Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 2)

Rombongan pendaki gabungan asal Jakarta, Bandung, Manado itu sedang asyik bercanda di tengah istirahatnya. Sebagian berdiri, sebagian duduk di atas tanah berundak dengan kemiringan sedang. Di dalam rimba rapat Alas Lali Jiwo nan teduh. Tak jauh di bawah patok perbatasan Kabupaten Malang dan Pasuruan. Kami bersua dan saling menyapa rombongan pendaki yang seluruhnya laki-laki itu. Baru saja 10 menit berjalan dari Pasar Dieng. Setelah turun dari puncak Ogal-Agil.

Sapaan kami bertiga langsung disambut dengan pertanyaan, “Puncak masih jauh, Mas?” Kami menjawab, “Tidak terlalu jauh kok, Mas. Paling lama 1 jamlah.”

Mereka mengajak kami ikut merapat. Diberi secangkir kopi yang masih hangat dari termos. Dengan kopi, suasana perkenalan diri menjadi lebih hangat. Kami pun mendadak akrab seperti seorang kawan lama. Saling bertukar cerita dan pengalaman.

Paling menarik, cerita tentang pengalaman kemah di Shelter III Pondokan, Jalur Tretes, Pasuruan.

Malam gelap kala itu. Baru usai makan malam dan membereskan peralatan makan di luar tenda. Termasuk jeriken yang airnya tinggal sedikit. Mereka berempat lalu cepat terlelap di dalam tenda. Meringkuk dalam hangatnya sleeping bag.

Selang beberapa jam, salah satu dari mereka terbangun dalam setengah sadar. Setengah melek. Dia melihat seorang teman bangun dari tidur, lalu keluar dari tenda. Dia mengira, mungkin temannya hendak kencing. Karena masih ngantuk berat, dia tak sampai bertanya langsung. Dia pun memilih melanjutkan tidurnya.

Keesokan paginya, dia bertanya kepada ketiga temannya setenda. “Eh, siapa yang sempat keluar tenda semalam? Dan siapa yang ngisi penuh jeriken?” Tanyanya sambil mengangkat jeriken yang penuh air.

Ketiganya saling berpandangan. Mengerutkan dahi. Mulut agak melongo. Lalu memandang si penanya. Gerakan geleng-geleng kepala mereka bertiga mengisyaratkan satu jawaban pasti: tak ada yang bangun dan keluar dari tenda semalam!

* * *

Alarm ponsel berdering nyaring pada pukul 1.30 dinihari. Kami segera bergegas menyiapkan bekal sarapan. Kalau tak ingat tentang puncak yang masih jauh, mungkin kami akan melanjutkan tidur.

Selanjutnya membereskan sisa makan malam dan membersihkan peralatan makan. Terakhir, pekerjaan yang cukup berat: merapikan tenda dan berkemas.

Kabut tipis masih menyelimuti Jawa Dwipa. Pucuk pohon cemara gunung tampak gelap. Selaras dengan warna langit yang bebercak bintang-bintang. Tapi ranting dan daunnya digoyang angin dan saling menggesek. Menimbulkan bunyi nyaring. Mengalahkan embusan napas kami yang memburu.

Setelah dua jam bersiap diri, diawali doa, kami kembali memulai langkah meninggalkan Jawa Dwipa. Memasuki jalan setapak sempit yang membelah semak-semak basah. Headlamp melingkar erat di kepala. Sinarnya menyoroti jalan. Memandu langkah kaki kami.

Awalnya datar, lalu tak lama semakin menanjak. Dengan carrier yang masih terisi penuh -hanya mengurangi tiga genggam beras dan bahan sayur sop-, kami berjalan dengan perlahan. Beban air sudah lumayan berkurang. Kami memiliki cukup air untuk bekal ke puncak, lalu turun ke camp Lembah Kijang nantinya.

Hampir 2,5 jam kemudian, pagi sudah terang saat tanjakan awal ini berakhir. Matahari sudah agak meninggi. Menyisakan sebaris sinar merah kekuningan di cakrawala.

Selanjutnya trek sedikit menurun, lalu datar dan agak menanjak. Melipir punggungan bukit dengan jurang di sisi kiri. Ketika menemukan tempat yang datar dan agak lapang, kami memutuskan untuk istirahat agak lama. “Break! Subuhan dan sarapan dulu,” kata saya yang sudah agak gontai. Tubuh terasa gemetar. Sudah saatnya mengisi ulang energi.

