#BloggerWalking: Jalan-jalan ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak (Bagian 5)

Mbak Donna beserta suami melepas kepergian saya di stasiun KRL Universitas Indonesia. Tak lupa salam pamit dan harapan agar kembali bersua di lain hari. Entah itu saya yang kembali ke Depok, atau mereka yang akan ke timur, tempat saya lebih banyak menghabiskan awal usia.Β Gerbong KRL menuju Bogor pagi itu tak terlalu ramai. Saya dapat menemukan beberapa tempat yang kosong untuk diduduki.

Baru kemarin menginjakkan kaki pertama kali di Bogor, hari ini saya kembali. Cuaca tak secerah kemarin, Gunung Halimun dan Gunung Salak masih tertutup kabut. Segera saya melangkah keluar dari stasiun, menuju sisi bawah jembatan penyeberangan. Laladon, itu tujuan saya yang pertama.

“Ladon! Ladon! Ladon! Ayo, yang Laladon!” pekik suara para calo angkot. Suaranya seolah tak mau kalah dengan deru mesin atau klakson angkot itu sendiri. Selembar uang 5.000 rupiah berpindah dari tangan sopir ke calo tersebut. Sebagai upah, karena dia telah “berjasa” memasukkan penumpang ke angkotnya.

Setibanya di Laladon-yang ternyata merupakan sebuah terminal angkutan perkotaan-, saya memilih berjalan menjauhi terminal yang ruwet tersebut. Ketika menjumpai sebuah minimarket, saya memutuskan masuk dan membeli beberapa bekal untuk sarapan ringan. Ini adalah semacam kebiasaan saya ketika baru tiba di tempat yang masih asing. Istirahat terlebih dahulu barang sejenak, membaca situasi sekitar, bertanya kepada penjaga kasir atau warga setempat, lalu mengambil keputusan. Tak lama, ada satu angkot lewat perlahan dengan trayek yang akan saya tuju: Kampus IPB Dramaga. Tanpa ragu, saya naik. Tak sampai 15 menit kemudian saya tiba di salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia tersebut.

Di dalam kompleks kampus, tepatnya di depan Fakultas Pertanian, saya kembali bertemu dengan Deby yang datang dengan motor matik sewaan. Setelah basa-basi singkat, saya mengambil alih kemudi dan meluncur keluar dari kampus. Meraba-raba medan ke salah satu gerbang Taman Nasional Gunung Halimun-Salak yang menjadi tujuan.

Karena kami tidak lewat jalur utama, maka fitur GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) menjadi senjata ampuh. Mungkin ada sekitar 2-3 kali kami bertanya kepada penduduk setempat. Hingga akhirnya perasaan lega campur tanda tanya hinggap. Lega, karena kami telah tiba di gerbang Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS). Tanda tanya, mengapa kami harus membayar dua kali di dua loket yang berbeda dan letaknya tak terpaut jauh. Dalam hati saya bertanya dan berharap pengelola TNGHS membaca tulisan ini: MENGAPA KALIAN SANGAT TIDAK EFISIEN SEKALI? APA KALIAN SEDANG TIDAK AKUR HINGGA BIKIN DUA LOKET YANG BERDEKATAN?

Di tempat parkir pun tanda tanya masih mengambang di pikiran. Sangat jelas tukang parkirnya bukanlah petugas resmi TNGHS. Dan tentu ongkos parkirnya pun terpisah, tidak termasuk karcis masuk TNGHS. Ah, selalu hanya bisa menyuarakan pemakluman terhadap masalah-masalah di seputaran taman nasional di Indonesia, tanpa dapat berkeluh kesah di tempat. Masih jauh lebih mendingan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan Taman Nasional Baluran menurut saya, atau Taman Nasional Komodo. Selalu ada masalah inefisiensi di setiap nadi taman nasional, atau mungkin di seluruh sendi pariwisata di Indonesia.

Tiba-tiba udara yang sejuk terasa ketika berjalan menjauhi tempat parkir. Seolah alam sedang melipur kekecewaan saya. Okelah, lupakan sejenak masalah, nikmati alam yang penuh berkah. Lagi-lagi pemakluman.

Di sebuah pertigaan, ketiga curug diberi arah dalam sebuah plang. Dua curug, Curug Daun dan Kawung berada pada jalur yang sama, sementara Curug Nangka menempati posisi terbawah dan lokasi yang berbeda. Saya dan Deby sepakat untuk menuju ke curug yang terletak paling jauh terlebih dahulu: Curug Kawung, yang ditempuh tak sampai 30 menit.

