(Sempat) Termangu di Coban Sumber Pitu Pujon Kidul

Saya menuruni tebing sebentar, menghampiri ketiga rekan perjalanan saya, yang masih asyik berfoto ria. “Eh, kalian nggak ke atas kah? Ke Coban Papat?” Ketiganya menoleh. Eko, menyahut pertanyaan saya, “Awakmu wes merono ta?” Saya mengangguk, tadi sudah menyempatkan pergi terlebih dahulu ke Coban Papat sendiri.

Mereka bertiga lalu berjalan naik, mengikuti langkah saya. Trek yang ada -meskipun pendek- masih cukup curam dan licin, meskipun sudah dikepras warga setempat membentuk anak tangga. Saya bisa membayangkan dulunya saat masih alami, masih sangat curam dan berbahaya.

Setibanya di atas pinggiran tebing, saya mempersilakan mereka bertiga pergi melihat Coban Papat. “Aku tunggu di sini saja yo, nanti sebelum turun kita foto bareng.” Mereka mengangguk, kemudian berjalan meninggalkan saya sendirian untuk sebentar. Saya memilih duduk di atas kursi kayu yang disusun apa adanya. Meletakkan tripod dan tas kamera untuk sejenak.

Di hadapan saya terhampar beberapa aliran air terjun yang mengucur dari lubang tebing yang cukup tinggi. Terjun bebas di sela-sela tetumbuhan hijau yang melekat di dinding tebing. Sela-sela yang kecoklatan dan basah. Berulang kali saya menatapnya dari atas ke bawah, dari bawah ke atas; lalu meratapi awan tipis yang sedikit kelabu, menyembunyikan langit biru yang tadi menemani selama perjalanan ke tempat ini.

Dalam ratapan itu saya merenung, mencoba meresapi hakikat keberadaan tempat yang sejuk ini. Ada sejumlah pertanyaan besar yang sebenarnya tak memerlukan jawaban. Salah satunya, bagaimana tempat ini bisa tercipta dan ada?

* * *

Jalan setapak mulai siap dipijak selepas tempat parkir motor. Pepohonan masih berdiri menjulang walau tidak terlalu rapat, cukup menaungi kami dari sengatan matahari. Setidaknya untuk sementara, karena beberapa ratus meter di depan sepertinya vegetasi mulai terbuka. Kami sudah siap-siap menghalau teriknya matahari, dan debu-debu tebal beterbangan. Begitu kering, Pujon Kidul sudah lama tidak hujan.

Trek berdebu yang terus-menerus menanjak harus sudi dihadapi. Fia dan Deby berada di depan, memimpin perjalanan atau “semi-pendakian” ini. Saya dan Eko cukup di belakang sebagai kaum sweeper, posisi favorit saya saat dulu masih sering mendaki gunung. Tapi setelah lama rehat mendaki gunung, terasa juga tanjakan ini menguras tenaga. Saya dan Eko bercanda, “Maklum, dengkul tuwek (lutut tua).”

Langit biru tersingkap
Langit biru tersingkap

Pepohonan tinggi itu mulai tumbuh jarang, kala tanjakan berdebu sedikit mengurangi derajat kemiringannya. Berbelok sedikit ke kiri lalu naik sedikit ke arah kanan. Saya mendongakkan kepala, langit biru mulai tersingkap.

Kami terus mendaki, mendekati sepetak ladang sayuran warga. Sekilas melihat sekitar tampak kering dan panas. Namun melihat hijaunya sekitar, nyata bahwa di atas tempat kami berada ada sumber air yang melimpah. Yang dulu tersembunyi, hingga kini mulai digandrungi. Karenanya saya yakin, ketika ditanya Fia menawarkan bekal minumannya, “Mau minum dulu ta? Tadi lupa mampir toko beli air minum.” Tenang, nanti di sumber kita isi ulang dan minum sepuas-puasnya!

Terlihat motor warga setempat terparkir agak rebah. Motor pretelan itu menjadi transportasi paling dibutuhkan untuk ke lahan yang jauh dari rumah mereka.
Terlihat motor warga setempat terparkir agak rebah. Motor pretelan itu menjadi transportasi paling dibutuhkan untuk ke lahan yang jauh dari rumah mereka.