Sarapan ringan kami berupa roti tawar dengan selai kacang oles. Ditambah beberapa biskuit. Kami memang tak merencanakan sarapan dengan menu berat di awal hari kedua ini, 4 April 2013. Waktu istirahat kami cukup lama, hampir 1 jam. Lamanya waktu istirahat tersebut tidak hanya karena begitu menikmati sarapannya. Tapi juga karena kami berada dalam pikiran di mana, hendak melanjutkan perjalanan itu terasa berat, dan sudah terlalu jauh untuk turun kembali.

Tapi kami harus terus melangkah.

Setelah merasa cukup, kami kembali melanjutkan pendakian. Masih melipir punggungan bukit dengan jurang di sisi kiri. Jurang dalam yang hanya sanggup disinggahi semak belukar dan pepohonan cemara gunung.

Cukup lama berjalan, kami tiba di sebuah persimpangan. Sebuah pohon menjadi penanda. Tiga buah plat seng berkarat tertancap kuat di batangnya. Plat seng bertuliskan “Puncak”, “Purwosari”, dan “Lawang”. Kami berada di pertemuan jalur dari Purwosari dan Lawang. Semeru terlihat di kejauhan berselubung awan. Asap beracun dari kawahnya, Jonggring Saloka, sesekali terlihat mengepul.

Saya di pertigaan jalur Purwosari-Lawang, setelah 5 jam berjalan dari Jawa Dwipa dengan beban penuh. Sembari memegang tongkat yang dibawa sejak bertemu warga di ladang atas Pos I Goa Ontoboego. (Dipotret oleh Dani)
Saya di pertigaan jalur Purwosari-Lawang, setelah 5 jam berjalan dari Jawa Dwipa dengan beban penuh. Sembari memegang tongkat yang dibawa sejak bertemu warga di ladang atas Pos I Goa Ontoboego. (Dipotret oleh Dani)

Kami langsung menengok arloji. Menghitung. Sudah hampir 5 jam rupanya kami berjalan. Dan puncak Ogal-Agil itu belum tergapai.

Trek melipir berujung pada pertigaan tersebut. Vegetasi mulai terbuka. Selanjutnya mataΒ  nanar melihat jalur di depan. Menanjak. Seakan tanpa putus, tanpa bonus. Menekan betis, menghajar lutut.

Energi dari sarapan roti tawar dan selai kacang yang kami santap perlahan menghilang. Seringkali kami berhenti. Kami juga semakin sering minum, meskipun sedikit. Puncak… Puncak… Lembah Kijang… Lembah Kijang. Hanya bayangan dua lokasi itu yang terpatri kuat di pikiran. Memberi semangat batin. Semangat yang selalu muncul di kala fisik sudah terkuras dan kaki lemas melangkah.

Selanjutnya, dengan langkah tertatih, samar-samar saya melihat sesuatu yang khas di depan. Perlahan semakin dekat. Terlihat bebatuan besar yang saling bertumpuk dan berdempet.

Tanjakan tak kunjung sudah ini kemudian mulai bersahabat. Cantigi sudah banyak kami jumpai. Kami berjalan sedikit mengitari bebatuan besar yang sedikit berada di atas. Lalu trek ini bertemu pada jalur yang saya kenal. Jalur dari Tretes. Pelataran Pasar Dieng di sebelah kiri, sesekali terlihat di balik kabut putih.

Kami segera bergegas. Menapaki jalur yang sebagian ditata rapi dalam rupa tangga batu.

Batu-batu besar berlukis banyak coretan vandalisme yang sedari tadi membayangi, kini kami pijak permukaannya. Dua tanda penting di antara bebatuan, nyata langsung meluruhkan lelah. Sebuah batang bambu berbendera merah putih, yang hanya diselipkan di bebatuan. Dan sebuah plat seng hijau bertuliskan: PUNCAK GN. ARJUNO 3339 Mdpl.

Saya langsung bertanya ke Lutfi, “Jam berapa sekarang?”

“Jam 10.50.”

* * *

Merah putih di puncak Ogal-Agil Gunung Arjuno, 3.339 mdpl, yang batu-batunya sudah lama tercoreng ulah vandalisme
Merah putih di puncak Ogal-Agil Gunung Arjuno, 3.339 mdpl, yang batu-batunya sudah lama tercoreng ulah vandalisme

Akhirnya, inilah Ogal-Agil. Akhirnya, kami tiba di puncak. Meleset 3 jam 20 menit dari rencana semula. Tak disangka sudah sesiang ini kami baru tiba di puncak. Tapi, yang terpenting kami sampai.

