Mega, Langit Biru, dan Sang Saka

Langit pagi ini tidaklah menggembirakan. Selat Lombok seperti bernuansa mistis. Kabut putih cukup tebal, sampai-sampai Gunung Agung hanya menampakkan bagian puncaknya. Namun, hal itu tidak mengurangi lahapnya sarapan terakhir di Hotel Jayakarta, di tepi laut Senggigi. Saya, bersama teman-teman blogger dan fotografer larut dalam percakapan yang sempat terselip.

“Mending kulineran taliwang lagi saja,” celetuk Barry Kusuma. Agak masuk akal idenya, melihat cuaca terkini.

“Belum tentu juga, Om. Siapa tahu di pantai nanti bisa cerah,” ujar saya mencoba menghibur diri.

 

Alam tak mudah ditebak. Terkadang menggembirakan, terkadang suram. Sepertinya kami semua satu pikiran, berharap agar cuaca bersahabat di Batu Payung nanti. Hanya saja, sementara saya masih berandai-andai seperti apa rupa Batu Payung itu. Saya berusaha mengerem ekspektasi.

Bus pariwisata yang saya tumpangi melaju dengan kecepatan sedang-sedang saja. Ini bukanlah bus tarif ekonomi yang bisa melaju sesuka hati seperti di Jawa. Seperti kata Yudasmoro dalam materi travel writing yang disampaikannya dua hari lalu, pejalan harus menikmati perjalanannya. Saya mencobanya. Sesekali bertanya kepada Raihan, blogger muda asal Dompu yang duduk di sebelah saya. Hanya pertanyaan kecil, tentang nama tempat yang barusan dituju. Banyak yang masih asing bagi saya.

Hanya ada satu tetenger yang akrab bagi saya, yaitu Bandara Lombok Praya. Bangunannya seperti berdiri sendirian, kesepian. Masih menunggu pepohonan di pekarangan depannya menghijau setelah meranggas kerontang selama kemarau.

Hawa pesisir semakin kentara dengan berjajarnya pohon kelapa yang tumbuh renggang. Para bule berjalan dengan percaya diri menenteng papan selancarnya. Beberapa menunggang motor matik bersama pasangannya. Pantai Kuta dan segala hiruk pikuknya menyambut saya yang agak terguncang karena jalan yang kurang mulus.

Menyeberang ke Batu Payung

 

Pantai Batu Payung

Untuk saat ini, naik perahu menuju Batu Payung adalah pilihan paling realistis. Keterbatasan waktu eksplorasi membuat saya dan Raihan mengurungkan niat untuk trekking ke sana. Terlebih laut masih dalam keadaan relatif tenang.

Ayolah langit, keluarkan birumu… 

Batin saya berkecamuk. Langit tak juga bersahabat. Apakah sedang terjadi perseteruan dengan matahari? Jika iya, mengapa tidak juga segera turun hujan deras? Daerah pesisir Tanjung Aan dan Kuta belum terguyur hujan. Lamunan saya menguap ketika perahu merapat di Batu Payung.

 

Pantai Batu Payung Lombok

Satu per satu dari kami turun dari perahu. Berbasah ria dengan air hampir selutut orang dewasa. Lalu terseok-seok menuju daratan. Dua perahu yang mengantar rombongan kembali melesat menuju Tanjung Aan. Mereka akan menjemput kami kembali nanti.

Saya sebetulnya sangat menantikan kehadiran langit yang biru dan terik matahari di atas pantai ini. Tetapi, keceriaan yang tergambar dalam raut wajah mereka mengusik saya. Maka memotret polah mereka menjadi kegiatan yang paling logis ketika sang mega belum beranjak pergi.

 

Pantai Batu Payung Lombok

Saya memilih meninggalkan om Barry Kusuma yang sibuk mengutak-atik drone-nya. Seperti saat di Tiu Kelep kemarin siang, kini ia akan mengambil foto udara lagi. Wajahnya sebenarnya menyiratkan raut agak kurang puas dengan rona langit di Batu Payung siang ini. Tetapi, sebagai fotografer profesional, ia harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan.

Bendera merah putih yang sedari tadi terlipat rapi di dalam tas kamera, saya keluarkan. Entah bagaimana selanjutnya, sang saka berpindah tangan dengan cepat. Ia hanya bergemulai saja ketika digenggam erat untuk dipotret bersama.

Makna Keteduhan di Batu Payung
Mengedarkan pandangan sekeliling, ternyata tak mudah mencari komposisi yang tepat. Tak heran jika di dalam memori banyak terdapat potret manusia. Orang-orang yang juga turut serta menikmati keindahan Batu Payung.

