Saya Juga Orang Jawa

Saya melangkah keluar dari kompleks Istana Tamalate (Balla Lompoa). Berjalan dengan langkah agak tergesa di luar sisi sayap kanan istana. Tak ada niat dikejar waktu, tetapi panasnya siang di kota Gowa membuat tetesan keringat tak sepadan dengan jarak tempuh saya berjalan.

Kembali bertemu jalan raya tempat pete-pete (sejenis angkutan kota) yang saya tumpangi saat berangkat melintas. Lalu berbelok ke kiri, ke arah kota Makassar. Berjalan cepat di atas trotoar yang keras. Suara klakson bertalu-talu, tak peduli kendaraan apakah itu. Pete-pete merah pun dengan percaya diri membunyikan klakson dan musik sama lantangnya. Ada “panggung” berjalan, pikir saya.

Langkah kaki saya melambat ketika mata terpaku pada sebuah gerobak di seberang jalan. Tanpa pikir panjang, saya menyeberang. Setidaknya, saya bisa berteduh dan istirahat sejenak. Menebus buliran-buliran peluh yang terbuang dengan asupan energi.

Seiring langkah saya yang mendekati gerobak bernama Agung Rejeki itu, sesosok pria bertopi dan berkaus kerah putih menghampiri. Tak perlu curiga atau memandang penuh tanya, jelas dialah pemilik gerobak dan seisinya ini.

* * *

“Pak, baksonya satu porsi ya,” pinta saya kepada Bapak bertopi dan berkaus kerah putih itu. Saya lalu duduk di salah satu di antara tiga kursi plastik miliknya.

Tanpa waktu lama, tak perlu mencatat pesanan dalam kertas kosong layaknya di rumah makan, Bapak itu dengan gesit melayani pesanan saya.

Seporsi mangkuk berkuah panas itu berpindah dari tangannya ke tangan saya. Sudah pukul 11 siang, dan ini adalah sarapan saya hari ini. Bisa dibilang sebagai bagian dari penghematan anggaran perjalanan. Permulaan makan dimulai dengan menyeruput kuahnya yang panas.

“Rumahnya mana, Mas?” tanya penjual bakso itu memecah keheningan di antara keramaian jalan. Lalu ia duduk di sebelah saya.

“Saya dari Malang, Pak. Tapi lahir di Pacitan,” jawab saya santai. Raut mukanya berubah, mungkin agak terkejut.

“Oalah, wong Jowo, tho. Ada acara apa ke sini?” tanyanya lagi.

“Jalan-jalan pak, liburan. Mumpung ada tiket pesawat promo, hehehe,” ujar saya, “Asmanipun njenengan sinten Pak? Asli pundi?” Saya balik bertanya nama dan asalnya.

“Sugiyanto, Mas. Aku asli Sragen.”

Dugaan saya benar. Penjual bakso ini dari Jawa Tengah. Tak lama kemudian, muncul lalu lalang anak-anak sekolah berseragam putih biru. Di antara mereka, seorang siswi berjilbab menghampiri kami.

Iki anakku, Mas. Lahir nang Makassar,” ujarnya. Sang anak lalu duduk di samping bapaknya. Kami saling berbalas senyum.

“Sudah berapa tahun Bapak merantau?”

Ono paling 20 tahun.”

Saya hanya bisa membuka mulut lebar-lebar. Terperangah. Luar biasa.  Pantas saja ketika melayani pembeli lain selagi saya makan, ia cukup fasih bercakap dengan logat Bugis. Dan sepertinya Pak Sugiyanto memiliki pelanggan setia, salah satunya seorang pemilik toko yang terasnya dipakai lapak berjualan bakso.

Pak Sugiyanto, penjual bakso asli dari Sragen, Jawa Tengah
Pak Sugiyanto, penjual bakso asli dari Sragen, Jawa Tengah

Anak perempuan Pak Sugiyanto beranjak dari tempat duduknya. Ia dipanggil teman-teman sekolahnya. Sepertinya bel masuk sekolah siang sudah berdentang. Sekolahnya persis di sebelah tempat kami duduk. Hanya dibatasi pagar sekolah. Dengan penuh takzim, sang anak mencium tangan bapaknya. Pamit sejenak untuk menuntut ilmu. Saya yakin dalam diamnya, sang bapak berharap anak perempuannya dapat sekolah setinggi mungkin. Tak lain, agar nasib hidupnya lebih baik dari bapaknya. Ini adalah sebuah kisah perantauan yang tak mudah. Perantauan saya menempuh studi sarjana di Malang masih belum layak disandingkan dengannya.

