#VisitJateng: Nyaris Telanjur Nyaman di Umbul Sidomukti (2)

Tampak dari luar sejumlah kamar berukuran besar berderet, bertingkat dengan berbagai macam corak. Jendelanya berdimensi lebar, memanjakan penghuni kamar untuk leluasa melihat pemandangan di luar. Isi kamarnya pastilah lapang, diisi antara 4-8 orang dalam berbagai varian bergantung kapasitas. Khusus untuk keluarga, baik kecil maupun besar.

Saya sendiri belum berkeluarga. Jadi kalaulah hari itu harus menginap, saya memilih tidur di dalam tenda saja di camping ground yang disediakan. Melihat Gunung Ungaran yang berperawakan lebar dan nampak dekat, saya jadi rindu berkelana di alam bebas. Tidur beralas matras dan berselimut sleeping bag. 

Tapi, kerinduan itu harus dipendam. Sama halnya memendam keinginan lain, untuk merasakan family room yang berjejer di dalam kawasan Pondok Wisata tersebut. Kapan-kapan sajalah, saat sudah berumah tangga dan memiliki anak.

“Umbulnya sebelah mana, Pak?” tanya Mas Ari tiba-tiba. Saya juga penasaran, wujud yang disebut ‘umbul’ belum juga tampak. Pak Pranoto hanya menjawab dengan gerik tubuh yang bermaksud mengajak. Terus melangkah, menuruni jalan berbahan batu kali yang tertata rapi.

* * *

“Itu gunung apa, Pak?” tanya saya, sambil menunjuk sosok gunung yang terlihat dekat setelah memasuki kawasan Kabupaten Semarang yang terik. Sudah hampir 45 menit kami meninggalkan kantor Dinbudpar di Kota Semarang.

“Itu Gunung Ungaran,” jawab Pak Pranoto lugas, “Mas Rifqy sudah pernah ke Gedong Songo atau Umbul Sidomukti?” lanjutnya di tengah fokus mengemudi mobil. Dua-duanya saya belum pernah ke sana. Dan kami menuju ke arah dua tempat wisata tersebut.

“Kalau Gedong Songo kami sudah pernah,” sahut Mas Ari dan istrinya, Mbak Nenny yang duduk di jok tengah. Bara, anak laki-laki mereka yang baru berusia 8 bulan, tampaknya hanya menyimak obrolan kami. dengan polahnya yang menggemaskan. Mbak Ratri yang duduk paling belakang, pegawai Dinbudpar Jateng sekaligus salah satu panitia lomba blog, tentu sudah tak asing dengan kedua tempat tersebut.

Lobi Pondok Wisata, Umbul Sidomukti
Lobi Pondok Wisata, Umbul Sidomukti

“Ya sudah ke Umbul Sidomukti saja, Pak,” cetusku. Semoga Mbak Ratri dan Pak Pranoto tidak bosan memenuhi rasa penasaran kami.

Ke arah Bandungan, mobil tetap melaju menyusuri jalanan yang cukup berliku dan menanjak. Lalu memasuki gapura Desa Sidomukti di kanan jalan, yang setelahnya berupa jalan kampung semakin menanjak dan sempit.

“Dulu jalan ini sempit banget. Jadi, repot juga kalau bawa rombongan banyak dalam satu minibus, lalu berpapasan dari arah berlawanan,” jelas Pak Pranoto mengomentari sempitnya jalan. Di beberapa ruas saya lihat sudah diperlebar, lalu sebagian dibuat satu arah. Kendaraan yang pulang diarahkan ke jalan baru membelah ladang warga. Namun tetap saja terasa cukup sempit.

Deretan family room dalam area Pondok Wisata, Umbul Sidomukti
Deretan family room dalam area Pondok Wisata, Umbul Sidomukti

Laiknya mengendarai mobil atau motor di tanjakan, kampas kopling dan rem akan diuji. Bau kampas menyengat begitu mobil berhenti di tempat parkir. Ada waktu cukup untuk mendinginkan mesin sejenak. Setelah dari tadi mengerang menapaki tanjakan.

