten; Komodo, Nusa Tenggara Timur; dan Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. Dari daftar tersebut, dalam data Kemenhut, TN Gunung Leuser bersama TN Kerinci Seblat, TN Bukit Barisan Selatan (ketiganya berada di Sumatra), TN Ujung Kulon, dan TN Komodo ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Wikipedia menyebutkan bahwa TN Sembilang di Sumatra Selatan juga ikut masuk, tergabung dalam deret hutan hujan tropis Sumatra.

Dua ekor rusa berjalan santai di tepi pantai, berlatar perahu-perahu dan dermaga Loh Liang, Pulau Komodo, Taman Nasional Komodo.
Dua ekor rusa berjalan santai di tepi pantai, berlatar perahu-perahu dan dermaga Loh Liang, Pulau Komodo, Taman Nasional Komodo.

Dari jumlah 51 taman nasional itu, yang pernah saya kunjungi -walaupun tidak seutuhnya dijelajahi- antara lain: (1) Taman Nasional Gede-Pangrango, Jawa Barat; (2) Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Jawa Barat; (3) Taman Nasional Gunung Merbabu, Jawa Tengah; (4) Taman Nasional Gunung Merapi, Jawa Tengah; (5) Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur. Kemudian (6) Taman Nasional Baluran, Jawa Timur; (7) Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur. Kemudian (8) Taman Nasional Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat; (9) Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Sulawesi Selatan; dan (10) Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur.

Baru sepuluh. Baru sekitar 19 persen. Angka ini bukanlah ukuran. Tak pantas jadi patokan tentang unsur mencintai negeri. Tapi saya lebih merasa tak pantas karena betapa sempitnya waktu yang dimiliki. Negeri kepulauan ini sangatlah luas. Bentang daratan dan lautan sejatinya adalah faktor tantangan (jika tak mau disebut menghambat) utama penyebab sub faktor pengiringnya: jarak dan waktu. Saya baru merasa dalam tahap pedekate dengan nusantara. Baru tahap mengenal. Belum menelisik lebih dalam.

Tapi dari sedikit itu, saya mendapatkan banyak cakrawala baru. Baik dalam pola pikir, wawasan maupun sendi pengalaman. Masing-masing (dari 10 taman nasional) memiliki karakter dan keanekaragaman yang khas. Masing-masing memiliki “cara” sendiri untuk memberikan kesan mendalam. Kesan yang saya tafsirkan sebagai pesan, bahwa mereka ada agar kita turut peduli dan ikut menjaganya.

Saya merasa kecil di tengah alun-alun Suryakencana yang luas. Merasa seperti Soe Hok Gie muda di kedamaian alun-alun Mandalawangi. Dua alun-alun penuh tanaman edelweiss yang menjadi kekhasan TN Gunung Gede Pangrango.

Saya merasakan kesegaran dan kesejukan dari banyaknya air terjun (curug) yang terserak di TN Gunung Halimun-Salak. Kalau saya kembali ke sana, ingin rasanya merasakan trek Gunung Salak yang populer dengan cerita mistisnya.

Gunung Merbabu, pemilik tujuh puncak, yang hijau dan bersahabat untuk pendakian. Gunung Merapi yang disebut banyak pendaki tak pernah ingkar janji. Jika saatnya tenang, ia akan tenang. Jika saatnya bergejolak dan “murka”, ia akan menggelegar. Kedua gunung ini bertetangga, layaknya Sindoro dan Sumbing.

Kawasan TNBTS, yang tak pernah bosan saya datangi. Memberikan cerita berbeda dalam setiap kunjungan. Yang memberikan banyak pelajaran, khususnya tentang mendaki gunung. Dan yang utama, warga suku Tengger yang ramah dan unik.

