#BloggerWalking: Cerita Kecil Menuju Kebun Raya Bogor (Bagian 2)

Jumat pagi di Stasiun KRL Tanjung Barat.

“Se..la…mat… Pa…gi…”

Saya tersentak. Sapaan lembut dari suara laki-laki ternyata muncul di belakang saya. Seorang petugas keamanan bagaikan guru TK yang menyapa murid-muridnya sebelum masuk kelas.

“Da…ri… Ma…na…?” tanyanya lagi dengan senyum mengembang. Tetapi, ia tidak melihat wajah saya. Matanya tertuju pada kamera hitam yang tergantung di leher.

Malang, Pak, hehehe,” jawab saya dengan senyum menyeringai, mata menyipit.

Rupanya dia mengira saya wartawan. Mungkin karena saya terlihat paling mencolok di antara calon penumpang KRL yang lain. Memanggul tas carrier 48L dan tas kamera di depan perut, ditambah pakaian yang serba hitam, saya memang seperti seorang pejalan yang merangkap jurnalis. Beda tipis.

“Ka…lau… ma…u… li…pu…tan… ha…rus… a…da… i…zin… ter…tu…lis, Mas,” ujarnya perlahan, masih dengan senyum mengembang. Kini seperti seorang guru TK yang semringah menangkap basah, yang memergoki siswanya berbuat ulah.

“Ah, enggak, Pak. Saya cuma jalan-jalan biasa, kok. Kalau orang bilang sekarang, semacam backpacker-backpacker begitu lah, Pak,” jawab saya dengan senyum lebih menyeringai. Sampai-sampai saat tersenyum, saya tidak dapat melihat sosok petugas keamanan yang ramah tersebut.

Ia mengangguk, lalu meninggalkan saya begitu saja. Bersamaan dengan serangkaian KRL dari arah Depok yang berhenti di stasiun ini. Sesosok perempuan berjilbab turun dari kereta sembari bercakap melalui gawainya. Kami saling melambaikan tangan, ia berjalan lincah ke arah saya.

* * *

“Halo, Mbak Donna. Apa kabar?” sapa saya sembari menjabat erat tangannya.

Akhirnya, kami bersua juga di sini. Mbak Donna, seorang blogger yang baru saja pulang dari India dalam acara Kerala Blog Express. Acara serupa pada tahun sebelumnya juga diikuti oleh Mbak Dina DuaRansel dan Mas Gio. Nama terakhir inilah yang akan kami temui di Bogor nanti. Jadi, boleh dibilang hari ini agendanya bersua dengan para “alumni” Kerala.

Suara perempuan tiba-tiba menggema di penjuru stasiun. Tak ada rupa, hanya suara saja. Sekadar memberitahu bahwa KRL tujuan Bogor sudah tiba. Saya mengikuti langkah Mbak Donna memasuki salah satu gerbong. Cukup penuh, kami berdua sementara berdiri berimpitan dengan penumpang yang lain.

“Barang-barangmu aman?” tanya Mbak Donna memastikan.

“Aman, Mbak. Tenang. Kalau ada yang jahil, senggol bacok!” cetusku.

Kerumunan orang-orang yang berdiri mulai merenggang, meskipun kami tetap berdiri. Mbak Donna adalah seorang dosen. Dan saya adalah mahasiswa. Memang demikian adanya dan tidak sedang bermain peran. Namun yang menjadi bahan pembicaraan selama sekitar 30 menit menuju Bogor bukan tentang materi kuliah. Melainkan tentang perjalanan, segala hal tentang itu. Kami seperti para pejalan lintas generasi.

Lamat-lamat suara announcer menyebut kata Stasiun Bogor. Stasiun akhir dari KRL ini. Saking udiknya, dulu saya sempat berpikir, apakah yang bersuara memberitahu stasiun per stasiun ini ikut dalam perjalanan? Yang selalu mengingatkan para penumpang agar berhati-hati dan jangan kehilangan tiket. Sama seperti announcer di bioskop-bioskop. Bahkan saya sempat kaget ketika berhenti di perempatan lampu merah di salah satu ruas jalan Kota Malang, tiba-tiba terdengar suara perempuan!

