Pulau Menjangan

Berfoto di ujung perahu berlatar pasir putih Pulau Menjangan

Definisi kebahagiaan dapat dijumpai pada laut. Ketika Miranda Hart, aktris dan komedian Inggris, berkata bahwa, “Aku hanya benar-benar, sungguh-sungguh dan sepenuhnya bersantai sendiri. Beri aku kursi berjemur, kolam renang dan pemandangan laut, dan aku bahagia.”, kiranya saya merasa lebih dari itu.

Bersama sejumlah teman, kami merasa tak cukup hanya dengan duduk dan memandang laut.

Continue reading “Pulau Menjangan”

Frans Maumere

Maumere

Di suatu malam, saya hendak balik ke Malang. Naik bus patas dari terminal Purabaya, Sidoarjo. Tempat duduk sudah hampir penuh. Saya dapat kursi paling belakang.

Sesaat setelah duduk, tiba-tiba pundak saya ditepuk oleh seseorang di samping kanan. Raut wajahnya khas Indonesia timur. Perempuan berpakaian serba hitam tertidur di sebelahnya. Agak lirih dia bertanya, “Mas, ke Malang biasanya berapa lama?”

Saya menjawab, “Dua jam, Pak, kalau lancar.” Dia mengangguk. Kemudian kami tak saling ngobrol saat bus berangkat. Mereka berdua lebih banyak memejamkan mata.

Continue reading “Frans Maumere”

Kereta Api

Stasiun Malang

Sudah lama saya tidak naik kereta api (KA) dari stasiun yang dibangun pada 1941 ini. Stasiun Malang. Sebagian warga setempat menyebut stasiun di ketinggian 444 meter dari permukaan laut (mdpl) ini sebagai “Malang Kotabaru”. Penyebutan tersebut dipakai untuk membedakan dengan Stasiun Malang Kotalama yang berusia 62 tahun lebih tua.

Terakhir kali, waktu ke Jakarta. Dua tahun lalu. Tunggangan saya saat itu adalah kuda besi sejuta umat: Matarmaja, trayek Malang-Pasar Senen pulang-pergi (PP). Kereta api kelas ekonomi yang laris bak gorengan hangat di pengujung petang. Pula, pujaan pendaki dari Jakarta dan sekitarnya yang akan mendaki Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Continue reading “Kereta Api”

Beranjangsana ke Desa Wisata Malangan

Desa Wisata Malangan

Pagi itu di sekretariat Desa Ekowisata Pancoh, sosok pria berbadan tegap sedang duduk bersila. Pakaiannya necis. Kemudian ia berdiri dan sigap menyalami kami, tim #EksplorDeswitaJogja yang menghampirinya. Kami baru saja selesai berkegiatan di Pancoh dan akan melanjutkan ke Malangan, Sleman. Ia menanyakan nama kami satu per satu. “Saya Wiji,” ia memperkenalkan diri

Nama lengkapnya Wiji Raharjo. Dapat dikatakan, ia adalah pemandu senior di Desa Wisata Malangan, Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Keramahannya seakan menjadi jaminan, bahwa Malangan akan selalu lekat dalam benak kami

Hannif, rekan bloger dari Klaten, dalam artikelnya menyebut Malangan sebagai tempatnya para seniman. Satu-satunya empu tempa pamor keris Yogyakarta ada di sini. Batik dan budidaya perikanan juga sedang berkembang. Perajin bambu khas Malangan yang terkenal juga ada di sini.

Dengan bersepeda, Wiji dan kawan-kawan mengajak kami berkeliling desa. Menyusuri jalan kampung. Blusukan di gang-gang. Menyisir sawah. Ada sejumlah titik pemberhentian pokok yang kami singgahi. Mulai dari sanggar batik, tempat pembuatan keris, kolam budidaya ikan tawar hingga pusat kerajinan bambu.

Continue reading “Beranjangsana ke Desa Wisata Malangan”

Menyatu dengan Alam di Desa Ekowisata Pancoh

Desa Ekowisata Pancoh

 Tuk…

Suara itu mengalami jeda beberapa saat. Ketika air dari satu bambu kembali memenuhi bambu lain di bawahnya, suara itu terdengar lagi.

Tuk…

Surthong, adalah sebutan dari rangkaian alat tersebut. Suaranya terdengar nyaring dan khas. Irama dalam jeda yang menghiasi keseharian masyarakat Dusun Pancoh. Selain kokok ayam, dan hawa sejuk di antara pohon-pohon salak yang seperti perisai kampung itu sendiri. Menyatu dengan alam.

Ya, salak, komoditas hortikultura yang menghidupi Pancoh, Kelurahan Girikerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Salah satu sentra Salak Sleman yang telah mendunia.

Continue reading “Menyatu dengan Alam di Desa Ekowisata Pancoh”