Menanti Warnamu Kembali Benderang

Di malam dingin, “tersesatlah” saya dalam tulisan seorang Taufan Gio tentang pencurian tahta alam semesta. Setelah tuntas membacanya, saya jadi teringat tentang sebuah tempat.

Mungkin sebuah keluguan yang wajar. Ketika, tersisa puluhan meter dari lapangan parkir mendekati pintu masuk. Ubun-ubun sudah penuh dengan ekspektasi yang mendobrak-dobrak. Tapi, tenang. Tidak sampai pada keadaan di mana air liur menetes dari liang mulut. Masih tetap berharap terpana pada tempatnya.

Lepas gerbang sempit dengan petugas-petugas yang tak semuanya saling melempar senyum. Ekspektasi yang membumbung di batas ubun-ubun luruh seketika. Seperti dedaunan kering yang rontok ketika ranting dikoyak. Lalu jatuh, terhempas angin. Terbanting dalam selasar tanah yang lembab. Ekspektasi tinggi pun lenyap, berganti dengan seru penuh tanya. Perlukah kecewa?

Bisa jadi seperti itu yang dirasakan para wisatawan yang lain. Niat hati ingin memasukkan diri dalam bingkai foto. Bahkan, Uki yang menjadi rekan perjalanan sempat bergumam dengan kerut di dahinya,

Kok bisa, ya? Padahal dulu terakhir kali ke sini kalau kemarau tidak sampai sesurut ini.”

El Nino? Kemarau berkepanjangan? Karena apa atau karena siapa?

Keheranan yang sangat wajar. Tak salah lagi ini karena bulan kering yang cukup panjang selama tahun 2014. Mungkinkah gara-gara El Nino? Saya pernah mempelajari mata kuliah klimatologi semasa kuliah. Bagi negara tropis seperti Indonesia, El Nino bisa menjelma menjadi musuh menakutkan. Utamanya bagi petani komoditas pangan macam padi atau daerah timur dengan bulan kering yang panjang seperti Sumbawa maupun Nusa Tenggara Timur.

Tetapi, El Nino kadang menguntungkan. Keceriaan nelayan di pesisir pantai Malang Selatan semasa musim kemarau adalah contohnya. Keceriaan menyambut berkah masuknya ikan tuna ke selatan Jawa dan Sumatera. Mencari kehangatan ketika timur Samudera Hindia mendingin.

Tiba di tepinya, El Nino sepertinya telah begitu rakus mencabut uap air ke udara. Sebagian permukaan Telaga Warna pun menjadi kerontang. Jika diibaratkan wajah, barangkali Telaga Warna sedang mengalami luka bakar yang cukup parah.

“Wah, kok surut banget?”, begitulah kiranya suara-suara sumbang bersahutan.

Mungkin bukan hanya kami berdua yang menyalahkan kemarau panjang. Tetapi juga wisatawan yang lain. Meluruhkan semangat berekreasi dan harapan terciptanya mosaik kenangan dari bentang alam yang sejatinya indah. Keadaan yang akhirnya menimbulkan pemakluman. Namun, tidak hanya satu, tujuh, atau sepuluh orang yang menggerutu penuh keluh.

“Luka bakar” pada muka Telaga Warna

Tiba-tiba saya seperti tersadar. Itu saat angin sejuk berhembus menyeka kulit wajah. Lalu menjauh membelai dedaunan hingga pucuk tertingginya.

Kekecewaan saya seharusnya tak beralasan. Ekspektasi yang sempat melambung lalu menguap seharusnya bisa berharmoni dengan kompromi. Memaklumi dalam keadaan seperti ini.

Musim kemarau yang panjang dan El Nino yang rakus menyebarkan kerontang tak pantas disalahkan. Bagaimana bila kita mencoba menyalahkan diri kita sendiri?

Lalu menyodorkan berkas bertumpuk berisi sekumpulan tuduhan. Tuduhan yang bermuara dari kebiasaan-kebiasaan menentang kodrat alam. Membuka hutan untuk pertanian, perkebunan, perumahan, dan gedung pencakar langit.