Sesaat setelah sang anak pergi, saya pun usai menyantap bakso yang segar ini. Sayang sekali saya harus segera bergegas kembali ke Kota Makassar. Selembar uang merah lima digit ditukar dengan tiga lembar uang bergambar sang kapten perang, Pattimura.

Maturnuwun, Pak. Kulo nyuwun pamit, mau lanjut ke Losari,” tanganku menjabat erat tangannya. Kami berpamitan.

Nggih, Mas, seng ngati-ati,” ucapnya.

* * *

Saya kembali berjalan menuju pertigaan di seberang sana. Masih terngiang pertemuan tak terduga tadi. Saat berjalan ke luar kota atau pulau, saya sangat menyukai bahkan mencari pertemuan dengan orang perantauan. Bukankah Imam Syafi’i menuliskan bait-bait syair yang indah tentang mulianya merantau di negeri orang? Dalam penutup syairnya, Imam Syafi’i berkata, “Jika engkau tinggalkan tempat kelahiranmu, engkau akan menemui derajat yang mulia di tempat yang baru, dan engkau bagaikan emas sudah terangkat dari tempatnya.”

Saya mencegat pete-pete merah di pertigaan besar itu. Saya kembali duduk di dalam sebuah transportasi publik yang pengap dan gerah. Ini sudah lewat tengah hari. Terik matahari selalu menemukan celah memanggang seisi pete-pete. Besi-besi yang membentuk bodi pete-pete ini jelas merupakan penghantar panas yang baik. Posisi saya di bangku depan sebelah sopir semakin menambah deras keringat yang bercucuran. Berjalan dan diam sama-sama menghasilkan keringat deras. Ini musim kemarau yang panas! Kemacetan yang sempat menghambat tak pelak membuat saya hanya bisa berpasrah diri menahan panas.

Pete-pete yang saya tumpangi berhenti di depan sebuah tugu yang tinggi. Monumen Mandala, sebuah saksi bisu mengenang pembebasan Irian Barat. Mengenang perjuangan melepaskan belenggu kolonial agar Irian Barat kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Dalam perjalanan negeri ini, terlihat nyata monumen itu masih bertahan. Kenangan dari perjuangan tersebut menyertai sejumput harapan saya agar Indonesia tetap menjaga tanah Papua.

* * *

Jalan Somba Opu yang padat pertokoan
Jalan Somba Opu yang padat pertokoan

Saya melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, usai membuang lelah di sebuah taman yang tak jauh dari Fort Rotterdam. Saya hanya mampir sebentar di benteng kura-kura itu.

Saya susuri kawasan pertokoan di sepanjang Jalan Somba Opu. Untuk sejenak, bangunan-bangunan toko melindungi saya dari teriknya matahari. Bangunan-bangunan toko yang berdempetan menciptakan suasana teduh. Setidaknya teduh, meskipun sebagian juragan dan karyawan toko tetap sibuk memainkan kipas.

Allahu akbar… Allahu akbar…

Allahu akbar… Allahu akbar…

Asyhadu alla ilaha illallah… Asyhadu alla ilaha illallah…

Asyhadu anna muhammadar rasulullah…. Asyhadu anna muhammadar rasulullah….

Ah! Sudah masuk waktu Asar rupanya. Saya mencari sumber suara azan itu. Ternyata berasal dari masjid kecil yang terimpit bangunan pertokoan. Saya bergegas masuk, menitipkan alas kaki pada seorang remaja tanggung. Ia bertugas menjaga barang titipan jamaah masjid.

Bilasan air wudu menjadi obat kesegaran setelah berpeluh melintasi kota Makassar. Sebuah kelegaan masih sempat bersimpuh dan menunaikan ibadah di atas karpet masjid yang empuk.

