Pantai Banyu Tibo: Tempat Di Mana Air Sungai Memang Menemui Ujung

Sepeda motor saya berhasil menapaki tanjakan yang berlapis cor. Setelah semalam turut “beristirahat” di bawah. Di tepi Pantai Buyutan, bersama tenda dome kuning yang diisi saya dan Uki (cerita Pantai Buyutan dikisahkan di sini). Dari atas sini, saya langsung tancap gas meninggalkan pantai. Kembali menyusuri jalan rabat di antara pematang sawah, dan meliuk naik turun melewati salah satu perkampungan di Desa Widoro.

Kembali bertemu di pertigaan kecil, motor berbelok ke kiri. Menuju sisi perkampungan yang lain di Desa Widoro. Kira-kira ada sekitar 2 kilometer jaraknya. Pemandangannya masih khas pesisir selatan Pacitan. Nyiur yang menjulang dan bergoyang, tanah merah dengan tepian bukit kapur, dan rumah-rumah warga yang berjarak. Saya mengurangi kecepatan ketika bertemu persimpangan kecil, lalu berbelok ke kiri menyusuri jalan rabat yang sempit. Dulu pernah mengendarai mobil melintasi jalan ini dan repotnya bukan main saking sempitnya. Kini tak perlu harus repot menepi bergantian mengisi lajur.

Tak sampai 15 menit dari pertigaan kecil menuju Pantai Buyutan tadi, motor saya terhenti dan terparkir rapi di ujung jalan. Tepat di hadapan kami, aliran air sungai yang jernih menemui ujungnya. Berjumpa dengan pasir pantai yang bersih diempas ganasnya Samudra Hindia.

* * *

Selamat datang di Pantai Banyu Tibo. Dinamakan demikian karena memang benar-benar ada air (banyu) sungai yang jatuh (tibo) ke laut. Sungai berair jernih yang mengalir sepanjang tahun. Adapun garis pantainya sangat pendek. Cerukannya dikepung dua sisi tebing karst. Pagi itu, hanya segelintir manusia yang terlihat di pantai ini. Dan hanya dua orang (kami) yang berstatus wisatawan. Sisanya adalah warga sekitar pemilik warung yang bersiap menyambut wisatawan, mencuci baju di tepi sungai, dan pemilik tangga untuk turun ke bibir pantai dan air terjun kecil itu. Orang yang disebut terakhir lah yang kami temui langsung. Kami terlibat percakapan singkat yang mengasyikkan.

Memandang pantai dari warung yang teduh Memandang pantai dari warung yang teduh

Saking pundi, Mas?”

Kulo tiang Pacitan mriki, Pak. Saking dusun Jambu, Bangunsari. Rencang kulo niki saking Kudus,” jawab saya dengan bahasa Jawa krama alus.

Kami bertukar pikiran, bertukar pengalaman. Yang tentu bapak itu sudah jauh berpengalaman. Warga setempat, yang tahu rupa pantai ini jauh sebelum menjadi tempat wisata hingga setenar sekarang. Dan saya baru tahu sekarang dari penjelasannya, jika pantai ini menyimpan potensi rumput laut yang luar biasa. Juga salah satu tempat populer berselancar di Pacitan, tak kalah dengan pantai Watu Karung di Kecamatan Pringkuku.

“Banyu tibo niki potensi rumput laute terbesar sak-Kabupaten Pacitan, Mas. Damel selancar nggih saged, kolo mben tiang Australia, Spanyol, menika nggih selancar wonten mriki.

Saya manggut-manggut. Pantai ini hanyalah sekian di antara pantai-pantai lain yang menyimpan potensi alam dan karakteristik yang luar biasa. Hasil tangkapan laut yang populer seperti Pantai Pancer, Pantai Wawaran, Pantai Tawang. Bijih besi terbesar ada di Pantai Ngiroboyo, yang merupakan muara dari Sungai Maron. Tempat selancar ada di Pantai Watu Karung, Pantai Kali Uluh, Teleng Ria, Srau dan di Banyu Tibo ini.