Saya berasa kecil sekaligus turut cemas di tengah sabana Bekol, TN Baluran, yang kerontang kala musim kemarau. Di sanalah hidup banteng Jawa (Bos javanicus) bergantung. Bersama pengelola, berjuang keras menabuh genderang perang kepada pohon akasia berduri (Acacia nilotica); yang merenggut ketersediaan air dan hara untuk satwa dan rerumputan asli Baluran. Sabana dan banteng adalah ikon utama taman nasional berjuluk Africa van Java itu.

Kubangan air di kawasan sabana Bekol, Taman Nasional Baluran. Salah satu sumber tadah hujan untuk kebutuhan minum satwa Baluran.
Kubangan air di kawasan sabana Bekol, Taman Nasional Baluran. Salah satu sumber tadah hujan untuk kebutuhan minum satwa Baluran.

Sedikit ke selatan Banyuwangi, saya terpesona dengan Teluk Ijo (Green Bay)Pantai berpasir putih dan berombak besar, tersembunyi dalam rimba TN Meru Betiri. Tak jauh dari Teluk Ijo, juga terdapat Pantai Rajegwesi yang berpanorama lepas. Penduduk pesisir tentu masih mengingat bahwa ombak pantai itu, bersama Pantai Plengkung di TN Alas Purwo dan Pantai Pancer, menggerakkan gelombang tsunami yang meratakan pemukiman pesisir selatan Banyuwangi pada 3 Juni 1994.

Saya tersegarkan dengan aliran air terjun Bantimurung yang cukup deras. Juga terkesima dengan karst-karst yang unik. Dan yang paling diingat adalah keberadaan 250 spesies kupu-kupu yang menjadi daya tarik utama. Karenanya TN Bantimurung-Bulusaraung (Babul) kerap dikenal sebagai kingdom of butterfly. Kerajaan kupu-kupu.

Selanjutnya, pada kesempatan pertama di tanah Lombok, Nusa Tenggara Barat, saya merasakan tempaan berat saat mendaki Gunung Rinjani. Naik dari Sembalun, turun lewat Senaru. Namun puncak Rinjani, gemericik tenang Danau Segara Anak, hingga sumber air panas Aik Kalak, meluruhkan lelah yang terasa.

Terakhir, perjalanan terjauh yang pernah saya alami. Pertama kalinya merasakan teriknya Nusa Tenggara Timur. Semakin terasa saat short trekking di Loh Liang, TN Komodo, Pulau Komodo. Berjumpa komodo, satwa endemik pemilik reputasi yang cukup membuat jantung berdesir.

Masyarakat dan Taman Nasional
Sesungguhnya, lebih dari sekadar bentang alam yang indah dan keanekaragaman hayati yang saya dapatkan. Ada yang lebih menarik. Yaitu, kehidupan masyarakat setempat di lingkar luar maupun dalam taman nasional.

Tentu saja jauh sebelum adanya penetapan taman nasional, mereka sudah terlebih dahulu ada secara turun-temurun. Mereka terlebih dahulu mengeksplorasi segala sumber daya di sekitarnya. Mereka memiliki kearifan lokal dan tradisi yang kuat. Saya sempat berpikir, mungkin awalnya perlu adaptasi ketika wilayah mereka ditetapkan sebagai taman nasional. Sebagian berdampak positif, sebagian masih menimbulkan gesekan.

Suku Tengger, misalnya. Suku yang masih teguh memegang adat dan tradisi dari leluhurnya, Roro Anteng dan Joko Seger. Upacara Kasadha dan Hari Raya Karo adalah perayaan terbesar dalam keyakinan mereka. Kedua tradisi tersebut termasuk dilindungi dan malah menjadi daya tarik wisata.

Ketika kawasan Pegunungan Tengger Purba ditetapkan sebagai taman nasional, termasuk Bromo dan Semeru di dalamnya, keberadaan taman nasional pun menjadi alat kontrol. Diterapkanlah zonasi-zonasi atau ketetapan-ketetapan yang membatasi gerak-gerik masyarakat Tengger. Utamanya yang menyangkut keberlangsungan ekosistem.