Sebelum terlena dan tertidur di dalam masjid, saya segera bangkit dari duduk dan melangkah keluar dari masjid. Tak lupa saya berikan uang infak sepantasnya ke dalam kotak amal, setelah saya mengambil kembali alas kaki yang dititipkan.

Angin pantai yang kering semakin terasa ketika saya meninggalkan masjid. Meninggalkan ruas jalan Somba Opu. Langkah kaki bergeser ke seberang, menginjakkan kaki di atas anjungan pantai yang agak kusam. Matahari kembali tanpa sungkan menyapa lapisan kulit sawo matang ini. Situasi yang membuat saya mempercepat langkah menuju seorang penjual es buah yang sedang mangkal. Persis di depan anjungan bertuliskan “PANTAI LOSARI”. Di bawah pohon yang rindang, saya segera duduk dan memesan seporsi es buah. Dengan cepat, semangkuk es buah sudah berpindah tangan.

“Rumahnya mana, Mas?” tanya penjual es buah itu tiba-tiba.

“Saya dari Malang, Pak. Tapi lahir di Pacitan,” jawab saya belepotan sembari menyeruput sesuap irisan alpukat.

“Oalah, wong Jowo pisan, tho! Aku yo Jowo, Mas.”

Jowonipun pundi, Pak?”

“Tulungagung, Mas. Tapi bojoku wong kene.” jawabnya santai. Orang Jawa beristrikan orang Makassar.

Ah, saya lupa namanya siapa.
Ah, saya lupa namanya siapa.

Percakapan pun menjadi cair karena saya kembali bertemu dengan sesama orang Jawa. Selang beberapa menit kemudian, datang pedagang kripik umbi. Dia asli Benowo, Surabaya. Di belakang kami, ikut nimbrung seorang pedagang pentol dari Gresik. Jadilah, pertemuan ini semacam temu kangen walau saya tak pernah bersua dengan ketiganya. Mendadak siang jelang sore itu menghangat. Hangat karena tali persaudaraan sesama perantauan yang bersua bak kawan lama. Topik utama sore ini adalah pemilihan umum wali kota Makassar yang akan berlangsung.

“Yang ikut nyalon ada 10 pasangan, Mas. Akeh, tho?” sahut orang Tulungagung tadi, “Wakeh wong pede zaman saiki, Mas.” lanjutnya lagi sambil terkekeh.

Baru saja jadi rasan-rasan, iring-iringan konvoi salah satu calon wali kota berlalu di depan kami. Di tengah asyiknya ngobrol, penjual es buah asal Tulungagung itu tiba-tiba secara halus meminta mangkok kosong yang saya pegang.

Sepurane, Mas, aku arep mlaku maneh. Arep ono razia satpol PP,” ujarnya halus sambil tersenyum.

“Oh, nggih, Pak”. Ah, singkat sekali pertemuan ini. Selembar uang Rp 10.000 saya serahkan padanya. Lalu ia pergi meninggalkan tempatnya dengan tergesa-gesa. Tapi saya percaya, Bapak penjual es buah yang tambun itu dapat segera menemukan lapak berjualan yang baru. Beberapa saat setelah ia meninggalkan lokasi, datang mobil Satpol PP berjalan perlahan. Sopir dan penumpang berseragam lengkap di dalamnya celingukan memantau situasi anjungan Pantai Losari.

* * *

Saya masih terduduk di tempat saya menikmati es buah tadi. Menerawang. Baru tahu ternyata sebenarnya kawasan anjungan Pantai Losari ini harus steril dari pedagang kaki lima. Cukup bagus, namun sebaiknya harus ada tempat khusus untuk menampung mereka. Lapak wisata kuliner di seberang anjungan tak akan cukup. Di anjungan masih cukup banyak anak jalanan dan pedagang asongan. Kadang-kadang mereka kucing-kucingan dengan petugas Satpol PP.

Beruntung, saya menemukan penawar haus yang berasa di saat yang tepat. Sungguh meneguk air mineral tak cukup di siang yang terik ini.