Pantai Banyu Tibo saat ramai pengunjung. Foto tahun 2014, saat saya pertama ke sini. Pantai Banyu Tibo saat ramai pengunjung. Foto tahun 2014, saat saya pertama ke sini.

Biasae rombongan organisasi mahasiswa saking Jogja, Solo, mbetho sak mobil camping wonten mriki.”

Saya mafhum. Bisa membayangkan ramainya pantai ini saat liburan atau akhir pekan. Atau hingga hari beranjak siang ke sore. Garis pantai yang pendek dan cerukan kecil itu diluberi pengunjung dari berbagai daerah. Bisa membayangkan pula saat ada mobil berpapasan di jalan rabat sempit tadi, lalu salah satunya harus mengalah. Menepi ke lahan kosong.

Pantaslah. Di pantai ini air sungai bersua dengan air laut. Pengunjung yang bersimbah air laut asin, langsung membilas diri dengan guyuran air terjun dari sungai yang jernih. Sehingga kamar mandi yang ada lebih berfungsi sebagai kamar ganti. Bahkan Uki pun tergoda menceburkan diri menantang ombak. Lalu membilas diri dengan kucuran banyu tibo yang menyegarkan.

Uki sedang mandi di sana, menantang ombak Samudra Hindia Uki sedang mandi di sana, menantang ombak Samudra Hindia

Setidaknya dia sudah mandi pagi ini, sementara saya belum. Dasar pemalas.

* * *

Pacitan termasuk salah satu kabupaten yang kering di Jawa Timur. Termasuk dalam gugusan pegunungan karst Gunung Sewu yang memanjang hingga Wonogiri dan Gunungkidul, musim kemarau menjadikan air menjadi sulit. Sudah menjadi lumrah melihat banyak warga dusun di pegunungan kapur turun ke desa bawah untuk mendapatkan air. Berjalan kaki hingga 4-5 kilometer jauhnya setiap hari, memanggul jeriken besar di atas pundak.

Namun warga sekitar Pantai Banyu Tibo bisa dibilang “beruntung”. Mereka bermukim di dekat sungai jernih yang mengalir sepanjang tahun. Air tawar yang memenuhi semua kebutuhan warga. Bisa dibilang, seperti inilah cara Tuhan menyejahterakan manusianya. Sungai yang jernih, pantai yang cantik. Mendatangkan kemakmuran dalam suasana yang masih lekat dengan kesederhanaan.

Sudut lain Pantai Banyu Tibo, permukaan lautnya sangat jernih Sudut lain Pantai Banyu Tibo, permukaan lautnya sangat jernih

Tinggal menata mental manusia yang masih memiliki nafsu perusak. Warga setempat dan wisatawan harus mampu bersinergi dengan pesisir selatan Pacitan ini. Karena hanya manusia lah yang sampah dan tindak-tanduknya lebih banyak merugikan. Rumput laut harus dibudidayakan secara ramah lingkungan agar dapat berkelanjutan. Sungai itu harus dijaga kebersihannya. Jangan sampai air sungai yang menemui ujung itu kembali hanya menjadi kiasan. Karena alam itu indah sekaligus rapuh. (*)


Foto sampul:
Pantai Banyu Tibo Pacitan

23 thoughts on “Pantai Banyu Tibo: Tempat Di Mana Air Sungai Memang Menemui Ujung

      1. Kalo Banyu Anjlok di malang temanku pecinta touring sepeda abis dari sana mas. Heeee. Emang beda rasanya kalau lihat air terjun di pantai 😀

        Like

  1. Aku pertama kali ke sini September 2013. Bulan Mei 2015 mampir ke sini dan sudah berubah banyak sampai pangling. Dulu kalau mau turun ke pantainya mesti akrobat, sekarang sudah disediakan tangga. Terus ada mushalla pula, shalat menghadap ke lautan lepas, Subhanallah. 😀

    Kalau dipikir-pikir, memang kondisinya jadi kurang alami sih. Tapi ya agar warga sejahtera ya aku ikhlas deh. Semoga saja, suatu saat nanti jalan ke sininya diperlebar. Deg-degan juga klo bawa mobil gimana nanti kalau simpangan, hahaha 😀

    Satu lagi, Pantai Banyutibo ini lebih sip dipotret pas siang bolong. Menyalahi aturan fotografi sih tapi kalau nggak gitu nanti air terjunya ketutupan bayangan.

