#BloggerWalking: Menyusuri Kebun Raya Bogor (Bagian 3)

Usai salat Jumat,  Saya dan Mbak Donna kembali berjalan ke arah timur. Menyusuri trotoar yang melekat di sisi pagar Kebun Raya Bogor (KRB). Cukup berkeringat, namun langit kota Bogor agak mendung siang itu. Menahan pancaran terik matahari menembus bumi Kota Hujan.

“Tumben lalu lintasnya agak sepi. Biasanya jalan depan KRB ini sering macet. Apa karena ada rekayasa lalu lintas ya?” tanya Mbak Donna keheranan. Pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Hanya saja, karena saya baru pertama  ke sini, saya tidak paham apakah lalu lintas hari ini tak seperti hari biasanya.

“Hmm, mungkin saja, Mbak.”

Saya ikut bertanya-tanya, sekaligus ikut senang juga jika lalu lintas justru tak sepadat biasanya. Namun, tetap saja pekik teriakan para sopir angkot dan calonya ikut memecah keramaian. Syukurlah, segala tanya dan longlongan tanpa henti pupus ketika memasuki gerbang KRB. Dua patung ganesha berdiri dalam liang teduh, menyambut kami berdua dengan bisu.

Tak lama saya dan Mbak Donna terlibat percakapan kecil di depan loket masuk. Duduk-duduk, sembari saya mengistirahatkan pundak. Untuk sementara saja, tas carrier 48L yang saya panggul dibiarkan tergeletak di tanah. Dibiarkan lepas sebelum saya manjakan lagi di atas pundak. Tak lama berselang, datanglah sesosok lelaki dengan kawannya. Sosok berkaos dan bertopi putih, memanggul tas ransel kecil. Kami berjabat erat, mulutnya menyunggingkan senyum.

Saya pikir dia adalah Sri Baduga Maharaja. Kawannya yang ternyata (bukan) ajudannya itu memilih pamit pulang karena ada urusan lain. Jadi, kini tinggal kami bertiga. Saya dan Mbak Donna bagaikan tamu kerajaan sang Prabu Siliwangi, yang akan menemani kami berdua menjelajah hutan samida.

Oo Wangna pun ini sakakala, prebu ratu purane pun,
diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana;
di wastu diya wingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran seri sang ratu dewata;
pun ya nu nyusuk na pakwan;
diva anak rahyang dewa niskala sa(ng) sida mokta dimguna tiga i(n) cu rahyang niskala-niskala wastu ka(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarang;
ya siya ni nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sa(ng)h yang talaga rena mahawijaya, ya siya, o o i saka, panca pandawa e(m) ban bumi.

(Sumber: www.kalangsunda.net)

Hutan samidayang tersebut dalam Prasasti Batutulis tersebut diyakini bermakna hutan buatan, yang konon merujuk pada lokasi Kebun Raya Bogor saat ini.  Sang penguasa Pakuan Pajajaran pertama itu menciptakannya untuk menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat memelihara benih benih kayu yang langka (Sumber: Pemkot Bogor).

“Sang prabu” dalam wujud modern: berkaos dan bertopi putih tersebut segera mengajak kami masuk ke dalam. Ah, khayalan saya terlalu berlebihan. Bagaimana mungkin dia titisan sang prabu, melihatnya membayar ongkos masuk kami bertiga saja dengan uang kertas sudah cukup membuyarkan imajinasi saya tentang masa lalu Pakuan Pajajaran. Kalau Mas Gio (lelaki berkaos dan bertopi itu) adalah Prabu Siliwangi, mestinya kami bisa masuk dengan gratis, dipersilakan masuk begitu saja oleh para petugas loket.

Hawa sejuk khas kebun merasuk, sanggup membuat kami melupakan sejenak deru perkotaan. Sanggup membuat saya lupa jika di luar hutan samida sana ada 1001 angkot yang berseliweran. Saya mabuk fantasi berada di dalam kebun seluas 87 hektar ini. Lalu mesin waktu berjalan cepat, jejak Pakuan Pajajaran mulai terkikis, berganti masa kolonial yang tengah berusaha menancapkan daya jajahnya ke penjuru negeri. Saya bagaikan terlempar pada masa sekitar dua abad lalu, persisnya empat tahun sebelum Gunung Tambora mengguncang dunia.