Pantai Batu Payung
Teduh itu juga bisa dimaknai dengan keceriaan menikmati suasana yang ada

Batu Payung, entah mengapa dinamakan demikian. Bagi pejalan awam seperti saya, nama itu merujuk pada batu karst yang menjulang cukup tinggi. Dengan bentuk yang semakin ke atas semakin besar. Bisa saja terjadi bentuk yang seperti itu setelah mengalami proses pengikisan alami oleh angin atau air laut. Lalu ia seperti “terpisah” dari batuan induk yang berdiri kokoh di sebelahnya.

Sekilas saya bisa menerima bentuknya yang seperti payung. Namun, ia tak cukup untuk meneduhkan orang-orang di bawahnya. “Tudungnya” tidaklah terlalu lebar untuk dijadikan tempat bernaung.

Pantai Batu Payung
Tidur yang teduh

Orang lokal yang ikut menemani kami ke Batu Payung tiba-tiba terlelap di atas batu. Bocah yang rambutnya disemir kuning emas itu bahkan tak bergeming ketika saya mendekat. Jelas sekali tidurnya begitu nyenyak. Tidur di alam terbuka sebenarnya menawarkan kenikmatan tiada tara dibandingkan tidur beralas kasur empuk dan berselimut tebal.

Sirnalah Sang Mega!

Batu Payung yang berdiri tunggal itu semakin “tak berdaya” ketika mega perlahan sirna. Sang kelabu memberikan ruang bagi matahari dan langit biru untuk menampakkan diri. Sebagian orang berhamburan mencari tempat yang teduh. Tak cukup di bawah Batu Payung, tetapi juga di bawah cerukan dalam batuan karst yang elok ini. Guratannya memang kasar, tetapi meneduhkan.

Pantai Batu Payung Lombok
Berteduh di induknya Batu Payung

Saya gembira menyaksikan perubahan langit. Bagaimanapun, sudah menjadi umum jika pantai identik dengan lautan dan langit biru. Manusia, seperti kami, harus pandai-pandai berkompromi dengan ketidakstabilan alam.

Ketika asyik memotret ria di atas bukit, Mbak Iffa memanggil saya. Menepuk-nepukkan dan menyilangkan telapak tangan tanda waktu bersenang-senang sudah habis. Saya segera mengabarkan kepada yang lain. Sudah saatnya beranjak dari Batu Payung.

 

Pantai Batu Payung Lombok

Ah! Gugusan batuan karst semakin cantik ketika langit biru membiaskan terik sang surya. Konturnya mengingatkan saya akan batuan karst eksotis di Pantai Klayar, Pacitan. Sebuah pantai di kampung halaman yang tiada bosan bagi saya untuk bertandang.

“Langit birunya baru keluar nih, Om,” ujar saya kepada Tekno Bolang.

Ia menganggukkan kepala. Gerak-geriknya yang kembali membuka penutup lensa menandakan ia juga menunggu kehadiran langit biru. Pemandangan menjadi teduh. Saat mega masih bergelayut pun keceriaan menghadirkan keteduhan.

Sepertinya perut saya sudah paham jika kami harus segera beranjak dari Batu Payung. Ia bergejolak ringan, minta diberi asupan. Saya mengelusnya, memintanya bersabar. Beruntung, kami akan segera makan siang ketika kembali merapat di Tanjung Aan.

Pantai Batu Payung Lombok
Jagalah tanah airmu sejak dini

Bocah berambut emas itu memegang erat perahu agar stabil ketika saya merangsek naik. Ketika berlayar nanti, ia akan duduk di ujung haluan untuk memandu sang kapten di buritan agar tak salah arah.

“Sini biar kupegang benderanya,” cetusnya.

Rupanya ia paham maksud saya. Saya memang hendak merekamnya sembari memegang merah putih yang berkibar. Dwi warna terhempas angin, gemulainya lembut sekali.Saya melihat pesan di sana, jagalah tanah airmu sejak dini.  (*)


Foto sampul:
Pantai Batu Payung

10 thoughts on “Mega, Langit Biru, dan Sang Saka

    1. Pantai Batu Payung terletak berdekatan dengan Pantai Tanjung Aan, Lombok Tengah. Dari Pantai Tanjung Aan bisa ditempuh dengan jalan kaki (agak jauh), atau paling cepat naik perahu bertarif sekitar 250ribu pulang-pergi 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s