Hanya kabut putih yang terlihat menyelimuti puncak. Hanya kami bertiga yang berada di puncak. Harusnya Gunung Semeru, Kawi, Butak, puncak Welirang, puncak Kembar I-II, dan Penanggungan terlihat dari sini. Tapi, kabut memang sudah waktunya untuk turun menyelubungi puncak.

Meskipun cuma kabut putih sepanjang mata memandang, tapi ternyata membuat kami betah. Mungkin karena semilir angin yang sejuk dan tidak terlalu dingin. Mungkin karena kabut yang menghalangi cahaya matahari. Saya serasa mendapatkan suasana dan kesan berbeda dari hadirnya kabut di puncak.

Berada di puncak tertinggi, memang memberikan harapan akan pemandangan yang menawan. Harapan akan jaminan keindahan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tapi kabut adalah salah satu pembeda. Dari kabut, saya mendapatkan pesan. Bahwa kami harus menghargai cuaca.

Satu jam lebih sedikit kami singgah di Ogal-Agil. Tapi, karena kami malah mulai mengantuk dan lapar kembali mendera, kami sepakat untuk istirahat agak lama lagi di Pasar Dieng. Sepuluh menit dari puncak. Sebuah dataran terbuka dengan ketinggian hampir sama dengan puncak, di mana terdapat sejumlah makam batu yang sebagian dikeramatkan.

Jalur di tengah itu menuju Pasar Dieng, lalu turun ke Lembah Kijang atau ke Pos Tretes
Jalur di tengah itu menuju Pasar Dieng, lalu turun ke Lembah Kijang atau ke Pos Tretes

Tapi ada satu tempat datar yang agak terlindungi dari angin. Seluas 3 tenda dome berkapasitas 4-5 orang. Di sana kami akan makan banyak biskuit untuk mengisi ulang energi. Juga tidur sejenak paling tidak untuk setengah jam.

Sebelum meninggalkan puncak, saya meminta Lutfi untuk merekam aksi saya dalam format video. Saya berdiri di atas salah satu batu tertinggi, mengangkat tiang bendera itu, lalu memegangnya secara menyamping. Dengan posisi bendera di sebelah kiri, dibiarkan berkibar ditiup angin. Seakan melepas beban dan menyemangati diri, kemudian saya berteriak lepas, “Arjunooo…! Wuuhh…!”

* * *

Pukul 17.10 kami tiba di Lembah Kijang. Setelah tiga jam berjalan dari tempat kami bertemu rombongan pendaki tadi. Sangat lambat. Kami sudah kelelahan. Karenanya, kami segera mendirikan tenda di dekat aliran sumber air.

Loh, tas tendanya mana ya?” tanya Dani tiba-tiba saat mengeluarkan tenda dan membongkar isi tas. Dia celingukan mengobok-obok tasnya. Katanya, tas tenda ia taruh di saku bagian luar tas.

Kami sedikit kaget. Sambil mendirikan tenda, saya mencoba mengingat tiga jam ke belakang. Setelah berpisah dengan rombongan pendaki tadi, kami hanya dua kali berhenti lama dan menaruh tas. Pertama, saat kencing. Kedua, saat foto-foto di sabana Lembah Kijang, sekitar 10 menit sebelum tempat camp.

“Apa mungkin tadi jatuh pas kita jalan, ya?” ucap Dani sambil mengingat-ingat.

Saya malah mengingat cerita mistis rombongan pendaki tadi. Mendadak saya sempat merinding. Terlintas pikiran yang tidak-tidak. Suasana Lembah Kijang yang mulai beranjak gelap mendukung pikiran tersebut. Tapi segera saya tepis kemungkinan yang tidak-tidak itu. Mencoba berpikir positif. Mungkin memang terjatuh secara tak sengaja saat berjalan. Kami sama-sama lelah. Fokus mulai berkurang. Bahkan saya yang berada tepat di belakang Dani pun tak menyadarinya. Tapi, Dani sebenarnya sempat sudah merelakan “lenyap”-nya tas tenda berwarna kuning itu.

Lutfi berpose di sabana Lembah Kijang. Tampak di belakang puncak Ogal-Agil Gunung Arjuno yang lancip.
Lutfi berpose di sabana Lembah Kijang. Tampak di belakang puncak Ogal-Agil Gunung Arjuno yang lancip.

