Di Balik Kesulitan, Ada Kemudahan

Lantunan doa dan azan kedua sudah dikumandangkan sang bilal. Suaranya menggema di dalam masjid yang sederhana bernuansa hijau ini, juga di keluaran corong yang dipasang di luar masjid. Dalam hitungan detik, sang khotib bangkit dari duduk dan memulai khotbah dari atas mimbar coklat. Sepintas itu pula, sang bilal gantian duduk.

Seperti biasa, awal khotbah Jumat selalu dimulai dengan ajakan bertakwa. Mematuhi perintah Allah, menjauhi segala larangan-Nya. Bukan biasa sih, memang sudah anjuran dalam kitab fikih.

Namun, saat itu saya yang duduk bersila sebagai jamaah dekat jendela di lantai dua masjid, merasa ada sesuatu yang mengusik kekhusyukan. Namun saya tetap dalam mulut yang terkatup tanpa suara, berbeda dengan jamaah anak-anak di belakang saya yang asyik berbicara. Duduk saya memang tak banyak polah di atas karpet hijau ini, namun kepala berpenutup peci ini malah bolak-balik menoleh ke kanan. Memandang sosok yang diam di kejauhan, di sisi barat laut. Arah jam 1-2.

Sosok diam itu ‘bertubuh’ melebar, mengerucut ke atas. Puncaknya lancip. Sesosok ancala, Arjuno namanya.

Seperti kepala yang seakan tak tenang menoleh ke arah luar jendela, begitu pun pikiran saya. Telinga tetap bekerja mendengar khotbah, namun pikiran dan ingatan terlempar melewati lorong waktu. Menuju pertengahan bulan April 2014, tepat sebelum Hari Kartini.

* * *

Saya bersama dua orang teman sekomunitas, Dodik dan Rendra, tengah mengemban misi. Judulnya Triple Summit. Dalam waktu empat hari tiga malam, kami mengejar target tiga puncak gunung yang berbeda. Dimulai dari Welirang dan Arjuno lewat jalur Tretes, Pasuruan; diakhiri Gunung Penanggungan lewat jalur Tamiajeng, Trawas, Mojokerto.

Dapat dibayangkan betapa terkurasnya fisik dan mental kala itu. Tekad dan semangat yang kuat sempat meluruh seturun dari puncak Welirang di hari kedua pendakian. Kami tiba lagi di tenda, camp Lembah Kijang pada pukul 18.30. Hanya menyisakan waktu sekitar 5,5 jam sebelum summit ke puncak Arjuno.

Lima setengah jam itu sudah termasuk membagi waktu memasak untuk makan malam dan tidur yang hanya tiga jam saja. Tepat tengah malam kami harus kembali berjalan menuju puncak.

Rasa linu di sekujur tubuh semakin kentara saat hendak tidur, terlebih saat bangun.

Tapi kami saling memberi semangat. Mengingatkan ulang tentang tekad dan mimpi. Menyambut matahari terbit di puncak Ogal-Agil adalah tujuan kami.

* * *

Cuaca siang itu sangat cerah. Gunung Arjuno terlihat jelas. Sejelas isi khotbah sang khotib yang sudah agak sepuh ini, yang tegas menyampaikan pesan penting dalam kesempatan salat Jumat kali ini.

Pesan penting itu adalah perlunya bertawakal. Ya, tawakal.

Definisi tawakal itu sebenarnya sederhana. Namun praktiknya tak semudah seperti lisan kita mengucap ‘mari bertawakal’ setelah menyelesaikan suatu kepentingan.

Tak mudah bagi saya bersikap seperti yang difatwakan Imam Al Ghazali, untuk menyandarkan segala kepentingan yang dihadapi kepada Allah, bersandar kepada-Nya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.

Tak gampang bagi saya berbuat seperti yang disampaikan Abu Zakaria, untuk meneguhkan hati dalam menyerahkan urusan kepada orang lain.

Tawakal ialah persoalan mental. Tak tentram dan tak memasrahkan diri, berarti sama dengan mencurigai dan tak percaya kepada-Nya.

Saya kembali menoleh ke arah sang ancala di kejauhan. Di sana, kala itu, mental tawakal serta mental positif lainnya ini saya coba perjuangkan begitu keras, saat melangkah menuju puncak menemui sejumlah rintangan.

* * *

Alarm handphone kami masing-masing berbunyi keras tepat pada tengah malam. Pukul 00.00. Tiga puluh menit selanjutnya tuntas kami gunakan untuk persiapan summit attack. Melengkapi diri dengan perbekalan secukupnya, baik itu perlengkapan pendakian maupun bekal konsumsi.