Namun di samping itu, saya kembali bertemu dengan orang-orang rantau. Kisah-kisah mereka saat memulai perantauan begitu menggetarkan. Mencari kehidupan yang lebih baik walau hanya sesederhana itu. Meninggalkan tanah kelahiran, lalu menahan hasrat untuk pulang kampung bertahun-tahun karena belum cukupnya tabungan sebenarnya merupakan kisah yang getir. Namun, mereka berpikir setidaknya dapur masih mengepul untuk kebutuhan sehari-hari yang lebih layak disyukuri.

Senja, cepatlah menampakkan diri di Losari
Senja, cepatlah menampakkan diri di Losari

Saya berbalik badan. Mendekati tepi anjungan. Matahari masih saja bersinar terik. Saya datang terlalu awal di Pantai Losari, yang kabarnya merupakan salah satu lokasi terbaik untuk menyaksikan matahari terbenam.

Saya harus terus bergerak untuk memotret, sesekali mencari tempat berteduh. Keringat masih saja mengucur. Sepulang dari sini nanti saya harus mandi selama mungkin. Duh, senja, cepatlah datang! (*)


Foto sampul:
Sisi luar Istana Tamalate

58 thoughts on “Saya Juga Orang Jawa

    1. Ya Mas. Begini, ini penjelasan saya. Analoginya sama seperti kebanyakan orang Padang merantau untuk berdagang, mengapa tidak di Padang saja. Di Rantepao, Toraja Utara yang mayoritas nasrani, saya menemukan rumah makan khas Jawa Timur (Suroboyoan). Jelas sekali, di daerah yang mayoritas nasrani dan (maaf) banyak yang mengkonsumsi daging babi, tentu keberadaan mereka membuat aman bagi pejalan yang muslim. Karena sudah dijamin halal.

      Begitu pula dengan mereka, atau pedagang asal Jawa yang merantau di luar pulau. Keberadaan mereka seringkali menjadi rujukan bagi pemukim/perantau pula yang rindu kuliner kampung halaman. Selain itu, tujuan lainnya adalah untuk pemerataan populasi penduduk. Jawa sudah terlalu sentral, perlu diseimbangkan bebannya di pulau-pulau lain yang masih sangat potensial. Daripada merantau ke ibukota, lebih baik ke luar pulau. Tantangan dan kesulitan itu pasti ada, tetapi hadis Imam Bukhari seperti yang saya sebut di atas meyakinkan pemikiran saya tentang arti perantauan.

      Bapak saya pernah bilang, merantaulah, keluarlah, supaya tahu bumi Allah itu luas. Supaya kita tahu, kita bisa melakukan yang terbaik juga bagi orang yang bukan serumpun 🙂

      Like

    1. Iya Mbak, dan besoknya balik lagi ke Balla Lompoa, Fort Rotterdam dan Losari 😀

      Iya Mbak, temu kangen. Mereka kangen kampung halaman yang sudah ditinggalkan puluhan tahun lalu 🙂

      Like

    1. Hmmm, mereka tidak mau dikasihani. Mereka patut dihargai dan diapresiasi. Merantau dan bertahan hidup di tanah perantauan itu tidak mudah, namun niat perantauan mereka baik kok 🙂

      Like

  1. Dirimu disapa “Mas” dan ditanya “rumahnya di mana” itu karena rupamu nJawani atau logatmu cen medok yo Qy? Hehehe. 😀

    Aku ke Makassar nggak nemu yang “kayak gituan” je. Malah ketemunya di pelosok hutan di Sulawesi Tenggara, ada hunian transmigran asal Jawa. Serasa blusukan di Jawa padahal di Sulawesi, hahaha. 😀

    Like

    1. Bisa jadi demikian Mas hehehe.

      Saya percaya, pertemuan itu tidak ada yang kebetulan. Semua sudah diatur oleh-Nya. Jika variannya demikian, berarti luar biasa arti perantauan itu 🙂

      Like

  2. Mas, nanti kalo ke Karimunjawa jangan kaget kalau ada orang tua yg tidak bisa bahasa Jawa. Haaaa, di sana bahasanya campur ada Jawa, Bugis, Madura 😀

    Like

    1. Banyak, tak hanya di Sulawesi Selatan. Di seluruh penjuru Indonesia pasti ada kisah perantauan, utamanya orang Jawa 🙂

      Like

  3. Orang jawa memang kemana – mana kok 😀 jauh jauh ke negara orang juga ketemunya orang jawa~ Kayak kemaren di malaysia, beli bakso ketemunya ibuk – ibuk dari surabaya 😀 dan kalau sudah ketemu sesama orang jawa pasti ngomongnya langsung ganti pake bahasa jawa 😀