…Sepeda motor, nyalakan lampu di siang hari…

…Mari tertib berlalu lintas…

Saya celingukan, mencari asal suara yang membahana mengalahkan raungan mesin truk sekalipun. Sibuk mencari, ternyata saya tertipu. Suara itu adalah rekaman yang tersiar lewat corong suara di atas deretan lampu merah-kuning-hijau. Bukan suara “live” yang mana mungkin si polisi wanita bersembunyi di dalam tiang traffic light, atau mendekam di bawah tanah.

Gerbong kereta terbuka. Segera, saya melangkah keluar dan menjejak langkah pertama di Kota Hujan ini. Saya berulang kali menjejakkan kaki ke tanah. Plang besar terpampang jelas di dalam stasiun: BOGOR. Alhamdulillah, saya benar-benar di Bogor.

“Itu Gunung Halimun-Salak, Qy,” ujar Mbak Donna sembari menunjuk ke arah selatan. Luar biasa, terlihat jelas masih belum berselimut halimun. Besok pagi saya baru akan ke sana, mencoba menikmati sebagian curug-curugnya. Saya pun sangat bersedia difoto dengan latar gunung yang katanya misterius itu. Kendati harus berebut komposisi dengan tiang-tiang dan kabel listrik bergelantungan.

Saat cerah, Gunung Halimun-Salak menjadi latar alami Stasiun Bogor ini Saat cerah, Gunung Halimun-Salak menjadi latar alami Stasiun Bogor ini

Julukan Kota 1001 Angkot ternyata bukan isapan jempol. Suara klakson dan teriakan calo maupun sopir bertalu-talu. Memekakkan telinga. Angkot hijau berbaris seperti pasukan kodok Kero-Keroppi mencoba menarik minat penumpang. Terlalu pemborosan pengadaan angkot. Terlalu banyak, tak terhitung saya geleng-geleng kepala tanda gemas melihat lalu-lalang angkot di Kota Bogor.

Setelah sarapan singkat dengan menu soto mi, kami memilih berjalan kaki mendekati Kebun Raya Bogor. Begitu banyak rupa-rupa yang saya temui saat berjalan kaki di trotoar. Saya heran ketika dalam suatu perempatan lampu merah, angkot-angkot hijau itu berjejer menyesaki satu lajur di belakang garis. Dalam kondisi kopling netral, pedal gas diinjak naik turun, digeber bagaikan akan dimulainya balapan mobil. Atau Anda sejalan pemikiran dengan saya, pemandangan seperti itu menginspirasi kita untuk bikin film semacam Fast and Furious dengan tokoh utama para sopir angkot?

Simbiosis mutualisme di tengah Kota Bogor (?) Simbiosis mutualisme di tengah Kota Bogor (?)

Saya juga melihat sesosok pria yang tidur tengkurap, nyenyak, bahkan seekor kucing pun tak segan beristirahat di atas punggungnya yang terbuka. Kaosnya sudah robek bagian belakang. Lusuh, kumal, senyap. Itulah deskripsi sosok tersebut, menjadi yang paling menarik perhatian pejalan kaki di atas trotoar. Di salah satu sudut Kota Bogor, masih terlihat orang yang perlu perhatian khusus.

Dia orang gila? Bisa jadi, tetapi belum tentu, karenanya saya tak berani menyimpulkan demikian. Seniman yang lagi unjuk diri? Bisa jadi, tetapi belum tentu. Kucing itu, apakah hewan piaraannya? Entahlah, kebenaran baru akan terungkap jika saya atau yang lain membangunkan lelapnya. Tentu saya tak berniat melakukannya, karena saya tak ingin menimbulkan masalah. Cukuplah saya mengambil fotonya (meskipun tanpa atas izinnya) dan membiarkan yang melihat berargumen sendiri. Sayang, saya tak sempat mencantumkan detail kontak si lelaki itu barangkali ada yang penasaran dengan sosoknya.