Tapi, rupanya Alas Lali Jiwo sedang “berbaik hati”. Saat kami sudah pasrah dan mengikhlaskan tas tenda yang terjatuh, saat tengah asyik memasak untuk makan malam di dalam tenda, datang kejadian tak terduga.

Rombongan pendaki gabungan tadi sudah turun dari puncak. Mereka melewati Lembah Kijang saat waktu sudah lepas Magrib. Kami mendengar derap kaki dan suara mereka dari dalam tenda. “Permisi, Mas. Ini tas tenda warna kuning punya kalian, ya? Tadi kelihatanΒ nggeletak pas kami turun,” kata salah satu dari mereka. Kami bertiga serempak menjawab, “Iya, Mas!”

Dani membuka pintu tenda, lalu menerima tas tenda tersebut. Kami tak sempat keluar tenda. Karena, mereka langsung pamit dan lanjut berjalan kembali ke tenda mereka di Pondokan. “Makasih ya, Mas!” sahut kami.

Sesaat kemudian hening. Derap kaki mereka terdengar menjauh. Malam ini, Lembah Kijang seakan menjadi milik kami.

* * *

Masakan makan malam kami sebentar lagi matang. Masih dengan menu sayur sop yang segar. Kepulan asapnya menghangatkan seisi tenda.

Sebelum makan, kami sempat berdiskusi singkat. Mengevaluasi pendakian hari kedua ini, dan membahas persiapan untuk keesokan harinya. Saya meminta pendapat Lutfi dan Dani tentang teknis pendakian besok, hari ketiga. Hari terakhir pendakian. “Bagaimana kalau besok pas ke Welirang tenda dan tasnya ditinggal di sini saja?” Saya menawarkan. Karena saya mempertimbangkan soal fisik dan menganggap kalau akan aman membiarkan tenda dan tas ditinggal di Lembah Kijang. Hanya membawa barang berharga, jas hujan, dan bekal konsumsi secukupnya.

Lutfi bilang terserah. Namun, Dani berpendapat beda. “Kalau menurutku, kita bawa semuanya gapapa. Sekalian cabut. Daripada bolak-balik ke sini. Untuk keamanan juga,” usulnya. Setelah dipikir-pikir, saya dan Lutfi pun menyetujui usulnya. Berarti, setelah dari puncak Welirang, kami bisa langsung turun ke Pos Tretes. Tanpa harus repot kembali ke Lembah Kijang untuk berkemas.

Saya jadi membayangkan. Kembali membawa beban penuh ke puncak gunung. Tadi Arjuno (3.339 mdpl), besok Welirang (3.156 mdpl). Ditambah, kami masih belum tahu seperti apa kondisi jalur ke puncak Welirang.

Kami hanya berpegangan pada rencana perjalanan yang tertulis. Lembah Kijang ke Pondokan berjarak paling cepat 10 menit. Pondokan ke puncak Welirang berjarak sekitar 3-3,5 jam pendakian. Melihat angka ketinggian puncaknya, kami berharap jalurnya tak seberat Arjuno. Berharap pendakian ke puncak berjalan sesuai rencana.

“Targetnya, paling tidak besok sudah sampai di Pos Tretes sebelum Magrib,” kata saya memungkasi diskusi.

(Bersambung)


Foto sampul:
Lutfi (kiri) dan Dani sedang beristirahat dalam perjalanan ke puncak di seonggok pohon cemara gunung yang tumbang, di kawasan Alas Lali Jiwo.

17 thoughts on “Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 2)

  1. Jadi siapa yang mengisi air dan bangun dari tenda di tengah malam buta itu, Mas? Apa mungkin wong samar di sana, ya…
    Waduh itu jalannya nggak ada pagarnya… ya iyalah ya :hehe.

    Like

    1. Nah Mas Gara sudah bisa menebak. “Wong samar” itulah… hehehe. Intinya gaib Mas hahaha.

      Hahaha, repot sekali bikin pagar di gunung πŸ˜€

      Like

  2. ada yang isi air mas? #kabur

    seri pendakiannya buat deg-degan, serem juga.
    nggak kebayang itu punggung dan kaki apalagi saat membawa beban penuh ke puncak ya mas. tapi kalo udah baca cerita gini, pengen banget ikutan. kalo ikutan, yang ada jejeritan. hahaha.

    Like

    1. Ceritanya begitu Mbak, tapi tidak aneh sih, apalagi di Arjuno, cerita tersebut sudah biasa. Yang penting tenang dan mentalnya kuat πŸ™‚

      Ayo ikutan Mbak πŸ˜€

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s