Masyarakat Tengger sedang menaruh sesaji di bukit B29, Desa Argosari, desa tertinggi di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Bukit ini berada persis di sebelah timur Bromo, dipisahkan kaldera lautan pasir.
Masyarakat Tengger sedang menaruh sesaji di bukit B29, Desa Argosari, desa tertinggi di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Bukit ini berada persis di sebelah timur Bromo, dipisahkan kaldera lautan pasir.

Contoh, dilarangnya masyarakat Tengger tentang kebiasaan memetik dan menjajakan bunga edelweiss. Bunga yang dilindungi. Walaupun terus terang kebiasaan tersebut susah sekali dihilangkan. Karena sebagian dari mereka sudah menjadikannya sebagai sumber pendapatan.  Untuk bertahan hidup.

Selain itu, banyak juga yang bermata pencaharian sebagai petani sayur. Ladang-ladang mereka tak sedikit yang berada di kontur bukit yang miring. Di sisi lingkungan, bukit yang gundul dapat menyebabkan longsor karena kurangnya pepohonan yang bisa menyerap air. Di sisi ekonomi, hasil panenlah yang menjadi ladang rezeki mereka. Bagi yang tidak punya hewan ternak, bisa dibayangkan apabila tanaman mereka gagal panen. Apalagi jika abu hasil erupsi Bromo merusak ladang mereka.

Berbeda dengan masyarakat lain yang memiliki keahlian di sektor wisata. Menjadi sopir jip, ojek, pemilik kuda tunggangan, menjual kerajinan tangan dan suvenir, menyewakan penginapan, memiliki warung makan. Atau menjadi ranger, guide dan porter pendakian Semeru. Tapi, sekali lagi, tak semuanya mutlak bergantung atau terlibat dalam konsep taman nasional seperti yang ditetapkan dalam pasal 1 butir 14 Undang-Undang No. 5 tahun 1990. Bahwa taman nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.

Tapi, memang, mau tidak mau mereka telah bersinggungan dengan pariwisata dan menjadi pusat perhatian untuk ilmu pengetahuan. Mereka telah menjadi bagian dari taman nasional. Bersinggungan dengan khalayak ramai di luar kehidupan mereka sehari-hari. Di sinilah perlunya taman nasional dan masyarakat bersinergi. Menyesuaikan. Agar terjadi simbiosis mutualisme. Agar tak terjadi benturan antara misi pelestarian dengan kebutuhan dan tradisi masyarakat. Inilah pekerjaan rumah (PR) yang besar. TN Baluran saja masih kesulitan mengawasi sentra peternakan sapi Situbondo di Kampung Merak. Kala pengelola sedang berjuang melestarikan padang rumput, sapi-sapi di sana juga masih butuh makan rumput Baluran.

Ketika antara taman nasional dan masyarakat di kebanyakan daerah masih terus menemui titik temu, di sinilah saya pikir harus ada pihak lain. Kelompok yang bisa menawarkan solusi, menjadi penengah. Membawa misi positif, memberikan tindakan yang saling menguntungkan.

Pihak itu bisa berasal dari berbagai latar belakang. Misalnya peneliti, pelajar, atau komunitas-komunitas non profit pengusung semangat konservasi. Mereka, termasuk kita di luar lingkungan taman nasional, juga merupakan bagian dari masyarakat. Masyarakat yang bersatu karena kesamaan tujuan. Demi sinerginya taman nasional dan masyarakat lokal secara berkelanjutan. Demi tercapai dan pulihnya keseimbangan ekosistem.

Jangan biarkan, misalnya, hutan tropis dalam TN Gunung Leuser, Aceh terus tergerus dalam bahaya; karena penebangan hutan secara liar, perburuan satwa dan perambahan lahan secara ilegal. Jangan tutup mata, misalnya, pada 125 ekor harimau Sumatra yang terancam punah; akibat maraknya alihfungsi lahan di kawasan TN Kerinci Seblat. Jangan tak acuh, misalnya, pada fakta terancamnya 6.000 orangutan kehilangan habitat; karena kebakaran hutan TN Tanjung Puting di Kalimantan Tengah.