Pada masa itu, sekitar tahun 1811, Sir Thomas Stamford Raffles dibantu sang penasehat berkebangsaan Jerman Prof. Caspar George Carl Reinwardt dan ahli botani William Kent, menyulap halaman Istana Bogor menjadi kebun bergaya Inggris yang klasik lagi cantik. Dari sinilah Kebun Raya Bogor bermula. Baru enam tahun kemudian, pada 18 April 1817, Kebun Raya Bogor didirikan sekaligus Gubernur Jenderal G.A.G.P. van der Capellen yang berawal dari gagasan Reinwardt tiga hari sebelumnya. Reinwardt sendiri pada tahun 1816 telah diberi mandat menjadi Direktur Pertanian, Seni, dan Pendidikan untuk Pulau Jawa (Sumber: situs resmi Kebun Raya Bogor-LIPI).

Objek pertama yang menarik perhatian kami adalah patung sapi atau disebut Lembu Nandi. Lembu Nandi yang merupakan kendaraan bagi Dewa Siwa bukan murni berasal dari kebun ini. Patung sapi tersebut dipindahkan dari kolam kuno di Kotabatu, Ciapus, Bogor. Orang yang memindahkan terbagi dalam dua versi, ada yang menyebut Reinwardt, versi lain menyebut sosok Dr. Frideriech. Dan prasasti bertuliskan “Tidak jauh dari sini ada kolam” yang berdiri di sebelahnya juga merupakan pahatan dari salah seorang dari mereka. Saya kadung merinding, mengira patung sapi dan pahatan prasasti tersebut dipindah dan dipahat sendiri oleh Dewa Siwa.

Tak jauh dari Lembu Nandi tersebut, tertancap kokoh sebuah pohon besar, tinggi menjulang, akarnya mencengkeram bumi tanpa menyisakan liang. Mas Gio menyebutnya sebagai pohon terlarang dalam blognya. Bukan karena apa, melainkan karena usia pohon yang sudah tua sehingga rawan tumbang. Anda tentu masih ingat tentang kasus tumbangnya pohon damar raksasa yang menewaskan tujuh orang pengunjung pada Januari lalu.

Pohon bernama latin Koompassia excelsa yang juga dijluki sebagai Kayu Raja dari Asia itu memang agak menggetarkan hati dan bikin lutut ngilu. Maksud saya, ya siapa tahu tak ada angin tak ada hujan tahu–tahu tumbang. Kami memilih tak berlama-lama di sana dan berfoto sepintas lalu.

1, 2, 3… Jepret.. Jepret..

Ini bukan suara shutter yang memotret kami bertiga. Tetapi saya yang memencet shutter kamera untuk memotret rombongan gadis-gadis genit seumuran anak SMA.

“Makasih ya, Mas,” sahut mereka bersamaan.

“Sama-sama, Mbak.” Firasat saya mengatakan, di suatu tempat nanti saya akan kembali dimintai tolong memotret mereka. Entah di mana, tapi masih di dalam KRB ini.

Salah satu gazebo di dalam Kebun Raya Bogor. Nyaman untuk dibuat istirahat.
Salah satu gazebo di dalam Kebun Raya Bogor. Nyaman untuk dibuat istirahat.

* * *

Sangat menyenangkan sebenarnya kami menyusuri Kebun Raya Bogor dengan berjalan kaki. Jalan aspal yang cukup lebar membelah di antara vegetasi koleksi KRB. Hanya saja, kami bertiga sepakat agak terganggu akan satu hal: lalu-lalang kendaraan bermotor yang bebas melenggang.

Saya memotret di tengah jalan, sebelum selanjutnya ada kendaraan bermotor kembali melintas Saya memotret di tengah jalan, sebelum selanjutnya ada kendaraan bermotor kembali melintas

Kendaraan bermotor tersebut, melalui lubang knalpot, menyisakan kepulan asap yang mengandung karbon monoksida, zat jahat yang memaksa para flora bekerja keras menyerapnya. Apalagi kami dan pejalan kaki yang lain. Hanya bermodal bulu-bulu hidung yang tipis, tapi tak mampu mengelak jejak-jejak asap yang melekat di pakaian maupun bagian tubuh yang lain.

Oke, kami hanya bisa mengeluh.

Setelah cukup lama berjalan, melewati beragam koleksi tumbuhan seperti pandan (Pandanus amaryllifolius), langkah kami terhenti sejenak ketika Mbak Donna mendekat pada sebuah objek. Sebuah tugu berwarna perak, melambangkan miniatur dua helai ranting yang menyangga buah kelapa sawit di atasnya.