Tepat pukul 00.30, kami bertiga mulai melangkah. Kali ini saya yang memimpin pendakian.

Angin malam begitu menderu, menggoyang-goyangkan ranting pepohonan dan ilalang. Suaranya bergemeresak. Kaki saya basah saat menerabas semak-semak yang cukup rimbun nyaris menutupi jalan setapak lembab ke puncak. Sesekali terantuk akar pohon yang mencuat ke permukaan.

Di sepertiga perjalanan menuju puncak, jalur pendakian masih didominasi trek yang relatif landai, lalu menanjak hingga tiba di sebuah pertigaan. Jalur ke kanan menuju Gunung Kembar 1 dan 2, Welirang dan berujung di jalur Sumber Brantas, Cangar, Batu. Kami ambil jalur ke kiri menuju puncak Ogal-Agil.

“Masih jauh kah, Rifqy?” tanya Rendra kepada saya.

“Ini baru sepertiga perjalanan, Mas! Tetap jalan santai saja tapi stabil. Semangat!”

Setelah pertigaan tersebut, tanjakan semakin tiada ampun. Potongan-potongan tali rafia berwarna yang terikat di pohon dan ilalang menjadi petunjuk jalur yang sangat membantu. Sungguh, mental sabar benar-benar dikedepankan kala meniti tanjakan yang menguji daya tahan lutut.

Serta mental syukur kala telah melampaui langkah sebelumnya.

Vegetasi hutan cemara gunung Lali Jiwo ini saat malam terlihat seragam. Jika tidak fokus, bisa membuat kami salah arah. Sorot sinar headlamp menjadi senjata utama kami malam itu. Langit sebenarnya bertabur bintang, namun pendar cahayanya tak mampu menembus rimbunnya Alas Lali Jiwo.

Sudah hampir dua pertiga perjalanan kami lalui. Namun, menjelang batas akhir pintu hutan Lali Jiwo, jalur menjadi samar. Saya yang di depan sempat gamang, lalu memutuskan mengambil arah ke kanan.

Semakin jauh berjalan, semak-semak dan cantigi semakin rapat. Jaket gunung dan celana polar saya ikut basah terkena embun.

Saya sadar, kami telah salah mengambil jalur. Jalan setapak ini semakin sempit dan miring, semakin ke kanan. Ke arah jurang.

“Kita salah ambil jalur, Mas,”

Tak ada jawaban berupa kata-kata. Hanya lenguhan napas yang memburu, serta uap yang dikeluarkannya.

Saya berinisiatif bergerak merangsek naik, berjalan serong ke kiri. Berpegangan pada pepohonan dan menerabas semak rapat. Tak lama, saya menemukan jalur pendakian yang sebenarnya.

“Sudah ketemu lagi jalurnya, Mas. Aman!” Langkah saya diikuti yang lain.

Kami lalu kembali berjalan ke arah puncak. Di saat vegetasi mulai terbuka, tiba-tiba kabut tebal menyergap. Tak cukup sekali muncul lalu hilang, tetapi dua kali.

“Break dulu! Jalurnya gak kelihatan. Duduk-duduk dulu, minum dulu,” ujar saya.

Dua kali muncul, dua kali pula kami istirahat. Beruntung, cukup dua kali saja kabut menyergap saat itu. Kami pun kembali melanjutkan perjalanan.

Kami akhirnya berhasil melewati kawasan Pasar Dieng setelah empat jam berjalan dari Lembah Kijang. Pasar Dieng ini ketinggiannya hampir sama dengan puncak Arjuno. Tiang bendera di puncak, sayup-sayup sempat kami lihat. Kami semakin bersemangat, menambah kecepatan berjalan.

Tapi, ternyata Allah punya senjata tak berbatas untuk menahan ambisi manusia.

Di satu turunan terakhir yang cukup terjal setelah Pasar Dieng, kabut tiba-tiba kembali menyergap. Lebih tebal dari saat tadi kami setelah salah ambil jalur.

“Kita istirahat dulu di dalam gua itu. Menunggu kabutnya hilang,” kata saya sembari mengajak mereka berjalan ke arah gua kecil di sisi jalur. Padahal dari sini ke puncak tinggal lima menit lagi.

* * *

Khotbah kedua pun usai setelah ditutup dengan doa yang dipimpin sang khotib. Sang bilal dengan sigap segera mengumandangkan iqamah. Kami bersiap salat Jumat berjamaah.

Sementara waktu saya alihkan dulu pandangan ke arah Gunung Arjuno. Saya memilih maju satu saf agar lebih khusyuk. Kini tembok masjid bercat hijau yang berada di sisi kanan saya.

