#VisitJateng: Memintas Demi Parade Seni Jawa Tengah 2015 (3)

Saya pikir sedang ada pertemuan lintas agama. Ada ulama berpakaian serba putih, mewakili umat Islam. Ada pendeta, bhiksu, bhiksuni, resi, brahmana, lalu disusul di belakangnya orang desa berkebaya. Ternyata bukan. Konsep demikian mengusung semangat pluralisme. Mengingatkan saya tentang sejarah salah satu anggota dewan Wali Songo, Sunan Kudus. Bagaimana dulu ia memikat pribumi setempat terhadap agama Islam. Dakwahnya santun, halus, tanpa memberangus kebudayaan setempat yang saat itu mayoritas beragama Hindu.

Terjadi akulturasi budaya, yang bukti sejarahnya bisa kita lihat di arsitektur menara Masjid Kudus. Perpaduan budaya Hindu, Buddha, Cina, Persia dan Islam.

* * *

Jalanan sekitar kawasan kampus Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto cukup padat. Jalan menuju GOR Satria, gelanggang utama pagelaran Parade Seni Jawa Tengah 2015, dibuat satu arah. Pak Pranoto terpaksa mengambil jalan memutar, melewati jalan gang sempit yang dipenuhi kos-kosan dan warung. Sempat lega ketika bertemu jalan besar, ternyata macet dan penutupan jalan terjadi kala mendekati Hotal Aston Imperium. Jalan Overstate Isdiman di depannya digunakan sebagai jalur parade.

Pak Pranoto kemudian mengarahkan mobil secara perlahan memasuki gang perkampungan sempit yang punya jalan tembus ke arah hotel Aston. Di sana sudah siap sedia juru dan lahan parkir dadakan. Kami yang sudah berpakaian batik rapi, Pak Pranoto yang malah sudah siap dengan pakaian khas Jawa Tengah lengkap dengan kerisnya, harus mengurungkan niat memenuhi undangan ke GOR Satria untuk melihat lebih dekat.

Selingan di tengah menunggu peserta Parade Seni Jawa Tengah 2015 lewat di tengah jalan
Selingan di tengah menunggu peserta Parade Seni Jawa Tengah 2015 lewat di tengah jalan

“Daripada nanti tambah macet dan tidak bisa masuk, nonton di pinggir jalan ini saja gapapa, ya?” hibur Pak Pranoto. Kami setuju-setuju saja. Saya malah mblusuk mencari tempat nyaman untuk mengambil gambar dan merekam video agar lebih dekat dengan peserta parade. Mbak Ratri menyeberang ke sisi depan hotel Aston untuk tugas dokumentasi dari sisi lain.

Menurut Mbak Ratri, tahun-tahun sebelumnya parade seni selalu digelar di kota Semarang. Tapi tahun ini spesial. Purwokerto, Kabupaten Banyumas diberi kehormatan menjadi tuan rumah Parade Seni Jawa Tengah 2015. Saya rasa, memang sangat perlu sekali tuan rumah Parade Seni dibuat bergilir. Supaya ada kesempatan bagi 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah untuk unjuk diri. Supaya semarak, agar tidak tersentralisasi di kota-kota besar yang sudah populer.

* * *

Bersama sejumlah warga yang memadati tepi jalan, kami terkesima, tergelak, tergelitik, dan salut dengan kreativitas para peserta parade. Setiap kabupaten/kota menampilkan yang terbaik. Namun, saya kira para penonton yang meluber ini bisa menilai mana peserta yang kompak dan kreatif, mana pula yang biasa saja.

Di belakang Kudus, ada sejumlah kabupaten/kota yang kreatif dan fashionable. Seperti peserta dari Kota Salatiga. Desain kostumnya unik, mengingatkan saya tentang event Jember Fashion Carnival. Saat meninggalkan tempat, saya sempat berucap pada Mbak Ratri, “Saya suka peserta dari Salatiga. Desain kostumnya kreatif dan rancak.”

“Mungkin karena sebentar lagi mereka kan mau jadi tuan rumah Showtime Salatiga Carnival Center September nanti,” balasnya.

Karena lelah, istirahat dulu sejenak
Karena lelah, istirahat dulu sejenak

Ada juga yang heboh, menampilkan atraksi kesenian barongsai. Maaf saya agak lupa dari kabupaten mana. Sempat terjadi adegan lucu, di mana ada satu singa barongsai, tiba-tiba terduduk ndeprok di atas aspal. Kerumunan orang di dekatnya sempat terkejut dan tertawa. Mungkin dia kecapekan, istirahat dulu sejenak.

* * *

Seorang bocah laki-laki yang duduk di seberang jalan, persis di hadapan saya, tampak menguap lebar. Tanda mengantuk. Balon hijau berbentuk tusuk sate yang dipegangnya, sepertinya tak mampu lagi menghibur. Melihatnya ternyata menular, saya juga merasa mengantuk. Padahal masih belasan konvoi peserta parade lagi yang belum lewat. Padahal sejatinya waktu belum terlalu larut malam.

Sebagian peserta parade di urutan belakang juga terlihat berjauhan. Kentara jika kelelahan, karena cukup jauh berjalan menuju lokasi utama: GOR Satria. Di sana pula peserta unjuk diri, menampilkan yang terbaik.

Namun, kami lebih memilih untuk segera makan malam di rumah makan yang hampir tutup. Lalu Pak Pranoto melajukan mobil menuju ke lokasi yang lebih tinggi, Baturraden. Di satu hotel sederhana kami akan menginap semalam. Esok pagi, kami siap berjalan lagi.


