Sabda Malam Langit Kumbala

Pukul 15.55. Sudah 1,5 jam kami berjalan dari Kalimati. Saya sebagai sweeper, datang paling akhir di ujung hutan Cemoro Kandang ini. Teman-teman setim lebih dulu tiba dan sedang duduk istirahat beralas rumput.

Namun, saya tak ingin membuang waktu. Saya segera bangkit berdiri, sembari menepuk-nepuk jejak debu di celana pendek hitam yang saya pakai. Sedangkan mereka masih asyik bersenda gurau. Raut lelah dan gembira bercampur menjadi satu di wajah mereka, usai mencium deru debu puncak Mahameru.

Saya yang tidak ikut ke puncak dan merasa fisik masih segar, segera mengajak mereka untuk kembali jalan. Ranu Kumbolo sudah dekat, mumpung belum terlampau petang. “Jalan lagi, yuk!”

Sekarang, giliran saya yang memimpin sepertiga akhir perjalanan. Kembali menyusuri jalan setapak di tengah gulma Verbena brasiliensis yang berbunga keunguan.

Tak sampai 20 menit, saya tiba duluan di punggungan bukit. Bisa juga disebut sebagai celah bukit, yang merupakan ujung dari Tanjakan Cinta.

Oro-oro Ombo Gunung Semeru
Menengok sebentar Oro-oro Ombo dan Gunung Kepolo, sebelum kembali berjalan ke tempat camp.

Sempat menengok ke arah sabana luas itu, saya kembali melanjutkan langkah. Menuruni Tanjakan Cinta yang berdebu dengan setengah berlari. Lalu terhenti di atas sepetak tanah berjarak sekitar 30 meter dari tepi danau.

Dibantu Uki, Ade, dan Rizky yang tiba di belakang saya, kami segera mendirikan tiga buah tenda yang kami bawa. Didirikan berdekatan, dengan pintu tenda menghadap ke arah danau.

Selang beberapa menit, tibalah teman-teman yang lain. Masing-masing segera menuju tenda yang sudah ditetapkan.

* * *

Angin senja mulai berembus, berpadu dengan angin malam yang sudah terasa datang. Lapis jingga yang sempat terlukis di langit perlahan memudar. Berganti dengan warna khas malam. Ditambah kerlip bintang yang satu per satu menampakkan diri begitu cepat.

Saya, Ade, dan Rizky berada di tenda ketiga, yang paling utara. Usai masa Magrib berlalu, hanya kami bertiga yang masih melek. Dua tenda, yang total berisi 12 orang, di sebelah kanan tenda kami sudah tak terdengar suara penghuninya.

Saya maklum, karena saya pernah merasakan sendiri betapa lelahnya pasca pendakian ke puncak. Saya harus berterima kasih kepada Ade dan Rizky (keduanya juga ikut ke puncak) yang berkenan membantu menyiapkan makan malam. Ya, kami bertiga, laki-laki, yang malam ini giliran menjadi koki.

Dan waktunya memang sudah tiba. Usai makan di tenda masing-masing, keduanya segera menyusul teman-teman lain ke alam mimpi. Tinggal saya yang masih bertahan. Ada sesuatu yang cukup keras menahan untuk tidak tidur terlebih dahulu.

Saya memutuskan untuk keluar. Sempat hendak mengajak Ade dan Rizky, namun keduanya sudah keburu berselimut hangatnya sleeping bag. Ajakan saya berbalas hening dan dengkuran.

Saya kembali memaklumi. Padahal, langit malam itu tengah gembira.

Masya Allah, desis saya begitu keluar dari tenda.

Ranu Kumbolo
Gemintang di atas Ranu Kumbala

* * *

Saya berjalan menjauhi areal camp dengan sedikit terseok. Bukan karena langkah saya yang gontai, melainkan saya sesekali mendongak ke atas. Melihat langit malam itu.

Di sebidang tanah berumput basah, ke arah Tanjakan Cinta, saya berhenti. Jongkok menghadap danau. Segera saya keluarkan perlengkapan fotografi. Di tengah udara yang dingin, saya mencoba mengabadikan momen malam ini sebisanya.

