Pantai Buyutan, Tempat Matahari Kembali ke Peraduan

Selamat datang. Sugeng rawuh. Begitu yang terdengar, suara-suara sambutan dari alam dan lingkungan setempat. Dari nyiur yang bergoyang gemulai, hingga angin khas pesisir yang berdesir. Dari jalan aspal yang membelah perkampungan, hingga jalan rabat yang membelah ladang dan pematang sawah.

Deru mesin dan laju motor saya akhirnya terhenti di sebuah tempat lapang bergelombang. Standar samping motor menancap kokoh di tanah. Bersama Uki-teman seperjalanan-, kami segera bergegas turun ke tepi pantai. Ini kedatangan kali kedua bagi kami, dan akses turun ke pantai sudah dicor. Jalannya meliuk, tak seterjal dulu.

Bagian awal jalan tersebut masih diperbaiki. Hanya menyisakan celah sedikit untuk dilewati satu motor. Saya pikir masih bisa dilewati. Nanti sajalah, ketika sudah beranjak petang. Tahu-tahu, Uki yang membawa carrier 75+10 liter sudah berjalan jauh di depan. Karena berat, ia ingin segera sampai di tepi pantai.

Hanya berjalan beberapa puluh meter saja, keringat sudah mengucur deras. Siang ini kami seperti terpanggang. Sayup-sayup warung beratap terpal terlihat dekat. Onggokan buah kelapa yang berserakan menjadi penegas. Kami harus minum es degan!

* * *

Kami menemukan tempat yang cukup nyaman untuk mendirikan tenda. Di antara tumbuhan pantai. Di sebelah kiri warung yang sedang tak digunakan. Kami menggunakannya sebagai “dapur”. Meja kayunya untuk tempat meracik bumbu nanti. Tiang-tiang kayunya untuk tempat jemuran. Karena masih panas, pintu tenda yang menghadap ke laut selatan dibiarkan terbuka.

“Ki, aku pesankan es degan ya? Biar segar,” tawar saya ke Uki yang masih sibuk merapikan barang ke dalam tenda.

“Iya, pakde.” Pakde, sapaan saya sejak awal kuliah. Keberadaan kumis dan jenggot tipis di wajah saya adalah alasan disapa pakde. 

Saya segera menghampiri seorang Ibu penjual es degan di warung sebelah. Warung di sebelah warung yang kosong. Di sana lebih teduh, karena beratapkan terpal. Beralaskan spanduk lebar untuk duduk lesehan.

“Bu, es deganipun kalih nggih?” Dua gelas es degan saya pesan kepadanya.

“Oh nggih, Mas. Sekedap, nggih,” jawab penjual es degan itu. Sang Ibu mengiyakan dan meminta kami bersabar menunggu. Tentu dipungkasi dengan senyum tulus khas warga desa.

Warungnya tak kalah laris dari dua warung besar di sebelah timur dari tempat kami camp. Makanan dan minuman yang dijual pun sama, tak jauh seputar pop mi, kopi, mi instan, dan es degan. Tapi siang itu, es degan menjadi dagangan terlaris di warung sang Ibu. Tak hanya kami yang beli, tetapi juga rombongan touring yang penuh canda membuat suasana siang di warung itu ceria.

Karena masih antri, saya kembali ke tenda. Ikut membantu Uki merapikan barang. Belum waktunya untuk bermalas-malasan di dalam tenda di siang seterik ini. Namanya juga tenda dome yang biasa dipakai di gunung. Flysheet-nya (bagian terluar pelindung tenda dari hujan atau badai) tebal.

Sang Ibu penjual terlihat mendekat ke tenda! Ah saya sampai lupa kalau sudah pesan es degan. Sampai beliau sendiri yang mengantarkan dua gelas es degan ke tenda kami.

“Wah Ibu, pangapunten sampun repot-repot mbetho teng mriki.” Ah, saya jadi sungkan dengannya yang membawakan dua gelas es degan ke tenda kami. Seharusnya saya yang menunggunya dan membawanya sendiri.

Mboten nopo-nopo, Mas,” tukasnya sambil terkekeh, “Saking pundi niki?” 

Saking Malang, Bu. Cuma kulo asli Pacitan mriki, rencang kulo asli Kudus.”

Loalah, Pacitanipun pundi, Mas?”