Dari Mbak Ratri melalui Whatsapp, saya mendapatkan informasi para pemenang Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2015 beserta seni yang ditampilkan sebagai berikut:

Penampil terbaik 1: Kabupaten Wonogiri (Tari Rasekso Giri)
Penampil terbaik 2: Kabupaten Blora (Ringkik Gidrang)
Penampil terbaik 3: Kota Semarang (Tari Gotong Royong)
Harapan 1: Kabupaten Grobogan (Tari Mlintheng)
Harapan 2: Kota Surakarta (Ramayana-Rama Tambak)
Harapan 3: Kabupaten Cilacap (Tari Cahgowak)
Favorit: Kabupaten Banyumas (Buncis Golek Gendong)

(Bersambung)


Foto sampul:
Peserta parade dari Kabupaten Kudus

28 thoughts on “#VisitJateng: Memintas Demi Parade Seni Jawa Tengah 2015 (3)

    1. Iya ya, soalnya seharian kan kita di jalan. Penasaran sebenarnya aksi di panggung GOR Satria hehe. Pas balik ke tempat kita berdiri, heran loh mana Mas Ari sekeluarga?? Ternyata udah balik mobil, jadi sekalian balik hahaha

      Like

    1. Mungkin, bisa jadi. Tapi bisa juga peran dari Dinbudparnya sendiri yang mau berinovasi mengejar ketertinggalan dari daerah lain, khususnya Jogja dan Jawa Timur 🙂

      Like

    1. Iya Bu, akan lebih nyaman kalau pake lensa yang bukaannya lebar banget (f/1.4-2.8). Kemarin saya pakai ISO 1600 masih dibantu mblusuk desak-desakan sama pengunjung lain supaya dapat tempat di bawah lampu jalan. Soalnya kan paradenya bergerak terus 🙂

      Like

    1. Hehehe, Jogja bisa dibilang ‘saingan’ terdekat dan terberat Jateng dalam hal promosi parwisata bidang seni budaya, selain Bali dan Jawa Timur…

      Like

  1. Festival seperti ini harusnya rutin sih. Biar sekalian promosiin daya tarik wisata sekitar diadakannya festival. Moment festival diadakan sekaligus buat agenda promosi, puncak acara gitu. Kayak di jepang misalnya, mereka adalah salah satu negara yang sukses menarik wisatawan hanya dengan diadakan festival musim semi, musim panas dan musim dingin 😀 tinggal dibikin kreatif aja dah~ 🙂

    Like

    1. Iya Mas, bisa belajar dari daerah/negara lain, disesuaikan dengan budaya dan tradisi sendiri. Banyak kok selain festival tingkat provinsi, ada juga Festival-festival per kabupaten, baik bidang fashion, kuliner, alam dan lainnya. Memang harus kreatif dan inovatif supaya tetap menarik minat 🙂

      Like

  2. woghh, baru tahu ad kyk gini, tak kira cuma jember doang yang ngadain carnaval, ternyata di jateng juga ada.

    sunan kudus memang menjunjung tinggi toleransi, klo ga salah di kudus gak ada soto sapi, adanya soto kerbau, karena menghormati rakyat hindu yang menganggap sapi itu sakral.

    nice post mas 🙂

    Like

    1. Kalau bicara soal karnaval, di mana-mana banyak Mas. Di Jateng selain di tingkat provinsi, ada juga di Salatiga menggelar semacam fashion carnival, di Sulawesi Utara juga ada karnaval bunga.

      Betul, di Kudus menu sotonya pakai kerbau 🙂

      Like

  3. Mungkin ini random, tapi satu hal yang saya pelajari dari tulisan ini adalah: bawalah tripodmu ke mana saja saat malam menjelang :haha. Betulan, tapi dulu di Belitung saya juga dapat kesempatan menonton pawai obor tapi tidak sempat mendokumentasikan sekitar gara-gara tidak bawa alat-alat penunjang, padahal bawa kamera (lha ngapain bawa kamera kan ya, kalau begitu? :haha). Dokumentasi yang bagus, Mas! Saya suka melihat keseharian masyarakat sekitar kita tertangkap kamera–siapa yang tahu cerita apa yang ada di dalamnya?

    Like

    1. Sebenarnya tripod pun agak kurang berguna jika harus memotret seperti ini Mas. Karena objeknya kan bergerak terus, sementara lampu jalan juga temaram. Pakai ISO tinggi pun masih dapat shutter speed yang kurang cepat. Kuncinya ya di lensa yang bukaannya lebar hehehe.

      Siapa tahu? 🙂

      Like

  4. Ini karnavalnya malem2 gini ya? Baru tau nih. Biasanya kan karnaval dihelat pagi atau siang hari, biar kelihatan meriah. Tapi sepertinya gak heboh banget sih ya karena diadakannya di Purwokerto. Orang sering ngeh itu ada di Semarang atau Solo gitu. Biar pemerataan sebenernya OK, tapi konsepnya kalau bisa ditata juga biar acaranya bukan hanya untuk mencairkan dana anggaran untuk karnaval saja, tapi juga bisa meninggalkan makna untuk penontonnya 🙂

    Like

    1. Inggih Mas, malam hari hehehe. IYa tahun-tahun sebelumnya di Semarang.

      Betul sekali, makna sekaligus edukasi. Apalagi banyak penggiat seni yang perlu regenerasi 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s