Saya kembali berhenti, begitupun dengan yang lain. Mumpung cerah, sayang untuk melewatkan pemandangan sekitar. Saya sepakat, ini adalah alasan terselubung supaya tubuh mendapat kesempatan beristirahat sejenak. Ketika keringat mulai deras bercucuran dan napas mulai tersengal.

Tak jauh dari tempat sejumlah motor pretelan -milik warga setempat- terparkir, kami kembali disuguhi tanjakan. Namun, kali ini dibantu dengan keberadaan papan kayu yang ditopang dua atau lebih potongan batang pohon. Membentuk anak tangga, sebagai antisipasi saat musim penghujan kembali tiba dan membuat jalur menjadi licin.

Anak tangga menanjak yang sangat membantu memudahkan berjalan
Anak tangga menanjak yang sangat membantu memudahkan berjalan

Wenak nek dolan saiki Mas, sepi. Nek kolowingi Minggu wah ruame tenan, Mas,” jawab petani sayur itu sambil terkekeh. Ia sedang menyirami lahan sayurnya yang terletak di sisi kanan jalur. Kami bersua dengannya ketika baru menapaki separuh anak tangga. Saya sepakat dengannya, berwisata saat hari Senin seperti ini lebih nyaman dan sepi dibandingkan hari Minggu kemarin. Riuh dan pasti debu lebih banyak beterbangan.

Selanjutnya kami terus menyusuri punggungan bukit. Selepas ladang sayur tadi, sisi kanan dan kiri sudah terhampar jurang. Meskipun, masih cukup aman karena trek cukup lebar dan dilindungi semak-semak dan pepohonan rendah.

Biru langit dan hijaunya hutan adalah salah satu kombinasi cantik untuk disebut panorama alam
Biru langit dan hijaunya hutan adalah salah satu kombinasi cantik untuk disebut panorama alam

Tapi saya masih terpukau dengan langit biru itu. Kontras dengan hijau dan lebatnya hutan tropis jauh di seberang kiri sana. Sebelah timur dari tempat kami berjalan. “Potretlah! Beri ruang lebih untuk langit dalam bingkai fotomu,” ujar saya sok tahu kepada Deby. Ia juga berulang kali berhenti untuk mengabadikan sekitar dengan kameranya.

“Gimana caranya supaya langitnya bisa lebih biru gitu?” Tanyanya lagi.

“Pake fiter CPL yang bagian gelapnya di atas bisa membantu. Atau simpan foto dalam format mentah -RAW (Canon) / NEF (Nikon)-, sehingga bisa diedit saturasinya pake Photoshop atau Lightroom,” lagi-lagi saya bertutur sok tahu.

Vegetasi mulai kembali merapat
Vegetasi mulai kembali merapat

Bisa dibilang kami berempat sangat santai dalam berjalan. Terlebih, kursi-kursi sederhana dari potongan batang pohon, menggoda kami untuk merebahkan (maaf) pantat sejenak. Semilir angin yang menyelip di antara dedaunan dan ranting pohon, malah mendukung kami segera memejamkan mata. Bahaya! Suasanya terlalu enak, sementara perjalanan belum purna.

Vegetasi mulai kembali merapat, perjalanan mulai kembali teduh. Setelah berjalan datar melipir punggungan yang sebenarnya rawan longsor, trek mulai menurun. Batang pohon hingga akar menjadi pegangan agar tidak sampai terjerembab. Samar-samar, suara air terdengar bergemuruh.

Coban Tunggal

Mendekati Coban Tunggal
Mendekati Coban Tunggal

“Yang pertama terlihat nanti di bawah itu Coban Tunggal, Mas,” ujar sekelompok warga setempat yang baru pulang dari pekerjaan menata dan membersihkan jalan setapak. Kami bertemu dan bertegur sapa di tengah jalan.

“Kalau Sumber Pitu di sebelah mana, Pak?” tanya saya.

“Sumber Pitu iku belok kiri teko Coban Tunggal, Mas. Munggah maneh, wes tekan Sumber Pitu.” Saya mengangguk, lalu ia melanjutkan, “Soko Sumber Pitu, belok kanan munggah dilut ono Coban Papat, Mas.” Berarti ada tiga coban (air terjun) yang berdekatan dalam kawasan ini. Semakin menguatkan dugaan saya, jika sumber air di atas desa Pujon Kidul ini sangat melimpah.

