#VisitJateng: Situs Liyangan Menuntut Perhatian (7)

Sebuah majalah National Geographic edisi bahasa Indonesia tergeletak di atas meja kayu. Majalah bersampul garis tepi kuning tersebut terlihat lecek. Buku tamu tebal yang bersandingan di sebelahnya tak kalah kucel pula. Keempat sudutnya juga sudah tak ‘siku’ lagi. Salah satu halaman melipat tegas di tengah-tengahnya. Halaman tersebut mengulas laporan khusus dan cukup lengkap tentang sebuah situs: Liyangan.

“Mbak, pinjam sebentar ya. Mau saya foto tulisannya,” pinta saya kepada seorang perempuan berjilbab penjaga pos informasi. “Iya silakan, Mas.”

Pos berdinding kayu tersebut tak terlalu luas, namun cukup teduh. Walau tak cukup melindungi dari debu pasir yang beterbangan. Sifatnya hanya sementara, mungkin bisa dibongkar dan dipindah jika ingin suasana baru.

Dari tulisan berjudul Menjaga Liyangan dengan foto-foto khas fotografer Dwi Oblo tersebut, perlahan saya mulai mengerti mengapa Liyangan begitu menarik perhatian. Liyangan memang hanya nama sebuah dusun kecil di Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo. Salah satu wilayah administratif di Kabupaten Temanggung yang bersinggungan dengan Gunung Sindoro.

Namun, bukan rumah-rumah warga yang berdempet dibelah jalan makadam yang menarik perhatian. Melainkan apa yang tersingkap dari balik perkebunan tembakau di atas dusun. Keberadaan bukti-bukti peninggalan sejarah dari abad 8-10 Masehi yang sempat terpendam, lalu kini satu per satu muncul ke permukaan. Belasan abad kemudian, di zaman yang sudah maju seperti sekarang ini, situs Liyangan baru mulai ‘bangkit dari kubur’.

Karena ‘Jasa’ Penambang
“Selamat datang di situs Liyangan,” sesosok laki-laki bertopi menyambut kami ramah. Budiyono, pegawai Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah tersebut nampak bersahaja dalam balutan seragam dinas resmi. Bisa dibilang, saat ini dialah ‘juru kunci’ situs yang terletak di lereng Gunung Sindoro ini.

Budiyono, 'juru kunci' Liyangan
Budiyono, ‘juru kunci’ Liyangan

Tugasnya sebagai ‘juru kunci’ tentu tak bisa dibilang ringan. Ia menjaga, sekaligus memastikan kawasan ekskavasi terlindungi dari aktivitas yang membahayakan. Siang ini, menjadi tugas tambahannya untuk memandu kami. Secara tersirat, dari penuturannya akan mengajak kami untuk ikut peduli dan memberi atensi terhadap situs Liyangan.

Sementara Pak Pranoto memilih beristirahat di pos, sisanya mencoba melangkahkan kaki lebih jauh. Menjejakkan kaki di atas tanah berpasir dan berkerikil yang berasal dari material lahar sedalam 10 meter nan keras. Warisan dari Gunung Sindoro yang masih aktif.

Dengan dikepung perkebunan tembakau dan aktivitas penggalian pasir, siapa menyangka jika di dalamnya terdapat jejak peradaban. Berawal dari sekitar 15 tahun lalu, kala Balai Arkeologi Yogyakarta mendapatkan informasi tentang ditemukannya struktur batu di halaman rumah seorang warga. Pada ketinggian sekitar 1.100 meter dari permukaan laut (mdpl), struktur tersebut membentuk konstruksi yang cenderung memanjang dengan orientasi vertikal.

Batu-batu penyusun candi
Batu-batu penyusun candi

Timbul dugaan, jika struktur tersebut berasal dari peradaban Mataram Kuno. Namun, situs tersebut baru mendapatkan namanya pada delapan tahun kemudian. Kala seorang penambang menemukan struktur talud tebing, yoni dan beberapa komponen batu candi dan arca. Tahun 2009, ketika penambangan semakin meluas, ditemukan bagian candi yang tinggal kakinya dengan yoni tiga lubang di atasnya yang unik.

Hingga tahun-tahun berikutnya, kian signifikan temuan-temuan yang dihasilkan. Seperti pada bulan April tahun 2010, ditemukan dua unit rumah panggung dari kayu yang hangus terbakar dan masih tampak berdiri tegak. Satu unit rumah itu berdiri di atas talud dari batu putih setinggi 2,5 m. Satunya lagi tampak bagian atapnya saja.