* * *

Setelah cukup puas hanya memandang family room dari luar, tanpa berhasrat memasuki bagian dalamnya, di hadapan kami berdiri sebuah kafe berkanopi tembus cahaya. Rumput sintetis dipasang berselang-seling di antara alas ubin. Tanpa jendela, tanpa pintu. Hanya pagar yang mengitari kafe sebagai pengaman. Kursi dan mejanya serba putih. Tak banyak orang yang duduk bercengkerama di sana. Hanya segelintir orang, termasuk kami. Di salah satu meja, terdapat anak-anak muda sedang bersenda gurau. Tampaknya mereka adalah kru operator wahana outdoor (pacu adrenalin) yang berada di lokasi yang sama.

Kami mendekat ke pagar, semakin merasakan angin khas pegunungan yang semilir. Meski matahari bersinar terik, namun tak terasa karena angin berembus meredam panas. Persis di bawah kami, kolam pemandian terbesar berair jernih merentang. Di salah satu sudut kolam, terdapat air mancur yang terus memancar keluar. Itulah yang disebut ‘umbul’, karena air itu memang seakan terbang. Prinsip gaya gravitasi.

Kolam pemandian Umbul Sidomukti
Kolam pemandian Umbul Sidomukti

Air tersebut terus memancar dan mengalir sepanjang musim. Berasal dari tuk (mata air) Ngetihan dan Watu Payung. Duhai, beruntungnya lereng Gunung Ungaran ini bergelimang air.

“Dulu pernah saya bawa tamu mahasiswa dari Bandung ke sini. Banyak yang jengkel karena jalannya susah, sempit, dan lama. Tapi begitu nyebur ke kolam, gak mau pulang sampai jam 11 malam di kolam terus saking betahnya!” ujar Pak Pranoto. Saya tergelak. Ketua ASPPI DPD Jawa Tengah ini tentu sudah memiliki banyak pengalaman dengan membawa bermacam-macam tamu. Termasuk kami, yang malah tak menyempatkan untuk berenang. Tapi mungkin suatu saat kembali ke sini, berendam seharian, sembari menikmati pendar cahaya matahari yang terbit.

Sayup-sayup, suara azan berkumandang. Kami yang laki-laki, kecuali Bara, bergegas menuju masjid terdekat di kampung untuk salat Jumat.

“Nanti ketemu di Pondok Kopi ya,” usul Pak Pranoto kepada yang lain, kaum putri yang tidak ikut salat Jumat.

* * *

Suasana usai salat Jumat
Suasana usai salat Jumat

Salat Jumat berlangsung cepat namun khidmat di Masjid Baitul Muttaqin, dusun Tegalsari. Masih di lereng Gunung Ungaran, diapit rumah-rumah penduduk yang dibelah jalan kampung yang menanjak. Kami bertiga bergegas kembali ke mobil, lalu menuju Pondok Kopi untuk menikmati sajian makan siang.

Mobil kembali digeber menapaki tanjakan menuju Pondok Kopi. Membelah perkampungan yang kemudian berganti dengan ladang warga berundak-undak.

Menuju Pondok Kopi, melewati villa-villa bernama bunga-bunga yang menggoda untuk disinggahi
Menuju Pondok Kopi, melewati villa-villa bernama bunga-bunga yang menggoda untuk disinggahi

Belum sampai di lokasi makan siang ternyata sudah tersaji deretan villla dengan nama-nama bunga. Dahlia, Cempaka, dan yang lain. Dari sini, tentu menjanjikan pemandangan yang lebih leluasa karena lokasinya yang lebih tinggi.

Walau tentu, cukup terengah berjalan menapaki anak tangga menuju Pondok Kopi di siang hari. Mbak Ratri tertinggal di belakang, berjalan perlahan. Layaknya pendaki yang sudah tiba duluan di puncak, kami memberi semangat padanya agar segera sampai di Pondok Kopi.

