Jurnal Perjalanan: Touring Motor Malang-Banyuwangi-Bali (2)

(Cerita sebelumnya)

Ketika umumnya setelah makan malam lanjut tidur, tidak bagi yang tengah berada dalam sebuah perjalanan. Seperti kami, makan malam menjadi energi baru. Energi tambahan untuk melanjutkan perjalanan. Wajah pun lebih segar setelah salat Isya seusai makan nasi goreng.

Teringat dengan pemeriksaan kelengkapan administrasi seperti KTP, STNK, dan SIM di kedua pelabuhan nantinya, saya berkata kepada Rizky, “Ky, nanti sebelum pelabuhan Ketapang gantian awakmu yang nyetir ya. SIM C-ku kan mati, hehehe.”

“Hahaha, oke Mas.”

* * *

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Meninggalkan kawasan terminal Tawang Alun, melintasi perempatan Mangli. Tak lama, kami memasuki pusat kota. Denyut kota Jember masih hidup malam itu. Kami melintasi alun-alun kota yang masih diramaikan sejumlah orang maupun kelompok. Seperti komunitas-komunitas yang memajang motor-motor anggotanya di tepi trotoar.

Kami tak berhenti di sini, selain karena kami cuma berempat dengan dua motor. Tak mungkin berhenti memajang motor bebek, yang kalah gahar dengan motor-motor kopling bermesin di atas 150 cc semua itu.

Ke arah Banyuwangi, kami melaju. Cepat saja kami meninggalkan pusat kota. Yang sebenarnya menggoda untuk disinggahi dan melewatkan malam hingga larut. Namun, masih ada sekitar 120 km lagi menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.

Selepas terminal Pakusari, saya sebenarnya bisa menghitung jumlah kendaraan yang searah atau berlawanan arah. Situasi yang cukup menguntungkan bagi saya yang lampu sein motornya mati. Tak perlu terlalu banyak memberikan kode lewat Rizky ketika hendak berpindah lajur.

Jalan raya Jember-Banyuwangi yang membelah kawasan Sempolan, hingga Garahan -yang mulai banyak terdapat vegetasi hutan pinus-, perlahan menaik. Warung-warung di tepi jalan Garahan sudah tutup. Suasana terasa remang, udara mulai menusuk kulit.

Situasi yang pantas. Karena selepas gapura selamat jalan, jalan sempit penuh tikungan tajam sepanjang delapan kilometer sudah menyambut kami. Satu-satunya jalan raya penghubung Kabupaten Jember dan Banyuwangi. Membelah lereng curam Gunung Gumitir yang gelap tanpa penerangan jalan satu pun. Hanya sorot lampu dari pengguna jalan yang menjadi penerang.

Dengan hati-hati kami melibas tikungan demi tikungan. Yang sebenarnya cukup membuat berdebar ada apakah di balik tikungan itu. Kami bahkan nyaris kaget dan was-was ketika ada sorot lampu kecil hampir di setiap ujung tikungan yang tajam. Bergerak-gerak, ke kanan-kiri, naik-turun. Jika pemilik sumber cahaya itu kawanan begal, habis sudah.

Tapi, ia tak bergeming ketika kami mendekat. Ia tetap menyorotkan sinar lampu yang ternyata senter. Ke kanan-kiri, naik-turun.

Saya menurunkan kecepatan. Membuka kaca helm. Memicingkan mata ke arahnya. Ia hanya melihat kami. Saya kemudian sadar, dan kembali tenang. “Oalah, tukang penunjuk jalan, Ky,” kata saya kepada Rizky. Dia ikut lega, “Oalah, tak kiro begal, Mas.” Kami sama-sama terkekeh.

Cukup banyak tukang penunjuk jalan (awe-awe dalam bahasa Jawa) yang kami lihat malam itu. Keberadaan mereka sebenarnya sangat membantu pengguna jalan, khususnya pengemudi kendaraan berat seperti truk atau bus. Hanya, terkadang mereka mengharapkan imbalan sukarela dari para pelintas. Tak hanya kaum lelaki dari segala usia, kaum perempuan dari segala usia pun rela menjadi penunjuk jalan.