Belum lagi dengan temuan-temuan mata tombak hingga guci dan 110 keramik dari Dinasti Tang di kawasan ini. Tak salah jika Liyangan disebut sebagai salah satu mutiara peradaban Mataram Kuno di Jawa Tengah, jejak dari abad ke-8 hingga ke-10 yang terserak di Temanggung.

Ukiran pada salah satu dinding candi
Ukiran pada salah satu dinding candi

Puncaknya, pada November 2014. Para peniliti gabungan dari Balai Arkeologi Yogyakarta menyingkap halaman keempat dari situs tersebut. Di sisi tenggara dan timur laut di halaman itu terdapat bangunan candi yang dilengkapi 10 jaladwara atau saluran air. Sebagian besar wujud struktur candi baru diungkap pada bulan Mei 2015.

Berarti, total sudah empat halaman yang ditemukan sejak penelitian tahun 2008. Sampai saat ini pun, masih ada dugaan kuat bahwa banyak halaman candi yang masih belum ditemukan. Padahal, sudah sekitar 3 Ha area ekskavasi.

“Terus ke atas, masih ada yoni-yoni dan struktur batu yang terpendam di balik perkebunan tembakau itu,” tukas Budiyono sembari menunjuk ke arah Gunung Sindoro yang puncaknya diselimuti awan.

“Di atas sana masih banyak temuan lagi…”

Keberadaan penambang pasir ada untung ruginya juga. Penggalian yang meluas perlahan menyingkap temuan terbaru, sekaligus mengancam keutuhan peninggalan bersejarah tersebut. Bagaimana lagi, jika penambangan pasir menjadi pekerjaan utama bagi warga yang tidak memiliki ladang pertanian.

Pedusunan Klasik Nan Khas
Ada banyak alasan mengapa Situs Liyangan begitu memikat. Lebih dari lokasinya yang terletak di lereng Gunung Sindoro, situs pedusunan Hindu pada masa Mataram Kuno tersebut memiliki jejak peninggalan yang lengkap.

Telah ditemukan yoni, arca, mata tombak, keramik hingga guci  dari Dinasti Tang. Telah tersingkap struktur candi, talud tebing, area pemujaan, pedusunan, dan pertanian kuno di Liyangan.

Penambangan pasir dan proses ekskavasi masih berdampingan sampai saat ini
Penambangan pasir dan proses ekskavasi masih berdampingan sampai saat ini

Maka kemudian Balai Arkeologi Yogyakarta mencoba memberikan gambaran rekonstruksi  kompleksitas komponen pedusunan Liyangan tersebut:

  • Area permukiman dengan rumah-rumah panggung berbahan kayu, bambu, dan ijuk;
  • Area peribadatan berupa bangunan candi yang dikelilingi oleh pagar dan kemungkinan merupakan kompleks percandian;
  • Bangunan candi lainnya dilindungi dengan talud, yaitu yang berada di sekitar talud;
  • Bangunan candi kemungkinan masih akan ditemukan, khususnya di teras yang lebih tinggi dari talud, sebagaimana hasil survei menemukan komponen bangunan candi
  • Area pertanian kemungkinan berada di sekitar permukiman dan di atas area talud

Kompleksitas komponen permukiman dan luasan situs tersebut, menunjukkan bahwa Liyangan merupakan satu-satunya situs permukiman masa klasik yang lengkap. Dan pada masanya merupakan wilayah yang penting dalam peradaban Mataram Kuno. Inilah satu-satunya situs yang mengandung data arkeologi berupa sisa rumah dari masa Mataram Kuno.

Salah satu bangunan candi Liyangan yang ditemukan
Salah satu bangunan candi Liyangan yang ditemukan

“Coba lihat candi ini, ukirannya cantik bukan? Zaman dulu dengan keterbatasan alat saja bisa buat candi kayak gini. Orang sekarang belum tentu bisa,” ujar Budiyono menutup ‘tur sejarah’ singkat siang itu.

* * *

Sebenarnya, saya bisa merasakan tekad para peneliti untuk menguak situs ini. Namun, perlu dimaklumi pula jika mereka menyuarakan keterbatasan-keterbatasan dalam melakukan penelitian. Keberadaan aktivitas tambang pasir (galian C) yang masih eksis, yang penambangnya boleh dibilang merupakan ‘penemu’ pertama benda-benda kuno yang terpendam seperti yoni, talud, dan arca.