Bayangkan jika hari berganti malam, lalu melihat kerlap-kerlip lampu kota di bawah sana
Bayangkan jika hari berganti malam, lalu melihat kerlap-kerlip lampu kota di bawah sana

Suasana yang nyaman untuk makan siang, angin semilir, dan menu yang lezat, nyaris membuat kami lupa jika waktu terus berjalan. Destinasi utama hari ini masih jauh, sementara perjalanan belum separuhnya. Kalau saja waktu tak terbatas, kalau saja Pak Pranoto tak mengingatkan untuk segera beranjak, mungkin saya segera memanggul carrier dan mendaki Gunung Ungaran siang itu juga!

* * *

Ternyata saya sempat tertidur di antara jalur Bandungan-Temanggung. Setelahnya terjaga, termasuk saat menyempatkan istirahat sekaligus salat Asar di sebuah masjid, di tepian Jalan Raya Banyumas, Wonosobo. Usai salat, Pak Pranoto yang masih tampak prima melajukan mobil lebih cepat. Memburu waktu, mengejar tujuan utama di hari ini.

Langit senja di Banjarnegara
Langit senja di Banjarnegara

Langit senja mulai gelap ketika melalui wilayah Kabupaten Banjarnegara. Semakin meninggalkan petang ketika melintasi Purbalingga. Kota Purwokerto semakin dekat untuk kami capai. Kami mungkin tidak datang tepat waktu, namun setidaknya kami masih sempat merasakan gebyar Parade Seni Jawa Tengah 2015 yang kali ini digelar di sana.

(Bersambung)


Foto sampul:
Sudut salat satu family room dalam area Pondok Wisata, Umbul Sidomukti

47 thoughts on “#VisitJateng: Nyaris Telanjur Nyaman di Umbul Sidomukti (2)

  1. Huaaaa… pemandangannya cakep banget. Selama ini ke Ungaran cuma sekadar lewat atau singgah sebentar aja, baca postingan ini rasanya jadi pengen singgah berlama-lama di Umbul Sidomukti ini…

    Like

    1. Saya pun juga demikian Mbak,pengen berlama-lama. Membayangkan kalau lihat matahari terbit sama malam hari penuh gemerlap lampu kota 🙂

      Like

  2. Keren Mas fotonya, itu bagaimana cara mengambil foto terakhir, apa di dalam mobil sampai buka tripod? #eh.
    Ya, dulu saya juga belum sempat datang kemari tapi langsung ke Gedong Songo. Bangunannya keren Mas, futuristik, semoga bisa berbaur secara apik dengan sekitarnya (dari deskripsi di sini sih agaknya demikian :hehe). Tempat yang bagus buat mandi-mandi ya, kolamnya ceburable banget.
    Dan ah, Purwokerto. Kota Bawor yang menarik untuk direnungi. Jangan lupa ke Pratistha Harsa Mas, saya ingin membaca bagaimana ia berbenah.

    Like

    1. Saya harap juga begitu, semoga tidak ada gesekan dengan warga setempat yang mungkin sudah hidup jauh lebih dulu daripada Umbul ini, semoga harmonis seterusnya, semoga saling memberi manfaat selamanya 🙂

      Hehehe, saya set ISO-nya cukup tinggi, sekitar 1600-3200, lalu diafragma terbesar, dapetnya bisa nahan sekitar maksimal 0,5 detik hehe.

      Suatu saat jika kembali ke Purwokerto, saya juga ingin coba Pratistha Harsa, Mas. Dalam kesempatan lalu, kami lebih berwisata alam 🙂

      Liked by 1 person

      1. Setengah detik juga lumayan Mas :haha. Kerenlah.
        Oh, Baturraden yaa. Saya malah belum pernah ke sana :hehe. Sip deh :)).

