Roda Memang Harus Terus Berputar

Telogo Dringo sudah berhasil memberikan jawaban yang dicari. Tanpa hiruk-pikuk berarti layaknya di kota. Rumput yang bergoyang. Namun sejatinya ia tetap dalam diam, meskipun dijadikan jujukan bertanya seperti dalam lirik Berita Kepada Kawan gubahan Ebiet G. Ade. Belum lagi semilir angin yang berhembus mesra membelai dahan pepohonan, yang berdiri tegar membingkai. Lalu hari yang matanya mulai dibuka dengan secercah matahari terbit. Jingga kemerahan yang menyatu dengan langit.

Mungkin saat itu Sang Hyang sedang bersemayam di sana. Mungkin.

Agak berat hati ketika saatnya meninggalkan tempat yang damai. Tetapi, seperti yang pernah saya bilang saat harus meninggalkan Teluk Ijo. Bahwa waktu adalah penguasa momentum. Ia membatasi keinginan-keinginan konyol manusia. Tak lebih supaya kita terus bergerak menyongsong ke depan. Waktu pula yang menggiring kami untuk melihat sebuah sistem kecil kehidupan di batas Banjarnegara.

Dimulai dari pertigaan kecil, dengan petunjuk yang cukup jelas. Uki memperlambat laju motor yang kami tunggangi.

“Itu depan belok kanan, Ki,” ujar saya sembari menunjuk pertigaan di depan.

Seorang petugas laki-laki penjaga loket menyambut ramah. Senyum simpul terlukis kala menyebutkan nominal tiket masuk. Semakin merekah urat bibirnya ketika menerima uang yang saya sodorkan. Secepat kilat, uang itu berpindah genggaman kepada petugas lain di dalam loket.

“Terima kasih, Pak,” saya yang mengucapkannya. Mereka mengangguk.

Motor diamankan di tempat parkir yang polanya agak kabur. Maksud saya agak kurang rapi. Saya bergegas menuju ke dua orang tukang parkir, yang duduk santai tak jauh dari motor kami. Menitipkan tas carrier yang terlalu berlebihan dan membebani jika dibawa masuk.

Kami sudah berada di tempat yang sakral dan suci. Sebuah tempar terhormat di mana masyarakat setempat memuja leluhurnya yang menjadi titisan dewa. Berbeda dengan di India, di mana dewa sudah dipuja di candi itu sendiri.

Saya bagaikan masuk ke dalam ruang keluarga. Di mana sang Arjuna seperti menjadi seorang kepala keluarga. Ia yang berdiri paling tinggi, berdampingan mesra dengan sang Semar. Pikiran lugu saya mencuat, mungkinkah Semar menjadi tempat bersandar jika Arjuna lelah berdiri? Apakah mereka saling melengkapi? Atau terlalu berlebihan imajinasi yang sempat tersirat?

Dua orang pengunjung sedang keluar dari bahtera Arjuna, terlihat karib dari balik jendela sang Semar

Lihatlah, Arjuna dan Semar berdampingan cukup erat. Tak cemburukah Srikandi, Puntadewa, dan Sembadra yang berdiri agak berjauhan dari keduanya? Pertanyaan polos yang muncul ketika saya belum mendapatkan informasi yang jelas tentang latar belakang peletakan posisi candi. Bahkan penamaan pada masa awal difungsikan juga belum diketahui. Sementara ini mungkin, biarlah, dibiarkan begitu saja.

Yang pasti, sama halnya ketika bertandang ke candi-candi yang pernah dikunjungi macam Borobudur, Prambanan, Singhasari, Kidal, dan lain sebagainya. Selalu tak bosan mengucap takjub. Betapa perkasanya manusia pada zamannya membangun candi dengan telaten. Barangkali pembuat bangunan zaman sekarang, perlu belajar ketabahan dan ketelatenan pada mereka. Yang berbuah pada terciptanya sebuah mahakarya, yang meninggikan derajat nusantara.

Ternyata ada pelajaran yang tidak didapatkan di bangku sekolah

Roda Kehidupan
Sebenarnya ada hal lain yang lebih menarik perhatian saya ketika berada di sini. Yaitu lalu lalang petani yang menggarap lahan sekitar candi. Lahan pertanian macam kentang, sayur-mayur, dan buah-buahan tumbuh subur.

Di sini ternyata kehidupan sudah bercampur baur. Manusia memiliki latar belakang dan tujuan yang berbeda. Petani setempat, yang sudah bertahun-tahun hidup di sekitar candi, tentu sudah terbiasa dengan predikat tempat wisata yang melekat di sini.

Ibarat kata, keluarga Arjuna punya bermacam-macam tamu. SemenjakΒ  dari pintu masuk saja, ada tamu yang bertindak sebagai petugas loket. Saya dan beberapa pelancong lainnya adalah tamu dalam kapasitas wisatawan. Kamilah pendatang. Sementara petani lokal tadi adalah tamu yang bekerja di lahan pertanian sekitar kompleks candi.

Saling membantu agar lebih berdaya

Saya selalu menyebut manusia yang hidup dan berlalu-lalang di sekitar sebuah tempat sakral sebagai tamu. Status Kabupaten Banjarnegara hanyalah persoalan administratif untuk mempermudah tanggung jawab perawatan dan simbol kebanggaan. Pemilik sesungguhnya dari Arjuna dan keluarganya adalah sosok yang sangat dipercaya masyarakat setempat: leluhur yang menjadi titisan Sang Hyang.

Alam yang memberi, manusia yang mencari

Maka tak perlu melengus atau melongo heran jika mereka bilang, kompleks Candi Arjuna memberikan berkah kehidupan bagi sekitarnya. Mereka punya tempat suci untuk berterima kasih atas kehidupan yang sudah diraih. Mereka memberi contoh tanpa perlu menggurui. Seperti hari-hari biasa, maka mereka akan terlihat dengan sendirinya. Biasa bagi mereka, luar biasa bagi kita.

Bagi saya bukanlah sesuatu yang nisbi, melainkan keniscayaan. Bahwa petani setempat tetaplah mengisi hari-harinya dengan memanfaatkan apa yang sudah diberikan oleh bumi. Dataran Tinggi Dieng bagaikan surga Firdaus bagi penghuninya. Dan sesuatu yang bergerak dan hidup di kompleks Arjuna seakan tak akan pernah habis dan berhenti berputar. Seakan, tak perlu keliling dunia jika yang dicari hanyalah ketenteraman dan kebahagiaan. Mereka sudah merasa cukup dengan itu sejak lahir.

Salah satu saksi bisu tak mudahnya kehidupan yang berjalan

Di kompleks Arjuna saya tidak hanya belajar bagaimana candi-candi masih tegar berdiri dalam perubahan arus zaman. Namun juga belajar bagaimana tamu-tamunya hidup. Masing-masing telah menemukan napas agar kaki tetap terus melangkah.

Salam pelangi.Β (*)


Foto sampul:
Salah satu bunga yang tumbuh di kompleks Candi Arjuna, Dieng

13 thoughts on “Roda Memang Harus Terus Berputar

    1. Ini perjalanan udah lama sih Mas, hahaha. Amin, haraoan saya sih, supaya tanaman tahunan berkayu dan berakar dibiasakan untuk ditanam agar tidak terjadi longsor πŸ™‚

      Like

    1. Benar, semakin populer semakin ramai, apalagi sudah ada gelaran rutin Dieng Festival setahun sekali. Amin, saya juga berharap demikian πŸ™‚

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s