Masih banyak yang harus disingkap di Liyangan
Masih banyak yang harus disingkap di Liyangan

Benda-benda bersejarah tersebut sejatinya memiliki suara dalam diamnya. Ekskavasi tahap awal menyingkapnya ke atas permukaan tanah. Terserak, sudah hampir 10 tahun menarik perhatian. Namun, sehubungan dengan munculnya pernyataan-pernyataan rekomendasi dari para peneliti, sudah layak bila Liyangan menuntut perhatian publik. Pengembangan situs, pemfokusan prioritas penelitian, pembebasan lahan, dan wacana konsep “Taman Konservasi Liyangan” harusnya diperhatikan lebih.

Sebelum benda-benda yang tak terhingga nilainya itu kembali hilang karena maling, atau tak sengaja terkeruk ke dalam gundukan pasir hasil tambang. Sebelum kebiasaan lama kita kembali muncul: baru bertindak saat sudah mendesak.

(Bersambung)


Foto sampul:
Situs Liyangan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah

Referensi literatur:
arkeologijawa.com (1)
arkeologijawa.com (2)
antarajateng.com
nationalgeographic.co.id (1)
nationalgeographic.co.id (2)
Majalah National Geographic edisi Juni 2015

17 thoughts on “#VisitJateng: Situs Liyangan Menuntut Perhatian (7)

  1. Saya selalu ingin berkunjung ke situs purbakala yang seperti ini. Situs yang masih asli terus ikutan menggali-gali barang sedikit sambil memotret-motret relief yang ada di bebaturan candi #aaak. Bisakah ya orang awam berkunjung ke sana secara swadaya, Mas? Mesti berkirim surat dulu ya ke BPCB Jawa Tengah? Pakai kop blogger bisa tidak, ya… :hehe.

    Hm, satu lagi kompleks percandian Hindu yang (kemungkinan) juga bentuknya teras-berteras. Saya ingin mendatanginya langsung deh :hehe, supaya info soal temuan dan konsepsi bangunan di desanya bisa lebih jelas. Membandingkan pola tempat tinggal penduduk di dalam perkembangan masa di Indonesia memang akan sangat menarik, soalnya sejauh ini pengamatan baru soal tempat ibadah…

    Tapi lahar gunungnya itu kuat banget ya Mas bisa membuat fosil kayu yang telah hangus itu masih bertahan. Ini artinya kompleks Liyangan musnah karena gunung berapi (seperti Kerajaan Tambora), bukan karena ekspansi atau perang…

    Like

    1. Saya kira bisa Mas kalau hanya berkunjung ke situs Liyangan. Kecuali kalau ke BPCB nya ya pakai surat hehehe.

      Iya Mas, bikin penasaran bagaimana wujudnya satu per satu. Kemungkinan masih banyak yoni yang terpendam, juga pedusunan di atasnya lagi. Tapi tentu tidak mudah, karena di sana lahan ada pemiliknya.

      Iyap, dipikir-pikir mirip sama Tambora ya Mas? Kalau pemukiman Tambora tersingkapnya karena ada pembukaan lahan hutan, di sini karena galian pasir. Tapi kabarnya di Liyangan ini data arkeologinya lengkap.

      Like

  2. Aku merasa excited banget waktu pertamakali membaca ulasan tentang Liyangan ini di Majalah NatGeo Indonesia beberapa bulan lalu. Indonesia, khususnya Jawa, di abad 21 ini masih menyimpan banyak ‘kejutan sejarah’ di balik bumi nya. Aku langsung masukkan ke dalam list, harus ke Liyangan secepatnya.

    Di lain sisi aku juga khawatir jika kita tak memiliki kesanggupan untuk segera mengungkapnya. Mulai dari keterbatasan dana, berlomba dengan aktifitas pertambangan hingga kemungkinan penjarahan oleh pihak2 yg senang mengail di air keruh. Aku rasa, jika situs ini bisa diekskavasi secara lengkap, maka akan menjadi mata pencaharian baru bagi penduduk sekitar melalui bidang pariwisata. Seperti di Dieng. Dan tentunya Liyangan merupakan potensi baru untuk para peneliti membuka pintu sejarah lainnya tentang Mataram Kuno.

    Thanks sudah berbagi Qy, semoga ini juga menjadi ‘pagar penjaga’ situs bersejarah ini.

    Ah aku pengen banget kesana dan penasaran banget sama bangunan rumah masa Mataram Kuno itu.

    Like

  3. Banyak situs yang seperti ini kurang diperhatikan. Namun tetap saja ada orang-orang yang berjuang untuk menjaga agar tidak hilang dan terbengkalai. Oya, dalam satu minggu ini ada beberapa kabar di daerah Jateng juga ditemukan situs peninggalan kerjaan Mataram. Semoga bisa lebih diteliti lagi, agar tidak terbengkalai.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s