Jangan Arogan! Kita (Manusia) Bukan Satu-satunya Pejalan

Di tengah pikiran yang suntuk, tiba-tiba saya tertarik untuk bernostalgia dengan karya-karya Adnan Oktar. Dunia juga mengenalnya dengan nama Harun Yahya. Seorang oposisi evolusi (anti-Darwinism) dan ilmuwan terkemuka yang berasal dari Ankara, Turki. Seorang penulis dan peneliti idola saya sejak kecil. Sosok yang menjadi salah satu penyebab mengapa saya begitu tertarik dengan Turki dan seisinya.

Saya membuka laman situs resminya. Mencari-cari di dalamnya. Saya berhenti pada sebuah topik yang menarik, yaitu tentang migrasi burung. Bahasan tersebut tercantum dalam Bab III mengenai Tanda-tanda Kekuasaan Allah Pada Makhluk Hidup, yang menjadi salah satu bab dalam buku Menyingkap Rahasia Alam Semesta. Isi buku tersebut bisa dibaca secara online.

Saya ingin merangkum poinnya di sini. Lalu, saya ingin menyampaikan sebuah pandangan, yang (mungkin) sebagian di antara pembaca sudah jauh lebih dulu memaknainya. Semoga berkenan menyimak dengan saksama.

* * *

Siapa yang, sampai sekarang, masih merasa menjadi manusia ciptaan Tuhan?

Saya yang menulis ini, termasuk yang membaca juga manusia. Sekali lagi, kita adalah manusia. Maka kita harus mengacungkan tangan tinggi-tinggi. Mengakui status ini. Agar pengakuan itu berarti. Harun Yahya pun juga seorang manusia ciptaan-Nya. Tetapi, ada yang menjadikan kita sedikit berbeda dengannya. Ia menyerukan ajakan dari Sang Pencipta untuk melihat (memperhatikan) burung.

Harun Yahya (Sumber: Wikipedia)

Iya, burung. Makhluk bersayap yang bisa terbang.

Di dalam kitab suci umat Islam, termaktub dalam Surat Al Mulk ayat 19 yang terjemahannya berbunyi, “Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.”

Burung termasuk salah satu hewan yang memenuhi syarat untuk melakukan migrasi dan menjadi hewan migran. Lebih tepatnya keahlian khusus. Agak sulit membayangkan mereka bermigrasi tanpa perlindungan, perlengkapan teknis, dan pengamanan. Burung hanya membawa tubuhnya sendiri. Burung mampu menentukan arah dan membuat cadangan makanan. Terakhir, burung mampu melakukan penerbangan yang sangat jauh dan dalam jangka waktu yang lama. Jelas, daya jelajahnya tak pantas disandingkan dengan burung besi Boeing 777 buatan manusia sekalipun.

Pernah dilakukan sebuah eksperimen terhadap burung jenis bulbul (burung yang pernah diriwayatkan sedih dan ikut mati beberapa hari setelah Imam Ats Tsauri sang ahli zuhud wafat). Mereka ditempatkan pada laboratorium yang suhu dan pencahayaannya dikondisikan menyerupai musim semi. Sementara di luar laboratorium sedang musim dingin. Burung bulbul menyesuaikan iklim sekitar dengan menumpuk lemak sebagai energi. Hal yang biasa dilakukan sebelum bemigrasi. Namun, meskipun sudah beradaptasi dengan iklim buatan, burung bulbul tidak terburu-buru bermigrasi. Wait and see. Burung bulbul mengamati kondisi di luar, menunggu waktu yang tepat untuk melakukan penerbangan jauh. Hasil tersebut seakan mematahkan teori bahwa burung bermigrasi karena perubahan musim.

Pertanyaan bagaimana burung menentukan waktu bermigrasi masih mengambang. Pertanyaan serupa untuk hewan migran yang lain. Pertanyaan yang menunggu jawaban-jawaban ilmiah yang tak kunjung datang sesuai harapan. Misterius.

Selanjutnya, ketika kita menyadari, ada keteraturan yang sistematis yang dilakukan para burung migran tersebut. Tidak semua burung migran berangkat dari titik yang sama. Ada pula yang seolah sudah dibuat perjanjian mereka berkumpul pada satu titik, lalu terbang bermigrasi bersama.