“Bangunsari Bu, la griyanipun njenengan teng pundi?”

Celak mriki mawon mas, teng dusun inggil menika.”

Ah senangnya sesama orang Pacitan bercakap-cakap. Lalu sang Ibu permisi kembali ke warungnya, melayani pembeli yang lain. Dipikir-pikir, enak juga menyeruput es degan di lesehan warung sang Ibu tadi.

“Ki, ngombe nang warung ae yuk!” ajak saya ke Uki untuk menikmati es degan secara lesehan di warung.

* * *

Matahari bulat sebentar lagi terbenam
Matahari bulat sebentar lagi terbenam

Satu per satu pemilik warung sudah mengemasi dagangannya. Termasuk sang Ibu. Ia berpesan nanti motor saya dibawa turun aja supaya lebih aman. Benar, nanti saja. Setelah menikmati senja.

Kami mulai beringsut dari tenda, berlari-lari kecil agak ke bibir pantai. Ini momen yang ditunggu-tunggu. Warna langit mulai berubah, dari biru berangsur ke kuning keemasan. Matahari bulat melayang di ufuk barat. Batu karang yang menjulang lancip menjadi pemanis senja kali ini.

Dari belakang kami, tiba-tiba menyeruak rombongan wisatawan yang juga gembira. Mereka berlari hingga ke tepi, merasakan deburan ombak selatan. Sisanya, termasuk kami, hanya tertarik berkotor-kotor ria dengan pasir pantai. Hanya tertarik menikmati senja kembali ke peraduan.

Momen "jam emas" sudah tiba
Momen “jam emas” sudah tiba

Setelah cukup lama menunggu, saat-saat “jam emas” itu akhirnya tiba juga. Saat-saat di mana matahari sudah menghilang dari batas cakrawala. Saat-saat di mana matahari undur diri dan langit senja mulai unjuk gigi. Saat-saat di mana kehangatan sang surya berganti dengan angin khas pesisir yang berdesir.

Batu karang lancip itu bak “model” dadakan dalam setiap jepretan foto saya. Sayang untuk dilewatkan sebagai pemanis, sulit memalingkan muka ke arah sebaliknya yang nampak kosong. Batu karang itu memang diam membisu, berdiri tegar. Tapi ia begitu cantik, siluetnya manis. Rombongan wisatawan tadi juga melakukan hal yang sama. Menghadap ke arah batu karang lancip. Menjadikannya sebagai latar belakang foto bersama.

Senja mulai gelap, sebentar lagi malam mengambil alih hari
Senja mulai gelap, sebentar lagi malam mengambil alih hari

Langit semakin merona. Kombinasi gradasi antara warna yang keunguan dan kekuningan. Gradasi yang berbatas pada cakrawala. Garis imaji yang memisahkan langit dengan samudra dan daratan. Senja mulai gelap. Sebentar lagi malam mengambil alih hari. Malam yang juga akan menutup hari.

“Ki, titip kamera sama tripod. Aku arep njupuk motor dhisik nang parkiran.”

* * *

Saya menunggangi motor bertenaga 150cc ini melewati celah di antara tumpukan pasir dan semen. Menuruni jalan cor dengan perlahan. Lampu tunggal motor saya menerangi jalan di depan. Menyorot sangat terang, karena langit sudah gelap.

Jalan cor berganti jalan setapak datar berpasir di antara semak-semak. Saya arahkan motor melewati warung sang Ibu tadi yang kini kosong. Dan akhirnya terparkir rapi persis di belakang tenda. Saya kunci gembok pada bagian cakram rem roda bagian depan.

Selamat malam, Pantai Buyutan
Selamat malam, Pantai Buyutan

Sebelum masuk ke tenda dan menyiapkan makan malam, saya sempatkan menatap laut selatan itu. Terasa pula angin malam di pantai ini masih menderu, bersaing dengan deburan ombak. Tampak gemintang mulai berkerlip namun berjauhan. Cuaca malam ini sangat cerah. Mengingatkan saya akan momen senja tadi.