Seekor rusa sedang istirahat berteduh, tak acuh dengan sorot mata manusia yang melihat polahnya dari balik pagar Seekor rusa sedang istirahat berteduh, tak acuh dengan sorot mata manusia yang melihat polahnya dari balik pagar

Menyeberang jalan sekali lagi, terlihat beberapa kawanan rusa di balik pagar besi menjulang. Kami tinggal sepelemparan batu dengan kompleks Kebun Raya Bogor. Namun, saya harus menahan hasrat untuk masuk. Karena, waktu ibadah salat Jumat hendak tiba. Masjid yang terletak dalam sebuah kantor pelayanan publik menjadi tujuan kami. Saya menunaikan ibadah salat Jumat, Mbak Donna menunggui barang-barang saya.

“Kita nanti ketemu di depan pintu KRB (Kebun Raya Bogor) habis Jumatan, ya,” begitu kiranya isi pesan yang masuk dalam aplikasi Whatsapp saya. Pesan singkat dari Mas Gio, yang menunaikan salat Jumat di masjid raya.

(Bersambung)


Foto sampul:
Kereta yang datang dan calon penumpang di Stasiun KRL Tanjung Barat

44 thoughts on “#BloggerWalking: Cerita Kecil Menuju Kebun Raya Bogor (Bagian 2)

    1. Jelang akhir maret lalu Mas, persis beberapa hari sebelum ikutan #TravelNBlog di Semarang hehehe. Wah kemarin sih lebih sering mainin kamera soalnya keterbatasan waktu 😀

      Like

  1. Saya jadi ingat kali pertama saya menjejak Bogor. Udara segarnya beda betul dengan udara Jakarta. Dan angkotnya, ya, itu ciri khas banget di kota Bogor. Tapi angkot-angkot juga yang menyelamatkan saya dari keharusan berjalan dari Kebun Raya Bogor menuju Prasasti Batutulis–kebetulan lagi saya dapat pak sopir angkot yang ramah benar dengan wisatawan :hehe.
    Sekarang Bogor sedang saya usahakan supaya bisa jadi halaman belakang :hihi!

    Like

    1. Yah, persepsi memang berbeda-beda dan memang angkot lah kendaraan publik termurah dan kadang-kadang cepat juga nyampe tujuan karena ngebut hehehe. Wah, semangat yah Mas 😀

      Like

  2. Terakhir ke daerah Bogor waktu ke Gunung Batu Jonggol akhir Maret kemarin (yang entah masih masuk Bogor atau enggak itu gunung). Dan aku masih trauma karena jalanan yang panjang banget nggak berkesudahan, hahaha

    Like

  3. Yah aku dong gagal ke KRB bareng Bang Gio dan Kak Firsta bulan lalu karena telat nyampe Jakartanya. Padahal pengen gabung. Itu rusa dan kucingnya lucu ya, Bang. Manusia boleh masuk kandang dan rusanya mau dipeluk-peluk nggak, Bang?

    Like

    1. Oalah sayang sekali, moga kapan2 bisa ketemu lagi ya di lain kesempatan 🙂

      Ehmm, saya tidak tahu pasti, la wong saya lihat doang saja rusanya acuh tak acuh, saya dikacangin 😦

      Like

  4. Jadi inget dulu waktu di stasiun palmerah,ditegor sampe dicek Hpnya,kalau gak boleh ngambil gambar sembarangan,saya bilang aja buat kenang-kenangan pak (Sambil belaga oon) hahahaha
    ditunggu cerita #bloggerwalking selanjutnya mas,mas rifqy memang jossss

    Like

    1. Saya juga kaget awalnya ditegur, untung pengertian banget satpamnya kalau saya cuma backpacker ala-ala hehehe. Siap Mas, maturnuwun kalau mau menunggu 🙂

      Like

  5. Weleh, mas.. Padahal mah Sholat Jumatnya di Mesjid yang ada di dalem Kebun Raya nya aja, jadi masuk Kebun Rayanya ga pake bayar.. Soalnya tiap Sholat Jumat (atau Sholat Id), pintu gerbangnya dibuka untuk umum. ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s