        Like

      2. Hehehe iya Mas, mau bagaimana lagi di dalam mobil yang ngebut, jadinya kudu ditahan kenceng! 😀

        Ya ke Baturraden, di lereng Gunung Slamet 🙂

        Like

    1. Yaa nginep sini saja sama Mas Bebeb Mbak *diuncal sandal* 😀

      Halah orang Malang kan biasa dingin 😛 *disawat kawat* 😀

      Like

    1. Menggoda banget! :3

      Asline pengen banget Om sowan, pengen ke Dempo terus kopdaran bareng njenengan. Uang saku mana uang saku 😦

      Kalau sama-sama belajar motret piye, Om? Saya juga jek sinau kok 🙂

      Like

    1. Amiiin, soalnya biar sekalian gitu Om kalau susur Sumatra, biar dapat banyak dan berkesan. Mupeng mendaki gunung-gunung macam Dempo, Marapi, Singgalang, Kerinci, Gunung Tujuh juga *banyak amat maunya* hahaha

      Hehehe, semampu yang saya tahu Om, wong saya juga sinau dari internet 🙂

      Like

  3. Photogenic banget. Mandi gak pas ke sini? Kalau aku diajak ke sini, sesempit apapun waktunya kayaknya bakal pilih mandi deh demi menyalurkan bakat terpendam sebagai model hahaha. 😛 #abaikan.

    Sudah bilang ke temen2 Semarang kalau mau main ke sini, tapi begitu nyampe, ngendonnya tetep di Simpang Lima aja, trus langsung pulang ke Nganjuk. Habisnya jalurnya agak nyeblang jauh ke atas gitu, jadi selalu ada aja alasan buat menundanya. Hiks 😥

    Like

    1. Gak sempat mandi Mas meskipun pengen hehehe. Nah, saya paham kok Mas Adi punya bakat terpendam 😀

      Memang sih lumayan kalau dari kota Semarang, tapi kalau diniati ya nyampe juga 😀

      Like

      1. Nggih Insya Allah lain waktu pasti bisa ketemu. Lha njenengan di Jambi sama pulang kampung ke Jateng selang berapa bulan sekali Mas? Saya DM nomor hape saya lewat FB nggih? Siapa tahu bisa sambung kapan2 🙂

        Like

  4. Aku kesana paa masih baru mas jalannya masih jeleekk banget dan belum swindah itu tempatnya. Aku nganterin mahasiswaku outbond waktu itu..ndilalah terus ujan jadi belum semper nyemplung cuma nadia yg nyemplung sampe biru kedinginan tapi kekeuh ga mau mentas..
    Ah jadi pengen kesana lagi

    Like

    1. Wah sepertinya perubahan jalannya signifikan ya Mbak, memang sempit dan agak rawan soalnya pinggir jurang.

      Hahaha, namanya kalau betah apalagi pemandangannya aduhai 😀

      Like

  5. Beberapa tahun lalu pondok wisata di Umbul Sidomukti nggak serapi dan sebanyak itu. Sudh berbenah rupanya. Jadi kepingin nginap di sana pas nggak weekend nih. Oh iya kemarin sempat mlipir ke pondok di Gedong Songo nggak, Qy?

    Like

    1. Rapi banget, cukup bersih. Ayo aku melu Mas hahaha.

      Waktu sepulang ke Semarang lagi cuma mampir candi Gedong Songonya saja, gak berhenti di pondoknya Mas.

      Like

  6. Aku belum sempat ke umbul sidomukti gegara kelamaan di gedong songo. Padahal destinasi ini udah dimasukkan dalam list. Dasar aja belum jodoh mungkin. Masuk ke situ dikenakan biaya berapa mas ? berenang biayanya terpisah ya sepertinya

    Like

    1. Saya kemarin malah gak sempat eksplor Gedong Songo sampai atasnya hahaha.

      Mohon maaf kurang paham, karena saat itu kan sama rombongan hehehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s