Saya tidak percaya yang namanya kebetulan. Sayang, kita yang manusia bukanlah makhluk sekaliber Nabi Sulaiman yang dapat berbicara dengan hewan untuk mengerti bahasa mereka.

Apakah seperti yang diyakini Harun Yahya, bahwa burung migran itu bergerak karena tunduk pada perintah-Nya?

Colibri thalassinus menghisap bunga (Sumber: Wikipedia)

Sudah diketahui dengan jelas, burung adalah penerbang yang handal. Mereka memiliki sistem metabolisme yang kuat untuk melakukan perjalanan yang sangat jauh dan berat.

Menurut catatan, burung kolibri yang merupakan burung migran terkecil, memiliki aktivitas metabolisme dua puluh kali lebih kuat dibandingkan gajah. Tak heran, burung kolibri mampu terbang sejauh 3.000 kilometer antara Hawaii dan Alaska dengan mengepakkan sayap sebanyak 2,5 juta kali. Mereka dapat bertahan di udara selama 36 jam dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam. Suhu tubuh yang dapat meningkat hingga 62 derajat Celcius akibat aktivitas berat tersebut diturunkan dengan mendarat untuk beristirahat sejenak. Bahkan burung kolibri mampu beristirahat dalam terbangnya dengan merentangkan sayapnya lebar-lebar.

Dalam tubuhnya, burung migran ternyata memiliki paru-paru yang sangat kuat. Berfungsi maksimal ketika terbang tinggi (angsa dapat terbang di ketinggian 8.000 meter) dalam keadaan oksigen tipis. Padahal pada ketinggian 5.000 meter, kerapatan atmosfer berkurang sebanyak 63% dibandingkan pada permukaan laut. Luar biasa, bukan?

Belum selesai sampai di situ.

Jauh sebelum manusia menemukan radar pembaca cuaca, burung telah memiliki kemampuan itu melalui indra pendengarannya. Burung mampu mendengar bunyi berfrekuensi rendah, yang tersembunyi jauh di dalam atmosfer. Burung migran mampu mendengar suara terbentuknya badai dan halilintar yang terjadi ratusan kilometer di depan jalur terbang mereka. Tak pelak, burung migran dikenal sangat berhati-hati dalam menentukan rute migrasinya dan mampu menghindari area badai yang berbahaya.

Burung juga merupakan hewan migran dengan kemampuan navigasi yang sangat baik. Jauh sebelum manusia menemukan kompas. Bahkan mungkin penemuan kompas diilhami dari kemampuan burung merasakan perubahan  medan magnet sebesar 2%. Kemampuan tersebut menjadikan burung migran mampu menentukan arahnya dengan baik dan tepat sasaran.

Itulah burung. Makhluk bersayap yang bisa terbang. Bagaimana dengan kita, manusia? Kita bisa apa?

* * *

Kita, manusia yang dijadikan (atau digadang-gadang) oleh Tuhan menjadi khalifah di muka bumi, disebut sebagai makhluk ciptaan dalam bentuk sebaik-baiknya.

Yang pernah menimbulkan dengki dan kesombongan pada iblis sehingga enggan bersujud pada Adam. Namun, ternyata burung pun juga merupakan contoh ciptaan yang sempurna. Karenanya, burung juga istimewa.

Kita, manusia yang punya panca indra dan organ tubuh untuk mengukir jejak berhijrah. Melakukan perjalanan berpindah tempat sejauh mungkin untuk menabrak bahkan meruntuhkan batas-batas diri, yang selama ini tersimpan aman tanpa getar-getar tantangan.

Namun, ternyata kita bukan satu-satunya pejalan di muka bumi ini. Ada sosok pejalan yang jauh lebih handal.

Mari memperluas sudut pandang, memperluas cakrawala. Bumi ini, dunia ini, bukan hanya rumah untuk kita, manusia semata. Melainkan juga untuk burung.