    Like

  2. Pantai yang indah dan unik! Keren sekali, sungainya masih jernih tatkala menghujam laut, semoga selalu terjaga kebersihannya, soalnya di Lombok muara sungainya sudah jauh berbeda dengan bagaimana keadaannya saat dimulai di hulu Rinjani (bedanya jauh, jauh banget).
    Memang kemampuan bahasa daerah itu sangat menunjang sekali untuk berwisata di Indonesia ya, Mas… ah, ini artinya saya mesti banyak belajar bahasa daerah!

    Pantai yang indah, ditangkap dengan foto-foto yang cantik, keren sekali! Semoga pariwisata di sana tetap berkembang dan alam di sana tetap lestari :)).

    Like

    1. Wah begitu ya Mas, saya baru tahu itu 😦

      Ahaha, saya itu pas ke NTB pengen sekali belajar bahasa Sasak, bahasa Bima. Njenengan belajar bahasa Jawa juga yah, gampang kok 😀

      Indah Mas, semoga lestari, semoga 🙂

      Like

    1. Halo Mbak makasih sudah berkenan mampir di sini. Lebih dari sekadar menarik mbak, tetapi juga indah dan terbaik *promosi* hahaha. Yuk main ke kampung halaman saya Mbak 🙂

      Like

  3. kemarin belum sempet kesini karena takut istri kecapaian, maklum hamil 3 bulan hhehehe

    insyaallah semoga ada waktu kesana bareng anak juga 🙂

    selalu senang dengan foto jenengan mas

    Like

    1. Yang penting kalau bisa jangan pas weekend Mas Wahyu, apalagi kalau bawa mobil, masuknya susah kalau sudah papasan sama mobil hehehe. Walah, kita sama-sama saling menyukai kalau begitu 😀

      Like

    2. Yang penting kalau bisa jangan pas weekend Mas Wahyu, apalagi kalau bawa mobil, masuknya susah kalau sudah papasan sama mobil hehehe. Walah, kita sama-sama saling menyukai kalau begitu 😀

      Like

    1. Iya Mas Cumi, di halaman rumah nenek ada pohon jambu juga. Banyak banget di kampung, jambu air sama jambu mente yang banyak 😀

      Like

  4. di jogja juga ada, tepatnya di gunungkidul. namanya pantai jogan, air terjunnya namanya grojogan penganten. kayaknya lebih kecil drpd ini

    Like

  5. Aku sering dengar dan baca tentang keindahan pantai-pantai di Pacitan. Dan pantai Banyu Tibo ini benar-benar unik ya. Jadinya kita bisa berbasah ria di pantai, disusul berbilas dengan air tawar di grojogan kecil itu. Cool 🙂

    Like

    1. Pantai-pantai di Pacitan sudah lama jadi kebanggaan masyarakat setempat, termasuk saya 🙂

      Iya Mas, bisa langsung berbilas. Yang penting jangan bawa sabun. Kalau mau mandi pakai sabun mending ke kamar mandinya 🙂

      Like

  6. sepi bangeet ini..enak banget jadi puas menikmatinya..
    aku kesana rame banget.. mo makan ngantri…mo turun ngantree..semua ngantree sebell 😦 padahal udah dari jaman kapan pengen banget kemari

    Like

    1. Ya pripun malih Mbak, waktu dan teknologi berpengaruh. Orang setempat malah senang kalau tempat wisatajya ramai terua 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s