    Like

    1. Iya Mas Fahmi, karena itulah saya mencoba belajar mengangkat cerita itu di sini, walau saya akui porsinya masih kurang. Ingin sekali menempatkan mereka sebagai “pemeran/tokoh utama” dalam cerita. Entah dengan yang lainnya, saya selalu terkesan dengan orang-orang perantauan. Tertarik lebih jauh mengulik latar belakang dan motivasinya untuk merantau.

      Seperti juga waktu berkesempatan ke Kuala Lumpur, diajak menyambangi orang tua teman saya (yang dia juga ikut) di sana. Saya tinggal di sebuah rumah atau kos-kosan banyak kamar beratap seng yang ditinggali bertahun-tahun. Dapat dibayangkan bagaimana mereka bertahan hidup di negeri jiran 🙂

      Like

  4. Satu yang saya pelajari dari sini adalah bagaimana seorang pejalan harus menemukan kemampuan untuk nge-blend dengan penduduk lokal di sekitarnya. Satu skill yang masih beginner banget levelnya dalam diri saya dan mesti saya asah terus. Yah, paling tidak kemarin saya sudah mengobrol dengan beberapa satpam candi… :haha. Salut dengan caramu mendekati penduduk sekitar, Mas! :hehe.

    Saya sudah cukup akrab dengan merantau soalnya bapak ibu saya juga seorang perantau lintas pulau juga meski masih segaris :hehe. Intinya adalah kalau jauh dari keluarga lama, coba buat keluarga baru agar keluarga jadi banyak, sehingga mau pergi ke mana pun, semua orang bisa kita sebut keluarga :)).

    Like

    1. Ah Mas Gara bisa saja pakai level-level segala hehehe. Saya sangat suka bersosialisasi, terbuka dengan batas-batas yang ada. Saya percaya jika diniati secara baik, akan berbalas kebaikan pula.

      Itu benar, setuju banget! Keluarga bukan hanya terkungkung oleh atap rumah. Melainkan juga rasa sama-sama saling menanggung susah dan senang, maka itu juga keluarga. Definisi keluarga menjadi luas 🙂

      Like

  5. Suasana kekeluargaan langsung terasa ya Qi kalau ketemu orang yang sedaerah sama kita 😀

    Jadi inget pas di Kupang dulu. Pas hujan2, neduh di warung bakso sekitar kota lama. Pas pesen bakso, aku nanyain ada lontong apa enggak (pake bahasa Indonesia), sama mas2 e dijawab “di sini sonde ada lontong”. EH ga berselang lama pas temennya datang, mereka ngobrolnya pake bahasa Jawa. Tibaknya mas2 yang jual bakso ini wong Solo

    Like

    1. Iya Mbak Dian, hehehe. Nah, kan? Kalau ada yang jual bakso dan rasanya khas, bisa jadi orang Jawa Tengah yang jualan, khususnya Solo. Paling suka momen ketika sama-sama tahu dari daerah yang sama, lalu nyeletuk bareng: “Loaaalaah, njelalah podo Jowone!” 😀

      Like

  6. Ah jadi kangen Makassar. Rupa pantai Losari sekarang pasti beda dengan jamanku kecil dulu *ya iyalaaaah* 😀

    Btw, pas lihat foto jalan Somba Opu, jadi ingat kalau dulu pernah belajar dan bisa nulis aksara Lontara. Saiki wis lali blasss ….