Kita perlu belajar pada burung. Belajar pada ketangguhannya dan benar-benar memanfaatkan segala yang istimewa dalam tubuhnya

Jika mau disimak, burung migran merencanakan perjalanannya dengan sangat baik. Burung memiliki fisik yang kuat, mampu membaca cuaca, menghindari marabahaya, dan mampu menentukan arah tujuannya. Dengan segala kehebatannya, sepertinya kita tak akan pernah mendengar kabar burung pernah mengeluh dalam perjalanan yang mahaberat. Mengarungi daratan dan lautan di muka bumi.

Tapi, burung ternyata juga makhluk sosial seperti kita, manusia. Kita juga belajar peduli dan toleransi dari burung.

Seperti ketika burung migran terbang berkelompok. Dengan teknik terbang berbentuk formasi “V”, telah diatur posisi burung yang lebih besar dan kuat berada paling depan sebagai perisai. Mereka melawan arus udara sekaligus membuka jalan bagi burung yang lebih lemah. Menurut catatan Dietrich Hummel, seorang insinyur penerbangan, terbukti dengan formasi seperti itu, burung migran yang terbang berkelompok dapat menghemat energi hingga 23%.

Burung mengajarkan kita tentang keteraturan yang sangat sistematis dalam perjalanannya bermigrasi, yang dalam kacamata manusia seolah terlihat spontan dan penuh kejutan di luar dugaan. Saya pun iri dengan “pengalaman” burung migran yang singgah di tempat-tempat baru dan sebagian besar masih asing bagi kita.

Kita, manusia bukanlah satu-satunya pejalan di muka bumi ini

Sekali lagi, saya tak percaya dengan yang namanya kebetulan. Kejutan-kejutan tentu akan selalu diharapkan dalam sebuah perjalanan. Namun, tak berarti itu merupakan sebuah kebetulan. Bertemu secara tak sengaja dengan sesama suku Jawa di tanah rantau, misalnya, pasti mengandung hikmah yang tak terduga di hari-hari yang akan datang.

Masa depan pun menjadi misteri, karena pertanyaan-pertanyaan di masa kini belum banyak terjawab tuntas. Ketika kita, manusia, dilanda rasa penasaran beragam tingkatan yang haus akan tempat-tempat baru; demi eksistensi atau gengsi. Yang acuh tak acuh, karena alasan yang dianggapnya benar namun tak semua menerimanya.

Maka, kita perlu belajar bagaimana burung memaknai kata ‘cukup’ dan ‘menjadi diri sendiri’. Seekor burung belibis tak akan pernah merepotkan Tuhan untuk menjadikannya seperti kolibri. Burung kolibri pun tak akan pernah berhasrat menjadi pemburu yang gagah dan mematikan seperti elang.

Belibis tetaplah belibis, kolibri tetaplah kolibri. Elang, demikianlah adanya.

Apakah kita juga berjalan karena tunduk pada perintah-perintah yang tak kasatmata dari-Nya? Siapkah kita bertualang sebebas dan sejauh burung terbang di langit yang tinggi? Seberapa sanggupkah kita mengakui di atas langit masih ada langit?

Entahlah. Yang jelas, mari kita mulai mengukir kisah perjalanan dengan mengikuti kata hati. (*)


Foto sampul:
Siluet seekor burung bertengger di dahan pohon pinus di kawasan shelter Kalimati, Gunung Semeru (2.700 mdpl)

(Data dan fakta sebagian besar disadur dari laman buku berjudul “Menyingkap Rahasia Alam Semesta” karya Harun Yahya yang dapat dibaca secara online)

68 thoughts on “Jangan Arogan! Kita (Manusia) Bukan Satu-satunya Pejalan

    1. Hehe, saya dulu juga suka berimajinasi menjadi elang atau burung garuda. Pengen rasanya bisa terbang bebas kayak mereka, sementara kita punya banyak keterbatasan.

      Maturnuwun Mas 🙂

      Liked by 1 person

    1. Ya mbak, bener banget! Semalam ada yang mau saya tulis tapi lupa apa, mbak Donna bisa nangkep “di atas langit masih ada langit” hehehe. Terima kasih kembali mbak 🙂

      Like

    1. Benar Mas, terbang dengan pesawat membawa kita berkelana dengan mudah. Namun, pesawat pun punya banyak keterbatasan, punya banyak kelemahan, dan masih ada campur tangan manusia. Pengakuan terhadap kekuatan burung yang tidak akan pernah bisa ditiru seutuhnya, akan membuat kita “andhap asor” 🙂

      Like

  1. satu yang saya tangkap dari ini semua adalah betapa besarnya kekuatan Tuhan mengenai sebuah perjalanan itu sendiri.

    kereeen mas.

    sebagaimana orang yang mempunyai ilmu harusnya kita bisa lebih dekat denganNya. mau belajar dari berbagai peristiwa dan perjalanan yang kita amati.