Coban Tunggal mulai terlihat
Coban Tunggal mulai terlihat

Wujud pemilik suara air bergemuruh itu mulai terlihat. Kami terus berjalan menuruni jalan setapak yang cukup sempit. Suasana mendadak teduh dan sejuk, matahari seperti tertahan bersinar di atas hutan ini.

Suara gemuruh Coban Tunggal semakin terdengar jelas. Beradu dengan gemericik aliran air sungai limpahan dari Coban Sumber Pitu di sisi kiri. Kedua aliran itu menyatu pada satu titik, lalu mengalir beriring terus ke bawah.

Coban Tunggal yang cantik
Coban Tunggal yang cantik

Coban Tunggal ini seperti selasar teras rumah. Air terjun utama mengucur deras menghunjam dasar, membentuk kolam dangkal dan mengalir pelan dibendung oleh barisan bebatuan yang berbeda ukuran. Lalu terus turun mengalir melewati sela-sela bebatuan teguh, setelah menyatu dengan aliran air sungai dari Coban Sumber Pitu.

Ada yang lebih menggoda selain bermain air dan membekukan air terjun ini dalam memori kamera: keberadaan tanah datar di seberang kanan. Di sana ada bekas api unggun. Di sana sepertinya menjadi tempat yang enak untuk berkemah. Sumber air melimpah, walau tetap dirundung waspada jika sewaktu-waktu longsor datang.

Merapat ke Coban Papat

Aliran air dari Coban Sumber Pitu
Aliran air dari Coban Sumber Pitu

Dari Coban Tunggal, kami belok ke kiri. Menapaki anak tangga yang berundak-undak dan cukup terjal. Sejumlah pekerja masih membenahi jalur tersebut agar tetap kuat dilewati wisatawan. Kami melangkah dengan penuh kehati-hatian. Hanya bertopang pada keseimbangan kaki, berpegangan pada dinding tebing di sisi kanan, dan tali di sisi kiri untuk pembatas. Di luar jalur di sisi kiri, mengalir sungai kecil yang cukup deras. Limpahan dari guyuran Coban Sumber Pitu yang mulai menampakkan diri.

Namun, ketika mereka bertiga memilih istirahat sejenak di bawah Coban Sumber Pitu, saya memilih meneruskan langkah ke Coban Papat terlebih dahulu. Menapaki tanjakan pendek namun cukup licin. Beruntung terdapat batu-batu kecil mencuat dari balik tanah, memudahkan saya berpegangan saat merangkak naik. Tak sampai 100 meter, dengan trek yang agak memutar, tibalah saya di Coban Papat.

Tipikal air terjunnya mirip dengan Coban Sumber Pitu, namun lebih jarang dijamah oleh wisatawan. Alirannya sepertinya menurun hingga ke Coban Tunggal tadi. Paling hanya warga setempat saja, yang meletakkan sesaji berupa kemenyan, kopi, dan puntung rokok di atas sebuah makam di muka air terjun ini. Entah ini makam siapa, dan terkesan penghuninya dikeramatkan. Karena tak ada warga di tempat itu, saya tak berani mengambil foto makam tersebut. Makam itu ditutupi gundukan batu sungai dengan dua buah nisan dari batu juga. Di atas gundukan batu tersebut, terserak puntung rokok -ada yang utuh dan sisa separuh-, secangkir kopi yang tinggal separuh isi, dan kemenyan.

Coban Papat, lebih sunyi dan wingit
Coban Papat, lebih sunyi dan terkesan wingit

Saat pulang saya sempat ditanya Deby dan yang lain, “Kok ada rokok dan kopi yang masih utuh, ya?”

“Mungkin, warga setempat percaya, sesaji seperti itu akan “dikonsumsi” oleh penghuninya pada saat-saat tertentu. Tujuannya, tentu meminta supaya tetap menjaga keselamatan di tempat ini. Atau bisa juga memohon izin kepada leluhur sebelum bekerja.”

“Atau mungkin warga pekerja tadi ke makam atas tadi untuk minum dan ngerokok?” timpal mereka.