Sejumlah pendaki memasuki kawasan Jambangan (2.600 mdpl), sekitar 2 km sebelum shelter Kalimati (2.700 mdpl). Di sini mulai terlihat banyak edelweiss dan cantigi. Selain itu, Jambangan juga merupakan salah satu tempat berkumpul atau perlintasan macan kumbang (Panthera pardus melas) kala sore menjelang malam.
Sejumlah pendaki memasuki kawasan Jambangan (2.600 mdpl), sekitar 2 km sebelum shelter Kalimati (2.700 mdpl). Di sini mulai terlihat banyak edelweiss dan cantigi. Selain itu, Jambangan juga merupakan salah satu tempat berkumpul atau perlintasan macan kumbang (Panthera pardus melas) kala sore menjelang malam.

Sebelum Terlambat
Memang, ketersediaan akses informasi tentang taman nasional masih terbatas. Terlebih, tak sedikit aksesibilitas ke taman nasional yang perlu usaha lebih. Baik usaha fisik maupun materi. Seperti yang saya sebutkan di awal, faktor geografis menjadi tantangan utama.

Ditambah, ancaman gesekan (konflik) antara masyarakat dan taman nasional yang kemungkinan akan terus terjadi. Gesekan antara kebutuhan masyarakat karena faktor ekonomi dengan misi pelestarian, masih akan berpotensi untuk terus berbenturan.

Tapi, justru keterbatasan dan potensi ancaman itu harus dijadikan cambuk. Dijadikan motivasi bahkan mungkin menjadi sebuah gerakan yang masif. Tak hanya untuk diri sendiri. Tapi juga kerelaan mengajak seluruh generasi terkini. Dari yang tua, hingga yang muda. Dari yang masih kecil, sampai orang dewasa. Mengajak untuk mengenal, lalu menjadi kelompok yang bijak dan peduli.

Dari mengenal, lalu tumbuh cinta. Keindahan alam dan keanekaragaman hayati, serta keragaman budaya yang mengisi taman nasional di Indonesia adalah titipan Tuhan. Titipan sekaligus merupakan pesan yang gamblang. Mereka ada untuk dijaga. Dengan tumbuh empati, mereka akan lestari.

Jadi, mau pergi ke taman nasional mana saja tahun ini? Kinilah saatnya. Sebelum terlambat. (*)


Foto sampul:
Sunrise dari tepi Kaldera Bromo dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Probolinggo. Tampak Gunung Semeru di kejauhan.

Referensi:
1) Antara News: Harimau Sumatra Terancam Punah Akibat Alihfungsi Lahan;
2) Kemenhut RI: 50 Taman Nasional di Indonesia;
3) Medan Bisnis Daily: Hutan Tropis di Aceh Dalam Bahaya;
4) National Geographic: Baluran, Taman Nasional Pertama Indonesia;
5) National Geographic: Embara di Bara Padang;
6) Viva News: Kebakaran Hutan Ancam 6.000 Orangutan;
7) Wikipedia: Daftar Situs Warisan Dunia UNESCO;
8) Wikipedia: Daftar Taman Nasional di Indonesia;
9) Wikipedia: Gempa Bumi dan Tsunami Jawa Timur 1994;
10) Wikipedia: Taman Nasional Gunung Tambora.

77 thoughts on “Ayo, ke Taman Nasional Sekarang Juga!

  1. kalau aku masih ngincer Taman Nasional Alas Purwo sih tahun ini, tahun kemarin sempet ke sana tapi belum dapat info mendalam, masih penasaran dengan lahan konservasi dan wisata religi di sana spt apa hehe

    Like

    1. Nah, saya juga ngidam banget tuh ke Alas Purwo. Saya kesengsem sama padang penggembalaan Sadengan dan penasaran wisata religinya hehehehe.