    Like

    1. Wah pernah mukim di Makassar Mas? Atau pernah jalan-jalan ke sana waktu kecil?

      Saya malah belum paham soal aksara Lontara 😀

      Like

  7. Dulu ada salah satu pegawai ayahku yang orang Cirebon. Dia selalu menyebut, “kami orang Jawa”.
    “Orang Jakarta ya orang Jawa juga kan?” eh kata mereka beda. Dalam pemikiranku ya kan sama-sama di pulau Jawa. hehe, ternyata kalau sudah bilang, “Saya orang Jawa” itu bicara kesukuan ya 🙂

    Like

    1. Saya dulu juga pernah mengutarakan pendapat seperti itu ke teman-teman asal Jakarta/Sunda. Ternyata meskipun masih satu pulau, mereka merasa bukan orang Jawa hehehe. Jadi memang benar kata njenengan, sudah bicara soal kesukuan 🙂

      Like

    1. Pacitan Mas saya 😀

      Iya ya, tapi saya selalu senang dan sumringah kalau ketemu orang Jawa di perantauan 🙂

      Like

    1. Hmmm, begitu ya Mas. Iyah, mungkin bakso merupakan mayoritas makanan khas dari Jawa, sehingga dibawa ke Sulawesi.

      Like

    1. Ehm enggak sih sebenarnya Mbak, hehe. Soalnya kalau foto portrait saya suka hitam putih, makanya foto objek lain ngikut hitam putih biar ndak warna-warni 😀

      Like

    1. Woalah, ternyata punya darah Jawa. Yaa kalau sudah lama merantau begitu keturunan-keturunannya jadi gak kelihatan Jawanya 😀

      Like

    1. Hehehe. Intinya adalah kita akan senang bertemu dengan orang-orang serumpun di tempat yang jauh dari kampung halaman ya Mas 🙂

      Like

      1. bener banget dan disitu gw akhirnya mengajak bercerita alias gw tanya2 knp bisa sampai kesini dsb.
        Dari perbincangan itu, kita belajar banyak ttg arti sebuah hidup

        Like

      2. “arti sebuah hidup”, sudut pandang lain benar dan memang kita dapatkan dari orang lain 🙂

        Like

    1. Iya Mbak, apalagi dari Solo/Jateng atau Malang yang sudah terkenal punya ciri khas. Salutlah sama pedagang-pedagang perantauan 🙂

      Like

  8. Sihir ke-Jawa-an memang ampuh dalam perjalanan mas, waktu saya ke Lombok banyak sekali dibantu orang2 sana yang belum pernah saya kenal sebelumnya ya gara-gara Jowo… Inspiratif! 🙂

    Like

    1. Itulah berkah dari kaum yang serumpun, walaupun tak serumpun pun sesama Indonesia pasti saling membantu. 🙂

      Like

  9. Assalamualaikum mas… maaf numpang komentar, mumpung blognya rame nih.

    Mungkin dari kita ada yang belum tahu, jadi ini kesempatan saya untuk meluruskan beberapa kesalahpahaman.

    Banyak yang bertanya-tanya kenapa etnis pribumi sesama pulau Jawa seperti Banten, Sunda, Betawi, dan Cirebon tidak mau disebut orang Jawa. Padahal kan secara logika masih sama-sama tinggal di pulau Jawa.

    Ini karena menurut mereka, kalimat “Orang Jawa” dan kata “Jawa” itu merujuk ke nama etnis, bukan pulau. Jelas kalau mereka memiliki bahasa dan kebudayaan yang terpisah dari Jawa, meski pastinya ada lah yang miripnya, seperti kasus etnis Minang dan Melayu Riau. Jadi mereka tidak mau disebut orang Jawa. Tapi kalau kalimatnya “Orang pulau Jawa” atau “Pulau Jawa”, mereka tidak mempermasalahkannya, mereka tahu itu merujuk ke nama pulau.

    Ini juga termasuk panggilan-panggilan pada orang lain. Pernah ada tetangga Jawa (orang baru disini) saya yang curhat, katanya kenapa orang Sunda gak mau dipanggil Mas, Mbak? Padahal kan mereka orang Jawa juga.

    Nah kembali ke masalah etnis tadi, mereka kan sudah punya bahasa dan kebudayaan sendiri, jadi mereka gak mau dipanggil Mbak/Mas, karena sudah ada panggilannya sendiri, yaitu Akang/Aa/Teteh/Neng, dll. Yang Betawi mungkin Bang/Non.

    Jadi saya harap kita semua, khususnya yang disini dapat lebih mengenal negeri kita ini. Dengan begitu kita dapat mengenal orang lain, dengan begitu pun kita mengenal diri sendiri; dan dari situ kita belajar menghargai-menghormati orang lain dan diri sendiri juga.