“Ah, masa’ harus susah payah naik ke atas dulu kalau hanya sekadar ngopi dan ngerokok?” Kami terdiam. Entahlah. Seiring saya meninggalkan Coban Papat, secepat itu pula saya melupakan hal tersebut. Saya tidak berani berprasangka lebih jauh, biarlah seperti itu adanya.

Saya memilih kembali ke Sumber Pitu, bermaksud memanggil teman-teman supaya menyempatkan mampir ke Coban Papat.

* * *

Hampir tiga puluh menit berlalu, saya masih tenggelam dalam perenungan. Di atas kursi kayu, berpijak pada tanah berdebu. Sesekali kaki kanan saya terpangku di atas kaki kiri, sambil termangu bertopang dagu. Riuh rendah suara wisatawan lain yang asyik bercengkerama di bawah, samar-samar saja terdengar. Masih kalah dengan suara guyuran Gerojokan Sumber Pitu, begitu orang setempat menyebutnya.

Pertanyaan dalam renungan saya sebenarnya tak perlu pula dipertanyakan. Karena ini sama dengan mempertanyakan hati dan keyakinan. Namun, pikiran saya melesat jauh, membayangkan bagaimana Allah, menciptakan bumi dan seisinya ini begitu indah. Rapi, tertata, dan sesuai pada tempat dan waktunya. Termasuk, membuat tujuh atau lebih aliran air keluar dari lubang tebing cadas menjulang seperti tersaji pada Coban Sumber Pitu ini. Dan kemudian bagaimana Dia menjadikannya bermanfaat, berguna bagi warga setempat yang tentu tak bisa lepas dari air. Sumber yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, bertani, dan akhirnya kini menjadi andalan pariwisata desa Pujon Kidul nan permai. Kontribusi wisatawan sebesar Rp 10.000 dan parkir Rp 5.000 rasanya sepadan untuk menjadikan desa ini lebih berdaya.

Semoga seimbang. Bukan hanya kesungguhan upaya warga desa yang mencoba mempromosikan tempat ini untuk pemasukan kas desa, dan menjaga kebersihan lingkungan agar senantiasa lestari. Melainkan juga para tamu (wisatawan) supaya memahami hakikat tempat ini. Sungguh, tempat ini akan damai dan bukan menjadi gengsi semata bagi kita yang mau berpikir. Kita yakin, kita tidak buta dengan peringatan dilarang membuang sampah sembarangan yang terpampang jelas. Kita percaya, kita tidak tuli dengan suara-suara alam dan lingkungan sekitar yang menjadikan tempat ini begitu alami dan sejuk.

Coban atau Gerojokan Sumber Pitu, dilihat dari tempat saya duduk termangu
Coban atau Gerojokan Sumber Pitu, dilihat dari tempat saya duduk termangu

Tempat ini ada, juga untuk kehidupan seluruh semesta. Manusia seperti kita, hanya bagian kecil dari sistem semesta. Buktinya sudah jelas, bukankah betapa kecilnya kita, jika berdiri di atas bongkahan batu berlatar dinding tebing menjulang dan berlimpah air jernih ini?

Pikiran bercabang-cabang saya buyar ketika terdengar derap langkah kaki dari sebelah kiri saya terduduk. Mereka bertiga sudah kembali dari Coban Papat, dibarengi dengan pertanyaan seputar kopi dan rokok di atas makam di Coban Papat tadi. Saya menyambut mereka, “Foto bareng dulu, yuk! Terus turun dan pulang.” (*)


Foto sampul:
Teman seperjalanan sedang asyik berswafoto

75 thoughts on “(Sempat) Termangu di Coban Sumber Pitu Pujon Kidul

    1. Hehehe, Mereka teman perjalananku Lan. Seng baju merah itu Deby, baju hitam itu Fia, dan seng kelihatan kepalae thok iiku Eko 🙂

      Joss Lan, yok! 😀

      Like

  1. Aku selalu menikmati postinganmu, terutama foto-fotomu yang selalu ciamik Qy. Hijaunya hijau, coklatnya coklat dan birunya biru. Saturasinya pas.

    Itu Coban Sumber Pitu nya keren banget ya, mengucur berjejer gitu.