Malam itu, Ranu Kumbala tengah hidup daripada biasanya. Di hadapan saya berderat deretan tenda-tenda pendaki yang bercahaya. Bermandikan sorot cahaya headlamp. Tak sedikit pula pendaki yang masih berlalu-lalang.

Di sekitar saya begitu gelap Hanya segelintir pendaki yang terlihat sedang menunaikan “hajatnya” di antara semak-semak basah, tak jauh dari bilik hajat darurat.

Hanya seperti itu keramaian yang terlihat dan terdengar malam ini. Selebihnya, yang saya yakini, adalah suara-suara sabda alam yang tak terdengar jernih oleh telinga manusia. Bisikan-bisikan tak kasat mata dari embusan angin, goyangan ilalang, lambaian pepohonan, gemericik air danau, hingga gerak gemintang.

Masing-masing bersabda satu sama lain selama melewati malam. Bersabda kepada Tuhan lewat gerakan-gerakan alami, yang tak semua dari kita paham maknanya.

Saya sempat berpaling ke belakang. Melihat hitamnya siluet bukit Cinta. Gurat-gurat pepohonan yang menukik membelah bukit. Jalan berdebu di sepanjang Tanjakan Cinta tak terlihat sama sekali.  Kosong. Tidak ada lagi pendaki yang turun dari arah Kalimati. Sudah terlalu gelap dan berbahaya.

Ranu Kumbolo
Gemintang di atas Tanjakan Cinta

 

Di atasnya, gemintang terlihat lebih menyemut. Memberikan cahaya alami yang berpendar menghiasi bumi Semeru. Seolah-olah begitu dekat dari pucuk pepohonan.

Saya menyaksikan pemandangan malam seperti ini kala pendakian kedua di bulan November 2012. Sayang, kamera yang dibawa saat itu tak cukup mumpuni untuk mengabadikannya. Saat itu, hanya cerita-cerita dari mulut saya untuk mereka yang bertanya, tentang bagaimana melalui malam di Ranu Kumbala.

Dan kini, saya bersyukur dapat menyimpan bentuk beku dalam wujud bingkai foto. Salah satu kenangan yang akan senantiasa terngiang.

Perjumpaan saya dengan langit malam ini sepertinya cukup. Saya segera kembali ke tenda, menyusul teman-teman yang sepertinya sudah melangkah jauh di alam mimpi.

Sungguh, saya berharap masih memimpikan titik-titik gemintang itu dalam mata yang terpejam sebentar. Menitipkan harapan baik untuk alam di sela-sela gulitanya. Selagi membayangkan perjalanan Mpu Kameswara di tempat suci ini, yang mungkin malam kala masanya lebih damai dan syahdu daripada malam ini.

Aku datang wahai sang malam, aku pandang wahai kau bulan.
Kuhitung berjuta gugusan bintang,
Perlahan kupejamkan mata, ingin kutemui engkau dalam gulita.
Terkadang aku menulis rindu di sela bintang-bintang, sampai malam jemu melihatku,
Biarlah, biarkan aku seperti ini, karena jika aku berhenti, aku akan menangis di bawah bayanganmu.
(Kahlil Gibran)

(*)


Foto sampul:
Sabana Oro-oro Ombo, ‘penghubung’ Ranu Kumbolo dengan Cemoro Kandang

48 thoughts on “Sabda Malam Langit Kumbala

  1. Keren banget tulisannya Mas, ini sampai tak tahu harus bilang apa :hihi. Pilihan katanya membuat hati lumer!
    Dan fotonya betul-betul mencekatkan napas. Ketika langit malam tak selamanya hitam dengan pendar bintangnya, yang membuat bayangan dunialah yang sejatinya menggelapkan. Haduh, astrofotografi!

    Like

    1. Alhamdulillah, terima kasih Mas, entahlah Mas, suasana malam saat itu di Ranu Kumbolo memang benar2 tengah syahdu, karena itulah kesan yang saya dapatkan. Hanya beruntung saja bintang lagi berbaik hati malam itu 🙂

      Like

  2. baca di posting yang ini dan sebelum-sebelumnya, jadi tambah pengen ke semeru mas. Puncak Mahameru, Ranukumbolo, dan Ranupani. Bukan hanya keindahan langit malam sejuta bintang dan sunrise Ranukumbolo. tetapi bagaimana kehidupan masyarakat di Ranupani. Subhanallah indah sekali ciptaan-Nya.