    Like

    1. Nah, bener Mas, ada campur tangan Tuhan di dalam perjalanan kita. Setuju banget, kalau memang kita orang yang berilmu, mestinya kita mau belajar agar lebih dekat dengan-Nya 🙂

      Like

  2. Keren 🙂
    Hakikat pejalan adalah untuk menjadi orang yang menyerap ilmu dari sekitarnya, mampu mengambil petuah dari goyangan rumput dan kepakan sayap burung-burung. Belajar untuk menjadi arif dan mawas, dalam horison pemikiran yang lebih luas 🙂
    Yuk, jalan!

    Like

  3. Memang sangat mengagumkan insting dari hewan-hewan yang suka berimigrasi ini. Seperti di negara 4 musim. menjelang musim dingin bangau-bangau akan terbang ke utara. Begitu pula rombongan ikan salmon yang berimigrasi melawan arus air saat akan bertelur..Insting purba yang dilekatkan Tuhan sebagai pertahanan hidup, banyak pelajaran yang bisa kita simak darinya…

    Like

    1. Benar bu, tidak hanya burung, banyak lagi hewan migran yang berjuang keras untuk bertahan hidup melewati musim. Dan perjuangan hidup kita belum seberapa dibandingkan mereka 🙂

      Like

  4. Manusia terlahir sempurna, namun terkadang kita (manusia) merasa tidak bersyukur atas kesempurnaan.
    Setuju banget mas, Banyak hal yang bisa kita amati dan pelajari dari seorang Burung, yang bisa kita terapkan.

    Like

  5. Manusia memang tak setangguh burung untuk berpetualang, untungnya manusia dikasih pikiran sehingga bisa tidur nyaman di kantung tidur dalam tenda… dan kekurangan manusia seperti dengan kelebihan akalnya jelas juga bukan kebetulan.

    Like

  6. Manusia memang tidak setangguh burung, untungnya punya pikiran untuk menciptakan kantung tidur dan tenda untuk berpetualang.. dan kelebihan manusia ini juga jelas bukan kebetulan

    Like

  7. Bagus sekali, karena bukankah kita diperintahkan untuk selalu memperhatikan tanda-tanda kekuasaanNya di langit dan bumi? Baik dengan mata di kepala maupun mata hati..
    Terima kasih sudah berbagi cerita yang inspiratif ini

    Like

    1. Benar Mbak, banyak sekali misteri dan rahasia di bumi ini yang menuntut untuk dikuak manusia. Sami-sami semoga bermanfaat 🙂

      Like

  8. Subhanallah, Allah maha tahu dan maha segalanya termasuk alasan burung burung bermigrasi. kenapa manusia juga bermigrasi dan berjalan? belajar kemana kemana. Hmmm ada baiknya mbolang ak sekedar mbolang ya, banyak hal yang harus disesapi dalam setiap langkah perjalanan kita.

    Like

    1. Oh iyakah? Ah maafkan saya kurang update tentang beliau saat ini. Saya akan coba cari-cari infonya. Terima kasih atas infonya Mas 🙂

      Like

  9. Masya Allah… Tiada makhluk hidup ciptaan Allah yang ga bikin takjub 🙂
    Kayak ditampar-tampar juga baca ini, langsung tertunduk malu. Kadang berpikir kalau hanya kita makhluk Allah yang paling sempurna.
    Btw, foto di Jambangan bikin kangen jalan-jalan, Mas Rifqy 😀

    Like

    1. Begitulah Mbak, padahal satwa kayak burung ini gtentu kemampuan survivalnya lebih mahir daripada manusia 🙂

      Jambangan emang photoable hehehe. Tapi kalau malam Jambangan ini sebenarnya sarangnya macan kumbang loh 🙂

      Like

    1. Penuh pesona dan kekuatan ya 🙂
      Hehehe, Turki sebenarnya punya jejak sejarah luar biasa, utamanya saat zaman kekhalifahan Utsmani-Ottoman.