    Salam, saya blasteran Minang-Sunda, tapi udah condong ke Sunda sih, dan emang besarnya disini, di Jabar, tanah tumpah darahku. Tempat susah senang, dan tempat bertemu sama orang-orang dari berbagai pelosok Indonesia, dan juga bule-bule yang pake celana pendek dan tas ransel itu. Jadi agak hilang ke Minangannya. Hehehe.

    Hmmm… satu lagi sekedar berbagi cerita, ternyata emang bener ya orang Jawa ada dimana-mana. Kalau mau dilihat dari etnis-etnisan gitu, sebenernya orang Sunda di Jabar itu gak terlalu banyak, apalagi yang tidak bercampur dengan orang Jawa saat Mataram berkuasa, dikit banget. Yang sekarang itu banyaknya campuran, atau orang Jawa yang menjadi (melebur) jadi orang Sunda. Yang generasi Pajajaran dahulu, udah dikit banget. Ini cerita kakek dari Ayah saya yang Sunda. Dan memang kebanyakan orang Jawa yang ke Jawa Barat (aka Sunda), cenderung meleburkan diri, mereka membiarkan anak-anaknya mengadopsi Kesundaan. Tapi ada juga sih beberapa yang fanatik sama Kejawaannya, tapi itu dikit banget. Ibaratnya pindah kewarganegaraan lah.

    Jawa Barat itu menurut saya lebih beragam daripada Jawa Tengah atau Timur yang kental budaya lokalnya. Orang-orang banyak yang pengen tinggal disini, jadi orang sini.

    Yah gak apa-apasih mau jadi orang mana juga, mau pindah ke suku atau etnis atau negara mana juga, asal jangan pindah akidah aja.

    Like

    1. Masya Allah, luar biasa komentar dan opini njenengan sangat mencerahkan! 🙂

      Benar, judul yang saya pakai di sini memang merujuk pada kesamaan etnis/suku. Namun saya berprinsip bahwa semua orang itu sama di hadapan Tuhan. Sama-sama ciptaan Tuhan, dari tanah. Keberagaman suku/etnis bagi saya merupakan anugrah Tuhan supaya kita bisa belajar berbaur, berkenalan, dan bekerja bersama tanpa harus mempermasalahkan dari manakah asal kita. Inilah kemajemukan, dan saya berusaha menghormati dan menghargai siapapun yang saya temui.

      Tetapi saya kadang kerap tetap bergaul dengan tradisi Jawa meskipun bertemu dengan orang dari suku lain, misal saat menyapa dengan Mas/Mbak atau Njenengan, sampeyan. Karena bagi saya wajib hukumnya memberi penghargaan tertinggi bagi orang lain sekalipun itu sapaan. Tapi apabila keberatan, tentu saya menyesuaikan dengan apa yang diinginkan oleh orang tersebut. Fleksibel, luwes, inilah hebatnya nusantara. Semua suku/etnis adalah hebat, punya khas masing-masing. Saling mengenal menjadikan kita saling belajar dan erat, karena sesungguhnya kemajemukan yang senasib sepenanggungan inilah senjata terbesar bangsa Indonesia melewati arus zaman.

      Soal aqidah, itu adalah ranah bagi yang bersangkutan dengan Tuhannya. Tapi soal sosial dan berkawan, itu meretas batas-batas golongan. Namun sekali lagi terima kasih atas wawasan dan opininya yang semoga memberi penyegaran luas bagi yang lain. Salam 🙂

      Like

  10. Bapak saya orang jawa mas, nikah sama ibu yang orang bugis dikalimantan. Pastinya saya keturunan Jawa juga dong, hehe. Saya baru 10 bulan di tanah jawa dan semakin kesini tau bagaimana rasanya jadi orang perantauan. Betul kata mas, berhijrah lah. Karena bumi Allah itu luas. Di tanah jawa saya banyak menemukan hal-hal baru dan pelajaran hidup yang sangat berharga.

    Like

    1. Wah Jawa dan Kalimantan, menarik sekali kisahnya. Saya malah berharap agar orang-orang Jawa mau merantau dan berkiprah di luar pulau. Agar turut menyumbang pemerataan kesejahteraan untuk bangsa besar ini 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s