    Like

    1. Alhamdulillah, syukurlah kalau jadi termotivasi, yang penting jangan lupa bertanggung jawab dan konsekuen sama kebersihan lingkungan dan menjaga kelestarian alam rayanya ya 🙂

      Like

    1. Wah, jadi terharu saya hahaha. Dibaca saja saya sudah seneng banget kok, maturnuwun yaa, semoga kita tak henti saling belajar dan berbagi 🙂

      Like

    1. Saya pernah coba seperti itu Mas, namun namanya juga tergesa dan tidak fokus, alhasil ditolak hehehe. Sedang mengumpulkan semangat menyusun naskah Mas, mohon doanya, maturnuwun 🙂

      Like

  3. dan benar saja, setiap malam yang penuh ketenangan, keheningan, ada semacam keinginan untuk menulis kalimat lenih mendalam. Aku oernah merasakan ketika menjadi seorang penikmat malam sendirian bertemankan bintang 😀

    Like

  4. ngebayangin lagi ngelamun liatin bintang, trus dengerin Rifqy cerita langsung….kayaknya syahdu banget. Eh tapi kan Rifqy medok ngomongnya… gak cocok…. *gagal syahdu* *digetok* x))))

    Like

  5. Agak heran melihat nama saya sudah ada di atas sana tapi tulisan ini baru muncul di reader. Republish-kah?
    Mas, ceritakan soal perjalanan Mpu Kameswara di sana dong :hehe, penasaran soalnya #request. Memang setiap Mpu pasti me-wanaprastha tapi pasti yang ini punya cerita ajaibnya sendiri :hehe. Dan, bintangnya itu yaaa. Saya pengen telentang di sana terus bercerita soal legenda rasi bintang. Tentang Orion, Pleiades, Sagittarius… ah, menggetarkan.

    Liked by 1 person

    1. Betul Mas, ini re-publish, menambahkan sedikit detail karena merasa tulisan lama ada yang kurang hehehe.

      Nah, kalau soal Mpu Kameswara rasanya perlu saya riset literatur terlebih dahulu Mas hehehe, karena di Ranu Kumbolo masih berupa prasasti.

      Bintaaaang 😀

      Like

      1. Eh kok notifikasi komentar Mas Rifqy hilang lagi nih :hehe :peace.
        Baiklaah, saya juga mau coba googling prasastinya dulu :hihi, sepertinya menarik!

        Bintaaaang :haha *ikutan*.

        Like

  6. Panggil saya Rifqy saja Mas, saya masih muda banget belum seperempat abad hahaha.

    Ah, selamat mendaki tahun depan Mas, semoga Semeru masih bersahabat bagi tamu-tamunya, terima kasih atas apresiasinya 🙂

    Like

  7. subhanallah …. indah sekali bintang2 itu ….

    seumur umur saya hanya baru sekali ngalamin langit seperti itu .. itu juga sudah 20-an tahun yang lalu .. tapi selalu terkenang … ceileee ..

    Like

  8. Salam kenal Mas Rifqy..
    Rencana 2 minggu lagi saya pengen ke Ranu Kumbolo, bawa mobil sendiri dari Jogja. Kira2 mas Rifqy bisa kasih gambaran gak ya dimana saya bisa nitip mobil yang aman di sekitar Pasar Tumpang, mengingat beberapa rekan tidak rekomen kalo mobil pribadi sampai Ranupani.
    Terimakasih sebelumnya Mas..

    Like

    1. Foto yang bintang Mbak? Kalau pakai DSLR/Mirrorless, teori sederhananya: taruh kamera di atas tripod, set diafragma besar kisaran f/3.5, shutter speed 30 detik, dan ISO sekitar 1600, sorot fokus manual ke objek foreground kayak tenda, pohon, atau bukit. Klik shutter deh 🙂

      Terima kasih Mbak 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s