Tapi saya tak sempat memberinya uang receh. “Pas baliknya aja ya kita kasih,” usul saya. Rizky mengiyakan.

Kami semakin lega, ketika di depan kami truk pengangkut bahan bakar yang melaju pelan. Dibuntuti sejumlah kendaraan kecil di belakangnya. Menanti kesempatan yang tepat untuk mendahului.

Selepas kawasan Watu Gudang yang merupakan puncak jalan tertinggi, jalan terus melandai. Namun kami tetap waspada, tak tergoda memacu motor lebih cepat.

Patung gandrung yang berdiri di sisi kiri jalan menandakan kami memasuki kecamatan Kalibaru, Banyuwangi. Vegetasi hutan dan kopi mulai berkurang. Seiring dengan jalan raya yang kembali datar, permukiman mulai terlihat. Penerangan jalan mulai memadai. Walau penghuninya sudah terlelap. Di Kalibaru inilah, pendakian ke puncak sejati Gunung Raung bermula.

Saya kembali menggeber gas, menambah kecepatan. Menyesuaikan kecepatan motor yang dikemudikan Mumu.

Sekitar pukul 00.30, kami pindah lajur ke kanan. Berhenti di bahu jalan yang berkerikil. Tak ada alasan penting, hanya sekadar berfoto di depan kantor kecamatan Glenmore. Kecamatan ini terkenal dengan industri kue pia-nya. Pia Glenmore.

Dalam istirahat yang sebentar ini, tak satu pun pengendara yang terlihat kecuali kami.

Tak sampai lima menit, kami kembali melanjutkan perjalanan. Melewati kecamatan per kecamatan yang terasa panjang. Kalibaru, Glenmore, Genteng, Singojuruh. Di pertigaan besar pusat kecamatan Rogojampi, kami belok kiri ke arah kota Banyuwangi. Masih ada kecamatan Klabat  sebelum pusat kota. Ah, Banyuwangi begitu luas. Belum sisi kecamatan yang lain. Merentang dari lereng gunung tertinggi, Raung-Merapi-Ijen, hingga pesisir yang menghadap dua lautan: Samudra Hindia dan Selat Bali.

* * *

Setelah kurang lebih tiga jam perjalanan, pukul 02.00, kami tiba di Pelabuhan Ketapang. Gerbang utama menuju Pulau Bali lewat laut.

Dan saya masih berada di posisi pemegang kemudi. Dan saya lupa bertukar posisi dengan Rizky.

Di loket yang sekaligus menjadi pos pemeriksaan, kami berhenti. Sementara sejumlah polisi memeriksa sepeda motor dan tas kami, seorang di antaranya memeriksa kelengkapan administrasi.

Ia memandang SIM C saya begitu lama. Keteledoran saya berbalas. “Wah, lha ini SIM C-nya sudah mati dua bulan gini, Mas!”

“Iya, Pak, saya lupa memperpanjang.” Kilah saya sambil senyum mesam-mesem. 

Selembar uang berwarna dominan biru, bergambar wajah I Gusti Ngurah Rai dan Pura Ulun Danu Bratan pun melayang. Berpindah tangan. Uang saku saya resmi berkurang signifikan.

Sepertinya saya harus merevisi anggaran belanja oleh-oleh di Bali nanti.

(Bersambung)


Foto sampul:
Istirahat sejenak di depan kantor kecamatan Glenmore

34 thoughts on “Jurnal Perjalanan: Touring Motor Malang-Banyuwangi-Bali (2)

  1. Aku pas ke Banyuwangi tidur sih, jadi gak sempet lihat kanan kiri. Paling lihat hutan jati aja sekilas. Habis itu tidur lagi. Kebluk kalau kata orang Jawa hahaha.