Di sinilah benih kelapa sawit tertua dan pertama di Indonesia ada Di sinilah benih kelapa sawit tertua dan pertama di Indonesia ada

Kabarnya, benih kelapa sawit pertama kali didatangkan oleh pemerintah Hindia Belanda ke Indonesia pada tahun 1848. Tanaman yang berasal dari Afrika tersebut ditanam sebagian di KRB, sisanya ditebar di tanah Deli, Sumatera Utara. Dengan catatan demikian, maka benih kelapa sawit tersebut ditahbiskan sebagai yang tertua dan pertama di Indonesia.

Kini, kelapa sawit menjelma jadi salah satu produksi andalan Indonesia. Dengan sebaran yang luas di Sumatera dan Kalimantan, tak heran jika produksi kelapa sawit terus digenjot dan ditarget hingga 40 juta ton pada tahun 2020 (sumber: Antara Jatim).

Persis di sebelah tugu tersebut, terdapat jalan beraspal lurus. Mas Gio mengajak kami menyusurinya, melewati jembatan berpagar merah. Saya mengisyaratkan untuk berfoto bersama di jembatan ini.

“Wah, arus sungainya deras sekali,” ujar saya sembari menyiapkan tripod dan kamera.

“Ini Sungai Ciliwung, Qy,” sahut Mas Gio.

Ah! Baru tahu saya! Jadi ini sungai berair cokelat yang sering bikin banjir Jakarta?

Foto bersama nan ceria di atas Sungai Ciliwung Foto bersama nan ceria di atas Sungai Ciliwung

Kekagetan saya akan rupa Sungai Ciliwung berganti dengan terperangah ketika melihat pohon besar berjejer dan menjulang tinggi. Namanya pohon kapuk randu, yang beberapa bagiannya sangat bermanfaat. Seperti pada serat buahnya biasa dipakai untuk mengisi kasur dan bantal, atau bagian kulitnya untuk obat berbagai macam penyakit: kencing batu, asma, batuk, disentri, dan membersihkan rambut.

Berjalan agak jauh, kami menjumpai pohon tarzan. Batang kayunya tumbuh menjalar, lalu memanjat di antara kanopi pepohonan. Ternyata, selain dimanfaatkan si tarzan bergelantungan dan berteriak melonglong memanggil raja rimba, pohon ini bisa bermanfaat bagi manusia. Bisa sebagai obat tradisional, bahan sabun, atau bahan kerajinan tangan. Terserah, Anda ingin jadi tarzan atau bersusah payah menciptakan produksi dari pohon ini.

Mas Gio mengajak kami untuk istirahat sejenak. Mengistirahatkan kaki dan menyandarkan (maaf) pantat pada sebuah tempat yang cukup nyaman. Dia mengeluarkan rambutan, dibagi-bagi untuk bertiga. Pemandangannya saat mencecap rambutan cukup instagramable: Jembatan Putus Cinta!

Jembatan Putus Cinta melintang di atas aliran Sungai Ciliwung
Jembatan Putus Cinta melintang di atas aliran Sungai Ciliwung

Entah, kenapa mitosnya selalu dikait-kaitkan dengan cinta dan berbagai gejalanya. Tanjakan Cinta, Bukit Cinta, dan ini Jembatan Putus Cinta. Ini hanya jembatan gantung berwarna merah, yang maksimal dilalui oleh 10 orang secara bersamaan. Lamanya melintasi jembatan ini bukan karena banyak orang atau jauh, tetapi karena bersabar menunggu pengunjung di depan berfoto ria.

Sampai sekarang, saya masih belum mendengar kabar jembatan ini beserta mitosnya diangkat ke layar lebar layaknya Si Manis Jembatan Ancol. Tidak bisa membayangkan, jika ada sejoli saling berseteru di atas jembatan ini. Lalu salah satunya frustasi, patah hati, kemudian terjun bebas ke sungai Ciliwung yang mengalir deras. Jika terasa menyedihkan, mungkin dibuat happy ending ketika si korban tiba-tiba selamat di muara sungai di Jakarta. Aduh, saya meracau lagi.

“Mas, boleh minta tolong fotoin lagi gak?” suara gadis memecah lamunan saya. Terbukti firasat saya, rombongan gadis yang sama meminta tolong kepada saya untuk difoto.

“Oke, siap Mbak!”

* * *

Ada capung! Ada capung!

Kami sudah berjalan cukup jauh meninggalkan jembatan yang namanya agak merinding didengar itu. Melewati sebuah tempat petilasan yang sedang ramai diziarahi orang, lalu mendaki sedikit dan tahu-tahu sudah berada di tepi pagar Istana Bogor.