    Nice post Qy …

    Like

    1. Saya lumayan lama rehat nulis, ternyata cukup sulit konsisten nulis meskipun ada kesibukan lain. *alasan* hehehe. Terima kasih jika dirasa berkenan, Mas, saya hanya berusaha menggambarkan suasana sama seperti apa yang saya rasakan saat jalan dulu, berusaha mendekati begitu…

      Ada dua Sumber Pitu di Malang Mas, satu di Pujon Kidul ini, satunya lagi di Tumpang. Yang di Tumpang lebih pendek, memanjang, sekarang buat sumber PDAM Malang Mas. http://papanpelangi.co/2013/12/09/eksotisnya-coban-sumberpitu/

      Liked by 1 person

      1. Selama pas rehat tetap dapat inspirasi sih gak papa Qy. Kadang memang susah untuk memulai kembali. Aku juga suka merasa gitu soalnya 🙂

        Siip, aku meluncur ke TKP yaa 🙂

        Like

      2. Hehehe, Inggih Mas. Soalnya saya berupaya meniatkan tulisan selanjutnya setidaknya sama atau lebih baik dari sebelumnya. Sampun saya reply nggih mas komentarnya 🙂

        Like

    1. Maturnuwun Kang… Kalau dari arah Batu, nanti kan ketemu Patung Sapi. Kalau ke kiri kan ke Coban Rondo, nah ke kanan dikit nanti ketemu pangkaan ojek. Nah kiri jalan dari pangkalan ojek itu ada gang masuk. Terus saja ke arah Pujon Kidul ngikutin jalan aspal. Jalan santai saja, nanti sampai ketemu petunjuk arah Gerojokan / Sumber Pitu ke kiri, ganti jalan cor. Nanti sampai ketemu pos retribusi kiri jalan. Kalau motornya sehat dan cuaca mendukung, lanjut saja sampai parkiran atas, petunjuknya cukup jelas. Cuma ya jalan setelah kampung berupa tanah di tengah hutan. Paling sekitar 10-15 menit dari pos ke parkiran atas 🙂

      Like

  2. Mana foto barengnya, Mas? :hehe :peace.
    Saya bisa merasakan bagaimana euforia saat mendekati air terjun. Mendengar gemuruh dahsyat di kejauhan, membuat hati demikian semangat, dan klimaksnya saat melihat curahan air deras menghujam sampai ke dasar, mengubah formasi bebatuan dan menciptakan aliran air yang luar biasa indahnya! (Dulu cuma sempat ke Coban Rondo dan itu juga sudah senang banget :haha). Dan di sini satu lokasi bisa ada tiga air terjun, satu air terjun bisa ada tujuh, waduh…).

    Hm, makamnya membuat saya penasaran… sebagai pemburu punden *eh* dan benda-benda arkeologis (dan mistis :hihi) pasti ada cerita yang bisa dibagi rakyat sekitar sana… :hehe. Keren sekali! Semoga ekosistem di sana selalu terjaga agar keindahan Coban Sumber Pitu bisa langgeng sampai masa anak cucu kelak :amin.

    Mas Rifqy selalu piawai kalau sudah foto dengan slow shutter speed :hehe. Tidak terlihat washed out begitu gambarnya, cahayanya pas tapi efek flowingnya dapat banget… halus-halus fotonya Mas, keren! (note to self: mulai menabung untuk membeli filter CPL :hehe).

    Like

    1. Yuk Mas, cuma satu jam trekking kok 😀

      Saya sebenarnya juga penasaran. Namun karena tidak ada warga setempat di situ dan saya agak gak enak karena lagi jalan rame-rame, jadinya masih mengira-ngira saja. Tidak berani ambil fotonya juga. Tapi saya sepakat, pasti ada cerita di sana 🙂

      Ah enggak Mas, cuma mencoba praktek dari teori yang sudah ada. Dan dibantu dengan filter ND kalau buat slow speednya. Cukup terjangkau kok 😀

      Like

  3. Objek air terjun memang bikin seger pandangan dan gak ada bosannya. Birunya langit menambah keindahan objek tempat ini. Nice shoot. Memang cukup sulit untuk tetap konsisten dalam menulis ya itupun yang aku alami juga 😀 *nyimakyangdiatas*

    Like

    1. Hahaha, iya begitulah. Kalau sudah bergumul sama skripsi *ups* jadinya agak terbengkalai 😀

      Air terjun memang seger Mbak, 🙂

      Like

    1. Kalau yang pas trekking awal-awal rata-rata ISO 100 aja Mbak, terus pake bukaan medium lah (f/8-11). Lalu shutter speed menyesuaikan. Karena saya nyimpen file mentah, jadinya foto awal tak gelapin dikit, tapi pas ngedit diterangin supaya mendekati kondisi aslinya.