      Like

      1. Iya Mas itu juga. Perlu rame-rame ke sana buat patungan, dan seru kalau sama-sama bakar menyan rame-rame 😀

        Like

      1. Iya Mas, saya berkomitmen setidaknya bisa konsisten nulis 1000-2000 kata per tulisan. Setidaknya untuk latihan. Masih jauh dari kata maksimal dan memuaskan. Tapi saya harus bisa 🙂

        Like

    1. Iya Mas, hampir merata di setiap pulau besar. Waaah rencana yang sangat bagus! Kalau mau pemandangan yang segar dan hijau, datang pas musim penghujan. Kalau di musim kemarau, lebih kering dan coklat kekuningan 🙂

      Like

  2. Kalo ada istilah terlambat, saya juga agak terlambat nih ngerasain nikmatnya taman-taman nasional di Indonesia. Nampaknya, taman nasional pertama yang saya kunjungin juga TNBTS deh. Haha. Setuju sama tulisan di atas, berkunjung ke taman nasional itu kita ga cuma disuguhin keindahan alamnya. Ada kehidupan masyarakat setempat yang punya kekhasan masing-masing. Soal kultur terutama. Jadi, buat beberapa temen yang agak susah nerima perbedaan di lingkungan sekitarnya, saran saya sih, banyak-banyakin piknik keliling Indonesia. Haha.

    Like

    1. TNBTS itu cukup lengkap dan luas hehehe 😀

      Iya Om, kulturnya juga, bahkan unik. Hahahaha, betul betul perlu piknik supaya mendapatkan cakrawala berpikir yang luas 🙂

      Like

  3. Ke 51 Taman Nadional itu boleh dimaduki ya Mas Rifqy. Dari foto-foto di atas memang eksotis kalau bisa trekking di dalamnya . Pasti banyak banget pengetahuan di sana 🙂

    Like

    1. Boleh Bu, karena tujuannya selain untuk keperluan ilmu pengetahuan dan penelitian, juga untuk rekreasi. Walau memang setiap taman nasional pasti punya aturan berbeda-beda terkait prosedur memasuki kawasan nasional. Ada yang perlu izin khusus seperti mendaki Gunung Leuser, mendaki Gunung Jayawijaya, dan sebagainya. Berbeda dengan Cagar Alam yang hanya boleh dimasuki untuk keperluan penelitian/riset 🙂

      Like

    1. 19 persen maksudnya, kalau jumlahnya 10 taman nasional hehe. Tapi istilahnya baru sebatas kulitnya Mas, belum seutuhnya 🙂

      Like

    1. Kalau ke Baluran barengan sama Mas Fatah juga ah hahaha 😀

      Komodo itu semacam “must be” Mbak. Akan didapatkan perspektif lain, melihat Indonesia dari kacamata timur 🙂

      Like

  4. Di list UNESCO World Heritage Sites ketiga TN Gn Leuser, TN Kerinci Seblat, TN Bukit Barisan Selatan (TN Sembilang ga disebutkan) yang termasuk dalam 2.5 juta hektar hutan hujan tropis Sumatera itu dimasukkan ke dalam status MERAH (IN DANGER List) pada tahun 2011 karena illegal logging, perambahan pertanian dan rencana pembangunan jalan yang melalui taman nasional itu. Status merah itu belum berubah sampai sekarang :’-(

    Like

    1. Kalau begitu, lebih baik nabung yang rajin. Daripada nunggu temen, lebih baik berangkat sendiri. Lebih bebas, lebih leluasa. Dan biasanya akan mendapatkan pengalaman yang lebih tak terduga 🙂

      Like

  5. Baca postinganmu ini rasanya malu Qy. Dirimu yang udah sering melanglang buana ke beberapa Taman Nasional aja baru sampai hitungan 19 persen, apalagi aku yang rasanya belum sampai hitungan 5 jari.