Curug Kawung
Curug Kawung

Penamaan curug di sini rupanya tak jauh beda dengan coban (air terjun) yang ada di Malang. Dinamai berdasarkan legenda atau cerita rakyat setempat. Atau, didasarkan pada keadaan alam sekitar. Seperti Curug Kawung. Kawung, yang dalam bahasa Sunda berarti pohon aren, yang dulunya berukuran besar dan tidak pernah ada yang berani mengusiknya (menebang).

Foto bersama Deby dengan latar belakang Curug Kawung
Foto bersama Deby dengan latar belakang Curug Kawung

Melihat kerumunan pengunjung di kolam tempat Curug Kawung terhempas, saya malas mendekatinya. Saya memilih menempatkan diri di sebuah tanah datar namun sempit, yang dari sini kami masih dapat melihat Curug Kawung secara utuh. Debitnya tak terlalu deras, namun airnya sangat jernih.

Cukup puas mengambil foto, kami bergerak turun. Kembali ke arah bawah. Aliran Curug Kawung mengucur ke bawah, menciptakan curug-curug dan kolam kecil. Sebagian dangkal, sebagian cukup dalam. Yang dangkal menjadi tempat mandi dan bermain bagi pengunjung. Tak apalah, yang penting tidak mandi menggunakan sabun atau bahan kimia lainnya.

Saya dan Deby sempat berhenti dan mampir sejenak di sebuah kolam kecil dengan dua aliran kecil. Sangat jernih dan menyegarkan. Dingin, tentu saja.

Ini masih di bawah Curug Kawung
Ini masih di bawah Curug Kawung

Ketika kami kembali beranjak pergi, datang sekelompok pengunjung yang langsung terjun ke kolam ramai-ramai. Untung saja saya masih sempat memotret kolam tersebut saat masih sepi.

Menuju Curug Kawung juga melintasi sungai kecil ini
Menuju Curug Kawung juga melintasi sungai kecil ini

Kondisi medannya nyaris mirip saat saya trekking ke Coban Glotak di Wagir, Malang. Alirannya mengular di sungai-sungai kecil dan kadang terpecah oleh bebatuan. Bagi pencinta fotografi slow speed, tentu kesempatan memotret aliran air lebih halus tak boleh dilewatkan.

Aliran yang
Aliran yang “nyempal” dari jalur trekking ke Curug Kawung

Curug Daun kembali kami jumpai saat turun, namun tak menarik minat saya mengambil foto di sana. Penyebabnya adalah berjubelnya pengunjung yang sedang mandi di atas kolamnya yang juga jernih.

Canda ria dan gelak tawa mengemuka, seolah mengaburkan latar belakang penamaan curug tersebut. Konon katanya, dulu orang pernah melihat daun sebesar pintu, sehingga dinamakan Curug Daun. Saya malah berceloteh sendiri, atau mungkin pintunya yang sebesar daun?

Di bawah Curug Daun, terdapat pagar dari kawat berduri. Tentu tujuannya sangat penting, mencegah pengunjung melakukan aksi konyol dengan melompat ke Curug Nangka yang tepat berada di bawahnya. Pikiran nakal saya kembali bergelayut, semoga tak ada pakaian renang atau celana dalam yang terbawa arus ke Curug Nangka, lalu mengenai pengunjung di bawahnya.

Deby sempat terlihat agak ketakutan saat menuju Curug Nangka. Itu karena gerombolan monyet tiba-tiba turun dan keluar dari huniannya, dan berjalan ke keramaian.

“Tenang, mereka tak segiras monyet di Gunung Panderman atau Rinjani,” tukas saya sambil terkekeh.

Aliran Curug Nangka
Aliran Curug Nangka

Curug Nangka, yang dulu katanya pernah terlihat pohon nangka yang buahnya sebesar gulungan kasur, dicapai dengan menyusuri aliran air terlebih dahulu (melawan arus). Alirannya diapit tebing cukup tinggi dan rerimbunan vegetasi menyebabkan agak remang. Baru mendekati curugnya agak terbuka. Tentu akan sangat berbahaya jika hujan deras turun sehingga terjadi banjir.

Kami segera berjalan cepat, berfoto cepat, karena rintik gerimis mulai terasa. Walau ternyata saat balik, tak jadi hujan. Hanya sekadar hujan lokal mungkin, sebagai peringatan.