Sang khotib mengimami salat dengan khusyuk. Rakaat pertama dibacakannya surat Al Fatihah, lalu diteruskan bacaan surat Al A’la yang isinya sebanyak 19 ayat. Rakaat kedua setelah Al Fatihah, dibacakannya surat Al Insyirah yang isinya delapan ayat.

Usai salat dan zikir singkat, saya beringsut dari duduk, bergegas meninggalkan masjid. Dalam perjalanan pulang ke rumah kontrakan, saya masih terngiang dengan surat Al Insyirah yang dibacakan imam di rakaat kedua tadi. Saya merasakan betul betapa ayat kelima dan keenam dalam surat tersebut benar-benar terbukti. Saya merasakan sendiri, Allah tak pernah ingkar janji.

Kembali saya melihat Gunung Arjuno itu yang kesekian kalinya sebelum masuk rumah. Gunung dengan ketinggian 3.339 meter dari permukaan laut (mdpl)  itu memang benar-benar tak pernah memberikan jalan yang mudah bagi pendakinya.

* * *

Hampir setengah jam kami meringkuk di dalam gua untuk berlindung dan menunggu. Angin Subuh mulai terasa menusuk dalam diamnya kami. Sejauh ini kami benar-benar diuji dalam pendakian kali ini.

Berulang kali terantuk akar pepohonan yang mencuat ke permukaan. Saat Rendra mengeluhkan kondisi fisiknya. Saat Dodik kurang nyaman berjalan karena satu sandalnya sempat putus saat muncak ke Welirang. Saat saya sempat salah ambil jalur yang nyaris berujung jurang. Saat-saat yang benar-benar menguji.

Lalu tiga kali disergap kabut tebal, memaksa kami menunggu situasi berangsur normal dan aman. Kabut putih dan tebal yang datang tak terduga adalah kekhasan dari Gunung Arjuno. Seolah berteman baik dengan Alas Lali Jiwo. Seakan hutan-hutan di sini selalu ingin dibelai sang kabut.

Tepat setengah jam kami meringkuk di dalam gua, saat kedua teman saya masih menundukkan kepala menahan dingin, kepala saya mendongak. Melihat ke arah puncak.

“Horee! Sunrise!” Kabutnya sudah hilang. Berganti cahaya keemasan dari sang fajar di ufuk timur.

Kami segera bergegas, namun tetap melangkah hati-hati. Bendera merah putih yang terpancang di tiang besi itu kembali kami lihat dengan jelas. Berkibar keras namun tak tercerabut.

Dan tepat lima jam lebih sedikit sejak berangkat, akhirnya kami menginjakkan kaki di puncak tertinggi Gunung Arjuno. Batu-batu besar yang seakan berserakan namun nyaris tak pernah bergeser tempat itu menjadi penanda. Ogal-Agil. Kami berdiri di puncak yang biasanya terlihat lancip dari kejauhan.

“Selamat datang di puncak Gunung Arjuno, Mas!” ucap saya sembari menjabat erat tangan Rendra dan Dodik. Mata kami nanar tanda haru, menyiratkan rasa masih tak percaya dapat berdiri di sini. Sepagi ini.

Kami bersimpuh, berlutut, lalu bersujud tanda syukur. Segera saya menunaikan salat Subuh di sebidang tanah datar yang sempit di puncak.

Dengan latar matahari terbit yang sinarnya berpendar ke segala penjuru. Mulai memberikan kehangatan di tengah angin puncak yang kencang. Misi kedua kami telah tercapai, pencapaian ini sebagai penyemangat menuju puncak ketiga.

Sebelum kedua salam terakhir, saya bersujud lama. Sujud syukur. Kesulitan-kesulitan yang kami lalui sejak berjalan dari Lembah Kijang, diganti dengan kemudahan jalan dan pandangan menyambut pagi yang indah dari puncak tertinggi.

* * *

Gunung Arjuno yang gagah itu sudah luput dari pandangan. Saya bersiap makan siang, namun masih terngiang dengan perjalanan satu setengah tahun yang lalu itu.

Tentang kemudahan-kemudahan yang merupakan pemberian-Nya. Kemudahan yang sebenarnya membayangi dan menyertai di setiap kesulitan dalam pendakian saat itu. Kemudahan yang mungkin bisa pupus jika kami memutuskan menyerah dan ‘kalah’ terhadap batas terjauh dalam diri kami.

Kemudahan yang harus tetap kami syukuri. Karena di baliknya masih ada dua persimpangan, bertahan atau pulang (turun). Harus tetap ada kehati-hatian dalam menikmati kemudahan. Karena kemudahan pun dapat melenakan.

Yang menang tetaplah Allah dan alam ciptaan-Nya. Kami hanya mampu menang dengan ego dan batas pada diri kami sendiri. Yang sebenarnya, kami tak benar-benar berdaulat atas raga titipan ini.