Tak langsung memang dampak yang ditimbulkan. Tetapi, jika itu ternyata bisa mengangkat suhu permukaan air laut, memicu kebakaran hutan yang nyaris tak berkesudahan, hingga tak tersedianya “tabungan” air saat keadaan serba darurat, bagaimana?

Bukankah lucu jika kita bertanya dan mengeluh,

Duh, panas sekali hari ini!”

“Kemaraunya lama sekali. Kapan bisa menanam padi jika begini (kering) terus?”

Karena memang seharusnya kamu berwarna

Maka, ketika cuaca tak pantas ditantang lagi dihujat, lebih baik kita segera bersahabat dan membelai mesra semesta. Mulai kembali mengenal delapan unsur ilmu Wahyu Makutha Rama (Hasta Brata) yang diterima Raden Arjuna dalam falsafah pewayangan Jawa: tanah (bumi), langit, angin, samudera (air), rembulan, matahari, api, dan bintang.

Tidak mudah menerima kenyataan bahwa manusia tempatnya luput dan lupa. Padahal jika mau mencerna, suatu saat kita bisa menjadi manusia yang bisa bijaksana kepada semesta. Menciptakan sinergi dan harmonisasi di antara jagad raya.

Entahlah kapan saat-saat Telaga Warna akan kembali pada masa jayanya. Masa di mana luka bakarmu tak separah sekarang. Supaya namamu tak sekadar nama. Agar wajahmu kembali cantik berenda sukma. Kembali “bertugas” menghiasi Dieng yang agung. Semoga, warnamu kembali benderang.

Salam pelangi.Ā (*)


Foto sampul:
Telaga Warna di Dieng saat surut dan kerontang di musim kemarau

13 thoughts on “Menanti Warnamu Kembali Benderang

  1. Saudara Rifqy, semakin kesini kematangan penulisanmu semakin apik. Pada tulisnmu yang terbaru ini entah kenapa sperti jiwa pujanggamu yang keluar mengartikan perjalanan dan keindahan. Di postinganmu sebelumnya gaya bahasanya lebih ringan juga elegan. Tapi hanya penulis yang tau jawabannya dan pilihannya šŸ™‚

    Like

    1. Ah, ada komentar dari sang pujangga juga nih. Entah ya Fit, pokoknya saya hanya menuliskan kata-kata yang keluar dari otak begitu saja. Ya, kita punya gaya masing-masing kok šŸ™‚

      Like

  2. Ini buat saya hilang kata. Sedih campur geram. Hasta Brata yang sejatinya sudah diterapkan nenek moyang kita sejak dahulu kala tak ada salahnya untuk kembali diterapkan demi keseimbangan alam raya. Terima kasih sudah berbagi!

    Anyway, trims juga buat link-nya, kak Rifqy! šŸ™‚

    Like

    1. Begitulah, Mas Taufan. Kita memang tidak perlu belajar keyakinannya sedalam itu karena masing-masing sudah punya pegangan. Tetapi, kan tidak salah tho kalau belajar falsafahnya?

      Terima kasih kembali Mas Taufan, saya masih mahasiswa kok, jadi sungkan nek dipanggil “kak” šŸ™‚

      Like

  3. Mungkin alam mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita? :hehe
    Either way, tulisan ini menjadikan saya untuk lebih “melihat” apa yang ada di sekitar saya. Terima kasih :))

    Like

    1. Wah, suka banget lirik lagu dari Ebiet G. Ade itu, Mas. Dan itu memang sangat “real” hehe.

      Alhamdulillah, begitupun juga dengan saya šŸ™‚

      Like

    1. Bisa jadi, Mas. Karena kadang bisa saja kita menyimpulkan terlalu cepat, padahal buah itu tidak hanya terdiri dari kulit, tetapi daging, biji, dan rasa šŸ™‚

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s