Bukti Bakti Untuk Anusapati

Samar-samar, ramalan Lohgawae yang berujung pada kisah culas Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung demi Ken Dedes yang jelita terbayang. Terngiang di tengah konsentrasi mengendalikan kemudi motor. Sejarah Singhasari yang dulu sering dibaca saat di bangku SMP, semakin terkenang kuat ketika memasuki Kecamatan Tumpang.

Lalu, sepanjang 7,5 kilometer dari pusat kecamatan, ada keraguan tentang rute yang ditempuh. Petunjuk yang ada di pertigaan tugu kecamatan masih belum banyak membantu. Penjelasan dari seorang tukang tambal ban akhirnya menuntun arah menuju Candi Kidal. Ternyata petunjuknya cukup mudah, temukan balai desa Kidal, maka tak jauh dari sana Candi Kidal berada.

Seorang petugas loket menyambut ramah. Saya mengisi buku tamu dan menyelipkan donasi sukarela. Ia kemudian mengikuti langkah kaki kami mendekati candi. Rupanya beliau selain menjaga loket, juga menyambi sebagai tukang kebun. Melihat taman yang tertata rapi, saya ingin memberikan predikat untuk beliau sebagai tukang kebun yang telaten.

“Rombongan saking pundi menika, Mas?” (1) tanya beliau ramah.

Saking kampus Brawijaya, Bu. Kulo Rifqy, asmanipun panjenengan sinten?” (2) sahut saya sembari memperkenalkan diri.

Kulo Siti Romlah.”

Siti Romlah

Oh, Siti Romlah namanya. Sosok yang bersahaja.

Dengan lancar dan antusias, Siti Romlah menuturkan seluk-beluk Candi Kidal. Candi yang berlatar agama Hindu ini dibangun sebagai tempat pendharmaan raja kedua Singhasari. Pembangunannya selesai sekitar 12 tahun setelah Anusapati wafat, yaitu pada tahun 1260 M.

Arca Siwa yang melambangkan pendharmaannya kini berada di Royal Tropical Institute, Amsterdam. Arca Siwa setinggi 1,23 meter tersebut digambarkan dengan sikap berdiri, bertangan empat, tangan kanan memegang Aksamala, sedangkan tangan kiri belakang memegang cemara. Kedua tangan depan ditekuk di muka dada, telapak tangan kiri terbuka menghadap ke atas, sedang telapak tangan kanan ada di atas telapak tangan kiri dalam sikap menggenggam ibu jari diarahkan ke atas. Di sampingnya terdapat bunga teratai yang keluar dari bonggol, menunjukkan personifikasi dinasti Singhasari.

Candi Kidal dari sisi tenggara

Di relung-relung candi tersebut juga tidak ditemukan arca Siwa yang lain. Relung yang mungkin disediakan untuk arca Durga, Ganesha, dan Agstya. Arca yang ditemukan di candi adalah arca Nandiswala dan Mahakala. Juga arca duduk yang dperkirakan dari Pantheon agama Buddha, dan sebuah arca duduk lain yang mungkin arca Manjucri. Sekitar tahun 1901, pernah ditemukan sisa-sisa bangunan dari batu bata merah di halaman candi. Penemuan yang menimbulkan dugaan bahwa Candi Kidal dulunya merupakan komples percandian yang tak hanya terdiri dari satu halaman saja, tetapi dua halaman.

Relief-relief yang terukir di tubuh candi adalah relief tercantik yang pernah saya lihat. Tak kalah dengan relief di Prambanan maupun Borobudur. Relief yang menarik hati adalah relief garuda. Relief garuda dipahat pada pilaster di setiap kaki candi tepat pada sumbu ketiga sisi kaki candi sebelah utara, timur, dan selatan. Relief garuda tersebut menggambarkan cerita Garudeya, yang pembacaannya diurutkan secara pradaksina. Berturut-turut dari sisi utara adalah Garuda dengan ibunya, Garuda dengan Guci Amerta yang diperebutkan antara dewa, dan Garuda dengan para naga.