Apa kabar sang mentari yang sudah kembali ke peraduannya? (*)


Foto sampul:
Pantai Buyutan, Pacitan

56 thoughts on “Pantai Buyutan, Tempat Matahari Kembali ke Peraduan

  1. Selalu ada kejutan dalam setiap postinganmu Mas. Ini rasanya saya ikutan terbuai dengan permainan senja, tegarnya si batu karang yang menjaga image sebagai batu yang dingin, segarnya es degan, dan usaha para bintang untuk tetap bersinar. Semua disaput dengan deskripsi yang padu dan menggelitik, ini masterpiece sekali :)).

    Mas, kalau saya kebetulan ke Pacitan, ajak saya tandang ke sana bolehkah? Pingin kenalan langsung dengan batu karangnya :hehe.

    Like

    1. Ah berlebihan kalau dianggap masterpiece mas Gara. Tulisan ini bukanlah apa-apa 🙂

      Insya Allah, kalau saya luang saya bonceng naik motor menyusuri garis-garis pantai Pacitan, termasuk Buyutan ini 🙂

      Like

    1. Puenak banget! Es degan itu minuman segar sekaligus obat (khususnya yang kelapa muda beneran). Murah banget per buahnya, bisa nambah 🙂

      Like

    1. Hehehe, pantai-pantainya sangat dibanggakan kabupaten kecil ini Mbak, termasuk goa dan batu akiknya. Pariwisatanya menopang perekonomian, karena pertanian pun terkendala lahan kering yang masih banyak 🙂

      Like

    1. Iya Mas, sama pas pagi hari sebelum jam 9, nek cuaca cerah jernih banget. Hehehe, kayak apa aja menjaga jarak. Itu dulunya teluk yang tergerus ombak bertahun-tahun, terus meninggalkan bongkahan karang seperti itu 🙂

      Like

    1. Ah Zahra, bener banget kau menyebut “stupa”! Sedari nulis tadi bingung batu karang itu mirip apa ya, eh kau nyebut stupa 😀

      Yuk ke kampung halamannya Pak SBY 😀

      Like

  2. Pacitan…. dulu pas di sidoarjo pengen kemari ga kesampean. Insyaallah rencananya lebaran ni mo roadtrip kliling jawa timur krn ga mudik ke Aceh…. eh sapa tau bisa ketemu mas Pakdhe :p

    Like

    1. Wah, roadtripnya keren nih keliling timurnya Jawa. Sedikit tips sih, kalau bisa ke pantai-pantai Pacitan jangan pas weekend. Ramai dan macet 🙂

      Hahaha, njenengan adalah salah satu orang yang memanggil saya dengan sebutan “mas” ditambah “Pakdhe” 😀

      Wah Mbak, besok-besok kalau mudik Aceh saya nunut di bagasi boleh ya ngikut? 😀

      Like

    1. Sekitar dua tahunan ini Pantai Buyutan ikut menambah semarak pesona pantai Pacitan yang sudah lama tenar kayak Klayar, Srau, Watu Karung. Kalau berniat menyaksikan sunset, pastikan datang saat musim yang tepat dan harus berkemah! 🙂

      Like

  3. Terima kasih Mas, anggap saja ini lagi curhat 😀

    Hmmm, niatnya malam mau motret milky way, tetapi bulannya terlalu benderang jadi gak kelihatan 😦

    Like

  4. Puitis banget bahasanya. Ritmis.

    Kesederhanaan orang2 di daerah ginilah yang membuatku tetap merasa ‘aman’ jalan2 sendiri keliling Indonesia. Kalau di Bali kayaknya udah jarang yg beginian. Istilahnya tuh, mbatihne banget gitu sama orang yang mungkin gak kenal sebelumnya.

    Like

    1. Pacitan insya Allah sangat “aman” Mas kalau mau berwisata. Yang penting, seperti biasa, menghormati tata norma setempat. Saya kira benar adanya pepatah lain ladang lain belalang 🙂

      Like

  5. Pakde.. Bahasamu dan warna foto-fotomu itu lho.. Minta banget dikangenin..

    Kata Matahari yang kembali ke peraduan dia masih kuat untuk bekerja menyinari belahan bumi yang lainnya Mas,, hihi

    Like

    1. Kamu ga kangen sama aku ta Mas? *ketemu aja belum pernah* 😀

      Waaah jubirnya matahari nih? Bukan ramayana kan? 😀

      Like

    1. Hehehe, begitulah yang namanya ciptaan Allah laku melalui proses bertahun-tahun lamamya hingga terbentuk seperti itu 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s