Terus berjalan hingga melewati sebuah kolam yang cukup luas. Dari tepinya, saya bisa melihat Istana Bogor dari kejauhan.

Saya berhenti sejenak ketika melewati sebuah bangunan bundar. Melihat dari dekat, ternyata monumen ini didirikan untuk mengenang Olivia Mariamne. Istri Sir Thomas Stamford Raffles tersebut meninggal dunia pada 26 November 1814, dan dimakamkan di Batavia (kini Jakarta). Di bawahnya lagi, terdapat penjelasan bahwa monumen ini pernah rusak (rubuh?) karena angin kencang pada 4 Januari 1970, lalu direnovasi kembali pada 17 Agustus di tahun yang sama.

Monumen Olivia Mariamne, istri Sir Thomas Stamford Raffles Monumen Olivia Mariamne, istri Sir Thomas Stamford Raffles

Sang istri gubernur jenderal Inggris itu rupanya telah meninggal dunia dengan tenang, tanpa terganggu riuh Gunung Tambora yang meletus setahun kemudian.

* * *

Museum Zoologi menjadi tempat terakhir yang kami jelajahi cukup lama sebelum keluar dari KRB. Saya tak banyak memotret di tempat ini, mencoba menikmati sajian koleksi hewan-hewan yang telah diawetkan.

Informasi-informasi yang melekat pada satwa-satwa tersebut beragam. Ada yang menyampaikan berita gembira, bahwa mereka masih gampang dijumpai karena populasi masih terjaga; ada juga yang membuat miris dan khawatir, karena terancam punah.

Salah satu contoh, badak jantan terakhir asal Tasikmalaya di bumi Priangan. Ia “diselamatkan” dari tangan penembak maupun pemburu gelap (gelap rupa, gelap mata, dan gelap hati), dan dimasukkan ke dalam koleksi museum pada 1934. Ia mati dalam kesepian, setelah sang betina juga tumbang oleh peluru dari pemburu gelap pada 1914. Benar ‘kan? Manusia lah yang membawa satwa-satwa langka tersebut ke ujung kebinasaan. Semoga badak-badak yang tersisa di nusantara masih terjaga populasinya, masih damai di alamnya.

Aktor utama dari museum ini sepertinya bukan hanya si badak. Ada lagi, seekor paus biru bernama latin Balaenoptera musculus yang tinggal kerangka.

Tampak muka Museum Zoologi. Terlihat di dalamnya terdapat kerangka putih paus biru itu.
Tampak muka Museum Zoologi. Terlihat di dalamnya terdapat kerangka putih paus biru itu.

Dalam tulisan Mas Gio di blognya, salah satu mamalia terbesar di dunia ini ditemukan mati terdampar di pesisir Pameungpeuk, Kabupaten Garut pada 1916. Bayangkan, butuh waktu sebulan lebih 11 hari untuk mengangkut tubuhnya-yang berdimensi panjang 27 meter dan berat 116 ton-ke Bogor. Dari 116 ton berat total, tersisa 64 ton berupa tulang belulang yang diabadikan untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan.

“Coba kamu berdiri di bawah perutnya, mau saya foto buat perbandingan skala,” ujar Mas Gio.

Saya manut. Kami sungguh bukanlah apa-apa dibandingkan sang paus. Ingatan saya menerawang pada kisah Nabi Yunus yang ditelan ikan paus. Allah memberi peringatan dan menguji utusan-Nya yang sempat terlena. Nabi Yunus lulus ujian dari Allah setelah merasakan terpenjara dalam tiga kegelapan: kegelapan di dalam perut ikan, kegelapan di dasar lautan, dan kegelapan malam.

Allah akhirnya memerintahkan paus untuk mengeluarkan sang Nabi ke sebuah pulau. Paus pun tunduk pada pencipta-Nya. Hidup dan matinya bergantung pada takdir-Nya. Semoga, di dunia sekarang, hidup dan mati kerabat dari paus dan hewan-hewan yang terawetkan di museum Zoologi bukan tunduk pada kerakusan manusia, melainkan pada Sang Pencipta.

* * *

Rumpun pohon bambu kuning melepas langkah kami meninggalkan Kebun Raya Bogor. Niat hati ingin bertandang ke museum Etnobotani yang berlokasi persis di seberang gerbang barat KRB, tapi waktu menghalangi. Sudah tutup rupanya.