      Kalau air terjun pake tripod Mbak, jadi berani pake ISO 100, bukaan palimg kecil (f/18-f20) dibantu dengan filter ND 8 stop. Jadiknya detiknya bisa agak lama

      Like

      1. Haaa bener loh, mas. Aku juga kemarin abis blusukan ngepit. Eh dapat curug juga, sayang curugnya lagi kemarau, jadi nggak melimpah airnya haaa

        Like

      2. Oalaah, soalnya kan curug itu sendiri sumbernya bisa berbeda, apakah dia murni mata air atau aliran sungai. Kalau murni mata air biasanya mengalir sepanjang tahun.

        Like

      3. Aliran sungai, mas. Kebanyakan di Jogja curug-curug kecil dadakan itu karena aliran sungai. Nggak seperti Sri Gethuk (gunungkidul) yang memang mata air mas.

        Like

      4. Kalo Sri Gethuk itu ramai banget sekarang, mas. Dareah Kulonprogo ada sekitar 5 air terjun (mata air) yang bagus. Di Purworejo malah ada yang bagus juga, 😀

        Like

  4. Tiket masuknya 10.000 per orang, Qy? Lumayan mahal juga ya untuk air terjun yang belum ditata jadi bagus akses menuju masing-masing lokasinya. Tapi pemandangan Coban Pitu memang ciamik banget, ikut termangu lihat fotonya hehehe.

    Like

    1. Kalau menurut saya, 10.000 itu sudah wajar, murah dan sangat sepadan. Karena masih dikelola oleh desa. Upaya pembangunan tempat perkemahan, pos retribusi, tempat parkir atas, MCK, penataan jalan setapak, pengamananan jalur di beberapa titik yang curam, semuanya dikelola warga desa. Dan saya lihat saat Sabtu-Minggu selalu ada ramai pengunjung, bahkan hari biasa pun masih ada pengunjung. Jadi harga tidak ada korelasi dengan kunjungan wisatawan. Sekalipun sudah terbuka, tetap saja berasa jiwa petualangannya karena cukup jauh (1,5 jam jalan kaki). Bahkan jangan sampai dibagusin jalannya, karena di sana hutan rakyat, banyak ladang, jadi sebenarnya sudah ada rambu-rambu, ya kalau mau ke sana ya harus mau repot dan persiapan yang baik. Cukup jalan dicor beton sampai kampung terakhir, sisanya ya off road. Kalau musim penghujan, ya parkir di bumi perkemahan, selanjutnya memberdayakan tukang ojek diantar ke parkir atas.

      Ini menurut hasil pengamatan saya Mas, hehe 🙂

      Like

      1. Ya kan saya bilang Lan, kalau ini sementara dikelola warga desa, jadi swadaya. Kalaupun toh nanti diambil alih Pemkab/Perhutani, tetap saja kalau saya maunya aksesnya diperbaiki mentok sampai kampung terakhir saja. Sisanya biarkan alami, seperti yang dilakukan Pemkab Banyuwangi terhadap Teluk Ijo di TN Meru Betiri. Paling cuma ngasi penataan jalan setapak, pembatas pengaman jalur dan rambu-rambu.

        Like

  5. Subhanallah! Ada tempat semenarik ini di Malang. Satu lokasi air terjunnya ada banyak. Eh, tapi Coban Papat aku hitung dari fotomu kok malah ada aliran airnya ada 6 ya? 😀

    Suatu saat memang aku harus balik ke Malang lagi deh Qy. Seminggu di sana, sehari satu coban gitu seru kayaknya, hehehe.

    Eh, coban tunggal, coban papat, coban pitu ini bersih dari sampah nggak Qy? Klo besaran retribusinya segitu, mungkin ada juru bersih2nya ya?