Foto bersama Deby di muka Curug Nangka
Foto bersama Deby di muka Curug Nangka

Saya cukup puas di kawasan ketiga curug ini. Cukup banyak titik sepi untuk melakukan pemotretan long exposure, ketika areal curugnya dikerumuni wisatawan yang mandi. Semakin siang, pengunjung semakin banyak yang datang. Tak acuh dengan awan kelabu yang sepertinya siap untuk menurunkan hujan beberapa jam lagi.

Kawasan Gunung Bunder

Dari kawasan ini, saya dan Deby sepakat untuk melanjutkan perjalanan menuju kawasan Gunung Bunder, pintu gerbang TNGHS di sisi barat. Buta medan bukan halangan, karena informasi dari penduduk setempat menjadi pegangan.

Tak ada target khusus ke curug manakah yang akan dikunjungi selepas gerbang Gunung Bunder. Selain waktu yang terbatas, cuaca mulai kurang bersahabat. Hujan deras pun mengguyur ketika kami tiba persis di depan gerbang wisata Curug Ngumpet I. Melihat angka di belakangnya, berarti ada lebih dari satu Curug Ngumpet di kawasan ini.

Ketika hujan mereda menyisakan gerimis, kami segera berjalan menuju Curug Ngumpet I. Sudah kadung memakai raincoat untuk jaga-jaga jika kehujanan di jalan, ternyata tak sampai lima menit berjalan Curug Ngumpet I sudah di depan mata! Sayang, karena pengunjung terlanjur banyak dan hujan kembali mengguyur, kami tak berlama-lama di sana.

Curug Ngumpet I.
Curug Ngumpet I. “Ngumpet” itu berarti tersembunyi.

Dari Curug Ngumpet I, kami mencoba berjalan terus ke barat. Melewati gerbang Curug Pangeran, Curug Ngumpet II, dan Curug Seribu. Niat hati ingin menuju ke Curug Seribu, namun karena hujan cukup deras, sudah pasti akses ke Curug Seribu ditutup karena berbahaya. Mencoba berjalan lebih jauh ke barat, kabut tebal tiba-tiba menyergap, membatasi pandangan. Karena kondisi tidak memungkinkan, kami memilih balik arah. Curug Ciherang menjadi tujuan kami yang terakhir, karena waktu siang telah habis.

Sayang, hujan yang sempat reda kembali deras mengguyur kawasan Curug Ciherang. Mengubah air curug yang semula cukup bening menjadi keruh bagaikan susu coklat. Bisa dibilang, di Curug Ciherang saya tak berhasil mendapatkan foto yang bagus karena hujan deras dan warna air yang coklat. Jadinya, hanya Deby saja yang cukup berhasil mendapatkan pose dan momen yang pas untuk berfoto.

Hujan yang kembali menyisakan gerimis, mengantarkan kepergian kami meninggalkan Curug Ciherang. Tadi kami sempat melewati gerbang pendakian menuju Kawah Ratu, Gunung Salak. Kabut di atas kanopi pepohonan menyiratkan nuansa mistis. Ah, kabut memang terkadang menyampaikan pesan. Cukup sampai di sini dulu untuk mengukir petualangan, masih banyak waktu.

Saya pernah mengatakan saat harus meninggalkan Teluk Hijau di Banyuwangi, bahwa waktu adalah penguasa momentum. Waktu selalu membatasi keinginan-keinginan lahiriah manusia. Memang sudah saatnya kami pulang, kelak kapan-kapan saya akan kembali lagi.

Kembali Ke Jakarta

Di seberang Stasiun Bogor, saya berpamitan dengan Deby. Jelas saya menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf karena telah merepotkannya. Sudah lepas Isya, ia harus kembali ke kosnya di Dramaga, melanjutkan perjuangannya studi di strata dua.

Sementara saya, perjalanan saya di sini belum usai. Saya masih harus berganti pakaian yang sempat basah saat jalan-jalan di TNGHS. Masih harus menaiki KRL ke Pasar Minggu, lalu kembali ke kos Muchlis di Ragunan, Jakarta.

Masih harus berkemas dan segera beristirahat, karena besok pagi saya mengajak Muchlis pergi semakin ke barat. Di sana, di sebuah kota yang terik, telah menunggu keluarga kecil yang siap menyambut kami berdua. Saya pun tak sabar untuk segera terlelap, bermimpi, lalu terbangun lagi.

