Shelter Kalimati di ketinggian 2.700 mdpl. Areal kemah terakhir dan teraman sebelum puncak Mahameru
Cerita Perjalanan

Kalimati

Kalimati kembali bergeliat. Saya terbangun. Kedua mata terasa bagaikan habis menangis. Kurang tidur. Tapi karena suhu di dalam tenda mulai gerah –arloji menunjukkan pukul 8 pagi- saya memilih keluar tenda.

Membawa kamera, saya berjalan menjauhi area perkemahan. Ke utara, ke arah Jambangan. Tak jauh dari gerombolan edelweiss dan cantigi. Subhan yang baru menunaikan hajat di ‘peturasan’ alami, dan Anggrek (yang juga baru bangun)  menyusul.

Di atas rerumputan, kami berjemur. Memandang tubuh raksasa berlumur bebatuan dan pasir bergurat itu.

Untuk yang kesekian kalinya, asap beracun itu keluar dari kawah Jonggring Saloka. Dari gelembung-gelembung pekat pucat, menebarkan buih-buih debu, melekat di baju. Pakaian saya yang serba hitam bak berlumur ketombe.

Saya menelisik, memicingkan mata ke arah pendakian ke puncak Mahameru. Tampak debu-debu yang beterbangan, tanda dilewati orang yang turun. Dan lenyap selepas melintasi Kelik, perbatasan vegetasi. Pasti di wajah mereka terlukis rona gembira, lelah, dan lapar yang menjadi satu.

Kalimati menjadi tempat kembali.

Continue reading

Standard
Wisuda Universitas Brawijaya
Cerita Perjalanan, Opini

Wisuda, Sarjana, dan Pertanian

Prosesi wisuda periode ke-VII tahun akademik 2016/2017 memasuki acara inti. Dimulai dengan pelantikan wisudawan terbaik secara simbolis, rektor memindahkan kuncir toga, lalu diikuti serempak oleh wisudawan yang lain. Berbalut pakaian toga dan dalam prosesi sakral ini, kami dinyatakan resmi sebagai wisudawan.

Satu per satu wisudawan dipanggil untuk naik ke panggung. Menerima ijazah dari dekan setiap fakultas, lalu berjalan ke tengah panggung untuk berjabat tangan singkat dengan rektor. Para pimpinan dan senat, serta para wisudawan, menjadi pusat perhatian, setidaknya bagi para orang tua dan keluarga wisudawan.

Saya melihat alur itu, para sarjana, magister, dan doktor berjalan menerima ijazah. Saya mengetahui itu adalah fakta bahwa, hampir seribu lulusan dari satu perguruan tinggi telah dilepas ke masyarakat. Sungguh, ini bukan perkara prosesi seremonial semata atas nama kebanggaan almamater.

Tapi, ini adalah sinyal di mana akan ada banyak mata menyorot kami. Bagaimana cara kami agar berdaya saing dan bermanfaat bagi bumi yang kian menua ini.

Continue reading

Standard
Momen senja kala yang keemasan di sisi selatan
Cerita Perjalanan, Opini

Senja Kala

Kapan terakhir kali kita menyempatkan diri sejenak, menyaksikan langit senja yang kemerahan atau keemasan?

Sore itu, dua sahabat bertandang ke kos saya di tepian barat Tunggulwulung, yang lagi mendung.

Saya tengah menulis di laptop kecil saat itu. Menghadap dua jendela besar yang separuhnya tertutup tirai biru laut. Menghadap mendung ke arah barat. Tak ada ekspektasi apa-apa tentang senja kala yang bikin terkesima.

Lalu terdengar suara derap kaki mendekat. Saya membukakan pintu kamar yang terletak di lantai dua ini. “Assalamualaikum, halo Pakde gaes! Lama tak jumpa,” sapa Oki, sambil menenteng sebuah tenda dome kuning dan matras aluminium foil. Diikuti di belakangnya, Mustofa. Keduanya seangkatan, tapi tiga tahun di bawah saya di fakultas yang sama.

Saya menjawab salam keduanya. Mempersilakan masuk. “Bagaimana Malang selatan?” tanya saya sambil terkekeh.

Kedua wajah mereka yang sudah kuyu langsung semakin kuyu. Keduanya kompak mendengus. “Macet!” Saya tertawa.

Continue reading

Standard
Pulau Kenawa, Sumbawa Barat
Opini

Resolusi!

Malam itu di warung lalapan depan kos. Saya baru saja kelar yudisium sarjana saat itu.

Saya dan kedua orang tua tengah sibuk melahap makanan lalapannya masing-masing. Sesekali diselingi obrolan tentang masa depan saya, memilih karir atau melanjutkan studi magister terlebih dahulu. Prinsip Bapak adalah mana yang lebih dulu berpeluang, ambil saja.

Sempat jeda sejenak, tiba-tiba Bapak nyeletuk, “Sudah ada yang nungguin, kah?” Saya kaget. Mulut menganga. Melongo. “Nungguin gimana maksudnya?” saya balik bertanya.

Continue reading

Standard
3-3
Cerita Perjalanan

Labuan Bajo-Malang dalam 57 Jam

Di dalam toilet, saya tidak hendak kencing. Saya membuka dompet lecek yang tebalnya kian menipis. Tersisa enam lembar uang 50 ribuan untuk ongkos transportasi pulang ke Malang. Tambah selembar 50 ribu lagi untuk ongkos makan.

Dengan sisa uang tersebut, secara matematis akan ada cukup uang untuk naik bus dari pelabuhan Sape ke Bima. Tapi tidak dengan ongkos bus dari Bima ke Mataram. Belum lagi menyeberang ke Bali… Ke Banyuwangi… Ke Malang…

Saya kemudian teringat dengan tiga truk ekspedisi yang ikut dalam penyeberangan sore ini…

Continue reading

Standard