    Aku jadi ingat kata-kata teman travel blogger asal Filipina waktu main ke Bogor. Dia bilang: “kamu beruntung tinggal di Indonesia, dikelilingi oleh banyak Taman Nasional tinggal pilih saja mau yang mana untuk kau kunjungi. Bahkan Bogor pun dikelilingi oleh beberapa Taman Nasional” 🙂

    Terimakasih ya Qy, artikel ini adalah pengingat yang bagus untukku dan teman-teman lainnya. Hmmm tekad deh, insya Allah kalau ada rejeki tahun ini mau nambah paling tidak mengunjungi satu Taman Nasional yang belum pernah kusambangi.

    Like

    1. Benar, lebih dari sekadar nasionalisme sebenarnya. Setidaknya ini merupakan salah satu cara untuk peduli dan peka terhadap perubahan ekosistem, lewat taman nasional 🙂

      Like

  6. Aku sendiri lupa sudah berapa kali bertandang ke Taman Nasional.. hmm mungkin baru 5 sih *kemudian nunduk malu*

    Thanks for sharing Qy! Oya bisa diingatkan juga pada pembaca bahwa ada perbedaan antara Taman Nasional dan Cagar Alam. TN bisa dikunjungi wisatawan, sementara cagar alam justru sebaliknya (contoh nyata pulau Sempu yang semestinya tak bisa dikunjungi). Tapi masih banyak yang belum menyadari perbedaannya.

    Like

    1. Hehehe tidak usah malu Mas, saya pun juga baru menyisiri kulitnya saja 🙂

      Sama-sama Mas, sebenarnya informasi mengenai seluk-beluk itu ada, tapi memang entah mungkin sebagian orang merasa belum menyempatkan membaca undang-undangnya 🙂

      Like

  7. Wah aku malah baru sedikit, baru 7 nih, itupun selintas-selintas aja : TN Ujung Kulon, Halimun-Salak, Gede-Pangrango, Bromo, Meru Betiri, Alas Purwo, Merapi.
    Lainnya paling ke cagar alam aja kayak sempu, krakatau 🙂

    Like

    1. Sama Mbak, saya juga masih sekadar menyisiri kulit-kulitnya 🙂

      Memang ada perbedaan mendasar antara taman nasional dan cagar alam, khususnya soal batasan peruntukan dan kunjungannya 🙂

      Like

  8. Hahaha, banyak sih memang, punya karakteristik masing-masing. Kalau menurut data, di Blitar tidak ada taman nasional 🙂

    Like

  9. Salam kenal mas, mungkin saya baru masuk di blog ini.

    Itu sesajen yang di masukkan apa isinya ya mas? Bikin penasaran, di sana juga ternyata ketat juga sampe-sampe gak boleh metik bunga edelweiss. Kira-kira kalau metik hukumannya apa ya mas? 😀

    Jadi kepengen ke sana jug mas pake Peralatan anak traveler gitu, belum pernah sama sekali ke sana untuk main-main. Soalnya saya anak rumahan, sembunyi di rumah melulu. Gak enak banget. 😥

    Like

    1. Salam kenal juga Mas, makasih sudah mampir di sini.

      Kalau sesaji saya kurang paham. Untuk edelweiss memang dilarang dipetik, karena merupakan tanaman endemik yang sulit ditangkarkan.

      Like

  10. Saya belum pernah berkunjung ke tempat itu, terima kasih mas informasinya. Taman2 nasional ditunggu tulisannya, adakah nama lain dari tempat2 yang ada namanya Komodo? Dengan pulau Komodo sama tidak ya hehe

    Like

  11. wah…saya ini termasuk orang kuper, kurang berpergian…he..he…hee…Bolak balik cuman pergi ke TNBTS, sama Taman Nasional Coban Rondho, Taman Nasional Cangar, Taman Nasional Sempu, eh…ini sudah jadi taman nasional belum sih…. 😀

    Like

    1. Hahaha, Coban Rondo mah cuma tempat wisata biasa hehehehe. Di Cangar itu Taman Hutan Raya R. Soerjo, kalau Sempu masih Cagar Alam 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s