(Bersambung)


Foto sampul:
Stasiun Bogor dan latar Gunung Halimun-Salak

35 thoughts on “#BloggerWalking: Jalan-jalan ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak (Bagian 5)

    1. Tapi memang kalau hujan-hujan ke air terjun itu ga nyaman mbak hahaha. Udah basah dikasih basah πŸ˜€

      Like

    1. Saat itu saya terfokus pada air terjun dan belum mengerti arti kata “Kawung”, baru tahu artinya ketika sudah pulang. Cuma saya sempat lihat sekeliling vegetasinya hampir homogen hutan khas tropis kok Bu, sepertinya enggak ada aren yang tumbuh seragam atau satupun hehe..

      Like

  1. Wah menarik nih!!! Curug Kawungnya menggoda iman utk jalan2! Dekat pula dari Jakarta… Hmmm…. Musim kemarau masih deres gak aliran curugnya?

    Like

    1. Iya Mbak, dekat, apalagi ada KRL jadi enak, tinggal sewa motor. Hmmm, mungkin tidak terlalu deras debitnya.

      Like

    1. Hahaha, lagi pengen berdua thok kok Om πŸ˜›

      Wenak kali ya bawa tenda, saya terkesan sama kabut-kabut dan hutan pinusnya….

      Like

  2. Ah, Taman Nasional Gunung Halimun Salak adalah salah satu tempat berkesan dalam hidupku. Di sinilah aku dan teman-teman seangkatan program MT sebuah perusahaan ritel digembleng ala-ala selama beberapa hari.

    Tapi emang cuma camping doang sih, nggak ada main-main lucu ke curug 😦

    Like

    1. Saya sebenarnya juga terkesan dengan alam dan banyaknya curug di sana. Cuma memang selalu saja pengelolaannya bikin prihatin hahaha. Yuk ah kapan-kapan camping bareng dan main ke curug-curugnya lagi πŸ˜€

      Like

  3. Tak kiro explore gn. Salak sama mba don jugaak… Rupanya engga yah. Eh, disitu itu emg jagoan air terjun ya, buanyaakk aja klo mau disambangi satu satu

    Like

    1. Enggak mbak hehehe. Iyaa buanyak curug-curugnya, itu pun yang sudah terkespos. Aku sih yakin kalau masih ada curug-curug atau mata air di atas sana yang menjadi hulu bagi curug-curug itu hehehe

      Like

    1. Hahahaha…. Saya kaget kalau njenengan komen bawa-bawa nama rusia πŸ˜€ Itu di Bogor saja Mas πŸ˜€

      Like

  4. Saya justeru menikmati wisata di taman nasional ini bukan di air terjunnya lho, Mas. Sbelum Cunang, gitu. Backgroundnya apik buat foto2. πŸ˜€

    Btw, nyobain soto yg di jual di area parkir tak? Endees bgttt! πŸ˜€

    Like

    1. Oalah saya belum tahu, saya penasaran sama curug-curugnya dan ternyata bagus banget buat foto slow speed πŸ˜€
      Belum mbak, ealah tahu gitu 😦

      Like

  5. Wah, ternyata curug di seputaran Bogor ini lumayan banyak. Keren-keren pula dengan foto yang bagus ini. Memang foto air mengalir itu cantik sangat, saya dulu coba di Coban Rondo dan Umbul Gemulo dan langsung ketagihan :haha.

    Pintu masuk TNGHS itu yang sebelah mana, Mas? Yang di perempatan Cinangneng belok kiri itu ya, kalau dari Dramaga? Kemarin saya sempat lewat sana, dari Pasir Angin Leuwiliang–Galuga sampai ke Bogor itu, cuma tidak belok :hehe :peace.

    Kalau mau balik ke sana, ajak-ajak dong Mas! :hihi. Saya penasaran dengan air terjunnya itu :hoho.

    Like

    1. IYa Mas Gara, banyak sekali. Hahaha, dan memang nagih bisa merekayasa foto dengan teknik slow speed hehehe. Hmmm, saya agak lupa hahaha. Yang pertama yang masuk Curug Nangka Mas, yang kedua pos Gunung Bunder atau Gunung Salak Endah πŸ™‚

      Insya Allah, suatu saat semoga bisa kembali, saya pun penasaran kalau pas sepi πŸ˜€

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s