    Like

    1. Ya saya juga mikir begitu Mas, entahlah penamaan seperti ini kan warga setempat yang ngasi. Pitu itu sendiri kan sebenarnya semacam filosofi, mungkin begitupun dengan Coban Papat. Seru Mas, melimpah 😀

      Sebenarnya sampah itu kebanyakan dari pengunjung, tapi di sekitar air terjun dan air terjunnya sendiri cukup bersih. Paling di sepanjang perjalanan ada bungkus2 kemasan.

      Like

      1. Nggg… pas td ngendog aku mendadak dapat pemikiran. Apa mungkin nama Coban Papat itu artinya Coban yang keempat ya? Karena Coban Tunggal itu (siapa tahu) bisa diartikan jadi Coban yang pertama. Berarti klo gitu karena ada Coban Pitu berarti di sana seenggaknya ada 7 Coban. Pemikiran ngawur ini Qy, hahaha 😀

        Like

  6. Saiki aku ngerti kang, kenapa dirimu awake kuru. Soale tak woco woco artikelmu, awakmu kakehan mikir. HAHAHAHHA.

    Btw, aku bukan penggemar awan yg biru banget koyok ngono kuwi hahaha.. Dadi koyoke aku gak perlu tuku CPL hahaha..

    Like

    1. Hehe, mboten nopo-nopo Mas, seng penting mangane gak lali.

      Iya, itu tergantung selera saja sih Mas. Karena saat kemarin itu langitnya beneran biru banget. Makanya penggunaan filter ini membantu supaya mendekati kondisi aslinya.

      Like

    1. Terima kasih. Kalau untuk setting sih sebenarnya menyesuaikan kondisi lapangan. Khusus untuk air terjun, saya pakai setting manual dan kamera di atas tripod. ISO 100. Karena saya pakai filter ND 8-stop, maka saya menyesuaikan aperture sekitar f/18-20 supaya dapat shutter speed lambat di atas 2,5-3,2 detik sehingga lebih halus.

      Like

    1. Laa kan belum jalan kok udah encok Mbak? Hehehe. Dicoba saja dulu, ngos-ngosan pasti, tapi kan pelan-pelan akhirnya nyampe juga 🙂

      Like

  7. Kalau ke air terjun selalu begitu ya medannya. Naik turun dan licin — dua hal yang membuat nyali bergetar 😀

    Ngomong-ngomong, entah karena teknik pengambilan fotonya yang lebih bagus atau memang lebih bagus dari sononya, aku lebih suka Coban Tunggal.

    Like

    1. Hehehe, inggih Mas. Apalagi yang ke Sumberpitunya, curam 😀

      Sama Mas, saya juga lebih suka Coban Tunggal, karena dia punya kolam dan debitnya gede 🙂

      Like

    1. Beneran Mas. Di Pujon Kidul. Njenengan kalau dari arah Jombang, persis sebelum Patung sapi yang ke Coban Rondo itu ada gang di kanan jalan, sebelah pangkalan ojek. Masuk terus wes sampai ketemu plang Gerojokan Pitu/Sumber Pitu 🙂

      Like

  8. Masya Allah, luar biasa indahnya, Qy! Tracking-nya lumayan pun yes. Hahaha. Kalo aku mesti menggeh-menggeh bingits itu, trus berkali-kali minta istirahat. Umuuurrr .. :’)))

    Btw, slow speed-annya kereeennn ..

    Like

    1. Lumayan Mbak menggos-menggos hehehe. Tidak apa-apa, makanya enak pagi-pagi, supaya nyantai jalannya. Dinikmati saja, pelan-pelan nyampe kok 🙂

      Like

    1. Lho Mbak saya ga pake baju *eh* hahaha 😀

      Saya pakai filter ND8 mbak, lalu kebetulan pas agak mendung, jadi membantu banget buat shutter speed di atas 2-3 detik dengan bukaan diafragma terkecil f/16-f/22. Menyesuaikan saja 🙂

      Like

    1. Terima kasih koreksinya, saya sebenarnya sedang berusaha supaya berbahasa lebih sederhana, pengen sekali suatu saat tanpa menyelipkan banyak foto. Makasih 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s