Relief Garuda

Sedangkan relief garuda yang dibaca secara prasawya akan didapatkan susunan sisi selatan, timur, dan utara. Berturut-turut adalah Garuda dalam kekuasaan para naga, Garuda telah mendapatkan Amerta sebagai penebus ibunya, dan Garuda siap berangkat bersama ibunya meninggalkan para naga setelah bebas dari perbudakan Sang Kadru.

Candi Kidal mulai mengalami pemugaran pada tahun 1986, tahun di mana Siti Romlah juga mulai mengurus dan merawat candi. Kakek buyutnya adalah salah satu orang yang merintis pemukiman baru di sekitar candi. Kepercayaan yang dijawab dengan ketelatenan merawat taman candi yang cukup cantik dan rapi. Saya menyebutnya, sebagai bukti bakti kepada sang Anusapati dan dinasti Singhasari. Bagaimanapun, Singhasari yang pernah berjaya di nusantara pada masanya, memberikan dampak langsung bagi pertumbuhan di sekitarnya. (*)

Keterangan terjemahan:
(1) Rombongan dari mana ini, Mas?
(2)Dari kampus Brawijaya, Bu. Saya Rifqy, nama Anda siapa?


(Beberapa referensi data disadur dari narasumber dan catatan kepurbakalaan yang terpampang di papan informasi kompleks Candi Kidal)

Foto sampul:
Candi Kidal, Tumpang

18 thoughts on “Bukti Bakti Untuk Anusapati

  1. Lengkap sekali penjelasannya 🙂
    Arcanya Durga, Ganesha, dan Agastya pula. Mirip dengan apa yang saya temukan di kompleks Gedong Songo. Eh iya jelas sama sih, namanya juga sama-sama candi Siwa :hehe

    Like

    1. Saya hanya menyampaikan apa yang terpampang di papan informasi, ditambah penuturan narasumber Mas 🙂

      Hehehe, motif SIwa memang rata2 begitu, sudah kenalan sama Siwa? 😀

      Like

    1. Inggih Ibu, soal apresiasi jasa memang masih simpang siur. Karena purbakala peninggalan Singhasar juga masuk tanggung jawab Balai Purbakala Trowulan, jadi apakah sistemnya sudah tertata atau belum, dan donasi sukarelanya untuk apa. Hehehe.

      Like

    1. Ayuk mbak udah main2 ke candi-candi di Malang belum? Atau Trowulan mungkin? Saya juga sangat suka sejarah dan kepurbakalaan 🙂

      Like

  2. bangunan sejarah seperti ini nih yang mesti dijaga dengan baik…..
    jd ingat zaman sekolah belajar tentang candi2, dan cuma lihat gambarnya sehingga bayangannya masih rada abstrak, pas ke jawa dan mengunjungi beberapa candi baru kerasa betapa kerennya orang dulu bisa membuat arsitektur sekeren itu dan sekokoh itu, sudah ratusan tahun tapi masihkokoh berdiri:D

    Like

    1. Benar banget, manusia pada zaman dahulu luar biasa, bahkan bisa saja lebih beradab dari kita yang sudah dimanjakan teknologi, bukan? Apalagi kalau kelak Situs Gunung Padang terkuak 🙂

      Like

    1. Kalau njenengan ke sini dan memegang langsung reliefnya, percaya deh gak kalah elok sama yang di Prambanan atau Borobudur. Cantik sekali ukirannya. Hmmm, yasudah foto yang di sini saya cetakin di kartu pos ya? 😀

      Like

  3. Jadi Ibu ini single fighter merawat candi dan jadi tour guide bagi pengunjung? Dengan ‘HTM’ seikhlasnya? Wah ini namanya dedikasi. (PS: itu yang menjuntai putih di telinga kiri Bu Siti apa ya?)

    Like

    1. Beliau tidak sendirian. Hanya saja dua kali ke sana, tukang kebun yang perempuan ya cuma beliau, sisanya laki-laki. Dan sebenarnya kasihan juga kalau diberi sukarela, harusnya ada tarif pasti dari Balai Purbakala Trowulan.

      Itu tidak menjuntai, beliau pakai anting saja. Kalau terlihat menjuntai, itu mungkin benang yang teruntai dari tudung kepalanya, hehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s