    Btw, gocap itu itungannya murah kali buat nyangoni Polisi hehehe. Di Jakarta mintanya cepek 😥

    Like

    1. Hahaha, saya suka menikmati perjalanan sih, khususnya kalau melewati daerah-daerah yang baru atau asing buat saya. Penasaran jalan sama njenengan Mas Adie, sejauh apakah kebluknya 😀

      Iyakah?? Wah, saya aja ditarik segitu sudah agak berat hati, ya memang salah saya juga sih lupa memperpanjang 😀

      Like

  2. Saya baru mau bilang kalau jalan antara Jember dan Banyuwangi itu tikungannya memang jam-tajam :hihi. Tapi kalian keren, bisa melibasnya di situasi yang paling tidak menyenangkan: tengah malam, bahkan sampai lupa waktu buat bertukar posisi :haha. Sekarang sudah sampai di Ketapang, bagaimana perjalanan membelah Jembrana, Tabanan, Badung, dan Denpasar? :hehe. Saya tunggu kelanjutannya :)).

    Like

    1. Nah itu gobloknya saya, lupa banget tahu-tahu udah di loket pemeriksaan Ketapang hahaha. Ditunggu lanjutannya hari Jumat siang ya Mas, semoga memuaskan. Terima kasih 🙂

      Like

    1. Iya Lan, masih jauh hahaha. Iya, enak naik kereta yang jadwal antara pagi-sore, pemandangannya bagus dan apalagi lewat Gumitir, sejuk rasanya 🙂

      Like

    1. Hehehe. Kalau pernah baca-baca sih, dulu ada orang kolonial Belanda mau buka perkebunan di sana, karena pemandangannya hijau banget, banyak pohon, sawah, perbukitan, disebutlah “Green More”, yang sama orang Jawa kan susah melafalkannya, disebut “Glenmore” hehehe. Entahlah 😀

      Like

      1. Hahaha.. Aku suka jalan-jalan di Banyuwangi yang menurutku bagus sih, apalagi jalan-jalan yang melintasi tengah hutan :p aku baru punya kenalan orang Banyuwangi 1 orang jadi belum bisa bilang kangen orang Banyuwangi hihihi

        Like

      2. Hahaha, Banyuwangi termasuk yang paling murah biaya hidupnya, nomor 1 di Jawa dan Indonesia. Kapan-kapan kalau balik lagi, suruh orang Banyuwangi nyanyi pake bahasa Osing 😀

        Like

  3. Jarak 120 km Jember – Banyuwangi apa dilahap sendirian bawa motornya mas? Gempor badan dibuatnya kalo nyetir sendiri, 🙂

    Harusnya bilang ke pak polisi minta dibantu pak, mintanya jangan banyak, lagi perlu uang juga untuk perjalanan dan makan. Kasih ceban tapi uwang yang warna merah, nanti dikirain 100 ribu, hahaha…

    Like

    1. Iya Om, dari Malang sampai Ketapang saya yang nyetir, baru pas ke Denpasar gantian hehe. Soalnya biasa nyetirin sih hehehe 🙂

      Hahaha, memang kesalahan saya sih lupa waktu itu wkwkwkwk

      Like

  4. aku belum pernah ke Banyuwangi 😦

    Sedekah yang nggak bisa diikhlaskan itu yah sedekah ke bapak2 itu hahhaa..
    Tapi kalau cewek sih biasanya bisa bernego2 sampai akhirnya jadi nggak harus sedekah, biasanya sih gitu.. biasanya loh hahhaa

    Like

    1. Hahaha, tapi saya mengakui itu murni kesalahan saya sebenarnya. Daripada sidang di pengadilan makan waktu lama, kan tidak setiap saat saat ke Banyuwangi 🙂

      Like

  5. Wah.. touring motor memang menyenangkan mas. Saya juga doyan, tapi sekarang udah ga segampang dulu lagi.. maklumlah, keterbatasan waktu dan kondisi.. 🙂

    Like

    1. Iya Mas, lebih fun kalau sama teman-teman. Wah mungkin kelak saya juga kayak gitu ya, kalau udah fisik dan waktu terbatas 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s