      Salam kenal ya MBak 🙂

      Like

  10. Burung..sekecil itu bisa melanglang buana kilo meteran, coba kita bisa terbang secara alami.bisa melihat seluruh isi bumi dari langit..namun Allah sudah menciptakan manusia dengan akal dan pikirannya supaya bisa membuat pesawat terbang agar bisa terbang

    Like

  11. Kamu harus datang ke Lombok Timur. Dalam waktu2 tertentu, banyak sekali burung camar lagi migrasi. Kemarin pas ke sana ketemu. Gilaaak, coba punya kamera yang lebih bagus, bakal dapat gambar yang keren. 😥

    Like

  12. Foto awan itu seperti asap yang dikeluarkan oleh cerobong asap ya Qy, tapi tak nampak kepala keretanya 🙂

    Ah jadi kangen Harun Yahya, dulu ketika aku SMP ngetop banget

    Like

  13. Hmm setidaknya dari sosok Adnan Oktar ini dipikiran saya masih terngiang satu pertanyaan, mas coba lihat di channelnya beliau, karya-karya beliau sangat islami dan masuk akal dengan berdasarkan Al Quran dan Hadist, tapi mengapa di channel tersebut terdapat wanita-wanita dengan pakaian yang bisa dibilang jauh dari kata islami.

    Memang benar, manusia karena mempunyai kemampuan yang lebih dari makhluk Allah lainnya sering semena-mena dalam berinteraksi dengan lingkungan. Mereka seakan-akan sosok yang menguasai semua lingkungannya, padahal jika di telusuri lebih dalam, manusia juga bagian dari hewan hanya saja diberi kelebihan Allah yaitu akal yang membuat manusia bisa berpikir secara rasional.

    Like

    1. Benar memang, Harun Yahya memang masih menimbulkan perdebatan. Namun saya tertarik pada konsepnya tentang burung dan saya kaitkan dengan traveling di sini. Harun Yahya punya sisi positif maupun negatif, ambil yang baiknya saja 🙂

      Begitulah, alam semesta ini sudah tercipta lebih dari miliaran tahun lalu, membutuhkan waktu berproses hingga seperti sekarang ini. Manusia yang baru tercipta ratusan ribu tahun yang lalu nyatanya sudah mampu merusak 🙂

      Like

  14. Sdh semestinya kita tidak arogan dan egois dlm hidup. Krn sdh jelas alam ini (bumi dan langit) dibuatkan bukan buatan kita. Juga bukan dibuatkan utk kita saja tapi utk semua makhluk yang Allah tempatkan di dalamnya. Jadi, mari kita hidup damai bersama di bumi ini, semoga Sang Maha Pencipta sayang dan ridho pada kita, aamiin.

    Salam kenal mas

    Like

  15. Luar biasa memang cara Tuhan menciptakan semua karyanya. Burung dan segala jenis makluk yang Dia ciptakan dilengkapi sedemikian rupa dan punya purpose masing-masing. Terima kasih yach mas sudah diingatkan kembali.

    Like

  16. Nyastra tenan mas..uapik deskripsinya, saya sama anak2 beberapa kali nonton film harun yahya yang episode burung. Setiap nonton selalu terkagum-kagung dengan ciptaan Allah yang satu ini… Nice Share mas.. Awesome..

    Like

    1. Terima kasih Om 🙂
      Soal Harun Yahya, saya dulu juga terkagum-kagum. Namun, kabarnya beliau belakangan agak melenceng model dakwahnya. Banyak berita miring tentangnya. Tapi, saya ambil positifnya saja. Salah satunya tentang ini 🙂

      Like

  17. Harun Yahya emang jagoan kalo urusan bikin kagum mah, aku juga sering kagum kalo nonton pemaparan dari Harun Yahya, selain kagum karena beliau cerdas banget, kagum sama ciptaan-cptaan Allah, ternyata kita manusia memang bener-bener gak ada apa2nya dibandingkan makhluk lain, sayangnya kita sering menyombongkan diri, congkak dan pongah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s