Kala itu, saat perjalanan turun kembali ke tenda, kami berhenti sejenak di padang rumput berdinding tebing cadas yang berujung di puncak Ogal-Agil.

Saya menatapnya lekat. Tersenyum tanda kagum.

Gunung ini memang tak mudah didaki. Tapi dapat dilalui bagi yang bertekad kuat. Gunung ini tak akan bosan menguji para pendakinya. Tapi dapat dilewati bagi yang bermental baja.

Di balik kesulitannya, tersimpan kemudahan-kemudahan yang menyertai setipis batas antara cahaya dan bayangan. Ada satu-satunya jalan untuk menguaknya.

Kuncinya sederhana: membiarkan alam tetap menang.

(*)


Foto sampul:
Gunung Arjuno dilihat dari daerah Mojolangu, kota Malang

(Cerita-foto perjalanan secara lengkap tentang Triple Summit Welirang-Arjuno-Penanggungan dapat diunduh atau dibaca di sini)

51 thoughts on “Di Balik Kesulitan, Ada Kemudahan

    1. Apalagi yang menjalani hahaha. Memang tegang pas itu Mas. Saya beberapa kali ke puncak, tapi tetap saja ada yang namanya nyasar. Hehehe

      Like

  1. Gaya penulisannya bagus yaa..
    Seakan saya ikut duduk dimesjid,,ikut salah jalur -uuh-,,ikut terjebak kabut..
    Baca tulisan ini seperti naik time machine,,ikut larut kedalam cerita.
    Niceee..^^

    Like

    1. Maturnuwun Mbak, saya masih belajar mencoba berimprovisasi dalam menulis, coba-coba hehehe. Maturnuwun ya semoga berkenan 🙂

      Like

    1. Inggih Mbak, kalau dalam pendakian seperti ini, tetap harus fokus dan waspada. Tapi selalu yakin Allah bersama kita 🙂

      Like

  2. Tulisan ini asik banget, meskipun settingnya melompat-lompat dari masjid ke jalur pendakian, aku tetap bisa mengikuti dan serasa ikut serta di dalam perjalanannya. Juga ikut merasakan kelelahan, dan keharuan ketika berhasil mencapai puncak ketiga dari target kalian. Pesan utama dari tulisan ini juga tersampaikan dengan baik.

    Inspiratif dan mengharukan. Well done Qy! 🙂

    Like

    1. Hehehe, masih belajar improvisasi Mas. Maturnuwun atas apresiasinya, semoga sama-sama bisa semakin lebih baik lagi menulisnya 🙂

      Like

  3. Duh, naik gunung. Ketika menjalani selalu berpikir ngapain sih capek-capek, tapi begitu sampai atas selalu terbayar semua keringat yang bercucuran. Pas turun nyesel lagi. Pas sudah sekian minggu atau bulan berlalu kangen lagi. 😀

    Like

    1. Terima kasih Mas, ini lagi latihan improvisasi, sejauh mana bisa diaplikasikan, masih mencari gaya yang tepat. Wah saya dulu pertama naik arjuno juga 2013, bulan maret hehe

      Like

  4. Tulisan yang hebat sekali Mas, saya betul-betul jadi speechless dan seperti menyaksikan karya sinema yang apik banget dikomposisi dan dikerjakan dengan begitu rapi sehingga hasilnya sangat mengagumkan :hehe. Keren Mas, keren keren keren banget. Tulisan ini betul-betul menggugah semangat untuk selalu berusaha tapi tetap ingat sama Yang Di Atas karena semua hasil Dialah yang menentukan. Buat kontemplasi bagus nih, dan saya agak menyesal belum pernah naik gunung (naik tanjakan tangga kantor saja sudah ngap-ngapan :haha).

    Dua jempol! Saya masih belum tahu mau komentar apa lagi, selain pujian kalau tulisan ini hebat sekali :)).

    Like

    1. Segala puji hanya untuk Tuhan Mas, saya cuma melakukan kesenangan merangkai kata-kata 🙂

      Hahaha, nanti kalau ke Malang lagi, coba deh naik ke Panderman, atau ke Penanggungan, Ranu Kumbolo hehehe. Atau kalau di Jakarta bisa deh disempetin ke gede-pangrango. Sekali sudah berada di ketinggian, biasanya sih kecanduan 🙂

      Like

  5. “Yang menang tetaplah Allah dan alam ciptaan-Nya. Kami hanya mampu menang dengan ego dan batas pada diri kami sendiri. Yang sebenarnya, kami tak benar-benar berdaulat atas raga titipan ini.”
    MasyaAllah. Terharu T.T

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s