Saya segera berinisiatif untuk mengajak Mas Gio dan Mbak Donna segera menunaikan salat Asar. Sekaligus mengajak mereka berdua pada sebuah pertemuan. Orang yang akan ditemui tidak asing bagi saya, sementara akan baru bagi mereka berdua. Semakin ke sini, perjalanan memang dirancang untuk menciptakan pertemuan. Pertemuan untuk menciptakan perkenalan-perkenalan baru.

(Bersambung)

25 thoughts on “#BloggerWalking: Menyusuri Kebun Raya Bogor (Bagian 3)

  1. Jalan Astrid sama makam Heinrich Kuhl dan Johann Coenraad van Hasselt belum, Mas :hehe.
    Oalah, ternyata memang betul diminta tolong untuk memfotoi lagi. Rupanya firasat Mas tokcer, tidak salah :)).
    Gazebo itu kalau saya tidak salah ada di dekat rumpun tanaman air dan Taman Mexico, ya. Ah, jadi kangen Plantentuin. Mesti ke sana nih akhir pekan besok :hehe.
    Pastinya seru sekali bisa bertemu blogger-blogger hebat, menghabiskan waktu menjelajah dan berbagi cerita di tempat sehebat Kebun Raya Bogor.
    Ditunggu cerita selanjutnya!

    Like

  2. Wow, kereen… aku suka angle gazebo itu. Sempet pangling, itu diambil di sebelah mana ya ahaaaa, ternyata….
    Tulisanmu apik, informatif tapi mengalir.

    Like

    1. Hahaha, la mau fotoin full gazebo ada orang-orangnya banyak sungkan mbak 😀

      Maturnuwun mbak, bingung sebenarnya mau mengarah kemana tulisan ini, ternyata memang panjang juga. Niatnya mau dipungkasi sampai balik Depok kepanjangan. Yaudah bersambung ajah 😀

      Like

  3. Akhirnya menjadi saksi kesaktian Rifqy dalam hal jepret-jepret 😉

    Btw, foto dan tulisannya apik tenan! Aku malah belum pernah menulis catper sedetail ini 🙂

    Like

    1. Alah Mas, saya sih sudah jadi saksi jepretan Mas Gio dari lama hayoo, hehehe. Saya ini masih belajar mas, belajar semuanya, kalaupun ada apresiasi itu adalah pemantik bagi saya supaya tidak berhenti belajar dan berkarya. 🙂

      Like

  4. Kemarin saya sudah komen tapi kayaknya belum masuk ya Mas :huhu.
    Keren banget memang KRB ini! Apalagi diabadikan dengan apik, terus jalannya ke sana juga bareng blogger-blogger kece :hehe.
    Gazebo itu di dekat Taman Meksiko dan Koleksi Tanaman Air bukan, Mas? Bagus memang pemandangan di sana, soalnya letaknya lebih tinggi. Kemarin sempat ke Jalan Astrid dan Kuburan Belanda jugakah Mas? :hehe.

    Like

    1. Nah itu dia Mas, saya kurang memperhatikan detail nama jalan maupun nama tamannya. Jadi saya agak lupa apakah Jalan Astrid atau Kuburan Belanda itu terlewat atau tidak (payah hahaha).

      Pokoknya sepertinya itu gazebo pertama setelah Kayu Raja dari Asia itu 😀

      Like

    1. Saya baru sekali ke sana mbak Winny, tapi berkesan banget. Bakal tak jadikan wisata favorit dan wajib dikunjungi kalau ada kesempatan balik ke Bogor lagi 🙂

      Like

  5. Oalaaah, ternyata ini temennya Gio yang waktu itu datang ke Bogor ya? Kita sempet ketemu di pintu masuk KRB, cuma aku gak bisa gabung karena ada urusan lain hari itu hehehe … Nak ngono tak woco sik kabeh iki critane 🙂

    Like

    1. Oalahhh, Naaah akhire ketemu juga di sini 😀

      Iya e pas itu Mas e ndak ikutan masuk ke dalam, wah Mas e sibuk kali 😀
      Silakan dinikmati blog sederhana ini 🙂

      Like

      1. Iya soalnya hari itu aku ada acara harus “mawangi hujan” hahaha … Mungkin lain kali ketemu lagi, siapa tahu di Malang malahan 🙂

        Like

      2. Wah pantas saja waktu itu ga jadi hujan. Makasih ya Mas hahaha… Ayo ditunggu, sebentar lagi saya ga tinggal di Malang lagi 😀

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s